
Kali ini, walau kaget, aku tetap tenang, aku melihat senyuman yang sangat tidak enak di wajah Shizuka, aku tidak tahu niat nya, tapi aku mempersilahkan dia masuk bersama Naoto, sendirian, tidak ada pengawal boleh masuk. Aku mengajak nya ke ruang tamu yang terpisah dari ruang tengah.
“Jadi ?” Tanya ku sambil duduk di depan mereka.
“Mana Keiko nee san ? aku mau bertemu dengan nya.” Jawab Shizuka.
“Dia masih dalam masa pemulihan, baru habis melahirkan, sekarang sedang menyusui bayinya bersama aniki.” Balas ku.
“Ternyata begitu.....ya sudah aku mengerti. Jangan salah, niat ku ke sini benar benar tulus mau bertemu dengan Keiko nee san.” Balas Shizuka.
“Tumben Ayame tidak ikut....” Balas ku.
“Kenapa kamu menanyakan Ayame chan ? tumben sekali.”
Wah, sigap juga Shizuka, kupikir dia akan cerita macam macam karena ada Naoto di belakang nya. Tapi langsung saja aku bertanya kepada yang bersangkutan,
“Dimana Ayame chan, Naoto kun ?” Tanya ku.
“Oh..dia....begini Masa kun.....”
Belum selesai Naoto berbicara, Shizuka langsung menoleh kepada nya dengan pandangan yang sinis.
“Siapa yang menyuruh kamu bicara ?” Tanya nya.
“Ah maaf Shizuka chan.....” Jawab Naoto kembali menunduk.
“Baiklah, sepertinya aku tidak di terima di sini....ayo Naoto, kita pergi....” Ujar Shizuka sambil berdiri.
“Duduklah, aku belum mengusir kalian.” Ujar ku.
Hah bicara apa aku ini, kenapa dia mau pulang malah ku tahan, tapi perasaan ku mengatakan ada yang tidak beres di antara hubungan Ayame dan Shizuka seperti yang di katakan Manabu waktu di restoran. Aku mengambil buket bunga yang ada di meja dan mengamati nya,
“Tidak aku masukkan apa apa...kamu pikir aku tidak punya nurani apa....” Celetuk Shizuka yang melihat ku memegang buket bunga.
Memang benar sih, buket itu hanya buket bunga biasa, sepertinya dia datang benar benar mau menjenguk Keiko dan memberi selamat atas kelahiran keponakan nya. Aku berdiri membawa buket bunga nya,
“Baiklah, tunggu di sini....” Ujar ku.
Aku keluar dari ruang tamu yang terpisah dan berjalan ke ruang tengah. Sebelum masuk, aku langsung menelpon Gen dan memintanya berjaga di depan rumah Ryota. Aku juga menelpon Kenzo untuk datang bersama Megumi ke rumah ku untuk memantau rekaman cctv yang aku pasang di rumah ku dan Ryota. Kemudian aku masuk ke dalam ruang tengah.
“Siapa yang datang Masa ?” Tanya Ryota.
__ADS_1
“Shizuka, dia memberikan buket bunga ini.” Balas ku sambil memberikan buket nya kepada Ryota.
Ryota berniat keluar untuk menemui nya, tapi aku cegah, sebab sepertinya Shizuka datang tanpa niat apa apa, walau aku tidak seratus persen percaya. Aku mengatakan pada Ryota untuk sekalian mengajak Keiko dan Kenichi. Tapi tunggu sebentar, sampai Gen dan Kenzo siap. Aku tidak mungkin membiarkan Shizuka keluar dengan mudah kali ini, kalau memang dia tidak punya niat apa apa, dia tidak perlu takut, tapi kalau macam macam, maka semuanya selesai malam ini. Tak lama kemudian, aku mendapat pesan dari Gen kalau dia sudah siap dan Kenzo sudah di rumah ku bersama Megumi, mereka juga mengajak beberapa ninja untuk menjaga atap kedua rumah. Mereka mengatakan kalau sejak mereka datang, Shizuka dan Naoto tidak bergerak di dalam ruangan,
“Ayo aniki, nee san. Kita temui mereka.”
Aku keluar dari ruang tengah dan menuju ruang tamu bersama Ryota dan Keiko yang membawa bayi mereka. Ketika kita bertiga masuk, Shizuka dan Naoto langsung berdiri, pandangan wajah Shizuka berubah, dia tersenyum ramah melihat anak yang sedang di gendong oleh Keiko.
“Shizuka....” Tegur Keiko.
“Selamat Keiko nee san.....akhirnya jadi juga ya dengan Ryota nii san.....” Ujar Shizuka.
Aku melihat gestur dan gerak tubuh Shizuka, kalau dalam situasi normal, dia pasti sudah melompat memeluk Keiko dan anak nya. Aku benar benar melihat dia menahan diri untuk berbuat yang tidak perlu dan wajahnya benar benar menunjukkan kalau sebenarnya dia rindu dengan Keiko. Setelah itu, kita semua duduk kembali dan tidak berbicara sama sekali dengan suasana yang terasa sangat kaku, aku mengirim pesan kepada Touka di sebelah untuk membawakan minuman untuk Shizuka dan Naoto walau aku yakin mereka tidak akan mau meminum nya karena takut di racun haha. Akhirnya Keiko bicara,
“Terima kasih Shizuka....sudah kan, aku mau kembali lagi.” Ujar Keiko.
“Sudah nee san, terima kasih sudah mau menemui ku. Ayo Naoto, kita pergi, sekali lagi selamat Keiko nee san, Ryota nii san.” Balas Shizuka sambil berdiri.
“Tunggu, apa yang terjadi sebenarnya ?” Tanya ku.
“Bukan urusan mu Masa kun, permisi....” Jawab Shizuka yang melangkah keluar dari ruangan di ikuti Naoto di belakang nya.
Haruskah dia ku tangkap dan ku interogasi ? tapi dia benar benar datang tanpa berbuat apa apa, rasanya tidak enak juga kalau menahan dia di sini. Aku menoleh dan melihat Ryota yang memiliki dendam dengan Shizuka diam saja tidak bergerak. Akhirnya aku hanya melihat dia keluar dari ruang tamu dan mendengar keduanya keluar dari rumah.
“Ya, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia pikirkan dan aneh, biasanya mereka selalu berdua, kenapa ini malah bersama Naoto kun.” Tambah ku.
Selagi aku, Ryota dan Keiko berpikir keras, karena bingung melihat tindakan Shizuka hari ini, pintu ruang tamu di buka, aku menoleh dan melihat Touka berdiri membawakan nampan berisi minuman,
“Loh tamu nya mana onii chan ?” Tanya Touka,
“Sudah pulang, dah taruh sini saja minuman nya, untuk ku.” Jawab ku.
Di belakang Touka aku melihat Hikari juga ikut, sepertinya dia khawatir karena tahu yang datang adalah Shizuka, akhirnya aku meminta dia masuk ke ruang tamu dan duduk di sebelah ku. Tak lama kemudian Kenzo datang membawakan aku rekaman cctv di ruang tamu Ryota selagi Shizuka berada di ruang tamu, kita semua melihat nya bersama, ternyata memang Shizuka dan Naoto sejak masuk tidak berbuat apa apa, mereka juga tidak bicara satu sama lain dan Naoto terlihat seperti takut dengan Shizuka. Dia datang ke sarang musuh, sendirian tanpa pengawal, dengan tujuan mau mengucapkan selamat, lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan apapun. Dia itu berani mati atau memang bodoh ya, begitu pikir ku. Tapi Shizuka benar juga, apa yang terjadi di antara mereka bukan urusan ku. Tapi yang membuat ku penasaran, kenapa dia ada di kyoto yang jauh dari rumah nya.
Ketika Shindo menyusul kita ke dalam ruangan, barulah kita semua bergerak untuk kembali menuju ruang tengah dan makan bersama lagi. Selagi makan,
“Masa, apa perlu kita pindah lagi, mereka sudah mengetahui rumah kita berdua kan.” Ujar Ryota.
“Tidak perlu aniki, aku sudah tidak mau lari lagi, kalau mereka datang akan aku hadapi. Sudah cukup kita lari aniki.” Balas ku.
“Masa aniki benar Ryota aniki, kabur kemana pun sulit karena mereka terus mencari, lebih baik di hadapi sekalian.” Tambah Shindo.
__ADS_1
“Aku mengerti, aku juga sudah lelah lari, untuk masa depan Kei chan dan Ken, kita diam di sini.” Balas Ryota.
“Aku tidak masalah Ryo nii....aku tidak lemah, Hikari chan juga tidak lemah, kita pasti bisa bertahan.” Tambah Keiko.
“Kenapa semua jadi begini ya, padahal waktu aku ingat sewaktu kita sama sama sekolah semua terasa indah.” Ujar Haruka.
Mendengar ucapan Haruka semua langsung diam, memang benar, waktu sekolah dulu sangat menyenangkan dan kita semua bersama sama, makan bersama, berpergian bersama, lari bersama, tapi memang semua harus seperti ini, jadi kita harus menghadapi nya. Hikari bergeser dan duduk di sebelah Haruka sambil merangkul nya.
“Kita pasti akan bisa kembali seperti waktu sekolah dulu....” Ujar Hikari.
Syukurlah, itulah hebatnya Hikari, di saat seperti ini dia masih bisa positif, bahkan aku saja yang sudah pernah mengulang hidup masih sulit untuk berpikir positif di segala situasi. Haruka mengangguk dan merebahkan kepalanya di pundak Hikari. Aku melihat meja makan, kita semua duduk memutari meja dan menikmati makanan yang di hidangkan, memang kalau saja Ayame dan Shizuka bisa duduk bersama dan makan bersama tanpa ada dendam dan melupakan segalanya. Tiba tiba handphone Haruka berbunyi, Haruka mengangkat telepon nya dan wajah nya langsung berubah menjadi riang, dia berbicara dengan senang di telepon. Setelah telepon di tutup,
“Siapa Haru nee san ? “Tanya Shindo.
“Sayaka, teman ku....kamu ingat kan Masa.....” Jawab Haruka.
“Oh Sayaka chan.....dia dimana sekarang ?” Tanya ku.
“Dia sekarang di amerika, dia sekolah perfilman di sana. Aku masih sering kontak dengan nya, sekarang dia sendirian dan dia bertekad tidak mau menikah karena masih teringat Jinta.”
Jinta, benar juga, semua karena aku mendengar kabar kematian nya waktu di osaka. Saat itu aku masih belum bisa memilah mana kehidupan ku masa lalu dan mana kehidupan ku masa sekarang, aku terpukul karena kematian Jinta yang di masa lalu adalah sahabatku bahkan sampai aku berumur 40 tahun. Aku berdiri dan melangkah keluar,
“Eh Masa, mau kemana ?” Tanya Haruka. Aku menoleh dan melihat Hikari sedang memegang pundak Haruka sambil menggelengkan kepalanya.
Aku tidak memperdulikan panggilan nya dan aku keluar dari ruangan, aku sempat menoleh dan Hikari tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku langsung berjalan masuk ke dalam ruang tamu tempat Shizuka menunggu tadi, aku duduk di sofa dan menundukkan kepala ku. Semua ingatan ku keluar lagi, kenapa bisa semua jadi seperti ini ? semua gara gara diriku, kalau saja waktu itu aku tidak meninggalkan Ayame, semua pasti akan baik baik saja. Kehidupan masa lalu dan kehidupan sekarang muncul di benak ku silih berganti, cinta, dendam, manis, pahit, suka, duka, semua bercampur menjadi satu sampai sulit sekali memilah nya. Aku tenggelam di dalam kenangan, penyesalan, kesedihan dan perasaan lain yang muncul, yang aku sendiri tidak mengerti sampai sekarang. Selagi hampir aku kehilangan diriku, pintu ruangan di buka, seseorang masuk dan menutup kembali pintunya, orang itu langsung merangkul ku dari belakang.
“Tidak apa apa Makun, aku bersama mu....” Ujar Hikari.
“Hichan.....Michan.....”
“Aku sekarang Hichan....jangan pernah panggil Michan lagi, dia sudah masa lalu.”
Hikari berjalan ke depan ku dan duduk di sebelah ku, kemudian dia langsung membenamkan kepala ku di dada nya, sambil mengucapkan “Aku disini.” Air mata ku langsung deras mengalir, Hikari langsung mendekap ku. Ketika aku melihat wajah nya, pandangan ku langsung fokus, semua pikiran ku lenyap, benar, orang di depan ku inilah orang yang akan bersama ku di masa depan ku yang belum di tulis, aku langsung mendekap Hikari dan menangis di dada nya. Tapi dasar ninja, aku tahu, banyak orang berada di balik pintu mengintip dan mendengar semua yang ada di dalam, kadang aku menyesal juga jadi ninja karena hal seperti ini. Aku tidak perduli, aku lanjutkan mengeluarkan semua emosi dan isi hati ku bersama air mata ku, di pelukan orang yang paling ku sayang melebihi diriku sendiri. Setelah aku mulai tenang, aku membersihkan semua air mata ku dengan jas ku, Hikari juga membantu membersihkan nya dengan lengan pakaian nya yang sedikit kepanjangan dengan wajah tersenyum memandang ku.
Aku berdiri dan menggandeng Hikari untuk keluar ruangan, begitu membuka pintu, Keiko, Ryota, Haruka, Shindo dan Touka semua berdiri di depan ruangan, aku tahu kok mereka semua mengintip ku barusan, tapi aku tahu mereka khawatir karena melihat wajah mereka semua, Haruka langsung maju ke depan mendorong sendiri kursi rodanya.
“Maafkan aku Masa.....aku mengingatkan mu pada Jinta...aku tidak bermaksud apa apa, aku hanya kangen waktu kita semua bersama sama dulu.” Ujar Haruka.
Aku langsung jongkok di depan kursi roda nya dan tersenyum memandang wajahnya. Haruka sedikit bingung melihat ku jongkok di depan nya, dia menoleh melihat Shindo yang tersenyum dan mengangguk sambil menggendong anak nya.
“Aku yang minta maaf Haruka chan, kamu jadi begini gara gara aku, terima kasih sudah mau membantu ku sampai sekarang. Kamu memang sahabat ku yang terbaik Haruka chan.” Ujar ku sambil memegang tangan Haruka dan terseyum melihat nya. Dia menarik tangan nya dan menutup mulutnya, dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
Dan seperti yang ku bilang, semua wanita perkasa yang ada di sekitarku menjadi cengeng. Haruka langsung menangis dan memeluk ku yang berjongkok di depan nya, Shindo juga langsung memegang pundak ku sambil menggendong anak nya dan tersenyum. Aku juga melihat Ryota merangkul Keiko yang sedang menggendong bayi nya sambil tersenyum kepada ku, lalu di sebelah mereka, Touka berpelukan dengan Hikari dan keduanya tersenyum ketika melihat Haruka memeluk ku. Benar, saat ini, orang orang di depan ku inilah keluarga ku sekarang, aku harus hidup untuk mereka, masa lalu adalah masa lalu, baik di kehidupan lalu atau kehidupan sekarang, aku tidak boleh ragu dan guncang seperti barusan. Terima kasih semuanya, aku sekarang tidak apa apa. Akhirnya kita semua kembali ke ruang tengah untuk meneruskan kembali makan malam bersama dan kali ini tidak akan ada gangguan lagi.