
Tiga hari setelah kita pergi ke makam Jinta, sekolah sudah masuk kembali, pemeriksaan polisi sudah selesai. Setelah pelaku di interogasi, polisi menetapkan Kaneshiro menjadi tersangka dan buron. Di sekolah, ketika masuk gerbang sekolah, tiba tiba kita berempat di cegat oleh 5 orang senior yang sepertinya dari club beladiri karena masih memakai seragam nya masing masing sehabis latihan pagi.
“Hei, serahkan perempuan itu ke kami maka tidak ada keributan.” Ujar seorang senpai besar yang memakai pakaian judo menunjuk Ayame.
“Hah....senpai cari mati ?” Tanya ku sambil menatap tajam dan mengeluarkan hawa intimidasi ku dan bukan cuma aku, Hikari dan Haruka juga mengintimidasi nya.
“Huh....” Senpai dan ke 4 orang temannya berbalik setelah menatap ku.
Ada apa lagi ini, bukan kah berita nya sudah keluar, mau apa lagi mereka, pikir ku. Tiba tiba Hana muncul di belakang kita semua bersama dengan Naoto. Dia menjelaskan, kalau Sakuragi mengumumkan kepada seluruh keluarga, Naoto sudah resmi menjadi penerus dan kepala keluarga Godou, mereka langsung berlomba lomba mengajukan anak nya untuk di nikahkan kepada Naoto, Sakuragi juga mengumumkan kalau Naoto sudah bertunangan dengan Ayame. Haaah, ini dia masalah nya dan sekarang yang di icar Ayame, bagus, kerja bagus kribo bego, urusan penembakan Jinta saja aku masih kesal padanya, sekarang malah menambah keributan dan mengakibatkan Ayame di incar.
“Repot nih, apa dia tidak bilang kalau Ayame dari keluarga Odasiga ?” Tanya ku pada Hana.
“Dia sudah menyampaikan nya, tapi mereka sepertinya tidak percaya dan mencoba mencelakai Ayame chan, siswa tadi contoh nya.” Jawab Hana.
“Tolong segera selesaikan masalah ini, aku sangat tidak mau Ayame terlibat, apalagi sampai kenapa napa.” Jawab ku sedikit kesal.
“Pasti Masa kun, Sakuragi sekarang sedang memperketat keamanan.” Balas Hana.
“Maaf, semua gara gara aku.” Ujar Naoto.
“Jangan cuma bisa maaf Naoto kun. Lagipula bukan kamu kan.” Balas ku rada kencang.
Perasaan ku tidak enak, sesuatu akan terjadi lagi, pindah dari tokyo dengan tujuan bersembunyi malah di incar di sini. Tapi yang paling mengerikan adalah, apa yang menimpa Jinta dan Sayaka, Jinta harusnya hidup bahagia bersama Haruka sekarang malah tiada dan Sayaka yang harusnya masa depan nya berubah dengan bersama Jinta, jadi kembali seperti semula, menjadi bintang av, bintang fim dan mati di umur 30 karena di bunuh penggemarnya, penyebab nya adalah peran nya sebagai penjahat yang begitu mirip dengan karakter penjahat tulen. Itulah makanya, dengan ada masalah ini sekarang, jalan menuju kematian Ayame mulai terlihat.
“Kalau begini harus pindah lagi.” Gumam ku.
“Jangan, aku yakin tidak akan ada apa apa.” Balas Ayame.
“Benar, aku menjaga dia Masa, tenang saja.” Tambah Haruka.
Hanya Hikari yang tidak berkomentar apa apa, tapi dia menggenggam tangan ku dengan kencang seakan akan tahu maksudku. Kamu boleh yakin Ayame, karena kamu tidak tahu, tapi aku bingung bagaimana membujuk nya. Sepertinya Ayame agak kesal, dia masuk duluan bersama Haruka, Naoto dan Hana. Wajar saja sih dia marah, karena dia tidak mengerti. Aku langsung malas masuk ke sekolah, akhirnya aku keluar lagi dari gerbang dan Hikari menemani ku. Aku langsung menelpon Manabu san untuk memperketat penjagaan di sekitar sekolah.
“Ma kun, kamu harus ke kelas, entah kenapa aku punya perasaan kurang enak.” Ujar Hikari.
Perasaan Hikari kebanyakan benar, aku percaya pada nya 100%, kadang dia seperti ku, bisa mengetahui apa yang akan terjadi mengandalkan perasaan dan lebih peka dari ku dari kecil.
“Baiklah, aku ke kelas.” Ujar ku sambil berbalik dan menggandeng tangan Hikari.
Selama berjalan masuk, aku melihat wajah Hikari sudah kembali seperti biasa, kadang aku heran sama Hikari, walau dia berumur lebih muda 2 tahun dari ku, kadang dia terlihat lebih dewasa dari Ayame dan Haruka yang seumur dengan ku, mungkin karena dia sudah terlatih kali ya, dari kecil di tempa oleh jisan nya. Sampai di depan gedung, aku masuk ke dalam dan Hikari langsung menuju gedung smp untuk masuk ke kelas nya sendiri.
***
Di dalam kelas, setelah bel berbunyi, sensei masuk ke dalam, setelah memberi hormat, sensei mengatakan ada siswa pindahan baru yang merupakan pertukaran pelajar dari china akan masuk kelas kita hari ini, dia langsung menyuruh dia masuk. Perasaan Hikari benar, seorang siswa pria tampan yang berambut hitam berantakan dengan tubuh tinggi dan tegap masuk ke dalam. Dia tampak seperti seorang yang sudah berlatih bela diri lama.
“Perkenalkan namaku Uematsu Shin, salam kenal.”
Loh katanya siswa asing, tapi bahasa jepang nya bagus sekali dan fasih, aku langsung mendekati Haruka.
“Haruka, hati hati, dia bukan orang biasa.” Ujar ku berbisik.
“Aku mengerti...” Jawab Haruka balas berbisik.
__ADS_1
Tentu saja, Ayame dan Naoto tidak merasakan apa apa terhadap murid baru itu, tapi jangan harap bisa mengelabui aku. Sensei menyuruh dia duduk di sebelah Haruka di belakang, aku langsung minta Haruka bertukar tempat dengan ku, sebab Haruka berada di belakang Ayame.
“Masamune kun, kenapa kamu pindah ?” Tanya sensei yang melihat ku pindah tempat dengan Haruka.
“Tidak apa apa sensei, aku tidak kelihatan saja....” Jawab ku.
“Dia siscon sensei, takut adik nya di dekati hahaha.” Ledek Haruka.
Seluruh kelas langsung tertawa kencang, termasuk siswa baru itu, aku mengerti maksud Haruka yang menghilangkan kecurigaan sensei. Aku ikut tertawa saja walau di pakasakan sedikit. Tiba tiba anak baru itu menoleh kepada ku,
“Salam kenal ya, mohon kerja samanya.” Ujar nya sambil menjulurkan tangan nya.
“Salam kenal juga.....” Aku menjabat tangan nya.
Nah pas berjabat tangan ketahuan, dia bukan orang biasa, seperti nya dia juga menyadari aku juga bukan orang biasa dan dia langsung menoleh kembali ke depan setelah menjabat tangan ku. Senyum nya tidak enak di lihat, bukan karena dia ikemen, tapi ada sesuatu yang membuat ku bergidik, sensasi ini sama seperti waktu di kereta menuju fukuoka dari tokyo dan di pemandian umum, dia pembunuh, serigala yang siap menerkam mangsanya kapan saja dia mau. Sekarang tinggal target nya, antara Naoko atau Ayame siapa yang dia incar. Sepanjang pelajaran, aku sama sekali tidak konsentrasi dan terus memperhatikan gerakan nya, sekecil apapun. Tiba tiba penghapus nya jatuh dan aku mengambil nya, aku tahu dia sengaja sebab di penghapus itu terselip surat kecil yang isinya, “Ku tunggu di atap, makan siang.” Aku mengembalikan penghapusnya sambil tersenyum dan dia tersenyum balik padaku.
Istirahat makan siang, aku berpesan pada Haruka, jangan biarkan Ayame dan Naoto keluar dari kelas, aku pergi sebentar ke atap. Haruka yang mengerti langsung mengambil bekal dan membukanya, melihat itu Ayame dan Naoto juga jadi makan bersama dengan nya. Aku berdiri dan langsung keluar kelas untuk menuju ke atap. Sampai di atap, baru saja masuk sebuah pisau dengan rumbai rumbai merah melesat ke arah ku, aku langsung menghindari nya dan pisau menancap di pintu.
“Sudah ku duga, kamu sama seperti ku.” Tanya nya.
“Siapa target mu.” Balas ku langsung pada intinya.
“Wah, maaf aku tidak bisa mengatakan nya, tentunya kita sama sama tahu kan aturan nya, tapi aku peringatkan, jangan menghalangi tugas ku.” Balas Shin langsung.
“Hmm tergantung target mu.” Balas ku lagi.
Aku dan Shin langsung berpandangan dan berhadapan, aku siap melayani nya dan sepertinya dia juga siap. Tapi tiba tiba seseorang masuk dan langsung menyerang Shin, dengan mudah Shin menangkis nya dan orang itu mendarat di sebelah ku.
“Ya, dia baru pindah ke kelas ku hari ini.” Jawab ku.
“Hehehe ada dua rupanya, ramai juga sekolah ini.” Balas Shin.
Tiba tiba dua buah shuriken di lemparkan ke arah Shin dan dia mundur ke belakang, sehingga shuriken itu menancap di lantai. Hikari mendarat di sebelah ku dan langsung bersiap.
“Wah wah, aku meyerah, kalau 3 lawan 1 jelas aku kalah.” Ujar Shin sambil tersenyum mengangkat tangan nya.
“Cepat katakan siapa target mu dan siapa yang menyuruh mu ?” Tanya ku.
“Sudah lah, kita semua berada di bisnis yang sama, jangan melanggar aturan.” Jawab nya sambil berjalan ke arah ku.
Dia melewati aku, Hana dan Hikari yang bersiaga penuh, tapi dia berhenti di sebelah ku dan berbisik.
“Let’s get along okay...” Ujar nya sambil tersenyum dan masuk kembali ke dalam.
Ketika dia mengucapkan bahasa inggris di telinga ku, aku langsung tahu, walau dia dari china, dia pembunuh kelas internasional dan dia sangat berbahaya mungkin jauh berbahaya dari yang ku temui di pemandian waktu itu. Aku langsung masuk ke dalam di ikuti oleh Hana dan Hikari untuk secepatnya kembali ke kelas.
Sampai di kelas, aku melihat Shin sudah duduk di sebelah Naoto dan di depan Ayame sambil membuka bekalnya dengan senyum yang polos dan ceria. Aku, Hana dan Hikari sangat geram melihat nya. Aku juga melihat Haruka yang terlihat resah, Shin melirik ku dan langsung tersenyum, mengerikan, orang ini benar benar mengerikan, aku tidak bisa lengah sedikit pun, pikir ku. Aku mengambil ponsel ku dan meminta Manabu menyelidiki status dan profil orang bernama Uematsu Shin, Manabu san membalas ok. Walau sebenarnya aku tahu, nama yang dia pakai sekarang bukan lah nama asli nya.
***
Pulang sekolah, aku minta Manabu san menjemput kita naik mobil dan menunggu di depan gerbang, aku tidak mau mengambil resiko dengan berjalan kaki.
__ADS_1
“Kenapa kamu tiba tiba minta di jemput Masa kun ? bukankah kita biasanya jalan.” Tanya Ayame.
“Tidak apa apa, supaya cepat saja sampai rumah sebab aku cape.” Aku menciptakan alasan, karena Shin ada di belakang ku, tidak mungkin aku mengatakan nya pada Ayame secara langsung di tambah lagi sebelah Ayame ada Naoto.
“Tapi barusan Naoto mengajak ku dan Uematsu kun jalan jalan.” Balas Ayame.
Memang bedul juga nih bocchan sebelah sana, dia tidak punya kecurigaan atau kepekaan sama sekali apa, sifat baik nya terlalu naif menurut ku, walau aku juga dulu begitu, saking baik nya sampai aku sendiri yang celaka dan di khianati, semua happy aku sakit hati.
“Ah tidak jadi deh, aku ada keperluan lain, baiklah aku duluan ya.” Ujar Shin langsung meninggalkan kita.
Aku memperhatikan nya dan tidak menjawab nya, aku tahu alasan kenapa dia pergi, karena melihat Hikari dan Hana sudah menunggu di depan gerbang. Kalau mereka tidak ada, dia akan ikut bersama kita dan menjalankan aksi nya. Setelah di dalam mobil, barulah aku menjelaskan semuanya kepada Ayame yang awal nya masih setengah percaya. Tapi dia bisa menerimanya dan berjanji padaku untuk hati hati, walau begitu dia tetap mengkhawatirkan Naoto.
“Tenang saja, Hana san tidak mungkin tidak memberitahu Naoto, aku memberi tahu mu untuk waspada dan hati hati.” Tambah ku.
“Aku mengerti onii chan.” Balas Ayame menunduk walau aku tahu dia tidak puas.
“Ayame chan, kali ini aku setuju dengan Masa, aku juga merasakan nya, dia benar benar berbahaya.” Tambah Haruka.
“Tapi Naoto kun dalam bahaya kan..kita harus membantu nya juga kan. Kenapa memang nya kalau aku mau membantu Naoto kun ?” Balas Ayame.
“Kenapa yang kamu pikirkan Naoto, apa tidak ingat kejadian dengan senpai tadi pagi, kamu kan yang di cari.” Ujar ku sedikit ngotot karena kepala nya ternyata keras sekali.
“Kamu tidak perduli kan dengan Naoto kun, Masa kun, bagimu dia hanya penambah keuntungan kan, tapi aku lain.” Teriak Ayame.
“Loh kok malah gitu, bukan tidak perduli, tapi keselamatan mu nomer satu.” Jawab ku.
“Benar onee san, Ma kun bermaksud melindungi mu.” Tambah Hikari.
“Diam Hikari chan, kamu jangan ikut campur, kamu sudah mengambil dia dari ku, apa belum puas ?” Teriak Ayame membentak Hikari sampai Hikari diam dan tertunduk.
“Ayame....kamu ini kenapa ? sudah kubilang kan, bagiku kamu prioritas nomor satu.” Ujar ku sambil merangkul Hikari.
“Hah....kamu saja masih membela Hikari chan kan, lihat saja tuh, apa pantas kamu bicara begitu sama aku, turukan aku, aku mau pulang sama Naoto kun saja.” Teriak Ayame lagi.
“Ayame chan......kamu kenapa ?” Tanya Haruka.
Ayame langsung menceritakan semua isi hatinya di depan ku dan Hikari kepada Haruka, kalau selama ini dia hanya bisa melihat aku dan Hikari bermesraan sedangkan sekarang dia sudah menemukan orang yang di cintai nya tapi sikap ku cuek dan acuh, bahkan dia membawa bawa kejadian Jinta kemarin. Astaga, Ayame, kenapa kamu begitu, apa salah ku. Aku dan Hikari hanya bisa menunduk. Tiba tiba Ayame membuka pintu mobil dan membuat Manabu san berhenti. Dia langsung keluar, Haruka menoleh padaku dan mengatakan padaku tenang saja, kemudian dia keluar menyusul Ayame. Aku berniat menyusul nya, tapi Manabu san berbalik dan memegang pundak ku sambil memberi kode melihat ke samping ku dengan kepalanya. Aku menoleh dan melihat Hikari sedang menangis dengan wajah penuh penyesalan, kedua tangan nya tergenggam di atas kedua lutut nya sambil menunduk, seluruh rambutnya jatuh ke bawah. Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluk nya dan dia langsung menangis di dada ku.
“Bocchan, biarkan dulu ojouchan sendiri dulu, dia bersama Naoto kun, di sana ada Hana chan di tambah ada Haruka chan. Di sana juga aman, aku sudah meminta intel dari Youko untuk menyelidiki nya dan meminta dia datang ke sini.” Manabu menasihati ku.
Saat itu, aku baru tahu isi hati Ayame yang sebenarnya, berarti selama ini aku menyakiti nya, tidak, bukan hanya Ayame, aku juga menyakiti Hikari, aku menyesal jadinya seperti ini, jelas ini bukan mau ku. Inilah awal perseteruan ku dengan Ayame yang berdampak besar di masa depan. Manabu memarkir mobil nya di pinggir jalan dan dia menoleh kebelakang.
“Bocchan, aku mau bicara pesan bos kepada ku sebelum dia meninggal dan kamu datang. Tolong dengarkan.”
Cerita yang di ceritakan oleh Manabu san sama persis seperti yang di ceritakan oleh baasan, kalau Ayame dan Shizuka itu kembar sedangkan Keiko adalah cucu asli dari jisan, alasan Keiko ada di sana karena anak perempuan jisan menikah dengan anak laki laki baasan dan keduanya sudah meninggal. Alasan kenapa Ayame dan Shizuka di pisahkan dan siapa mereka sebenarnya membuatku menelan ludah dan setengah tidak percaya, karena diluar realita. Di era jisan dan baasan berkuasa, ada tiga keluarga besar yang memimpin yakuza jepang, pertama Odasiga, kedua Fujikata dan ketiga adalah Amagaoka yang lebih bersifat ke agamaan, mereka bukan pebisnis seperti dua lainnya. Ayame dan Shizuka adalah anak yang lahir dari anak perempuan Amagaoka yang belum menikah dan lahir tanpa ayah, karena ibu keduanya hamil dalam keadaan perawan. Ketika melahirkan mereka ibu mereka meninggal dunia, itulah sebabnya, clan Amagaoka di anggap melahirkan anak iblis. Seluruh sekte bahkan sampai pemerintah jepang menekan dan akhirnya menghancurkan mereka. Alasannya kedua anak yang lahir 16 tahun lalu itu di percaya akan membawa kesialan dan malapetaka.
Kepala clan Amagaoka menitipkan satu kepada jisan dan satu kepada baasan untuk menyelamatkan mereka, sebab Amagaoka percaya keduanya bukan anak iblis, melainkan anak dewa dan tidak boleh di bunuh. Jisan dan baasan setuju mengasuh mereka secara terpisah. Jadi jisan mengadopsi ku karena memang dia memerlukan pewaris sebab Ayame tidak bisa jadi pewaris, begitu juga baasan yang mengambil Keiko sebagai pewaris dan bukan Shizuka. Jadi kesimpulan nya, jisan mewarisi Ayame pada ku kan kalau seperti ini. Pantas dia tidak minta aku menikahi Ayame melainkan menjadi saudaranya. Percaya tidak percaya, aku harus percaya, aku berniat menyusul nya, tapi Hikari menahan ku. Dia menoleh kepada Manabu kalau mereka akan turun di sini dan pulang berjalan kaki. Manabu mengiyakan nya dan kita berdua akhirnya turun.
Begitu kita berdua turun dan Manabu san meninggalkan kita berdua dengan mobil nya, Hikari langsung berdiri di depan ku dan menunduk.
“Maafkan aku Ma kun.”
__ADS_1
Hah, kenapa dia minta maaf, aku berusaha membangunkan nya dan memeluk nya kembali, sebab aku tidak mengerti maksudnya kenapa dia meminta maaf. Hikari diam sesaat, barulah dia bilang kalau dia menyesal mendekati ku waktu di desa dulu. Aku bilang padanya, aku pun tertarik padanya jadi jangan menyesal. Hikari diam dan langsung memeluk ku lagi. Tapi di sini ada yang aneh, aku melihat wajah Hikari yang begitu merasa menyesal seperti pembunuh yang membunuh orang terdekat dari orang yang di kasihnya. Apa yang membuat nya sampai se menyesal itu. Saat itu, aku hanya terus memeluk Hikari, walau hati dan pikiran ku bergejolak karena tidak biasanya Hikari seperti ini.