Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 37


__ADS_3

Di dalam, aku dan Hikari duduk di dalam ruang tengah bersama Ryota dan Keiko di depan ku. Manabu dan Youko tidak ikut karena mereka sedang memperbincangkan bisnis. Aku memang ingin mengajak Keiko dan Ryota bicara dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan sekarang, ada dua alasan, pertama aku sekarang tahu mereka sama dengan ku dan Hikari, mereka akan lebih bahagia jika tidak terlibat, di tambah Ryota aniki sekarang tidak ingat apa apa lagi, dia tidak ingat sesuatu yang menyakitkan yang menimpa keluarga nya, di tambah sekarang dia hanya ingat Keiko nee san. Kedua aku melihat Keiko nee san menderita selama ini, walau dia tidak menyadari nya, sudah saat nya dia bahagia kan, tapi dia masih merasa punya kewajiban mengenai keluarga dan sebagainya. Itulah sebab nya aku mengajak mereka bicara dari hati ke hati sekarang.


“Keiko nee san, kita sudah sama sama tahu kondisi aniki, sekarang apa yang nee san mau lakukan, bicara saja nee san, tidak apa apa.” Ujar ku.


Keiko hanya diam, dia hanya menoleh kepada Ryota dan menggandeng tangan nya. Wajah nya terlihat bingung dan sepertinya tidak bisa memutuskan. Dia hanya memandangi wajah Ryota yang lusuh, berjanggut tebal dan kusam.


“Kei chan, aku tidak tahu ini dimana, mereka siapa dan apa yang terjadi, tapi kalau kamu mau di sini, aku akan mendampingi mu.” Ujar Ryota.


Keiko menutup mulut nya dengan tangan, dia kembali menangis tapi kali ini wajah nya terlihat bahagia karena mendengar ucapan Ryota aniki. Astaga kenapa ya sekarang perempuan yang kukenal perkasa seperti Haruka dan Keiko nee san, jadi cengeng dan mudah sekali menangis. Aku melihat Keiko nee san sempat berpikir sebentar, kemudian dia melihat ku dan Hikari.


“Maaf Masa kun, Hikari chan, sebetulnya aku sudah lelah, saat ini, aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan Ryo nii saja, walau aku tidak pantas mengatakan ini, karena aku tidak tahu apa aku layak untuk bahagia atau tidak, aku sudah banyak dosa menjalankan perintah baasan dulu dan kalau aku pergi, kalian lah yang akan berjuang sendirian.” Ujar Keiko.


“Aku mengerti, kalau nee san tidak mengatakan nya, aku yang akan mengatakan nya, aku rasa itu yang terbaik nee san, benar kan Hichan ?” Ujar ku sambil menoleh kepada Hikari.


“Benar Ma kun, kami berdua pernah mengambil keputusan itu empat tahun lalu. Keiko onee san, sekali kali egois tidak apa apa, hiduplah dengan tenang bersama Ryota onii san, aku dan Ma kun nanti akan memberitahu keluarga Ryota onii san, tenang saja onee san.” Tambah Hikari sambil tersenyum.


Istri ku hebat hehe, walau baru 18 tahun, tapi jiwanya obasan 40 tahun, dia lebih bisa mengutarakan nya di banding diriku, untung aku bersama nya, pikir ku.


“Tapi kalau seandainya kita pergi, kita harus dimana ?” Gumam Keiko ragu.


“Luar negeri nee san, jangan memusingkan biaya, aku bisa memenuhi nya. Kira kira nee san mau kemana ? yang bisa menetap.” Tanya ku.


“Korea selatan, seoul ? boleh kah ? di sana mirip mirip seperti disini, aku juga bisa bahasa di sana, jadi kurasa paling pas di sana, tapi kalau berat bagi kalian jangan.”


“Wah kalau itu tidak masalah nee san, negara tetangga, tapi benar tidak apa apa hanya kesana, tadinya aku malah mau menawarkan di hawaii gitu.” Balas ku.


Keiko nee san menggelengkan kepalanya, dia tetap mau yang dekat saja dan masalah akomodasi tidak perlu lagi, karena dia masih memiliki apartemen di sana yang dia beli sendiri. Dia bilang, nanti dia bisa mengajari Ryo oppa pelan pelan haha. Ryota aniki tidak berkomentar apa apa, dia mengikuti keputusan dari Keiko nee san. Karena sepertinya nee san dan aniki sudah bulat, aku menjelaskan langkah selanjutnya, sebelum ke sana sebaiknya keduanya menikah dulu di sini dengan memakai nama baru, toh umur mereka hanya berbeda 2 tahun, Keiko nee san berumur 22 tahun sedangkan Ryota aniki berumur 24 tahun. Keduanya setuju, tapi mereka minta di pilihkan nama baru nya, akhirnya aku mengusulkan memakai nama Kudou, yaitu nama keluarga Hikari yang sedikit di ubah dari Kujou menjadi Kudou selagi masih bernama Kujou Misaki di kehidupan pertama nya. Keduanya setuju dan aku langsung memanggil Manabu untuk langsung mengurus nya.


“Terima kasih Masa kun, nanti aku akan kirim surat dan foto foto kita di sana.”  Ujar Keiko nee san.

__ADS_1


“Sip, aku tunggu ya.” Balas ku sambil tersenyum.


Setelah selesai bicara, Keiko nee san mengajak Ryota aniki mandi untuk membersihkan dirinya, dia juga memberikan pakaian yang layak kepada aniki. Aku dan Hikari melihat mereka berdua dengan senang, kita berdua juga merasakan hal yang sama dengan mereka, hanya saja aku masih kurang percaya, kok bisa ya haha. Aku dan Hikari menunggu mereka di ruang makan, begitu mereka masuk, wow ternyata nee san mencukur semua janggut aniki dan merapihkan rambutnya, sekarang aniki terlihat seperti aniki yang dulu dan tetap tampan seperti sebelum nya. Ketika makan, aku melihat aniki tidak bisa menggunakan sumpit, sepertinya benar benar dia lupa caranya, aku tanya kepada nya, bagaimana selama ini dia makan, dia bilang selalu pakai tangan. Nee san yang duduk di sebelah nya dengan sabar mengajari nya memakai sumpit dan sendok garpu, aku melihat wajah nya yang ceria ketika mengajari aniki, syukurlah nee san, semoga selama nya kalian bersama.


***


Beberapa hari kemudian, setelah melengkapi data, mengurus paspor dan visa, Youko mengurus formulir pernikahan Keiko dengan Ryota dan mengisinya menggunakan nama Kudou, aku dan Manabu san pergi ke kantor untuk mulai mengurus bisnis kita. Selagi berada di kantor, tiba tiba sekertaris ku masuk ke dalam, dia mengatakan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan ku dan sifatnya penting. Aku mengijinkan nya, sekertaris ku langsung keluar.


“Kira kira siapa Manabu san ?” Tanya ku.


“Belum tahu bocchan, tapi tidak apa apa, kita temui saja.”


Tak lama kemudian, sekertaris ku masuk ke dalam membawa tiga orang asing yang berasal dari hongkong. Mereka membawa satu orang penterjemah untuk menterjemahkan pembicaraan kita nanti. Aku melihat ketiganya bukan orang biasa dan sepertinya tubuh mereka terlatih, mereka bisa bela diri. Mereka duduk di sofa dan aku bersama Manabu duduk di sebrang mereka, penterjemah duduk di tengah tengah kami. Dari tiga orang hanya satu yang sepertinya orang penting dan dua yang lain mengawal nya. Dia memperkenalkan diri nya, namanya Tan Lie Fong, dari hongkong, dia ternyata pemilik perusahaan, pengusaha dan juga anggota triad yang mau mengajak kerja sama di bidang perdagangan barang elektronik. Dia tertarik dengan produk handphone ku yang masuk dalam pengembangan elektronik di perusahaan ku dan ingin membawa ke hongkong untuk di pasarkan di sana. Dia datang untuk mengadakan kerja sama untuk penjualan handphone dan penegambangan software game di handphone. Tentu aku menerima nya, langsung saja aku menanyakan bagaimana kesepakatan nya dan untuk pengiriman, aku usulkan memakai perusahaan ku juga tapi biaya di tanggung separuh. Tentu saja dia setuju, karena biasanya customer lah membayar biaya pengiriman.


Selama beberapa jam aku dan Lie fong berdiskusi, kita tertawa tawa karena sudah mencapai kesepakata. Tapi tiba tiba seseorang memaksa masuk ke dalam ruangan ku, aku melihat sekertaris ku berusaha mencegah nya, melihat orang itu, tangan ku langsung mengepal, karena yang menerobos kantor orang lain tanpa sopan itu adalah Kirishima Isami. Masih hidup dia rupanya, katanya dia sudah di habisi Ayame, kenapa dia masih hidup dan ada di depan ku, pikir ku. Dia langsung marah marah di depan Lie Fong yang mengatakan kalau Lie Fong melanggar kesepakatan dengan nya dan beralih pada ku. Lie Fong menjelaskan nya kepada penterjemah dan penterjemah langsung mengatakan kepada Isami yang berdiri dengan wajah marah di depan kita semua. Ternyata awal nya Lie Fong berkerja sama dengan perusahaan yang di direkturi oleh Isami, tapi ternyata kualitas produk yang di terima Lie Fong tidak sesuai dengan spesifikasi yang di janjikan, hal ini sudah berlangsung tiga kali pengiriman terakhir. Ketika Lie Fong ke jepang untuk menemui Isami, Isami tidak bersedia menemuinya dan Lie Fong langsung menemui ku.


“Oh coba saja kalau berani.” Celetuk ku.


Isami langsung menoleh melihat ku, rupanya dia menganggap ku kacang yang tidak kelihatan barusan dan baru melihat ku. Dia langsung kaget begitu melihat ku dan Manabu.


“Kamu....kenapa kamu masih hidup....ojouchan bilang kamu sudah mati....” Teriak Isamu sambil menunjuk ku.


“Siapa ojouchan mu ? Ayame ? Shizuka ? dan ku dengar Kirishima harus nya sudah habis ya, kenapa kamu masih ada ?” Tanya ku sambil menepis tangan nya.


“Aku harus bilang ini ke ojouchan, jangan main main ya.....” Ujar Isami berbalik dan langsung pergi.


Tentu saja, tidak akan aku biarkan, tapi sebelum aku bertindak, Lie fong menyuruh anak buahnya dan langsung saja anak buahnya melompat berdiri di depan Isami, mencegah nya keluar.


“Hei kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah masuk ke sini.” Ujar penterjemah yang menterjemahkan perkataan Lie fong.

__ADS_1


Manabu melihat ke bawah, ternyata sudah banyak orang di bawah, dia mengatakan pada ku, kalau di teruskan bisa gawat, sepertinya tidak ada jalan lain selain melepaskan Isami. Akhirnya aku minta tolong penterjemah menterjemahkan kata kata ku kepada Lie fong. Setelah di bisiki oleh penterjemah, Lie fong mengangguk dan membiarkan Isami pergi, kemudian dia langsung memberikan hormat dengan mengepalkan tangan di dada nya dan menunduk. Setelah Isami pergi, barulah aku dan Manabu menjelaskan siapa aku dan Manabu kepada Lie fong. Dia langsung tertawa terbahak bahak dan malah mengajak kerja sama yang lain yaitu impor imigran untuk pekerja malam haha. Ya sudahlah, untuk menjalin kerja sama yang baik, aku setuju setuju saja dan mengatakan padanya bisnis bisnis malam kita juga. Aku bahkan memberikan dia kartu vip untuk berkunjung malam ini dan mencoba pelayanan kita hehe. Tentu saja dia dengan senang hati menerima nya.


Pembicaraan berlanjut dan aku jadi punya jaringan keluar negeri dengan berkerja sama dengan Lie fong. Hanya saja mulai timbul ke khawatiran, Ayame atau Shizuka akan datang setelah Isami melaporkan nya. Tapi semua aku tepis, toh cepat atau lambar, aku harus berhadapan dengan mereka, jadi silahkan saja datang. Setelah Lie fong pulang di sore hari, aku dan Manabu mulai berdiskusi.


“Apa kamu tahu, Manabu san, mengenai kenapa Kirishima masih ada ?” Tanya ku pada Manabu.


“Aku juga baru tahu, setahuku, mereka sudah di basmi tuntas oleh Ayame ojouchan dengan bantuan Shizuka ojouchan.” Balas Manabu.


“Hmm...berarti dia di ajak bergabung, entah oleh Ayame atau oleh Shizuka belum jelas. Kita waspada saja, mereka akan datang.” Balas ku.


“Tenang saja bocchan, setelah Keiko ojouchan pergi, kita bisa frontal.” Balas Manabu.


“Ya benar, sekarang prioritaskan dia berangkat dulu. Secepatnya.” Ujar ku.


Setelah itu, aku dan Manabu pulang kembali ke rumah inti, Hikari langsung lari menyambut ku pulang, dia mengatakan proses pendaftaran pernikahan nya sudah beres dan Keiko baru saja pulang bersama Ryota, di antar oleh Youko. Tiket juga sudah di pesan secara online dan besok mereka sudah bisa berangkat. Aku juga menceritakan apa yang terjadi di kantor kepada Hikari. Dahi nya langsung mengerut, iyalah, dia juga tahu kalau salah satu dari Ayame dan Shizuka akan datang menemui kita. Aku mengatakan pada Hikari kalau cepat lambat memang kita harus berhadapan dengan mereka dan kalau bisa rahasiakan ini dari Keiko nee san, jangan sampai dia dengar. Hikari juga sudah tahu, dia tidak akan membocorkan hal ini, sebelum nya Manabu juga sudah ku beritahu untuk tidak bicara kepada Keiko nee san mengenai kejadian di kantor. Malam itu, aku dan Hikari merayakan pernikahan Keiko nee san dan Ryota aniki secara kecil kecilan sebelum besok mereka berangkat.


***


Keesokan harinya, siang hari, aku dan Hikari mengantar Keiko nee san dan Ryota nii san ke bandara narita tokyo untuk penerbangan ke seoul korea. Kita semua menyamar dan tidak memperlihatkan wajah sama sekali,


“Baiklah Masa kun, kami pergi dulu, terima kasih bantuan nya.” Ujar Keiko nee san.


“Terima kasih...” Tambah Ryota aniki sambil menunduk.


“Sama sama, jangan lupa ya, begitu sampai langsung kirim pesan untuk memberitahu kita.” Ujar ku.


“Baik, Masa kun, Hikari chan...sekali lagi terima kasih, kami pergi dulu.”


Keiko nee san langsung memeluk ku dan Hikari, Ryota aniki juga menyalami ku dan Hikari, kemudian mereka berdua masuk ke dalam. Aku dan Hikari menunggu di atas untuk melihat pesawat yang mereka naiki terbang. 20 menit kemudian aku melihat pesawat yang di tumpangi Keiko nee san dan Ryota aniki mulai menutup pintu dan berjalan untuk lepas landas. Setelah pesawat sudah mengudara, aku dan Hikari keluar dari bandara dan kembali ke kantor. Empat jam kemudian, selagi aku dan Hikari di kantor, aku menerima pesan gambar, ternyata Keiko nee san dan Ryota aniki sudah sampai di apartemen nya dan mereka ber selfie ketika duduk di sofa. Syukurlah keduanya sudah selamat sampai ke sana. Sekarang, Ayame, Shiazuka, silahkan datang. Aku menunggu kalian disini. Aku duduk di meja ku, Manabu berdiri di sebelah kiri ku dan Hikari berdiri di belakang kursi ku.

__ADS_1


__ADS_2