Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 48


__ADS_3

Dua hari berlalu, sesuai janjiku aku datang ke sekolah Touka bersama Hikari yang memaksa ikut untuk menghadiri festival budaya yang di gelar di sekolah nya, oh ya Touka sudah tahu soal kehamilan Hikari dan dia sudah tidak lagi mengejarku, sebab aku dan Hikari sudah menjelaskan semua dan membatalkan janji Hikari kepadanya, Touka menyetujui nya dan dia terlihat lega, dia juga sebenarnya tidak terlalu senang di jadikan pengantin hanya untuk di hamili haha, tentu saja, aku kenal Touka dan seperti apa karakternya, waktu itu dia setuju, karena dia tidak mempunyai pilihan dan sedang terjepit. Hikari minta maaf pada nya dan akhirnya kita berdua sepakat mengangkat Touka menjadi adik angkat. Jadi mulai sekarang Touka bernama Yashiro Touka haha, sama seperti waktu dia jadi istriku di kehidupan lalu kan, walau sekarang berbeda status nya. Ketika masuk ke gerbang,


“Aniki, akhirnya datang...” Ujar seorang anak laki laki.


Anak laki laki yang memanggil ku dan mengenakan pakaian ala samurai adalah Makoto kun, waktu di desa iga, dia adalah salah satu anak yang ikut pelajaran ku di sekolah dan adik kandung Kenzo, sekarang dia sekolah di kyoto, karena itu Touka ku pindahkan ke sekolah itu dan aku minta tolong dia menjaga Touka selama di sekolah. Tentu saja tidak akan ada yang bisa melawan nya, dia juga ninja dan kalau dia kalah, kakak kandungnya pasti turun tangan.


“Hei Makoto kun, gimana sekolah di sini ?” Tanya ku.


“Menyenangkan, tapi Touka chan tidak mau dekat dekat dengan ku karena tau aku orang suruhan mu aniki. Semua gara gara Kenzo aniki, main datang saja tanpa bilang bilang huh.” Ujar nya lesu.


“Haha awasi dia dari jauh saja.” Balas ku.


“Tidak masalah aniki, aku sudah menyingkirkan beberapa orang yang macam macam dengannya, aman.” Ujar Makoto sambil mengacungkan jempolnya.


“Hahaha bagus bagus...” Ujar ku yang juga mengacungkan jempol.


Aku berjalan masuk ke dalam bersama Makoto. Kita melewati stand stand yang di gelar sepanjang jalan menuju gedung. Hikari mampir ke beberapa stand untuk membeli takoyaki dan yakisoba, menu andalan di setiap festival budaya di sekolah manapun. Setelah selesai, kita masuk ke dalam gedung dan langsung menuju kelas Touka dan Makoto. Ketika sampai di kelas,


“Selamat datang....eh onii chan....onee chan...” Touka menyambut kita berdua.


“Oh ini toh....” Ujar ku.


Aku dan Hikari melangkah masuk, tiba tiba suasana menjadi sunyi dan semua menoleh pada ku. Hei, ada apa ini, apa aku terlalu mencolok ? rasa nya pakaian ku dan Hikari biasa saja.


“Meja untuk dua orang...” Touka tiba tiba berteriak.


Aku duduk di meja yang di tunjukkan bersama Hikari. Makoto langsung bertugas menjadi penjaga, memang tugas nya di kelas adalah penjaga cafe mereka. Suasana masih hening, aku sendiri tidak tahu kenapa, tapi terus terang aku kasihan juga lihat Makoto yang berdiri di depan jendela menjaga kelas.


“Hei Makoto.....” Panggil ku.


Makoto menghampiri ku dan berdiri di sebelah meja ku, mulai lah terdengar orang orang berbicara.


“Kamu jalan jalan saja dulu, ada aku dan aneki kan di sini....” Ujar ku.


“Jangan aniki, aneki kan juga lagi hamil, aku tidak apa apa.” Balas nya.


“Loh kamu tahu aneki lagi hamil ?” Tanya ku.


“Hehe tahu dong aniki, Touka chan cerita.” Balas nya.


“Katanya tidak akrab....” Ujar ku sambil tersenyum.


“Memang, tapi kalau ada hal hal seru dia pasti cerita.” Jawab Makoto.


“Trus, kenapa pada diam nih begitu kita masuk ?” Tanya ku.


Makoto menunduk, dia mendekatkan wajah nya ke telingaku dan mulai berbisik di telingaku.


“Kalian tampan dan cantik aniki......lihat tuh, Touka chan kelihatan bangga.” Ujar nya.


Aku menoleh dan melihat Touka sedang mempromosikan aku dan Hikari kepada teman teman nya. Astaga, ternyata seperti itu, aku baru menyadari nya. Makoto pun pergi dan berdiri lagi di depan jendela seperti patung menghadap ke pintu. Seorang siswi perempuan mengantarkan dua cangkir kopi, padahal aku belum memesan, ketika ku tanya, ternyata dari Touka katanya, karena dia tidak pergi, aku dan Hikari terpaksa meminum kopi nya, tapi dia tidak pergi juga, akhirnya aku bertanya,


“Ada apa ?” Tanya ku ramah.


“Anoo onii chan adalah onii chan nya Touka chan ?” Tanya nya.


“Iya benar.....kenapa ?” Tanya ku heran.


“Anoo boleh kenalan ?” Tanya nya.


“Oh boleh saja....” Aku menjulurkan tangan ku.


“Namaku Hondou Rin dan ini onee chan nya Touka chan ?” Tanya Rin lagi.

__ADS_1


“Iya benar...” Jawab Hikari.


“Anoo benar onee chan lagi hamil ya ?” Tanya Rin lagi.


“Um...iya benar....” Jawab Hikari sambil menoleh kepada ku.


Hei hei apa ini, kenapa dia juga tahu kalau Hikari lagi hamil, aku menoleh melihat Makoto dan dia membuang wajah nya tidak mau melihat ku kembali.


“Hehe maaf ya onii chan, onee chan....ini gratis dari kami...” Ujar seorang anak wanita lagi yang membawakan dua piring omurice.


“Kok jadi gratis begini ? kalian rugi dong ?” Tanya ku.


“Sudah lah terima saja Ma kun....nanti pulang tanyakan sama Touka, dia bicara apa di sekolah.” Jawab Hikari.


“Tenang saja onii chan..onee chan...Touka chan sudah mengurus semuanya hehe.” Ujar gadis yang namanya tidak ku ketahui itu.


Gadis itu langsung mendorong Rin pergi kembali masuk ke dapur, meninggalkan aku dan Hikari di meja. Tiba tiba dua orang yang sepertinya anak kuliah dan duduk di sebelah kita langsung menegur, mereka mengucapkan selamat atas kehamilan nya. Aku menyalami nya dan mengucapkan terima kasih pada mereka. Akhirnya aku dan Hikari mulai makan setelah di beri selamat oleh hampir seluruh pengunjung cafe, senang sih, tapi sedikit risih juga. “Kletak.” Aku melihat tangan Hikari bergetar dan wajah nya menjadi pucat, aku menoleh dan melihat seorang pria masuk ke dalam dengan rambut pirang dan memakai anting di telinganya, kalau di lihat dari pakaian nya, sepertinya dia mahasiswa dan berumur mungkin lebih tua setahun dari ku. Aku langsung berdiri karena aku mengenali nya, dari ingatan Misaki dia adalah siswa pria yang meniduri nya di ruang kesehatan dan di hentikan oleh perawat yang bertugas. Dia masuk dengan kasar dan duduk dengan sembarangan dengan kaki naik ke meja, aku melihat ada seorang anak pria juga yang kira kira senior di sekolah ini, dia menunjuk Makoto dan sepertinya melaporkan pada pria itu. Pria itu menghentakkan kaki nya dan meja di bawah kaki nya terpental menuju ke arah ku. Tentu saja aku menangkap mejanya dan menurunkan nya secara perlahan.


“Hei....” Teriak ku.


Pria itu hanya menoleh dan dia tidak menghiraukan ku, dia berjalan menuju Makoto bersama siswa senior yang mengejek nya. Tiba tiba aku melihat Touka berlari dan langsung berdiri di depan Makoto sambil merentangkan tangan nya.


“Oi minggir....” Ujar pria itu sambil berniat menampar Touka.


Touka sudah terpejam, tapi dia bingung karena tamparan nya kok tidak sampai sampai, jelas saja, karena Makoto menangkap tangan pria itu dari belakang dan menyeretnya keluar. Aku menoleh kepada Hikari yang langsung mengangguk pada ku. Aku berdiri dan mengikuti Makoto berjalan keluar. Siswa senior itu rupanya tidak sendiri dan mereka berusaha menyerang Makoto yang sedang menyeret pria itu keluar. Tantu saja tiga orang senior itu langsung ku tangkap.


“Aniki, pria ini urusanku.....” Ujar Makoto.


“Lepaskan aku...kalau jantan hadapi aku......kamu belum tahu siapa aku, namaku Kumamoto Daiki......aku clan Kumamoto.”


Kling, sebuah ide muncul di kepala ku, tentu saja aku mengenal clan Kumamoto, walau mereka hanya clan yang terkenal dengan preman dan geng nya, tapi bisa ku manfaatkan.


“Hmm Kumamoto ya ? kalian anak buahnya atau apa ?” Tanya ku pada para siswa senior yang kugenggam itu.


“Ka..kami anak buahnya, jangan macam macam....kalian akan mati malam ini hehe.” Ujar senior itu.


“Hahaha mereka belum kenal siapa aniki, tapi pria ini jatah ku ya aniki, mereka senior yang mengganggu Touka chan kemarin.” Ujar Makoto sambil menyeret pria itu.


“Hohooo bagus bagus..silahkan Makoto kun. Urus saja.” Ujar ku yang menyeret tiga orang senior itu.


Aku dan Makoto membawa ke empat orang pengganggu itu ke belakang sekolah yang sepi dan tidak ada orang. Kita berdua melemparkan ke empatnya ke depan.


“Ayo maju...” Ujar Makoto.


“Kurang ajar....” Pria itu langsung berlari maju.


Hanya dengan mengangkat tangan dan menghindar sedikit, Makoto sudah membuat pria itu terpental jauh ke belakang.


“Aniki....” Teriak ketiga siswa senior itu.


Pria itu bangkit berdiri, dia mengeluarkan pisau dari saku nya dan mengelap hidung nya yang bocor.


“Kalian semua maju sama sama....” Teriak pria itu.


“Tunggu...tunggu.....” Aku maju ke tengah.


“Apa mau mu ?” Tanya pria itu.


“Aku mau tanya, kamu anak Kumamoto Ichigo bukan ?” Tanya ku.


“Kenapa kamu bisa tahu papaku ?” Tanya nya lantang.


Hah ternyata benar, aku tidak kenal papanya, tapi aku pernah mendengar reputasi nya ketika berada di kyoto. Mari kita senggol dia,

__ADS_1


“Tentu saja aku tahu....sekarang begini, bagaimana kalau kalian bertarung 1 lawan 4 dengan Makoto kun, kalau kalah bawa aku bertemu ayahmu.” Ujar ku.


“Hahaha jangan meremehkan kami ya....” Ujar pria itu.


“Kalian memang remeh kok, ngapain juga aku meremehkan kalian.” Ujar ku sambil tersenyum.


“Seraaang....” Teriak pria itu.


Ke empat nya maju bersamaan, dengan secepat kilat Makoto menendang perut ke empat nya sampai terpental. Kemudian aku dan Makoto mendekati Daiki yang sedang terlungkup di tanah, aku dan Makoto berjongkok di depan nya, aku menjambak rambutnya supaya dia melihat wajahku,


“Hei, jangan tidur, bawa aku menemui ayahmu.....” Ujar ku.


“Si..siapa kamu ?” Tanya nya.


“Boleh ku kasih tahu aniki ?” Tanya Makoto di samping ku.


“Kasih tau saja....” Ujar ku.


Makoto langsung memberitahu Daiki kalau pria yang sedang menjambak rambutnya bernama Odasiga Masamune yang berganti nama menjadi Yashiro Masamune. Wajah Daiki langsung pucat pasi mendengar nama ku di sebut, mulutnya langsung ternganga.


“Odasiga ? Yashiro ? pemimpin clan tokyo....aku memang dengar dia masih muda.....maafkan aku...aku tidak tahu....”


“Ok, aku bilang bawa aku menemui ayah mu....” Ujar ku lagi.


“Untuk apa ? apa yang mau kamu perbuat ?” Tanya nya.


“Aku mau bicara dengan ayah mu, kamu mengincar adik ku kan ? Yashiro Touka ?” Tanya ku.


“Bu..bukan aku....mereka lah yang mengincarnya...aku hanya membantu mereka.” Ujar Daiki.


“Jangan bohong aniki, kamu yang mau mengerjai Touka chan...kami yang menjalankan perintah mu.” Ujar seorang senior yang juga ketakutan.


Makoto kemudian menceritakan kejadian tiga hari terakhir ini, para senior itu memang mengincar Touka dan dia juga melihat Daiki berada di sekitar sekolah.  Makoto menambahkan dia suka mengincar siswi siswi baik baik untuk di peras kemudian di jadikan mainan dan budak nya. Korban nya bukan hanya satu melainkan banyak, tapi dia selalu berlindung di balik clan nya jadi tidak ada korban nya yang angkat bicara karena tidak berani melawannya.


“Sekarang, kamu pilih mengantarku ke ayahmu, atau menjadi pupuk di hutan, aku hitung sampai 1 dari 3...........3.......2.....” Ujar ku.


“Ba..baiklah....aku antar ke tempat papa.....”


Aku langsung membawa nya keluar dari sekolah bersama Makoto dan aku memanggil beberapa pengawal ku untuk membawa dua mobil, satu untuk mengantar Hikari dan Touka pulang ke rumah dan satunya untuk mengantar ku ke rumah Kumamoto bersama dengan Daiki dan Makoto. Aku menelpon Hikari supaya dia turun ke bawah bersama Touka dan menuju gerbang. Begitu sampai di gerbang, Hikari kaget melihat aku menenteng Daiki, dia langsung berbisik di telinga ku,


“Kamu kok tahu Makun ?” Tanya Hikari.


“Aku sudah tahu apa yang terjadi dengan mu di kehidupan lalu, biar aku yang menyelesaikan nya, kamu tenang saja dan pulang bersama Touka.”


Hikari mencium pipi ku, matanya berlinang air mata, kemudian dia menoleh melihat Daiki dan menendang perut nya dengan kencang sampai membuat Daiki muntah.


“Oi oi Hichan, kamu kan sedang hamil, jangan menendang seperti itu. Tolong hati hati dan jaga anak kita.”


“Aku tahu Ma kun, maaf, tapi sekarang aku lega....” Ujar nya.


“Ya sudah...aku mengerti.” Aku merangkul Hikari dan mengecup kening nya.


“A..apa salah ku.....” Ujar Daiki.


“Banyak....” Jawab ku dan Hikari.


Memang di kehidupan sekarang dia tidak punya salah dengan Hikari, tapi di kehidupan sebelum nya, kamu jelas punya masalah dengan Hikari yang waktu itu menjadi Misaki dan aku merasakan langsung perbuatan dia. Hii...aku benar benar tidak mau mengingat mimpi itu lagi. Akhirnya kedua mobil pengawal ku datang, Hikari dan Touka masuk mobil yang di depan dan berpesan supaya aku dan Makoto hati hati. Tenang saja, aku mengerti apa yang aku lakukan dan kalau seandainya mereka tidak bisa berkerja sama, aku dan Makoto cukup untuk membantai mereka. Aku, Makoto dan Daiki masuk mobil yang di belakang dan duduk di belakang. Kedua mobil berjalan menuju arah yang berbeda meninggalkan sekolah. Di dalam mobil yang ku naiki, para pengawal ku bertanya, aku menceritakan secukupnya dan minta pasukan untuk mengikuti kita dari belakang, seandainya harus memusnahkan clan Kumamoto, sekalian kita lakukan malam ini. Daiki yang mendengar perkataan ku menjadi semakin pucat.


“Hei, kenapa diam saja ?” Tanya Makoto meledek Daiki.


“To..tolong, papa ku bisa marah kalau seperti ini...aku bisa di bunuh.”


“Bagus, kalau papa mu tidak membunuh mu, aku yang akan membunuh mu, sekarang terima saja nasib mu....” Ujar ku sambil melirik tajam melihat nya.

__ADS_1


“Hei tunjukkan arah nya lagi, jangan diam saja....” Teriak seorang pengawal ku.


Daiki langsung menunjukkan arah nya dengan sebuah kunai di tangan Makoto yang menempel di leher nya.


__ADS_2