Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 23


__ADS_3

Jadi, libur musim panas pun berakhir, setelah pindah ke apartemen baru yang cukup luas, nyaman, tapi tidak mewah, memiliki 2 kamar, satu yang dipakai oleh ku dan Hikari, kemudian satunya di pakai Ayame dan Haruka, pagi itu kita semua sudah bersiap berangkat masuk sekolah hari pertama lagi di sekolah baru. Sesuai permintaan ku, aku dan Ayame terdaftar dengan nama keluarga Higashira, sedangkan Hikari dan Haruka tetap. Singkat cerita, setelah melewati perkenalan kembali di depan kelas dan ternyata kita sekelas dengan Naoto, makan siang Hikari yang menyelinap ke kelas ku dari jendela karena smp tidak boleh masuk ke sma dan membuat kehebohan, kemudian Hana juga bergabung makan bersama dan pulang sekolah di cegat oleh kelompok Jirou dan berekeringat sedikit karena menghajar mereka, hari pertama kita lewati tanpa masalah.


Selama seminggu, ya hari hari kita semua sama seperti hari pertama, hanya masalah kegiatan sekolah biasa. Tapi hari itu, aku yang sedang membantu membawakan buku ke ruang staff, melihat Naoto mengajak Ayame dan Haruka keluar dari gerbang sekolah dan pulang duluan. Aku masih mengintip dari jendela lorong sambil berjalan menuju keluar gerbang dan berbelok, awal nya aku santai, tapi rupanya gerombolan anak anak sma yang bertampang garang dan banyak seperti nya mengikuti mereka. Aku menoleh melihat arah mereka jalan dan di ujung rupanya mereka juga sudah di tunggu dengan gerombolan anak anak yang sama. Tapi ada seorang wanita pakai seragam sailor kerah biru sedang melompat lompat mengikuti mereka. Hikari terus mengawasi mereka, aku jadi sedikit tenang, tapi benarkah aku tenang. Aku langsung lari ke ruang staff, masuk dengan sopan dan memberikan tumpukan buku nya.


Tanpa berlama lama lagi aku langsung lari ke atas atap dan memakai pakaian ku, aku melompat dan bergelayutan ala spiderman dari tiang ke tiang. Aku melihat kemana mereka membawa Ayame dan Haruka.  Aku tidak terlalu khawatir dengan keduannya, Ayame sedikit sedikit bisa bela diri karena di ajari Haruka dan Haruka sendiri tidak usah di tanya. Di tambah ada Hikari yang mengikuti mereka, tapi yang menjadi masalah di sini, Naoto, sepertinya dia di suruh membawa keduanya entah kemana dan wajah nya terlalu tegang. Lalu aku seharian ini tidak melihat Hana di sekolah dan juga Jirou. Ternyata banyak juga khawatir nya haha, baiklah lanjut, ikuti dengan diam diam tanpa suara.


Mereka rupanya di bawa ke sekolah butut, penuh dengan coretan dan gambar ga jelas walau pun ada grafitti bagus juga, kaca yang pecah dan papan nama yang sudah di copot sampai aku tidak tahu nama sekolah nya. Aku melihat dari kejauhan, sepertinya Naoto memaksa Ayame dan Haruka masuk ke dalam. Dari atas aku bisa melihat gerombolan yang menunggu mereka di dalam ada di balik dinding pagar. Apa alasan Naoto sampai ngotot seperti itu, aku mencoba melihat ke arah gedung sekolah dan ke arah atap, rupanya Hana ada di atap dalam keaadan sudah tidak pakai baju bagian atas dengan tangan di ikat di tiang. Jirou terlihat tertawa sambil meraba raba dada nya dan melihat ke bawah. Ternyata itu yang memaksa Naoto, baiklah, sebelum Ayame dan Haruka masuk ke dalam gedung karena sudah di giring oleh gerombolan preman berkedok murid dan di ikuti oleh Hikari, aku melompat lompat dari tiang naik ke atap gedung sekolah dari samping.


Aku mendarat di atap persis di belakang bangunan tempat tangga darurat. Aku mengintip untuk mendengarkan pembicaraan Jirou dan Hana.


“Lepaskan aku Jirou, kamu sudah keterlaluan, kamu tidak tahu Naoto kun itu siapa.” Teriak Hana.


“Hahaha siapa memang nya dia, anak cupu itu, aku minta dia membawakan dua gadis yang terus menerus mempermalukan ku dan kalau onii chan nya datang, aku akan menangkap nya dan memperkosa dua gadis itu di depan nya hahahaha.”


“Hah, coba saja kalau bisa menangkap dia....kamu tidak akan menang.”


“Mana mungkin menang dia lawan 30 orang, dia datang kesini pasti mati.” Balas Jirou sambil terus meraba raba dada Hana.


“Lepas...kurang ajar kamu...jangan....” Teriak Hana yang berusaha melepaskan tangan Jirou dari dada nya.


Wah wah boleh juga nih manusia culun, dia kira jumlah bisa menang dari ku, ck ck kamu terlalu meremehkan ku senpai. Aku melompat naik ke dak dan menhilang, kemudian muncul di belakang Jirou yang mulai menjilati dada Hana. Aku berdiri di belakang nya sambil melihat nya, Hana melihat ku dan aku menyuruh nya diam.


“Wah enak ya ?” Tanya ku di belakang nya.


“Siapa.....” Jirou langsung menoleh sambil melayangkan punggung tangan nya ke kepala ku.


Cukup dengan satu tangan aku menangkap nya, dengan kunai ku aku lepaskan tali yang mengikat Hana dan menyuruh nya pergi. Hana langsung pergi menutup tubuh nya masuk ke dalam. Aku menempelkan kunai ku di pipi Jirou yang meringis kesakitan.


“Yo, kamu bilang apa tadi ?” Tanya ku.


“Lepas, kalau jantan satu lawan satu dengan ku...”


“Taruhan nya apa ?” Tanya ku.


“Aku akan mengabdi kepada mu kalau kalah dan semua yang di sini akan mengikuti mu, tapi kalau kamu kalah kamu mati.” Jawab nya.


“Wah ogah kalau seperti itu, begini saja, kalau kamu kalah, aku minta kepala mu gimana ? dan aku tetap akan menjadi pemimpin di sini.” Balas ku sambil tersenyum dan kunai di pipi Jirou.

__ADS_1


Jirou langsung diam karena dia tahu aku tidak main main dan selama seminggu ini dia tidak pernah menang melawan ku baik satu lawan satu atau keroyokan. Aku melepaskan nya dan melemparkan dia ke tengah atap. Dia berdiri dan langsung memasang kuda kuda bela diri asal thailand, kick boxing. Dia langsun maju menendang menggunakan kaki yang sudah di angkat sejak semula. Tendangan nya memang cepat, sebenarnya sayang juga, dia bisa ku perkerjakan, selain jago, dia juga bisa bela diri, sayang kepala nya keras. Aku menangkap kaki nya dan mendorong nya ke atas, dia langsung jatuh terlentang, aku jongkok dan menghunus katana ku.


“Ok ya, aku ambil kepala mu....”


“Ja..jangan...tunggu....aku menyerah.”


“Waaaah tidak menyerah berarti mati...begitu kan katamu tadi ?” Tanya ku lagi.


“Tolong...aku punya adik kecil....” Jawab Jirou dengan wajah cengengesan ala penjahat.


“Lalu ? apa masalah ku.” Balas ku.


“Ak..aku hanya menjalankan perintah....” Balas Jirou.


“Hee perintah siapa ?” Tanya ku.


Jirou langsung bercerita karena sudah terlalu takut, dia bilang kalau dia harus menghancurkan Naoto karena di perintah oleh seorang bernama Godou Kaneshiro yang merupakan adik dari pemimpin Godou saat ini yang bernama Godou Ichiro. Naoto adalah anak gelap dari Ichiro yang di sembunyikan dan di titipkan oleh saudara ibunya yang merupakan simpanan Ichiro. Tapi karena pewaris sah Ichiro meninggal karena kecelakaan, Kaneshiro bermaksud menjadikan anak nya pewaris, tapi tidak bisa karena ada Naoto, tugas Jirou terus merundung Naoto sampai Naoto menyerah dan bunuh diri.


“Hoho begitu ya, menarik. Ok kamu ikut aku.”


Aku menembakkan sinyal ke atas yang aku tahu Hikari pasti mengerti artinya. Aku menarik pakaian Jirou dan mengajaknya lompat ke bawah langsung. Tentu saja Jirou teriak, dia tidak tahu aku sudah mengaitkan pengait ku sehingga turun seperti bungee jumping hehe. Sampai di bawah, aku melemparkan Jirou ke tengah tengah gerombolan di depan ku. Seorang pria besar maju ke depan, Ayame dan Haruka langsung berlari ke belakang ku, Naoto dan Hana juga berada di belakang ku.


“Yap, dan berikutnya kalian.”


“Kamu tidak tahu siapa aku hah...aku keponakan Godou Kaneshiro, namaku....”


Belum selesai dia menyebutkan namanya, aku langsung memegang pipi nya dengan dua jariku.


“Nama mu jengger kun, rambut mu mirip jengger ayam haha...dan kamu bilang kamu keponakan Godou Kaneshiro, jangan ngaku ngaku, nanti mati loh, kamu sudah melakukan hal hal yang membuat ku marah.” Ujar ku di wajah nya.


Tidak mungkin sekali keluarga yakuza, apalagi keluarga besar mau memimpin langsung gerombolan preman urakan seperti ini dan tidak mungkin mereka berada di lokasi kejadian. Kalau pun ada, hanya anak buah kepercayaan nya kan. Jangan pikir aku bego dan tidak mengerti. Tiba tiba seorang murid yang tergabung dengan gerombolan itu, maju ke depan dari belakang dengan tertatih dan dengan wajah bonyok.


“Bos...bos...ada perempuan gila di belakang.. semua roboh.”


Semuanya langsung menengok dan ternyata Hikari sudah merobohkan separuh dari gerombolan itu dari belakang, berarti dia mengerti sinyal ku hehe.


“Oi semuanya, bos kalian sudah kalah, masih mau ikut pecundang seperti ini ?” Tanya ku sambil menolehkan wajah yang pipinya kujepit.

__ADS_1


Semuanya langsung menoleh, di belakang ada Hikari yang berdiri di tumpukan murid pingsan, di depan ada aku yang menjepit pipi pemimpin mereka sampai tidak bisa bergerak, akhirnya tidak ada pilihan dan mereka menjatuhkan senjatanya dan berlutut. Akhirnya mereka mau bekerja untuk ku, aku meminta Haruka memimpin mereka dan memperkenalkan nya, awalnya Haruka diam saja tapi lama lama dia semangat haha. Aku juga minta mereka mengawal Ayame selama di osaka dan halangi siapa saja yang berniat menyentuh nya. Untuk Naoto dan Hana, aku berpesan jangan sampai ada lagi yang mengganggu mereka. Aku minta Manabu san mengirimkan beberapa anak buah menggunakan mobil dan pergi ke sekolah tempat ku berada. Bos mereka dan Jirou ku masukkan ke mobil yang di kendarai oleh anak buah Manabu san.


“Mau di apain nih bocchan ?” Tanya anak buah Manabu san.


“Bawa ke laut, tenggelamkan, dua duanya.” Jawab ku.


“Hehe siap bocchan.”


Jirou dan bos itu ketakutan dan berteriak teriak tapi di belakang ada golok yang mengancam mereka jadi mereka diam. Dan sejak itu Jirou tidak masuk sekolah lagi dan mayatnya di temukan dua hari kemudian. Penyebab kematian nya adalah perkelahian dengan bos gerombolan preman di pinggir pelabuhan dan keduanya terluka kemudian tenggelam, kondisi keduanya ketika di temukan sedang memegang golok. Untuk adik Jirou yang katanya masih kecil, tapi ternyata sudah seumur Hikari bahkan sekelas dengannya, ku beri kan pesangon dan kalau sudah dewasa akan di perkerjakan di tempat ku, sebab aku lihat keluarga nya tidak akur walau orang tuanya lengkap dan cukup berada. Sayang sekali onii san nya sampah, padahal anak nya cukup cantik dan baik menurut Hikari.


Setelah itu semua, karena aku sudah tahu identitas Naoto yang sebenarnya, aku mulai berteman dengan nya, demi masa depan yang gemilang hehe. Aku juga minta Manabu san menyelidiki latar belakang nya dan latar belakang keluarga nya. Akhirnya, beberapa hari kemudian, di ketahui kalau Hana berkerja paruh waktu untuk mencukupi dirinya dan Naoto karena sudah tidak di biayai,  sementara orang tua nya yang katanya berkerja di luar negeri, tidak di ketahui keberadaan nya. Hana kemudian bercerita ketika ku tanya, Ibu Naoto yang merupakan obasan Hana, awalnya adalah istri sah dari kepala keluarga Gondo, yaitu Gondo Ichiro, tapi karena di fitnah selingkuh oleh keluarga, dia di usir dan keluarga menikahkan Ichiro dengan keluarga lain yang belum tahu siapa walau sebenarnya Ichiro tidak percaya istri nya selingkuh. Dia mengetes dna Naoto sewaktu, hasilnya Naoto adalah anak nya dan istrinya, jadi Naoto adalah pewaris sah keluarga Gondou. Dia menitipkan Naoto ke keluarga Hana demi keamanan dan karena rasa sayang nya kepada Naoto.


Pantas saja Naoto begitu menghormati Hana dan menjaganya, karena selama ini Hana yang berkerja bagi kehidupan mereka berdua. Hubungan saudara yang indah, aku berniat menolong mereka, tapi aku lebih suka kalau Naoto yang menolong Hana nantinya, kalau dia sudah menjadi seperti ku, penerus keluarga. Aku dan Manabu mulai kasak kusuk menyusun rencana kembali untuk menggaet Gondou bekerjasama dengan kita.


***


Sebulan berlalu sejak kematian Jirou, sekolah mengadakan festival budaya untuk menyambut musim gugur. Selagi di kelas,


“Sekarang aku minta teman teman menuliskan mau buat acara apa kelas kita ya, nanti kita undi suara terbanyak. Kalau sudah tolong masukkan ke dalam kotak ini.” Ujar seorang representatif kelas perempuan yang bernama Saikoji Kaede. Walau aku biasanya panggil dia inchou (ketua kelas).


Semuanya antusias menulis di kertas dan mengumpulkan nya, mungkin hanya aku dan Haruka yang tidak menulis dan cuek saja. Setelah mengatakan itu, Kaede seperti di panggil seorang sensei yang aku tidak lihat siapa orang nya dan keluar sebentar. Dia kembali masuk dengan wajah pucat, tapi aku tidak terlalu memperdulikan nya, aku melihat Haruka di sebelah ku yang sedang manyun.


“Kamu ga nulis Haruka ?” Tanya ku.


“Malas...aku tidak terlalu suka hal hal seperti ini.” Jawab nya.


“Sama. Aku juga kurang.” Balas ku.


“Kalian ini gimana sih, tulis apa saja, yang penting ikut meramaikan.” Ujar Ayame yang duduk di depan Haruka.


“Iya iya....” Haruka mengambil kertas dan langsung menulis.


Aku memejamkan mata dan merenggangkan tubuh ku dengan mengangkat tangan ke belakang, tiba tiba pangkuanku terasa berat.


“Kamu ga nulis Ma kun ?” Tanya Hikari yang tiba tiba duduk di pangkuan ku.


“Eh...kamu kenapa kesini ? kan masih pelajaran.” Balas ku sambil menyembunyikan Hikari di bawah meja.

__ADS_1


Hikari langsung membisiku, kalau seorang sensei datang ke kelas nya dan memanggil Shouko chan yang merupakan adik Jirou untuk keluar karena orang tua nya meninggal karena kecelakaan lalu lintas, padahal menurut Shouko chan, orang tua nya kerja di tempat terpisah. Setelah mengatakan itu, kemudian Hikari keluar diam diam dari jendela dan melompat lompat menuju gedung smp. Yap, sudah jelas keduanya di habisi oleh Gondou Kaneshiro. Aku hanya tersenyum saja mendengar nya.


__ADS_2