
Aku mengambil kursi dan memberikan nya pada pria yang mengaku dari clan Hondou dan berusia sekitar 25 tahunan. Hondou juga salah satu clan kecil yang juga sama seperti Kumamoto yang menguasai tempat dimana gedung ku berada, pertokoan di bagian barat kyoto. Aku menjelaskan kepadanya secara detail apa yang aku dan Ryota kerjakan di gedung itu.
“Tapi kenapa bos besar dari tokyo ada di sini ? ah...namaku Hondou Tetsuya.” Ujar pria itu.
“Aku ada alasan sendiri kenapa aku ada di kyoto, jadi gimana ? mau bekerjasama dengan kami ? posisi mu apa ?” Tanya ku santai.
Tetsuya terlihat berpikir, kemudian dia menelpon seseorang yang seperti nya lebih berkuasa dari nya. Dia menceritakan semuanya pada orang yang di telepon nya, setelah bebicara sedikit lama dan karena merasa tidak sopan karena di depan ku dan Ryota aniki, dia menutup telepon nya.
“Maafkan aku, sebentar lagi aniki akan kesini, bisa tunggu sebentar ?” Tanya nya.
“Hmm aniki mu bisa mengambil keputusan ?” Tanya ku.
“Semenjak oyaji meninggal dia yang menggantikan mengurus keluarga.” Balas Tetsuya.
Pembicaraan mulai hangat, aku, Ryota aniki dan Tetsuya mulai berbincang bincang dengan serius mengenai bisnis dan lainnya. Tiba tiba seorang siswi sekolah menyeruak masuk dan langsung menghampiri Tetsuya.
“Lama banget sih onii chan......eh....onii chan nya Touka chan kok ada di sini ?” Tanya Rin sambil melihat ku.
“Oh kamu kenal bos ?” Tanya Tetsuya bingung.
Rin menjelaskan kalau aku datang waktu festival budaya dan adik dari teman sekelas nya yang bernama Yashiro Touka. Rin juga menceritakan insiden yang di alami waktu di kelas sewaktu festival budaya yang melibatkan clan Kumamoto dan bagaimana aku mengatasinya. Tetsuya malah mengatakan kalau dia bentrok dengan Daiki, alasan dia datang ke tempat ku karena melihat Gen dan anak buah nya yang dia tahu adalah geng Daiki sebelum nya. Setelah aku menceritakan semuanya, barulah dia mengerti kenapa Gen dan geng nya ada di pertokoan itu. Pandangan nya padaku mulai berubah karena dia sudah tahu sebelum nya kalau Daiki sudah meninggal dan menurutnya akulah yang menghabisinya. Walau perkiraan nya salah, biarkan saja dia salah, aku tidak mau mengoreksinya. Tak lama kemudian, seorang pria datang menemui kita semua, dia berumur sekitar 30 tahunan dan langsung mengambil kursi kemudian duduk di sebelah Tetsuya.
“Bos, kenalkan aniki ku....” Ujar Tetsuya.
“Namaku Jirou, salam kenal bos....Rin chan tunggu di luar dulu....” Ujar Jirou sambil menoleh kepada Rin.
“Ya..ya...tapi jangan lama lama onii chan tachi.....” Ujar Rin yang berdiri kemudian berjalan keluar.
Pembicaraan mulai serius, Jirou mau berkerja sama dengan kita tapi dia tidak bisa membawa clan nya bergabung dengan kita karena sudah tergabung di clan besar yang ada di kyoto yaitu clan Jinguji. Aku langsung bertanya sebesar apa clan Jinguji itu, Jirou mengatakan kalau clan itu yang menjaga perdamaian clan clan kecil yang tersebar di kyoto. Hmm menarik, kalau aku bisa menembus ke sana, mungkin aku bisa melebarkan sayap lebih luas lagi pikirku. Aku menanyakan apa clan Kumamoto termasuk ke dalam kelompok yang di kelola oleh clan Jinguji kepada Jirou. Dia bilang kalau Kumamoto tidak temasuk dan independen karena tidak mau di atur dan menjadi musuh bagi semua clan yang tergabung. Tapi mengenai hal ini, Jinguji tidak bergerak sama sekali dan mendiamkan nya saja, aku menanyakan alasannya tapi Jirou sendiri juga tidak tahu.
“Begitu ya, kalau aku ingin ketemu mereka bisa ?” Tanya ku.
“Aku akan tanyakan, untuk kerjasama kita, dengan pembagian yang sudah kita sepakti, kita jalankan dulu saja.” Balas Jirou.
“Baiklah, saling berkabar saja.” Balas ku.
Pembicaraan berakhir, karena ada yang melotot melihat kita dari luar, membuat Tetsuya dan Jirou sedikit gerah. Tapi aku harus berterima kasih pada Rin chan, kalau tidak ada dia, tidak mungkin pembicaraan kita bisa semulus ini. Walau sebenarnya aku penasaran, kalau clan Jinguji yang mengatur semua clan kecil di kyoto, kenapa mereka diam saja dengan insiden Kumamoto, mereka juga terlihat melepas nya begitu saja sehingga clan itu merajalela dan meresahkan clan lainnya. Yang kumaksud di sini Daiki, bukan ayahnya, sebab kalau di lihat ayahnya bekerja jujur dengan membuka restoran walau punya nama. Yah untung saja dia sudah tidak di dunia lagi, kalau tidak bakal bikin kacau hehe. Setelah Jirou dan Tatsuya meninggalkan ku dan Ryota aniki sendirian, kita kembali meneruskan merancang kantor kita kembali bersama dengan orang dari perusahaan design interior yang datang belakangan.
Keesokan harinya, karena weekend, aku menghabiskan waktu di rumah bersama Hikari dan menjaganya. Aku membiarkan Hikari duduk saja di sofa dan aku yang membersihkan rumah, memasak dan mencuci semua pakaian ku sendiri sekaligus milik Hikari. Walau Hikari cemberut karena ingin membantuku, aku tetap melakukan semuanya sendiri. “Ding..dong...” Suara bel ku berbunyi, aku membukakan pintu dan yang datang adalah Keiko nee san yang membawa makanan untuk kita, aku mempersilahkan nya masuk, Keiko nee san dia mengatakan kalau Ryota juga sedang sibuk mengurus rumah dan mengusirnya ke sebelah. Aku juga bilang silahkan duduk saja menemani Hikari dan jangan ganggu aku sebab aku juga sama dengan Ryota aniki.
“Oh Touka chan kemana ?” Tanya Keiko nee san.
“Tadi dia bilang mau ke perpustakaan untuk belajar bersama dengan teman teman nya, ada Makoto kun juga, jadi aku sedikit tenang.” Hikari menjawab pertanyaan Keiko.
__ADS_1
“Aduh Hikari chan, jangan bergerak, kita duduk saja yuk di sana....” Ajak Keiko mengajak Hikari yang keluar dan membawanya kembali ke ruang tengah.
Lah, orang hamil mengurusi orang hamil, malah dia lebih besar hamil nya haha, lucu juga kadang kadang Keiko nee san, pikir ku. Aku menutup pintu dan mengikuti mereka ke ruang tengah, Hikari terlihat mau berjalan ke dapur untuk membuat minuman, tapi aku mencegahnya dan aku langsung kedapur.
“Kenapa sih Ma kun, aku kan juga mau bantu....” Protes Hikari.
“Kan kata dokter sementara jangan banyak bergerak dulu, kamu diam saja dulu, nanti juga boleh bergerak lagi, sabar dong Hichan.” Ujar ku sambil mengelus kepalanya dan menekan nekan pipinya yang menggembung seperti bapao.
“Iya iya.....” Ujar nya berbalik dan berjalan untuk duduk lagi.
Setelah membuatkan minuman untuk keduanya, aku kembali bekerja dan meninggalkan keduanya yang sedang mengobrol. Dulu di kehidupan ku yang sebelum nya, sampai umur 40 aku terus mengerjakan pekerjaan rumah walau habis lembur sekalipun dan rasanya sudah muak, tapi tidak di sangka, ketika hati sudah tenang dan hidup dengan bahagia seperti ini, aku malah kangen dengan kesibukan mengurus rumah seperti yang sekarang sedang ku lakukan. Setelah semua selesai, aku duduk bersama Hikari dan Keiko untuk mengobrol bersama,
“Aku pulang....”
Pintu di buka dan tedengar suara Touka mengucapkan salam. Aku berdiri dan keluar, ternyata Touka tidak sendirian, dia datang bersama Makoto, seorang teman pria nya dan Rin.
“Aku datang aniki....” Sapa Makoto.
“Aku juga datang onii chan...” Sapa Rin.
“Aku datang...perkenalkan namaku Mouri Seto.” Sapa seorang anak laki laki yang baru pernah kulihat, dia memakai kacamata, kurus dan pedek, lagi lagi seperti diriku dulu haha.
“Selamat datang semuanya, silahkan masuk.” Sapa ku.
“Ayo semuanya ikut aku naik...kita mau meneruskan belajar ya onii chan.” Ujar Touka.
Aku kembali masuk ke ruang tengah, baru saja duduk, Touka sudah turun kembali dan mengambil kan minuman juga cemilan untuk teman teman nya di atas. Kemudian dia naik kembali membawa semuanya, aku kembali duduk dan berbincang dengan Hikari dan Keiko.
***
Hari sudah malam, Touka di atas belum turun juga bersama dengan teman teman nya, sedangkan Keiko sudah pulang di jemput Ryota aniki. Hikari yang duduk di depan ku bertanya,
“Ma kun, kamu ga mau lihat Touka chan di atas ? mereka ngapain ya kok tidak ada yang keluar ?” Tanya Hikari.
“Entah lah, aku mau siapkan makan malam dulu, nanti aku cek mereka...” Jawab ku.
Aku ke dapur, karena sudah malam, aku pikir masak yang mudah saja, yaitu kare yang bumbunya instan, aku hanya tinggal memotong kentang dan wortel kemudian memasukkan daging. Setelah semua siap dan sedang di masak, aku melepas celemek ku dan naik ke atas untuk mengecek Touka. Ketika sampai di depan pintu, aku mendengar mereka masih membahas soal pelajaran, aku mengurungkan niat ku untuk mengetuk pintu nya. “Ding dong...” Bel pintu ku berbunyi, aku buru buru turun dan membukakan pintu.
“Rin ada di sini ?” Tanya seorang pria memakai toppoku seperti seorang preman dan sangat tidak sopan.
Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena memakai masker, hanya saja rambutnya yang terurai seperti singa di cat pirang. Aku mengintip ke belakang nya dan melihat banyak sekali orang masuk ke dalam halaman ku. Aku merasakan ada yang tidak beres.
“Ada apa mencari Rin chan ?” Tanya ku tegas.
__ADS_1
“Minggir....bukan urusan mu....”
Pria itu mendorongku, langsung saja aku tangkap tangan nya dan kupelintir dia sampai berlutut di depan ku dan kesakitan.
“Kalau bertamu ke rumah orang yang sopan.....” Ujar ku.
“Ku..kurang ajar.....Rin chan....keluar....” Teriak pria itu.
Hikari keluar dari ruang tengah dan melihat ku, aku mengangkat tangan supaya Hikari tidak mendekat. Suara menderu orang menuruni tangga terdengar di belakang ku, ternyata Touka, Seto, Makoto, Rin turun ke bawah dan melihat ku sedang memelintir pria yang ada di depan ku. Aku menoleh dan melihat Rin gemetar sambil berpelukan dengan Touka yang kebingungan. Makoto langsung maju mendekati ku dan menghadang beberapa orang di halaman ku yang sudah bersiap masuk.
“Siapa dia Rin chan ?” Aku mendengar Touka bertanya kepada Rin.
“Dia.....mantan pacar ku.....” Ujar Rin berbisik, tapi aku mendengarnya.
“Kenapa dia mencari mu kesini ?” Tanya Seto di sebelah nya.
Rin tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala, karena Rin tidak menjawab, giliran ku yang bertanya kepada pria yang kurang ajar ini. Aku menarik maskernya sampai putus karena tidak sopan berbicara mengenakan masker.
“Mau apa kamu kesini ?” Tanya ku.
“Jawab, kamu lihat kan Rin chan jadi terganggu....” Tambah Makoto.
Bukan nya menjawab, pria itu malah tertawa keras dan meludah di lantai yang baru siang tadi ku bersihkan. Tangan sebelahnya meraih saku nya dan mengambil handphone nya, kemudian dia memperlihatkan video patah patah adegan Rin sedang berbuat sesuatu yang tidak senonoh. Aku, Makoto, Touka, Seto dan Hikari melihat nya dan mendengar suaranya. Rin langsung menangis, tapi pria itu malah tersenyum senang. Karena kesal, aku menginjak handphone nya sampai hancur,
“Hahaha percuma, datanya masih ada di komputer ku, Rin chan, ikut aku sekarang atau keluarga mu akan tahu semuanya.....” Ujar pria itu walau masih di piting.
Rin bergerak, tapi Touka mencegah nya. Touka menoleh pada ku berharap aku turun tangan menolong Rin, aku menoleh kepada Hikari dan dia juga mengangguk pada ku. Haaah, baru aku ingin santai dan tenang. Aku langsung membuat pria itu berdiri dan bertanya,
“Heh..kamu tahu kan Rin berasal dari keluarga Hondou ?” Tanya ku.
“Hahaha tentu saja aku tahu, aku dari Kumamoto, yang di dalam video itu Daiki aniki....” Teriak nya dengan sombong.
Aku langsung menoleh kepada Makoto yang menjaga pintu. Aku mengangguk kepada Makoto dan memberi kode padanya untuk memanggil Gen yang berada di sebelah rumah, karena aku tahu Gen sedang di sana bersama Ryota aniki. Makoto langsung keluar dari rumah dan menuju ke rumah sebelah, aku mendengar ribut ribut di luar, ada kemungkinan Makoto menghabisi semua orang di halaman ku. Aku mengamati pria itu, sepertinya dia juga masih anak sekolah, ini juga menjelaskan kenapa Rin tidak keluar dari dapur waktu Daiki datang ke festival budaya dan merusuh di kelas mereka, ditambah Tetsuya yang mengatakan kalau Daiki adalah musuh mereka. Uh sudah mati aja masih bikin susah, aku bertanya pada pria itu,
“Kamu sudah tahu kan Daiki sudah mati ?” Tanya ku.
Wajah nya yang tertawa mendadak diam dan dia marah, dia bilang akan melapor ketika Daiki pulang nanti. Hoo rupanya dia taunya Daiki pergi dan suatu hari akan kembali, sayang sekali, Daiki tidak akan kembali, kecuali dia mengulang hidup seperti ku, dan kalau sampai itu terjadi kemudian tidak bertobat, kali ini aku yang membunuh nya. Tak lama kemudian, Gen masuk bersama Makoto dan Ryota aniki di belakang nya. Melihat Gen datang, pria itu langsung kaget dan ketakutan, baru dia menyadari dia berurusan dengan siapa setelah di tampar Gen berkali kali.
“Gen, kamu ke rumah nya, hancurkan komputernya, kalau ada keluarganya atau siapapun melawan, habisi saja..ajak Makoto.” Ujar ku.
“Siap aniki....hei, dimana lagi kamu menyimpan video tadi....” Tanya Makoto kepada pria itu.
“Hanya di komputer ku....dan di komputer Daiki aniki....” Jawab pria itu.
__ADS_1
“Hmm ok, aku telepon Ichigo ossan.....” Balas ku.
Aku menelpon ossan di depan pria itu supaya dia mendengar dan minta ossan membawakan komputer milik Daiki ke tempat ku sekarang juga. Aku menceritakan semua pada ossan dan aku bisa mendengar ossan meradang sambil menagis di telepon. Kasian ossan punya anak seperti Daiki, tapi mau gimana lagi, dia tidak bisa mendidik anak nya dengan benar sebab dia sendiri juga mantan preman. Gen menarik pria itu pergi bersama dengan Makoto untuk pulang ke rumah nya dan menghancurkan komputer nya. Sesudah mereka pergi, aku minta Rin menghubungi Tetsuya untuk menjemputnya di rumah ku, jangan sampai Rin pulang sendirian dan kalau yang mengantar Seto, aku rada ragu, sebab Seto mirip seperti diriku dulu dan Naoto.