Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 32


__ADS_3

Tanpa menjawab, dia langsung menendang meja di depan nya ke arah ku, aku langsung bersalto kebelakang dan menendang mejanya, dia menepis meja dan langsung menyerang ku dengan jurus jurus aneh, walau cepat, aku masih bisa menghindarinya. Kurang lebih jurusnya sama dengan orang yang kuhadapi di pemandian dan sepertinya dia menggunakan racun di pisau berumbai merah nya. Baiklah, marilah kita adu racun denga racun, aku mencabut kunai berwarna ungu ku yang hanya ada satu dan awal nya aku berniat menggunakan nya untuk menghadapi lawan tangguh. Tapi karena kali ini aku harus melindungi Hikari, aku tidak perduli. Aku langsung menyerang nya, kunai ku beradu dengan pisaunya dengan kecepatan tinggi. Akibat pertarungan kita, apartemen menjadi porak poranda, tapi aku memang sengaja, dia tidak akan keluar dari sini hidup hidup. Untuk itulah aku mengajak nya ke dalam dan menantang nya.


“Luar biasa, benar benar luar biasa, baru kali ini ada yang bisa mengimbangi ku.” Ujar Shin sambil tertawa.


“Hah mengimbangi ? kamu belum lihat apa apa.”


Dengan kecepatan ku yang luar biasa aku langsung menyerang nya dari berbagai arah dan kecepatan ku meninggalkan sisa bayangan jadi nampak seperti aku membelah diri. Aku berhasil menggores kaki, tangan dan leher nya dengan kunai ku. Shin langsung terjatuh karena lukanya menjadi berwarna ungu dan lumpuh, tenang saja, racun ku tidak bisa membunuh, tapi melumpuhkan musuh, pisau nya terlepas dari genggaman nya dan dia memindahkan nya ke tangan yang sebelah nya, kemudian melemparnya ke arah ku. Tentu saja lemparan putus asa seperti itu dengan mudah kutangkis. Tapi pintu di belakang ku di buka, Ayame masuk bersama Haruka dan pisau mengarah tepat ke Ayame.


“Awas....”


Haruka langsung menghalangi nya dan menangkis dengan kaki nya, tapi betis nya tertusuk pisau itu dan langsung membiru. Haruka jatuh, dia menyobek seragam nya dan langsung mengikat pahanya.


“Masa...tolong....putuskan kaki ku...cepat.” Teriak nya.


“Jangaaan....” Teriak Ayame.


Tanpa menunda lagi, karena penyebaran racun yang cepat, aku mencabut katana ku dan “Sring...” Kaki Haruka terputus.


“Aaaaaaaaa......” Haruka berteriak kesakitan.


“Awas onii chan.....” Teriak Ayame.


Aku menoleh, ternyata Shin bersiap melemparkan pisau satunya ke arah ku, tapi “Sring..” Tangan nya langsung terputus sebelum sempat melempar. Hikari keluar kamar dan langsung memutuskan lengan nya. Ayame menolong ku ? Hati ku guncang mendengar nya.


“Ma kun, kamu tidak apa apa ?” Teriak Hikari.


“Aku tidak apa apa...tapi Haruka.” Balas ku.


“Aku...tidak ...apa apa...santai hehe.” Ujar Haruka sambil menahan sakit dan memaksakan mengeluarkan jempol nya.


“Hahaha luar biasa....aku kalah, bunuh aku....” Teriak Shin.


Tanpa basa basi aku melemparkan shuriken dan menancap di leher nya. Aku melihat Ayame memelototi ku. Aku menoleh melihat nya,


“Kamu tahu siapa yang berbuat ini ?” Tanya ku dengan geram.


Ayame diam, dia menunduk, yap, dia tahu siapa yang berbuat hal ini dan kenapa dia tidak mengatakan nya, karena menguntungkan baginya kalau Hikari tiada ? Aku langsung menyuruh nya berdiri dan melihat ku.


“Kenapa mengincar Hikari hah ?” Tanya ku.


“Bukan aku, aku sudah menjelaskan nya pada Sakuragi san, kalau malam itu adalah kesalah pahaman, tapi dia tidak menarik perintah kepada bawahan nya.” Jawab Ayame.


“Naoto diam saja dan kamu masih membela nya......sekarang kamu mau ikut aku pulang ke tokyo atau tidak ?” Tanya ku tegas dengan wajah garang.


“Jangan marah sama Naoto kun, onii chan, dia tidak tahu apa apa.” Balas Ayame.


“Ok kalau itu pilihan mu Ayame chan. Hichan, kita pergi, aku akan memanggil Manabu san untuk membawa Haruka kerumah sakit.” Balas ku.


“Jangan...kamu mau kemana ? Sudah malam.” Tanya Ayame.


“Masamune....Hikari chan...” Teriak Haruka.

__ADS_1


“Bukan urusan mu, kalau kamu mau ikut aku baru aku katakan.” Balas ku.


“Jangan seperti ini onii chan...maafkan aku.” Ujar Ayame memohon.


Aku sudah bulat, aku langsung menarik Hikari keluar dari apartemen tanpa menghiraukan Ayame. Jujur saja, sebenarnya hati ku ini tidak tega juga melihat Ayame yang menangis seperti itu dan meminta maaf, aku seketika memaafkan nya, tapi bagiku Hikari jauh lebih penting dan aku mau bersamanya, jadi aku tidak akan kembali pada Ayame. Aku bertemu Manabu ketika lift terbuka, aku minta supaya dia menolong Haruka sebagai prioritas utama dan tolong bereskan sampah di apartemen. Sekaligus aku juga minta pada nya titip Ayame, sebab aku mau menghilang dulu karena kepala ku pusing. Manabu tidak bisa berkata apa apa dan hanya menuruti ku. Aku turun menggunakan lift tanpa menoleh lagi. Ketika sudah di bawah dan sudah sedikit jauh dari apartemen,


“Ma kun, kamu yakin ?” Tanya Hikari.


“Ya, kalau bisa kita berdua menghilang selamanya, Hichan, melihat Ayame seperti tadi, aku memilih menghindar saja.” Jawab ku.


“Aku setuju, aku akan terus mengikuti mu....” Balas Hikari sambil tersenyum dan menggandeng tangan ku.


“Tapi sama aku sengsara loh, karena aku tidak berniat memakai uang ini sepeserpun, aku hanya mengandalkan yang ada di dompet ku sekarang.” Balas ku sambil memperlihat kan kartu kepada Hikari.


“Tidak masalah, asal sama kamu, tidur di kolong jembatan sudah cukup.” Balas Hikari sambil tersenyum.


Begitu ada bis, aku dan Hikari langsung naik, tidak perduli arah nya kemana, aku akan mengikuti kemana bis itu membawa kita. Kita berdua duduk bersamaan sambil terus bergandengan tangan dan Hikari merebahkan kepalanya di pundak ku. Aku dan Hikari benar benar keluar tanpa membawa apa apa, hanya dompet dan ikat pinggang kita berdua yang berisi pakaian. Aku sudah tidak perduli apa apa lagi, setelah melihat wajah Ayame di apartemen dan aku juga masih menawarkan dia kembali ke tokyo, aku sadar, Ayame di kehidupan ini belum berbuat apa apa, dia baik pada ku dan semua orang, memang di kehidupan lalu dia menghancurkan aku sampai sehancur hancurnya. Rasa nya salah kalau aku membalas nya di kehidupan ini, tapi kamu tidak akan mati, jadi aku bisa meninggalkan mu sendirian, terserah kamu mau bagaimana, mau ambil alih keluarga juga silahkan. Sudahlah, aku sudah lelah mengurusi orang lain, aku mau mengurus diriku sendiri dan orang di sebelah ku ini. Ketika berhenti, aku dan Hikari turun, menjual handphone dan kembali jalan hehe. Pokok nya kita naik bus, jalan, turun ada pemandian, mandi, makan, naik lagi, naik kereta sebentar sampai luar kota dan naik bus lagi, sampai akhirnya sampai di di sebuah desa kecil yang sepertinya tidak ada di peta walau terdaftar di prefektur mie daerah kansai. Kota terdekat dari desa bernama kota iga yang bisa di capai naik mobil selama 1 jam.


“Kita tinggal di sini saja gimana Hichan ? kita bisa membantu bertani, berternak dan lain lain.” Ujar ku.


“Eh, memang kamu bisa Ma kun ? terus terang saja, aku anak kota di kehidupan lalu hehe.” Balas Hikari.


“Memang waktu itu kerjaan mu apa ?” Tanya ku.


“Um...accounting ?” Jawab Hikari.


“Hah perkerjaan yang tidak berguna sekarang.” Balas ku.


“Marketing....” Jawab ku.


“Lah lebih ga guna hahaha.” Balas Hikari.


Kita berdua tertawa tawa saling bercanda, rasanya cukup bahagia, kehidupan inilah yang kucari. Aku dan Hikari melangkah dan tujuan pertama kita adalah rumah kepala desa. Tapi desa ini ada yang aneh, setiap pria yang kita temui sedang berladang atau mengecek tanaman nya dan para wanita yang sedang memetik hasil ladang nya melihat kita dengan mata tajam. Aku memperhatikan tubuh mereka, sepertinya mereka bukan hanya sekedar petani atau pekerja ladang, tubuh mereka semua terlatih baik pria dan wanita. Tiba tiba beberapa anak muda yang kira kira seumur kita berdua menghadang, mereka terdiri dari dua laki laki dan dua perempuan.


“Mau kemana ? kenapa kalian bisa masuk sini ?” Tanya seorang pemuda di depan.


“Eh, kita turun bis lalu bertemu desa ini kok.” Jawab ku santai.


“Hmm.....baiklah.”


Tanpa aba aba, pemuda itu melemparkan sebuah kunai ke arah ku. Tentu saja aku reflek menangkap nya.


“Hah, mereka sama seperti kita rupanya hahaha....kalian dari clan mana ?” Tanya pemuda itu.


“Hah...maksudnya ?” Tanya ku lagi.


“Tidak usah pura pura, ini desa iga yang terselubung dari dunia luar, kalian bisa masuk ke sini karena kalian juga ninja kan.”


“Eh, tapi kok ada mobil, barang elektronik dan lainnya ?” Tanya ku.


“Hei kita terselubung tapi beradab, ku tanya sekali lagi, kalian dari clan mana.”  Jawab nya.

__ADS_1


“Kagenuma.” Jawab Hikari.


“Ah, desa di kaki gunung fuji, baiklah silahkan masuk, kalau kalian dari koga kalian akan di bunuh di tempat. Kenalkan namaku Kyoya, aku anak kepala desa.” Ujar nya.


“Namaku Masamune, di sebelah ku Hikari, kita berdua sedang dalam pelarian dan mencari tempat menetap sementara.”


“Woah nama yang keren, salam kenal ya, oh ya di kiri ku ini Kenzo, di kanan ku Natsume dan di belakang Megumi.” Ujar Kyoya memperkenalkan teman teman nya.


“Salam kenal.” Sapa Natsume yang berdiri di kanan Kyoya.


“Iya salam kenal.” Tambah Megumi di belakang.


Akhirnya kita berdua di ajak masuk ke dalam desa dan menuju rumah kepala desa. Haduh untung mereka tidak musuh dengan clan kita, kalau musuh repot banget bakalan haha. Sampai di rumah kepala desa dan berbicara dengan nya, aku mengatakan maksudku untuk sementara tinggal di sini sampai suasana tenang. Setelah di tes, kepala desa menyetujui nya, untung saja tesnya hanya menangkis shuriken haha.


“Si tua Genzo masih hidup ?” Tanya kepala desa.


“Ojisan masih hidup....” Jawab Hikari.


“Hahaha bagus....” Balas kepala desa tertawa.


“Anoo maaf apa anda kenal dengan shishou kita berdua ?” Tanya ku pada kepala desa.


“Hooo kalian belajar langsung darinya ? jarang jarang tua bangka itu mau menerima murid.” Balas kepala desa.


“Aku cucunya jisan.” Balas Hikari.


“Hah pantas.....aku kenal dia waktu dulu, tapi sudah puluhan tahun kita tidak bertemu lagi, tak di sangka malah bertemu murid nya sekarang.” Balas kepala desa.


Tiba tiba seorang wanita muda mungkin baru berumur 30 an masuk ke dalam dan membawakan kita teh herbal racikan khas mereka. Pak kepala desa langsung memperkenalkan nya, dia adalah istri ke tiga nya dan ibu dari Kyoya. Wow hebat juga jiji (kakek) ini. Umurnya sekitar 70 an masih bisa produksi, awas jangan macam macam dengan Hikari ya, pikir ku. Aku memastikan kepada kepala desa kalau dia tidak pernah mengontak shishou. Dia mengatakan tidak pernah, lagipula dia hanya kenal begitu saja di masa muda nya. Setelah minum minuman yang di sediakan yang membuat badan ku dan Hikari segar, kita berdua di antar ke sebuah rumah di pinggir desa oleh Kyoya. Dari luar rumah itu adalah rumah seperti gubuk dari kayu biasa, tapi di dalam nya ada televisi, kompor, kulkas, sofa dan meja makan seperti perumahan di kota. Aku sedikit takjub melihat nya,


“Haha sudah ku bilang kan, kita memang hidup terselubung dari dunia luar tapi bukan berarti kita tidak beradab. Sekarang kalian tinggal di sini, selamat datang saudara.” Kyoya menjulurkan tangan nya.


Aku menjabat nya dan mengucapkan terima kasih, kemudian dia minta kita berdua datang ke sekolah besok. Hah, disini ada sekolah ? wow berarti sekolah ninja seperti di desa ku dulu. Kyoya mengatakan, selain dirinya, ada Megumi, Natsume dan Kenzo yang bertugas mengajari anak anak desa, mereka sendiri sekolah di kota iga, Kyoya dan Natsume kelas 2 sma, sedangkan Kenzo dan Megumi kelas 1 sma. Setelah berbincang bincang di rumah, biasalah darah muda, Kyoya ingin menjajal ku. Tentu saja dengan senang hati ku layani dan Natsume ternyata tertarik menjajal Hikari. Kita semua langsung ke lapangan di tengah desa dan mulailah saling jajal di sana. Jurus jurus mereka sama dengan ku, hanya saja lebih sedikit bervariatif, tentu saja aku dan Hikari bisa mengimbangi mereka bahkan mengalahkan mereka hehe. Setelah selesai mengadu jurus, ternyata banyak sekali anak anak berumur sekitar 5 sampai 6 tahun yang menonton dan terkagum kagum.


“Hebat, kalian sudah terbiasa bertugas ya.” Ujar Kyoya.


“Yah begitulah, kalau kalian gimana.” Balas ku.


“Sama, kadang kadang pejabat, tuan tanah dan para petinggi minta jasa kita. Biasanya aku dan Natsume saja sih, Kenzo dan Megumi belum.” Balas Kyoya.


Berarti mungkin suatu saat aku bisa membutuhkan bantuan mereka, kalau seandai nya aku kembali, ah tidak, aku nyaman di sini bersama dengan Hikari dan sepertinya dia juga nyaman.


“Kenapa melihat ku begitu Ma kun ?” Tanya Hikari.


“Kamu senang ga di sini ?” Tanya ku.


“Sama saja kayak di desa, tapi tidak masalah selama kita berdua.”


“Benar, kamu benar Hichan.” Aku merangkul Hikari yang langsung merebahkan kepala nya di dada ku dan merangkul pinggang ku.


Setelah itu aku kembali ke rumah dan duduk di teras, di mulailah aku tinggal di desa itu bersama Hikari dan berdua saja. Aku dan Hikari menarik diri dari dunia yang keras. Aku melihat wajah Hikari yang sekarang sedikit berbeda dari sebelum nya, sekarang ossan 40 tahun dan obasan 40 tahun hidup tenang di pedesaan sambil memandangi panorama di depan yang ternyata sangat indah. Tanpa menyadari sesuatu sedang terjadi di luar sana dan suatu hari nanti menyeret ossan dan obasan kembali ke dunia yang keras.

__ADS_1


end arc 1 - beginning of life


__ADS_2