
Setelah Sayaka tenang, Ayame dan Haruka mengajaknya turun ke bawah untuk menuju internet cafe yang ada di sebrang hotel. Kebetulan cafe itu memiliki bilik yang terpisah, walau sempit kita ber empat berjejal di sana, Hikari menunggu di luar karena dia tidak terlalu kenal juga dengan Sayaka dan takut mengganggu, malah nanti Sayaka tidak jadi bercerita, katanya. Manabu san juga siap siaga di luar dengan mobil nya.
“Sayaka chan, bisa ceritakan kepada kita apa yang terjadi ?” Tanya Ayame kepada Sayaka.
“Aku ceritakan apa yang terjadi di sini semenjak kita kesini.” Jawab Sayaka.
Sekitar satu setengah bulan lalu, Jinta sedang bekerja part time di convini dan kebetulan dia mendapat shift malam, selagi dia jaga tiba tiba seorang pria paruh baya masuk ke dalam dengan tergesa gesa, ternyata dia sedang di kejar oleh orang orang yang berbadan besar, dia minta Jinta menyembunyikan nya, karena Jinta orang nya baik, maka dia membuka pintu counter dan menyembunyikan pria itu di balik counter, orang orang yang mengejar nya masuk ke dalam convini, Jinta berhasil mengelabui mereka dan mereka keluar, pria itu berterima kasih kepada Jinta dan langsung lari keluar, tapi di luar ternyata orang orang yang mengejar nya sudah menunggu. Sayaka datang ke convini dengan perut besar bermaksud menjemput Jinta sebab dia juga baru pulang berbelanja, di saat yang sama pria itu di sergap oleh orang orang yang mengejarnya.
Jinta yang melihat Sayaka datang khawatir karena melihat ribut ribut di depan, Jinta berlari keluar dan menarik Sayaka masuk ke dalam, tapi seorang berambut kribo, menyusul mereka ke dalam dan langsung menembak Jinta di dada, kemudian menendang perut Sayaka sampai Sayaka terpental meninpa rak rak barang di belakang nya. Setelah itu dia keluar dan terjadi baku tembak di depan convini. Pria yang di sembunyikan Jinta masuk kembali ke dalam, tapi dia bukan nya menolong malah menembak Jinta sekali lagi dan itu terjadi di depan Sayaka yang mengalami pendarahan hebat, Sayaka melihat wajah orang itu dan mendekati Jinta yang sudah sekarat, akhirnya Jinta menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Sayaka yang kemudian juga pingsan karena kehilangan banyak darah.
Ketika bangun, Sayaka mendapati dirinya di rumah sakit dan mama nya Jinta tidur di sebelah nya, dia meraba perut nya dan perut nya sudah kempis. Dia mencoba bangun untuk mencari Jinta, tapi mamanya mengatakan Jinta sudah tiada, Sayaka meraung raung dan menangis. Setelah pemakaman Jinta, Sayaka yang marah dan terbakar dendam mencari pria yang di lihat nya dan segaja mendekati untuk membunuh nya, karena pria itu bilang mau ke tokyo, maka Sayaka menghabisi nya malam ini. Kemudian Sayaka menangis tersedu sedu dan Haruka juga Ayame memeluk nya.
“Bruaak....” Tanpa sadar aku memukul dinding bilik sampai berlubang, Ayame langsung menoleh pada ku dan langsung memeluk ku. Yang membuat ku marah bukan pria yang sudah di tusuk Sayaka, melainkan pria kribo yang menembak Jinta pertama kali dan membuat Sayaka keguguran. Aku kenal siapa pria kribo itu dan konyol nya aku malah berkerjasama dengan penembak sahabatku yang membuat nya terbunuh. Aku menoleh kepada Ayame dan berdiri,
“Maaf aku keluar dulu...kerusakan ini akan ku bayar.” Aku membuka pintu bilik dan keluar.
“Masa kun....onii chan tunggu...” Teriak Ayame yang menyusul ku.
Aku terus berjalan sampai keluar cafe, aku memukuli dinding di sebelah cafe. Ayame meminta Manabu san ke dalam untuk mengurus kerusakan yang ku buat, Hikari langsung memeluk ku dari belakang berteriak teriak berusaha menghentikan ku.
“Akan ku cari si Sakuragi itu......” Ujar ku penuh kemarahan.
“Ma kun, jangan begini Ma kun...” Teriak Hikari sambil terus mendekap ku dari belakang.
“Onii chan....tolong jangan begini, aku takut.” Tambah Ayame.
Aku kesetanan saat itu, emosi benar benar menguasai ku, pikiran ku berhenti, aku berbalik melihat Ayame dengan tinju yang berdarah darah, aku berdiri di depan nya dengan geram.
“Batalkan pertunangan mu dengan Godou, akan aku cincang mereka semua.” Teriak ku.
Ayame langsung kaget mendengar ku bicara seperti itu, dia langsung menangis tersedu sedu. Ayame menunduk dan tangan nya mengepal kencang,
“Naoto kun tidak salah onii chan......” Ujar nya sambil menangis.
“Ma kun...apa yang kamu bilang barusan, apa kamu tidak salah ?” Teriak Hikari sambil menjenggut kemeja ku.
“Minggir Hikari, jangan coba coba menghalangi aku.” Aku mengibaskan tangan dan Hikar terpental ke mobil.
Di luar dugaan, Ayame malah maju mendekap ku dengan erat dari depan sambil menangis. Tiba tiba sebuah tinju melayang, rupanya Manabu san keluar dari cafe dan langsung meninju wajah ku, aku terpental jatuh,
__ADS_1
“Maaf bocchan...tenang kan diri mu....” Ujar nya.
Aku memegang wajah ku, pikiran ku mulai kembali dan aku mulai sadar, emosi ku sudah mulai bisa kukendalikan, aku melihat Ayame yang ketakutan di depan ku, menangis tersedu sedu dan Hikari yang kesakitan juga ketakutan sambil bangkit berdiri dan menangis, di depan pintu cafe aku melihat Sayaka yang tertegun melihat ku bersama Haruka yang juga tertegun. Apa yang aku lakukan ? Aku berdiri dan langsung berlari meninggalkan mereka, aku berlari dan terus berlari, pikiran ku kalut. Aku menyakiti orang orang di sekeliling ku, orang orang yang kukasihi dan aku tidak bisa bertemu sahabat ku lagi. Semua pikiran itu silih berganti di pikiran ku, aku menyesal, aku marah, aku sedih, apa yang berhasil ku rubah, orang tua ku tetap meninggal, jisan tetap meninggal, sahabatku yang di kehidupan lalu masih hidup sekarang malah meninggal, apa yang berhasil ku rubah, buat apa aku berjuang selama ini, kenapa semua jadi begini, teriakan hati ku yang tidak bisa keluar mengiringi langkah ku yang terus berlari tanpa arah tujuan.
Tanpa sadar aku tiba di sebuah sungai besar, aku menuruni tangga dan berjalan menuju pinggir sungai.
“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.......” Aku berteriak seperti binatang yang terluka dan meminta pertolongan juga penjelasan kenapa jadi seperti ini.
Aku langsung berlutut di pinggir sungai dan menengadah ke atas, air mata ku bercucuran dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Aaaaaaaa....” Aku menangis tersedu sedu dan menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku yang penuh darah karena memukuli dinding tadi.
Selagi aku menangis tersedu sedu, tiba tiba saja aku merasa di depan ku ada orang yang langsung memeluk ku. Aku menengadah dan aku melihat Hikari di depan ku sambil tersenyum dan memeluk ku, aku langsung memeluk pinggang nya dan membenamkan wajah ku di perut nya, aku berteriak meraung raung dan menangis. Aku merasa ada yang memeluk ku juga dari samping, ketika menoleh ternyata Ayame memeluk ku sambil menangis. Dan akhirnya satu kata terucap dari mulut ku,
“Maafkan aku......” Ujar ku perlahan.
“Iya onii chan, iya, aku maafkan...” Ujar Ayame.
“Iya Ma kun, aku bisa mengerti dan selamat ulang tahun ke 16 Ma kun....” Tambah Hikari.
Deg, jantung ku langsung berdegup mendengar perkataan Hikari, aku sudah 16 tahun, ah benar, hari ini aku ulang tahun karena sudah lewat tengah malam dan hari sudah berganti. Aku melihat wajah Hikari yang menunduk melihat ku sambil tersenyum, aku menoleh dan melihat Ayame yang menangis sambil tersenyum. Hidup ku masih berjalan, aku sadar, masih ada Ayame yang harus ku selamatkan, aku langsung teringat janji dan alasan ku menjadi seperti ini. Aku menghapus air mata ku dan berdiri, Ayame dan Hikari juga ikut berdiri, aku langsung memeluk keduanya dan berkata sekali lagi,
“Hehe tenang saja Ma kun, kalau takut aku tidak akan di sini.” Jawab Hikari.
“Haha sama onii chan, tenang saja, kata kata mu barusan sudah ku buang jauh jauh...tapi kalau memang itu keinginan mu, aku rela, hanya saja aku minta jangan bunuh Naoto kun, dia tidak salah.” Tambah Ayame.
“Tidak, aku tidak akan memisahkan kalian, tenang saja, aku sudah mengucapkan waktu itu dan tidak mungkin aku akan menjilat ludah ku kembali.” Balas ku.
“Terima kasih Masa kun.....” Ayame memeluk ku.
Akhirnya aku mengajak keduanya naik dari pinggir sungai kembali ke jalan, di atas ternyata sudah menunggu Haruka, Sayaka dan Manabu san bersama mobil nya. Aku minta maaf pada Manabu san, Haruka dan Sayaka. Manabu langsung memegang pundak ku dan tersenyum, sedangkan Haruka langsung merangkul ku sambil tersenyum. Aku berjalan ke hadapan Sayaka dan meminta maaf, tapi Sayaka hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Besok bisa antarkan aku ke makam Jinta ?” Tanya ku kepada Sayaka.
“Baiklah, aku juga mau kesana....” Jawab Sayaka.
Setelah itu, kami mengantar Sayaka pulang ke rumah Jinta karena dia tinggal di sana dan kita kembali ke apartemen kita. Beberapa jam setelah nya, kita kembali menjemput Sayaka dan pergi menuju taman pemakaman tempat Jinta di semayamkan. Setelah sampai aku mengambil ember berisi air yang akan di pakai untuk menyiram nisan, Ayame, Haruka dan Hikari membawa rangkaian bunga untuk di letakkan di makam. Ternyata di sebelah makam keluarga Jinta, ada sebuah makam kecil untuk anak nya Jinta yang gugur selagi masih ada di perut Sayaka. Aku berlutut dan mendoakan sahabat ku juga anak nya supaya mereka bahagia di atas sana. Setelah selesai berdoa,
“Sekarang apa rencana mu Sayaka chan ?” Tanya Ayame.
__ADS_1
“Aku mungkin akan mencoba peruntungan ku di dunia hiburan, menjadi artis mungkin.” Ujar nya.
Tidak ada yang berubah, di kehidupan lalu ku juga sama, debut pertama Sayaka sebagai idol AV pada saat dia berumur 16, dia menyamarkan umur asli nya menjadi 18 dan akan menjadi artis drama saat berumur 20. Aku tidak menghentikan nya, sudah cukup aku mencampuri hidup orang lain, walau orang itu adalah orang yang aku kenal lumayan dekat. Kalau saja saat itu aku tidak ikut campur dan membiarkan Sayaka menjadi bulan bulanan senpai, mungkin Jinta dan Haruka sekarang sudah bahagia, akhirnya aku belajar, tidak semua bisa di rubah dan tidak semua sama dengan kehidupan ku yang dulu, mulai sekarang aku harus ekstra hati hati dan memikirkan segala resiko nya kalau aku bertindak. Maaf Jinta, karena diriku kamu malah pulang duluan.
“Aku dukung kamu.....” Ayame memeluk Sayaka.
“Aku juga akan selalu mendukung mu.” Tambah Haruka yang memeluk Sayaka dan Ayame.
Aku hanya bisa melihat ketiga nya, karena masa depan Sayaka sudah ku ketahui, secara tidak langsung aku merubah masa depan Haruka dan aku harus melindungi Ayame yang bulan depan berumur 16 tahun. Saat ini, fokus ku adalah Ayame dan Haruka. Hanya Hikari yang tidak memiliki hubungan apa apa dengan hidup ku di masa lalu, walau saat itu aku belum mengetahui nya.
***
Setelah kembali lagi ke apartemen, aku, Hikari, Ayame dan Haruka mulai berdiskusi ber empat. Aku berniat kembali ke tokyo begitu lulus dari sekolah nanti dan kuliah di tokyo, selain menghabisi Kirishima, aku juga berniat hidup tenang di tokyo nanti bersama Hikari. Tapi, Ayame mengatakan dia akan tetap di osaka dan Haruka minta ku perkerjakan untuk menjaga Ayame di osaka.
“Hmm begitu ya.....apa kamu tidak bisa kita berkuliah dulu di tokyo, baru kamu kembali lagi kesini ?” Tanya ku pada Ayame.
“Tidak mau Masa kun, tidak apa apa kan aku di sini.” Jawab nya pada ku.
“Tapi jisan kan minta kita bersama dan aku menjaga mu.” Balas ku.
“Tolong jangan terlalu terpaku pada perkataan jisan.” Balas Ayame.
Hei, bicara apa kamu Ayame, aku tidak pernah melihat mu seperti ini dan bicara begitu tentang jisan, apa segitunya kamu pada Naoto ? pikir ku.
“Dasar siscon hahaha....tenang saja ada aku.” Ujar Haruka.
“Iya Ma kun, kasian kan onee san kalau kamu terus mengekang nya.” Tambah Hikari.
Loh kenapa aku yang jadi penjahat di sini, kalau saja aku bisa mengatakan nya, paling tidak aku bersama mu sampai lulus saja lah, sebab aku tahu takdir yang menunggu mu di kelas dua sma, tapi aku tidak mungkin kan mengatakan nya. Sampai saat ini tidak ada yang tahu aku punya ingatan dari kehidupan sebelum nya dan aku sama sekali tidak berniat membongkar nya. Hmm, kalau begitu sepertinya aku harus mengalah tapi aku tidak berniat mengatakan nya sekarang.
“Baiklah aku mengerti, kita lihat saja nanti, mudah mudahan semua berjalan sesuai dengan rencana kita ya.” Ujar ku sambil tersenyum.
“Hehe gitu dong onii chan beda sebulan.” Ledek Ayame.
“Haha akhirnya siscon kalah.” Ledek Haruka.
“Tenang saja Ma kun, aku saja masih lama kok lulusnya, kalau pun kamu ke tokyo harus ajak aku kan hehe.” Tambah Hikari.
“Haha iya benar juga.....” Balas ku tertawa.
__ADS_1
Tapi di dalam hati, aku benar benar sangat berharap tidak ada kejadian apa apa yang membuat ku kehilangan lagi seperti kemarin. Aku di beri kesempatan untuk memperbaiki yang salah, aku harus tegar dan tidak boleh lagi seperti kemarin. Hikari melirik ke arah ku sambil tersenyum, sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya mengusap kepalanya dan dia merebahkan kepalanya di pundak ku. Baiklah Masamune, berjuang demi orang orang di depan mu ini. Tidak boleh ada kesalahan lagi.