Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 43


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Touka mulai tinggal di rumah ku, pagi pagi sekali aku terbangun, aku melihat Hikari masih tidur di sampingku, tapi, kenapa Touka juga tidur di samping ku, Arggh, benar benar membuat kepala ku pusing dan perasaan ku campur aduk. Dengan perlahan, aku bangun supaya aku tidak membangunkan keduanya, aku tidak mau memikirkan yang tidak perlu, saat ini yang benar benar menyita pikiran ku adalah evakuasi tulang belulang yang rencana nya di lakukan hari ini. Sudah lama aku tidak mebuat sarapan sendiri, mumpung aku bangun lebih pagi dari yang lain, bahkan lebih pagi dari para asisten rumah tangga ku,  aku pergi ke dapur dan membuat sesuatu untuk sarapan dan menyiapkan bento ku sendiri. Ah sudah lama tidak seperti ini, benar benar membuat kangen. Sekalian aku membuatkan sarapan untuk Hikari dan Touka, secara tidak sadar, walau setelah aku sadar pun aku tetap melakukan nya karena sudah tanggung. Setelah makan, aku kembali ke kamar dan keduanya masih terlelap, aku mengganti pakaian ku dan langsung keluar menuju kantor. Ketika sampai belum ada orang di kantor, hanya ada Manabu san yang lembur dari semalam tidak pulang, yah bilang nya saja lembur, padahal dia sedang ada masalah dengan istrinya, tapi walau aku tahu, aku tidak bertanya apa apa kepadanya, biarkan sajalah, toh walau sangar dan gahar, Manabu adalah kepala keluarga yang baik haha, pasti nanti masalahnya selesai sendiri.


“Pagi bocchan....” Tegur Manabu yang baru bangun di meja nya.


“Pagi Manabu san....maaf membangunkan mu....”


“Tumben beberapa hari ini, bocchan terus datang pagi ke kantor, ada masalah di rumah bocchan ?” Tanya Manabu.


“Tidak, aku hanya kepikiran soal tulang belulang yang banyak itu, sebelum di evakuasi rasanya aku tidak tenang dan terus kepikiran.”


Padahal sih, gara gara ada Touka di rumah dan aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Hikari. Setelah menyapa Manabu san, aku kembali ke ruangan ku dan duduk, sekertaris ku yang baru datang membawakan kopi dan beberapa surat ke meja ku. Aku mulai membuka buka surat surat yang di bawakan oleh sekertaris ku, semua adalah hal biasa, tawaran kerjasama, proposal dan kuitansi pembayaran seperti pemakaian listrik dan lainnya. Tapi, ada sebuah amplop kecil yang akhirnya membuat ku sedikit berdegup, alamat pengirim nya adalah rumah sakit tempat mama nya Touka di rawat. Aku membuka surat nya dan membacanya, aku langsung kaget karena nama pasien yang tertulis di sana bukan lah mama nya Touka, melainkan Yashiro Hikari.


“Apa ini ?” Pikirku dalam hati.


Aku langsung membukanya dan membaca surat itu, tanggal pemeriksaan yang tercantum di sana, seminggu yang lalu, tepat ketika Hikari membawa Touka pulang ke rumah, tapi yang membuatku tercengang, isi surat itu bukanlah hasil diagnosa penyakit atau riwayat pemeriksaan, melainkan jadwal operasi pengangkatan rahim. Apa yang terjadi ? apakah hal ini yang membuat perubahan sikap Hikari mengenai Touka, yang tadinya dia cemburu pada Touka ? Pikiran ku mulai bermain dan menjelajah kemana mana, aku harus tanyakan kepada Hikari, kenapa dia tidak bilang apa apa beberapa hari ini, pikir ku. Jujur saja, aku merasa sedikit kecewa, istri ku yang selalu bersama ku, menyembunyikan hal sebesar ini selama seminggu, untung saja aku datang lebih dulu ke kantor jadi aku bisa melihat surat ini. Ketika aku ingin mengangkat telepon di meja ku untuk menelpon pihak rumah sakit, Manabu san masuk ke dalam ruangan ku,


“Bocchan, para pekerja yang akan mengevakuasi tulang belulang sudah siap di lokasi, kita harus ke sana.”


Ah, Manabu san, waktu mu selalu sangat pas. Tanpa banyak bicara, aku menaruh surat nya di meja ku dan langsung berjalan keluar ruangan bersama dengan Manabu san. Di mobil Manabu san mengatakan kalau detektif yang di sewa untuk menyelidiki clan Amagaoka, menghilang dan tidak bisa di hubungi.


“Hmm coba cari  detektif lain atau orang lain lagi, mungkin yang kemarin tidak profesional.” Ujar ku.


“Tapi bocchan, biasanya kita memakai dia dan selama ini dia tidak pernah menghilang seperti ini.” Balas Manabu san.


“Kapan terakhir dia kasih kabar ?” Tanya ku.


“Kira kira 3 hari lalu, dia hanya mengirimkan pesan padaku, silahkan baca.” Manabu memberikan handphone nya pada ku.


Isi pesan nya hanya mengatakan kalau dia menemukan petujuk mengenai Amagaoka di daerah chiba, tapi habis itu tidak ada pesan lanjutan nya, sepertinya dia belum selesai mengetik keseluruhan pesan nya.


“Apa ada yang terjadi padanya ya ?” Tanya ku.


“Kita tidak tahu....sudah sampai bocchan...” Jawab Manabu.


Aku melihat ke depan, ternyata ada sebuah mobil hitam panjang mirip seperti mobil ku. Aku minta pengemudi mobil ku berhenti agak jauh, sebab insting ku mengatakan ada yang tidak beres. Aku melihat banyak perkerja sedang berdebat dengan seorang pria yang memakai jas keren di depan mobil itu. Di belakang pria itu ada dua orang berpakaian preman membawa senjata. Lalu seorang pria kekar keluar dari dalam lokasi, dia adalah mandor ku, aku melihat dia langsung berdebat dengan pria berjas itu, kemudian aku juga melihat pria itu mengeluarkan surat dari saku nya. Mandor ku membacanya dan mengembalikan surat itu dengan kasar, kemdian dia berbalik dan menyuruh anak buah nya bekerja lagi. Aku dan Manabu turun kemudian menghampiri pria berjas keren itu. Aku menoleh dan melihat para pekerja ku sedang membereskan peralatan mereka dan bersiap pergi.


“Ada apa ini ?” Tanya Manabu.

__ADS_1


Tiba tiba kaca jendela mobil hitam panjang di belakang pria itu terbuka, seorang wanita membuka kacamatanya,


“Apa kabar Masa kun.....” Ujar nya.


“Shizuka.....kenapa kamu di sini ?” Tanya ku.


“Hei berikan padanya surat itu.” Ujar nya kepada pria di depan nya.


Pria berjas itu rupanya pengacara Shizuka dan dia memberikan sebuah surat yang judul nya pengosongan berdasarkan keputusan pengadilan. Aku membacanya dan langsung menjadi marah,


“Apa maksud mu ini Shizuka ? jelaskan....” Ujar ku dengan kencang.


“Aku hanya mengklaim apa yang menjadi hak ku di sini, kamu mengerti ?” Tanya Shizuka dengan wajah sedikit mengejek, walau tetap terlihat cantik.


“Hak mu ? maksud mu tanah ini ? Mohon maaf, aku sudah membeli tanah ini.” Ujar ku.


“Hei...beritahu dia.” Ujar Shizuka kepada pengacaranya.


“Baik Ojousama.”


Pengacara itu mengambil koper di tanah dan dia mengeluarkan sebuah map dari kopernya, kemudian dia membuka map nya dan memperlihatkan sebuah sertifikat tanah dan ternyata sertifikat itu adalah sertifikat tanah yang juga ku miliki. Tapi dia di dukung oleh surat waris dari kepala clan Amagaoka yang notabene adalah kakek asli mereka, di tambah surat pengesahan Shizuka dan Ayame sebagai perwaris Amagaoka. Tangan ku langsung mengepal, terus terang aku tidak bisa berbuat apa apa, karena aku sadar, aku mendapatkan tanah itu melalui jalur khusus.


Manabu mengambil nya dan kaget, sebab dompet dan tanda pengenal itu milik detektif yang di sewa oleh Manabu untuk menyelidiki clan Amagaoka. Manabu menoleh pada ku. Aku langsung maju menerobos pengacara di depan ku dan dua pengawal nya, aku menundukan kepala ke jendela mobil Shizuka dan melihat ke dalam mobil, ternyata dia tidak sendiri, di dalam ada Ayame.


“Baiklah, silahkan ambil tanah ini, aku mengaku kalah kali ini, tapi, jangan harap bisa menguasai tokyo.” Ujar ku geram.


Ayame dan Shizuka mentertawakan ku di dalam mobil, mereka rupanya menganggap ucapan ku itu lucu.


“Eh onii chan...kami tidak perlu menguasai tokyo, harusnya kami yang bilang, jangan harap bisa menguasai jepang.” Ujar Ayame.


“Ah sekalian ku beritahu, sekarang Odasiga dan Fujikata sudah tidak ada lagi, aku dan Ayame chan sekarang Amagaoka, itulah sebab nya jangan pernah coba coba menyelidiki kita lagi, paham kan hahaha.” Ujar Shizuka.


“Kamu bilang apa Shizuka chan ? kamu dengan segampang itu mengatakan Odasiga dan Fujikata sudah tidak ada lagi ? Kalian pikir kalian siapa ? berani sekali kalian mengacak ngacak warisan jisan dan baasan.” Ujar ku semakin geram.


“Haaah...tidak salah kamu ? memang kamu pewaris sah Odasiga, onii chan, tapi kamu lebih memilih kabur bersama perempuan ****** itu kan, sekarang kamu sudah tidak ada artinya. Silahkan pakai nama Odasiga...aku hadapi.” Balas Ayame.


“Hahaha sama, Keiko nee san juga memilih kabur bersama pria berotot tapi tak berotak itu, Fujikata sudah tidak ada lagi.” Tambah Shizuka.

__ADS_1


“Kalian....kalian benar benar keterlaluan.” Ujar ku geram dengan wajah yang terasa sangat panas dan memerah, ingin rasanya aku meninju wajah keduanya yang cengengesan di depan ku itu, Manabu san memegang pundak ku dan mengajak ku pergi.


Aku menggerbrak pintu mobil dan berbalik pergi bersama Manabu san, percuma meneruskan pembicaraan tidak berguna itu, bisa bisa malah aku naik pitam dan membunuh semuanya, walau hati ku sangat ingin melakukan nya, aku menahan nya dan masih bisa berpikir rasional. Aku mengajak Manabu san langsung pergi dari sana dan kembali ke kantor, baiklah, kali ini aku kalah, tapi jangan harap berikutnya kalian menang.


***


Sampai di kantor, wajah ku masih terasa panas, aku masuk ke ruangan ku dan melihat Hikari sedang duduk terdiam. Aku juga melihat dia memegang amplop yang sudah ku buka. Aku diam saja dan melewati nya, aku duduk di meja ku dan menelungkupkan kepala. Hikari masih diam saja, aku melihat nya menoleh melihat ku tapi tidak berani menegur ku. Kemudian dia keluar dari ruangan ku, aku tidak tahu dia kemana. Aku terus termenung, berusaha meredam amarah dan kesal ku, selain kehilangan tanah, penghinaan keduanya benar benar menusuk ku, andai saja waktu itu aku tidak tinggal di desa apa jadinya, penyesalan demi penyesalan melintas di pikiran ku. Kalau saja aku tidak labil saat itu dan memilih melarikan diri mungkin tidak akan jadi seperti ini, kalau saja aku tidak kembali, mungkin aku akan hidup tenang di desa bersama Hikari dan masih banyak pikiran lainnya. Selagi aku tenggelam dalam pikiran ku, sekertaris ku masuk ke dalam. Dia mengatakan Joo won menelpon ku, apa aku mau terima atau tidak. Aku mengatakan padanya kalau aku mau menerima nya.


Aku menerima telepon dari Joo won, dia mengatakan dia ada di jepang bersama dengan bos nya dan akan datang sore ini ke kantor ku. Aku mengatakan kalau aku bersedia menemui mereka. Tapi dia juga mengatakan akan datang bersama pemegang saham lainnya, aku mengiyakan nya. Setelah telepon di tutup, aku minta resepsionis ku untuk menyediakan ruang vvip di restoran yang berada di bawah kantor ku untuk mereka bertemu di sana saja. Tak lama kemudian, Hikari kembali ke ruangan ku, datang datang dia langsung memeluk ku dan minta maaf.


“Kenapa Hichan ?” Tanya ku padanya.


“Aku menyembunyikan soal rahim ku pada mu, sekali lagi maaf Ma kun.” Ujar Hikari.


“Soal surat itu ? tidak apa apa Hichan...aku bisa mengerti, tapi apa yang terjadi ?” Tanya ku.


Hikari menceritakan kalau dia tidak hanya tertembak di ulu hati waktu menghadapi Todou Akira empat tahun lalu, dia juga tertembak di bagian perut bawah nya dan itu merusak rahim nya. Waktu aku membayar pengobatan mama Touka, dia memeriksakan dirinya dan hasilnya rahim nya rusak, kalau di biarkan malah akan merusak kesehatan nya, jadi dia menjadwalkan diri untuk operasi pengangkatan rahim. Karena dia merasa dia tidak akan bisa punya anak dan mengecewakan ku, maka dia mengatur Touka untuk bersama ku, paling tidak aku bisa punya anak dari Touka katanya, walau hatinya berat dan sebenarnya tidak rela. Aku langsung memeluk nya dan mengatakan kita akan mengadopsi anak saja, aku tidak akan mau punya anak dari orang lain selain istri ku.


“Tapi Ma kun, penerus mu nanti....” Ujar Hikari.


“Adopsi, aku saja di adopsi jisan kan....” Balas ku dengan lantang.


Hikari langsung diam dan menunduk, dia mulai menangis dan aku memeluk nya. Aku bilang padanya, kalau dia sudah terlanjur bilang sama Touka, nanti kita ajak Touka bicara bersama sama, aku yakin dia pasti mengerti. Hikari hanya mengangguk dan tidak menjawab.


***


Sorenya, aku sudah siap di restoran dan menunggu di ruang vvip bersama Hikari. Tak lama kemudian Joo won datang bersama bosnya. Kita sempat berbincang bincang seesaat sampai tamu berikut nya datang, tamu yang sangat aku harapkan tidak pernah bertemu lagi.


“Halooo Masa kun, kita ketemu lagi.”


Shizuka dan Ayame masuk ke dalam bergabung dengan kita semua. Aku tidak berdiri menyambut mereka. Setelah duduk,


“Kenalkan, mereka yang ku jelaskan tadi di telepon, mereka adalah pemegang saham kita dan termasuk board director kita sama seperti Mr Masamune.” Joo won menjelaskan dalam bahasa inggris.


“Mohon kerjasamanya ya Masa kun...” Ujar Shizuka sambil tersenyum.


“Senang bisa berkerjasama onii chan...” Tambah Ayame.

__ADS_1


Benar benar keterlaluan, sampai sejauh apa mereka mau mengganggu ku. Aku memaksakan tersenyum dan menyalami keduanya dengan hati yang benar benar panas hanya untuk menjaga wajah ku sendiri di depan bos perusahaan tempat Joo won bekerja. Hikari paham kalau aku kesal dan marah, dia memegang tangan ku. Wajah Shizuka dan Ayame terlihat puas sekali di depan ku sambil tersenyum sinis.


__ADS_2