Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 41


__ADS_3

Aku melihat wajah Isami dengan tajam, aku melihat kebelakang nya, sepertinya dia datang sendiri, sebenarnya ini saat yang bagus untuk menghabisinya diam diam di dalam kamar.


“Kenapa ? kaget melihat ku masih hidup hah ?” Tanya ku langsung pada intinya.


“A..apa maksud mu....jangan macam macam dengan ku...” Ujar Isami.


“Macam macam ? kamu menyenggol ku duluan, mereka keluarga mu kan ?” Tunjuk ku ke belakang menggunakan jempol.


“Ja..jangan ganggu mereka.....urusan mu sama aku. Jangan jadi pengecut dengan menyandera keluarga orang lain.” Ujar Isami.


Tiba tiba Touka menghampiri Isami dan langsung mendorong Isami supaya keluar dari kamar, Isami yang kaget dan reflek mendorong Touka sampai terpental dan di tangkap oleh Hikari.


“Mau apa kamu kesini...lihat, semua gara gara kamu, mama jadi seperti ini....mana tanggung jawab mu hah ?” Teriak Touka.


Isami menunduk, dia langsung memberikan buket bunganya pada ku dan berbalik pergi. Hah enak saja main pergi begitu, dia pikir dia siapa. Aku langsung membuang bunga nya dan mengejar nya.


“Hei...siapa bilang kamu boleh pergi...” Teriak ku. Saat itu, aku sudah tidak perduli kalau sedang di rumah sakit yang katanya tidak boleh berisik.


Isami tidak menghiraukan ku, aku berlari dan langsung memegang pundak nya. Akhirnya dia berhenti dan berontak supaya pundak nya di lepaskan.


“Mau apa lagi kamu ?” Tanya Isami.


“Hah...mau apa ? jelas aku mau buat perhitungan dengan mu.” Jawab ku.


“Silahkan, bunuh....tembak aku di sini....” Teriak Isami histeris sambil berbalik dan maju mendekat kepada ku.


“Baik.....” Aku langsung mencabut pistolku.


Isami memejamkan matanya, dia terlihat siap ku tembak, tapi aku memasukkan lagi pistol ku dan aku membisikinya.


“Kamu kira kamu bisa mati dengan mudah ? Sebelum kamu, semua yang ada di ruangan itu akan aku habisi, untuk itulah aku kesini.” Bisik ku dan mengancam nya, padahal sih, karena anak mu itu di kehidupan masa lalu adalah istriku bodoh.


“Jangan ganggu keluarga ku....kamu punya masalah dengan ku, selesaikan dengan ku, dasar pengecut....” Ujar Isami.


“Keluarga mu ? bukti nya kamu di usirkan oleh anak mu itu, jadi tidak masalah ya ku bunuh dia.” Ujar ku lagi.


Isami diam dan dia berbalik menuju lift, aku pun berbalik menuju kamar sambil memasukkan tangan ke saku. Aku sadar Isami melihat ku berjalan kembali ke kamar, dia terlihat ragu ragu, tapi akhirnya dia kembali mengikuti ku menuju kamar haha. Begitu masuk ke dalam kamar, aku langsung menutup kembali pintu nya, aku mengeluarkan pistol dan menodong Touka dengan pistol ku. Tentu saja Touka menjadi takut dan Hikari menyingkir dari nya.


“O..onii...san....kenapa ?” Tanya Touka sambil gemetaran dan berseder ke dinding.


“Ah..aku berubah pikiran. Sebaik nya kamu ku bunuh....” Ujar ku.


Aku berbuat demikian karena aku yakin kalau Isami mengikuti dan benar, tak lama kemudian, “Sreeg.” Pintu di geser dan terbuka, Isami masuk dan langsung berteriak,

__ADS_1


“Masamune.....tolong, urusan mu dengan ku, tolong lepaskan dia....” Teriak nya sambil menutup pintu kembali.


“Hah...justru karena urusan ku denganmu....” Aku mendekati Touka dan mengarahkan ujung pistol persis di kening nya.


Isami langsung bergerak dengan maksud mencegah ku, tapi Hikari menendang kaki nya sampai dia jatuh dan berlutut. Isami kembali berteriak,


“Tolong jangan....bunuh saja aku, jangan sakiti istri dan anak ku....tolong.” Isami memohon pada ku.


Aku langsung berbalik dan mengarahkan pistol ke kening Isami yang berlutut di belakang ku.


“Baiklah....”


Ketika aku mau menekan pelatuk nya, di luar dugaan, Touka maju dan mengambil pisau buah yang  ada di meja sebelah nya, awal nya kupikir dia mau menusuk ku, tapi ternyata dia langsung menusuk leher Isami dan membuatku mengangkat pistol ku ke atas. Isami langsung tergeletak, terbatuk batuk sambil memegang lehernya dengan mulut mengeluarkan darah. Touka berdiri dan membuang pisaunya ke tanah, kemudian dia berbalik melihat ku,


“Aku setia pada mu onii san...aku tidak butuh laki laki yang mengaku papa ku ini.” Ujar Touka dengan pandangan tajam.


Ah benar juga, dia Touka, yang dengan sangat mudah nya mengkhianati orang yang menyayangi nya demi kepentingan dirinya sendiri tanpa perasaan, aku sampai lupa hal itu, tapi bagus, dia mengingatkan ku sekarang, sifatnya sama persis dengan sifatnya di masa depan. Aku malah jadi iba dengan Isami haha. Aku menyimpan kembali pistol ku dan aku melihat Isami masih hidup sambil memegangi lehernya,


“Tou...ka....” Ujar nya sambil berusaha bangkit.


Touka malah menunduk mengambil lagi pisaunya dan langsung menancapkan nya di kepala Isami membuat Isami jatuh tidak bergerak lagi. Wah wah perempuan gila, dia benar benar tidak mengenal kasihan, kalau di jadikan pembunuh bagus nih, tapi aku tidak mau melibatkan diri lebih jauh dengan makhluk seperti ini, makhluk yang sama sekali tidak bisa di percaya.


“Lalu kamu pikir dengan kamu membunuh nya, aku mau membelamu gitu ? Ayo pergi Hichan...”


***


Seperti biasa, keesokan harinya, pagi pagi aku pergi ke kantor bersama Hikari yang punya niat mau mengembangkan bisnis butik di mall ginza yang sedang di bangun. Ketika sampai di depan kantor dan mobil sudah berhenti, aku melihat Touka sedang mengintip di samping gedung. Aku pura pura tidak melihatnya dan turun bersama Hikari untuk masuk ke dalam. Ah paling dia mau berangkat ke sekolah lalu lewat sini kemudian bersembunyi karena melihat ku, begitu pikir ku. Aku santai saja dan masuk ke dalam sambil menggandeng pinggang Hikari. Aku langsung mengisi waktu ku dengan kesibukan supaya tidak memikirkan hal hal yang tidak perlu. Tiba tiba handphone ku berbunyi, ternyata yang menelpon adalah Shindo kun, dia sedang ada di tokyo karena sedang tour bersama murid murid sekolah nya. Aku minta dia mampir ke kantor ku untuk ngobrol ngobrol saja. Shindo mengatakan makan siang dia ada waktu luang, tapi tidak mungkin kalau ke kantor karena sebagai guru pembimbing, dia tidak bisa jauh jauh dari grup sekolah nya. Karena dia dekat dengan shibuya, akhirnya aku putuskan untuk makan di daerah sana saja.


Singkat cerita, setelah menyelesaikan pekerjaan ku dan sudah waktunya makan siang, aku dan Hikari berganti pakaian menjadi pakaian anak muda biasa hanya saja di tambah topi supaya wajah kita tidak terlihat. Aku dan Hikari keluar seperti anak kuliah biasa yang membawa tas punggung dengan topi dan masker untuk menutupi wajah, bukan karena selebriti melainkan berjaga kalau ada yang mengincar. Ketika melangkah keluar dari gedung, aku menoleh dan aku jadi kaget, karena aku melihat Touka masih di tempat yang sama seperti tadi pagi. Anak ini tidak sekolah apa ? pikir ku dalam hati. Entah dia mengenali kita atau tidak, aku melewati nya dengan santai dan menuju ke daerah shibuya menggunakan bis karena tidak terlalu jauh dengan kantor ku, aku dan Hikari tahu Touka mengikuti kita, bahkan sampai naik bis. Ketika sedang dalam perjalanan menggunakan bis,


“Ma kun, kenapa dia mengikuti kita ya ?” Tanya Hikari.


“Ah..biarin sajalah, selama tidak menegur kita tidak masalah.”


“Ada ada saja....apa dia tidak sekolah ya.”


“Itu dia aku heran Hichan, biasanya anak sma jam segini masih belajar.”


“Ya sudah lah, toh dia juga tidak bisa apa apa...tapi awas saja cinta lama bersemi kembali.” Balas Hikari sedikit cemberut.


“Tenang saja, hal itu tidak mungkin, sakitnya masih terasa di sini...” Ujar ku sambil menunjuk dada ku dengan ibu jari.


Akhirnya aku dan Hikari menikmati perjalanan yang hanya tidak sampai 15 menit itu dengan santai. Ketika sampai, aku melihat Shindo sudah menunggu di depan taman yang ada patung anjing sedang menunggu, aku langsung menghampiri nya dan mengajak nya ke restoran keluarga di dekat taman yang sedikit lebih mewah dari yang lain dan biasanya orang kantoran yang makan di sana, kalau saja dia mengajak ketemuan nya sore, aku pasti akan mengajak dia makan yakiniku sambil minum minum, sayang masih siang haha. Kita bertiga masuk ke dalam restoran, setelah memesan makanan dan mengambil minuman. Aku mulai berbincang bincang dengan Shindo, dia memberi tahu kalau nama anak nya adalah Yuuta dan sekarang sudah membuka mata karena sudah hampir 3 bulan, dia dan Haruka bahagia. Shindo juga mengatakan kalau bulan depan, dia sekeluarga akan pindah ke tokyo, sebab Shindo akan mengajar di sekolah yang ada di tokyo. Dia juga bercerita kalau Keiko menelpon mereka kemarin sebelum berangkat dan mengirimkan foto nya yang sedang hamil dengan Ryota di samping nya. Shindo juga mengirimkan foto anak nya dan foto sekeluarga kepada Keiko. Shindo melirik keluar jendela,

__ADS_1


“Aniki, sori nih, tapi kamu kenal tidak dengan anak sekolah yang duduk di pinggir jalan itu, dia terus duduk di sana dan mengamati kita.” Ujar Shindo.


“Ah...biarin saja Shindo kun, dia tidak berbahaya...” Balas ku.


“Iya...tidak usah di gubris...” Tambah Hikari.


“Tapi kalian kenal ? anak sekolah kok jam segini berkeliaran, pakai seragam lagi.” Tanya Shindo.


“Hahaha sensei galak nih....biarin saja lah, mungkin dia libur.” Balas ku.


“Ah..kebiasaan, di sekolah aku memang cukup galak aniki hahaha.” Balas Shindo.


Akhirnya makanan datang, kita bertiga langsung mulai makan, aku melirik keluar dan melihat Touka juga makan bekal nya di kursi pinggir jalan. Anak itu benar benar stress, ngapain makan di pinggir jalan gitu coba, dulu waktu menikah, makan takoyaki di taman saja dia ogah, pikir ku. Hikari melihat aku mengamati Touka,


“Hayoo....bersemi lagi ?” Tanya nya dengan wajah cemberut yang sengaja di perlihatkan di depan ku sambil menutupi jendela.


“Apa sih...aku hanya melihat jalan kok, bukan melihat dia, kamu ini lucu ya, masa cemburu sama anak sma ?” Tanya ku.


“Hei...kalau secara umur aku juga masih anak sma, kelas 3.” Balas Hikari.


“Ah benar juga, ulang tahun mu tengah tengah sih ya, berarti kamu sudah mau lulus hahaha.” Balas ku.


“Dasar...hehe...” Balas Hikari lagi.


“Wah kalian berdua makin mesra ya, kapan punya anak nih aniki, sudah boleh kali.” Sindir Shindo.


“Belum terpikir hahaha.” Jawab ku santai.


Setelah selesai makan, Shindo harus pergi kembali berkumpul dengan siswa siswa nya, jadi dia permisi lebih dulu dari kita. Dari jendela aku melihat Shindo berjalan ke arah Touka dan sepertinya dia menasihati Touka. Aku melihat Touka menunduk kepada Shindo yang kemudian berbalik dan pergi. Touka kembali duduk di kursi sambil mengamati restoran tempat ku dan Hikari berada. Aku dan Hikari kembali ke kantor, Touka terus mengikuti ku sampai kantor tapi dia tidak berani masuk ke dalam kantor. Dan sore hari menjelang malam aku keluar kantor lagi, Touka masih ada di tempat semula, karena sudah  menjelang malam dan berbahaya, diam diam aku menyuruh orang untuk mengusirnya, aku melihat Touka pergi sambil menunduk. Awalnya aku berpikir masalah sudah selesai, ternyata aku salah, keesokan harinya Touka kembali lagi dan terus sampai beberapa hari, makin hari seragam nya makin lusuh, sepertinya dia tidak pernah pulang dan mandi. Kok jadi agak mengerikan ya jadi nya, dia seperti stalker yang menguntit idola nya, pikir ku.


Setelah dia terus datang selama seminggu, keesokan harinya dia tidak datang lagi, aku sudah mulai lega, tapi ada masalah baru datang ke kantorku. Dua orang detektif ingin bertemu dengan ku karena aku dan Hikari adalah saksi pembunuhan Kirishima Isami dan pelaku nya sudah tertangkap. Berarti alasan Touka tidak datang menguntit ku dan Hikari karena dia di tangkap. Aku memberikan keterangan kepada dua detektif itu sepertlunya dan apa adanya. Yah jelas saja dua detektif itu tidak berani berbuat apa apa terhadap ku, tapi terdakwa mengatakan kalau aku mengancam Touka dengan pistol dan dia hanya membuktikan dirinya tidak bersalah dengan membunuh Isami.


“Jadi begitu bos, kita bisa meluruskan semuanya dan membebaskan anak buah bos, ngerti dong maksud nya bos.” Ujar salah satu detektif itu.


“Haaaah.....sudah berkali kali ku katakan dia bukan anak buah ku, aku datang kesana karena menagih hutang.” Jawab ku.


“Mana mungkin bos, kayak aku tidak tahu bos saja, bos mana pernah turun sih menagih hutang ?” Ledek detektif korup itu.


Ah rese juga nih, aku beritahu yang sebenarnya malah dia berbalik memeras ku, benar benar merusak negara detektif seperti ini, ingin rasanya aku menenggelamkan mereka di teluk tokyo. Touka ternyata bilang semuanya pada mereka, aku jadi mati kutu. Tiba tiba Hikari membisiku,


“Sudah lah Ma kun, kalau sudah begini susah menjelaskan kepada mereka, banyak saksi juga di rumah sakit kalau kita ada di sana...lagipula kamu benar mengancam dia waktu itu, biar aku hadapi mereka.”


Akhirnya Hikari maju dan menanyakan kepada kedua detektif itu mereka minta berapa, setelah menyebut jumlah, Hikari menulis cek dan membayarnya dengan catatan tidak ada masalah lagi sehabis ini. Kedua detektif itu tersenyum dan langsung keluar dari kantor ku. Setelah itu, beberapa hari kemudian, makhluk bernama Touka sudah ada lagi di balik dinding kantor ku, mengintip dan mengikuti aku dan Hikari grrrrr.

__ADS_1


__ADS_2