
Aku melompat membawa Haruka dan Hana mengikuti ku, sampai di atas aku langsung lari melewati lapangan hancur di depan kuil dan langsung menuju bagunan utama kuil yang sudah rubuh separuh. Di depan ku banyak sekali penjaga yang langsung menodongkan senjatanya.
“Haruka siap siap.”
“Sip, lempar kapan saja....”
Aku langsung melemparkan Haruka ke atas menuju ke tengah mereka, sementara para penjaga menoleh ke atas melihat Haruka, aku dan Hana melemparkan shuriken dan membunuh mereka dalam sekejap. Begitu mendarat Haruka langsung menendang pintu sampai hancur. Bau dupa menyengat hidung, di dalam sedang di adakan ritual yang tidak jelas untuk apa, aku melihat Kaede di baringkan di tengah tengah dengan memakai pakaian yang tipis dan tembus pandang, di sekelilingnya ada beberapa yang nampak seperti pendeta sedang berkomat kamit membaca. Aku tahu mereka bukan pendeta, sebab jubah nya hitam dan memakai kain hitam yang menutupi wajah nya. Melihat kita masuk, tiga orang pendeta langsung melompat ke depan kita.
Mereka mengeluarkan sebuah kertas dari saku nya yang berbentuk manusia di namakan shikigami, mulut mereka mulai berkomat kamit dan melemparkan shikigami itu ke udara, ternyata kertas kertas itu berubah menjadi oni besar seperti binaragawan dengan tanduk besar di kepalanya dan memakai kain dari kulit binatang untuk menutupi bagian penting nya di pinggang. Warna kulit mereka merah, biru dan normal. Tanpa ragu aku dan Hana maju, menghunus pedang dan membelah ilusi yang ada di depan kita dengan membelah kertas nya menjadi dua bagian. Setelah ilusi itu menghilang, Haruka mengatasi tiga pendeta itu dengan karate nya. Langsung saja kita menghabisi para pendeta berjubah hitam di depan dan menyelimuti tubuh Kaede yang pingsan dengan jubah salah satu pendeta. Beberapa penjaga yang berjaga di belakang kuil masuk ke dalam dan langsung menembak tanpa basa basi.
Tentunya mereka bukan lah hal yang sulit, dengan cepat, aku dan Hana menghabisi mereka, tapi ada satu yang mengganjal hati ku, dimana sensei, aku lari lagi keluar dan mulai menjelajahi komplek kuil hancur itu. Aku tidak melihat mobil nya dan tidak menemukan sensei di mana pun, perasaan ku langsung tidak enak.
“Haruka, cepat bawa Kaede ke mobil, Hana tolong dampingi mereka, aku kembali ke sekolah dulu.” Aku mengambil sebuah motor milik penjaga dan menaiki nya.
“Eh...tunggu Masa, kamu jangan gegabah....” Teriak Haruka mencegah ku.
“Ayame dan Hikari dalam bahaya....”
Tanpa menunda lagi aku langsung melesat menuruni tangga menggunakan sepeda motor. Di bawah aku melompati mobil Manabu san dan langsung pergi menuju sekolah. Aku sudah tidak berpikir apa apa lagi, Ayame, Hikari, semoga kalian baik baik saja. Aku memotong jalan melalui jalan pintas dan menerobos pusat perbelanjaan, maaf pikir ku, aku harus cepat. Perjalanan yang harus nya 20 menit, menjadi hanya 10 menit karena aku memotong jalan. Aku langsung masuk gedung smp dan berhenti di depan gedung, aku langsung melompat ke atas dan masuk ke dalam kelas, motor ku biarkan jatuh. Begitu sampai di ruang kesehatan, aku melihat, seorang pria besar tergeletak, Hiruma sensei tiduran terlungkup di lantai, aku langsung memeriksa lehernya dan ternyata dia sudah mati. Kurang ajar pikir ku, aku langsung keluar dari ruang kesehatan, tidak ada siapa siapa lagi di sana kecuali jenazah sensei, dimana Hikari, Ayame, Shouko, beritahu aku, kalian dimana, pikir ku panik. “Ckiiit....bruuuum.” Aku mendengar suara mobil di bawah sedang memutar dengan kencang menuju gerbang. Tanpa pikir panjang, aku melompat kembali ke bawah dan mengabil motor ku tadi.
Aku mengejar mobil yang keluar dari gerbang dan menyusul nya. Aku kesamping nya, Hikari, Ayame dan Shouko ada di kursi belakang sedang tidur, sedangkan sensei yang menyetir mengacungkan pistol nya menembak ku. Aku langsung mengerem sampai roda belakang ku terangkat dan menghindari peluru. Aku memacu kembali motor ku dari belakang sampai menempel dengan mobil, supaya sensei tidak bisa menembak ku. Dengan cepat aku kesamping sebelah kanan dan mendahului mobil kemudian menyebarkan ranjau paku. Ban mobil pecah dan mobil kehilangan kendali, ketika menghantam pinggir jalan mobil langsung terpental dan terbang di atas sungai melewati pembatas jembatan, aku langsung mengarahkan motor mendekat, melompat dan membuka pintu belakang, aku menarik Hikari kemudian Ayame dan berikut nya Shouko, sementara yang duduk di kursi pengemudi sibuk melepaskan sabuk pengaman nya, aku melemparkan mereka ke dalam sungai, aku sendiri langsung bersalto dan masuk ke sungai. Mobil yang jatuh ke pinggir sungai meledak.
“Fiuuh....sudah berakhir.” Pikir ku.
Tiba tiba sebuah asap hitam mengikat ku dan membuat ku tidak bisa bergerak, aku menoleh dan sensei masih hidup, yang membelit ku bukan asap hitam, melainkan seperti bayangan yang keluar dari tato nya.
“Kurang ajar....kurang ajar....kurang ajar....” Gumam sensei sambil mendekati ku dengan wajah yang sudah separuh terbakar.
“Apa ini...kenapa kamu masih hidup sensei ?” Teriak ku.
“Kurang ajar...kurang ajar....kurang ajar...” Balas nya sambil berteriak.
Apa dia cuma bisa bilang kurang ajar ya, pikir ku. Aku mencoba melepaskan diri, tapi ikatan itu makin kuat kalau aku berontak. Aku mencoba tenang, tapi dia semakin mendekat dan mulai menembaki ku dengan pistol. Untung saja pakaian ku anti peluru, tapi di tembak dari jarak segini, aku rasa benturannya mungkin membuat rusuk ku retak, aku mendadak susah bernafas. Gawat, aku bisa mati kalau begini. Tiba tiba, sebuah bayangan muncul dan langsung kebelakang sensei. Sebuah pedang menembus dada sensei dari belakang.
__ADS_1
“Aaarghhh....jangan ganggu.” Sensei berbalik dan menembak orang di belakang nya.
Aku melihat Hikari terpental mundur kebelakang dan jatuh masuk lagi ke dalam sungai.
“Hikari.....” Teriak ku.
Sensei berbalik lagi dan menodongkan pistolnya ke arah kepalaku. “Cklik.” Pelurunya habis, dia melemparkan pistolnya ke arah ku dan memegang dada nya yang tertembus pedang, ikatan bayangan nya mengendur, aku bisa menggerakkan sebelah tangan ku, aku memindahkan pedang ku dan memutarnya dengan pergelangan tangan untuk memotong bayangan nya. Ketika terbebas aku langsung melompat ke atas dan menusuk kepala sensei dari atas. Sensei langsung berlutut dan jatuh terlungkup. Aku langsung meninggalkan nya dan menghampiri Hikari yang masih terlentang di sungai.
“Hikari...Hikari.....” Teriak ku sambil menopang kepalanya.
Aku memeriksa denyut nya dan nafasnya, kemudian aku melihat bekas tembakan nya dan dia tepat tertembak di ulu hati. Aku langsung menekan ikat pinggang nya untuk melepaskan pakaian nya. Dia tidak terluka, tapi dia tidak bernafas dan denyut nya berhenti. Aku memompa jantung nya dan memberinya nafas buatan. Tidak, tidak ,tidak, Hikari, jangan tinggalkan aku, pikir ku terus menerus sambil terus menekan dada nya untuk memompa jantung nya. Aku panik, air mataku mulai bercucuran, keringat ku deras mengalir, jantung ku berdegup kencang, tolong jangan ambil Hikari, pikir ku. Syukurlah keajaiban terjadi, Hikari mendadak mengambil nafas panjang dan terbatuk. Aku langsung memeluk nya dengan erat dan mengelus kepalanya. Terima kasih, siapapun dewa yang lewat, terima kasih, pikir ku sambil menangis lega.
“Ma...kun ?” Ujar Hikari perlahan.
“Hikari, jangan tinggalkan aku....” Teriak ku sambil menangis dan merebahkan kepala ku ke pundak nya.
Hikari tidak menjawab, dengan tangan nya yang lemah dia memeluk ku dan memegang kepala ku. Setelah itu, karena Hikari masih lemah, aku menggendong nya di punggung ku dan berlari menuju Ayame dan Shouko yang mulai bangkit perlahan lahan. Ayame langsung memeluk ku dan menangis tersedu sedu sementara Shouko hanya berdiri dan memegang tangan nya, seperti nya tangan nya terluka ketika ku lempar tadi. Karena banyak orang yang menonton dari pinggir jalan dan di atas jembatan, aku mengajak mereka masuk ke dalam bawah jembatan dulu sementara. Aku mendudukan Hikari di dinding, Ayame duduk di sebelah nya dan Shouko tidak mau ku suruh duduk.
“Kalian tunggu di sini sebentar, banyak orang, aku harus melepaskan pakaian ini dan kembali ke sini. Tunggu ya.”
***
Beberapa jam kemudian, Manabu san, Haruka, Naoto, Hana dan Kaede datang kerumah sakit, karena ketika sampai rumah sakit, aku langsun menelpon Manabu san menggunakan telepon rumah sakit. Haruka langsung meninju wajah ku dan memeluk ku, dia terlihat sangat khawatir, jelas lah, aku jadi stuntman film holywood hari ini. Hana juga memeluk ku dan Manabu san menggelengkan kepala sambil tersenyum lega. Naoto langsung minta maaf pada ku dan menghampiri Ayame, sedangkan Kaede hanya diam saja, kemudian memeluk Shouko yang tangan nya ternyata terkilir dan sedikit keseleo sampai di perban. Kemudian Manabu san mengajak ku keluar dan kita berbicara di lorong sambil duduk di kursi di depan.
“Bocchan, setelah dalang nya mati, kepalanya akan muncul, kita harus siap siap.” Ujar Manabu san.
“Iya, aku mengerti, ada info soal Godou Ichiro ?” Tanya ku.
“Belum, anak buah ku masih melakukan penyelidikan.” Balas Manabu san.
“Tidak perlu mencari lagi, bos sudah meninggal barusan sepertinya ketika sensei mati tadi.” Ujar Hana yang tiba tiba ada di sebelah.
“Berarti Kaneshiro bisa menggantikan nya dong ?” Tanya ku kepada Hana.
__ADS_1
“Sepertinya hanya untuk sementara, banyak yang menentang dia, dia akan hancur sendiri, barulah nanti Naoto kun bisa naik. Tapi, tidak mungkin Kaneshiro diam saja, mereka pasti memburu Naoto kun.” Jawab Hana.
“Seperti yang kubilang barusan bocchan...aku akan hentikan penyelidikan.” Tambah Manabu san yang langsung menelpon operator pager.
“Baiklah, kita tunggu saja mereka datang.” Ujar ku sambil menunduk dan menopang dagu ku dengan kedua kepalan ku.
Tiba tiba saja, Hikari keluar kamar dan mencari ku. Setelah melihat ku, dia langsung menghampiri ku. Dia duduk di pangkuan ku dan langsung mencium ku. Ampun deh ini anak, banyak orang kali,
“Hei...apa apaan Hikari ?” Tanya ku sambil mendorong nya.
“Kangen....” Jawab Hikari singkat sambil memeluk ku.
“Bocchan.....” Ujar Manabu san sambil menggelengkan kepala.
“Hahaha....begitu ya ternyata, pantas dia garang melihat ku ternyata bukan adik toh.” Tambah Hana.
Ya sudah lah, banyak sekali rahasia ku terbongkar hari ini, tapi suatu saat juga harus terbongkar, jadi sama saja kan haha. Kaede dan Shouko juga keluar, mereka berjalan ke depan ku, keduanya langsung menunduk dan mengucapkan terima kasih. Aku bilang sama sama dan keduanya langsung duduk di sebelah ku. Keduanya memegang ku dan Hikari kemudian memejamkan mata dan setelah itu mereka berdiri lagi dan masuk ke kamar kembali. Apa coba artinya, aku sama sekali tidak mengerti. Mungkin mereka memberkati ku dan Hikari haha, mana mungkin. Akhirnya kita semua menghabiskan malam itu di rumah sakit karena di larang keluar oleh pihak rumah sakit, walau keesokan harinya sudah boleh pulang.
Beberapa hari kemudian, sebelum aku kesekolah, aku minta Manabu san berjaga jaga saja di sekitar sekolah bersama anak buah nya. Aku, Hikari, Ayame dan Haruka pergi ke sekolah seperti biasa. Ketika gerbang sekolah sudah kelihatan, aku menarik semua nya bersembunyi, karena ada beberapa mobil sedan hitam terparkir di sepanjang gerbang sekolah.
“Mereka sudah bergerak....” Ujar ku.
“Benar Ma kun, mereka sudah frontal sekarang karena si ular itu gagal.” Balas Hikari.
“Masa, aku memutar ke sekolah khusus pria itu, aku akan mengepung mereka.” Ujar Haruka.
“Ok, tapi hati hati ya...” Balas ku.
Haruka langsung memutar dan masuk ke dalam jalan pintas untuk menuju sekolah berandal yang sekarang ada di bawah nya. Ayame memanggil Haruka yang langsung menoleh, kemudian dia langsung menoleh padaku.
“Aku ikut Haruka ya.” Ujar Ayame.
“Hmm ya sudah, tapi bawa ini...hati hati ya.” Aku memberikan Ayame sepucuk pistol kecil yang bisa di simpan di saku, pistol itu di berikan Manabu san kepadaku sebelum nya.
__ADS_1
“Baiklah, kalian juga hati hati ya, jangan gegabah.”
Ayame mengejar Haruka yang menunggunya di ujung gang yang merupakan jalan pintas menuju sekolah berandal. Aku mendekat menuju gerbang bersama dengan Hikari dan melompat ke atas pohon. Banyak murid murid datang, berjalan masuk ke dalam sekolah. Aku menunggu Naoto dan Hana yang biasa nya akan lewat di bawah tempat ku menunggu dan kalau mereka lewat aku akan keluar mencegah nya supaya jangan masuk ke dalam dulu. Untuk Kaede dan Shouko ku rasa sudah tidak ada masalah karena yang mengincar mereka adalah Todou Akira, bukan Kaneshiro. Para penumpang di mobil mobil sedan itu seperti nya sudah mulai bersiap dan terus mengamati murid murid dari dalam mobil mereka, sementara aku dan Hikari waspada di atas pohon.