Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 33


__ADS_3

Tahun 2002, Empat tahun berlalu, aku sekarang berumur 20 tahun dan Hikari berumur 18 tahun, seluruh desa sudah mengenal kita berdua, setiap pagi siapapun yang melewati rumah atau ketika sedang meladang, pasti menyapa kita berdua. Tentu saja, latihan ninja tetap kita lakukan, malah kadang kita berdua masuk ke dalam hutan dalam sebulan untuk menguji diri kita sendiri. Kita tidak meneruskan sekolah lagi, tidak masalah, di kehidupan sebelum nya kita sudah lulus kuliah dan semua masih teringat jelas haha, apalah arti selembar kertas ijazah, hidup di desa tidak membutuhkan hal seperti itu. Kyoya berkerja sebagai aktor dan Natsume menjadi idol di tokyo. Sementara Kenzo dan Megumi kuliah di kyoto.


Aku sudah tidak pernah lagi mendengar kabar soal Ayame dan keluarga Odasiga sama sekali selama ini. Dan aku sudah resmi menikah dengan Hikari karena dia sudah berumur 18 tahun dan sudah boleh menikah. Aku menikah menggunakan nama Yashiro, jadi namaku kembali seperti semula dan nama Hikari menjadi Yashiro Hikari. Suatu hari, aku dan Hikari ke kota untuk menjual hasil panen sekaligus berbelanja. Teknologi sudah semakin canggih, sekarang handphone sudah memiliki kamera, memiliki fungsi surel dan internet sudah berkembang jauh dari empat tahun lalu. Aku dan Hikari memutuskan untuk makan dulu di sebuah restoran  gyudong di kota. Ketika di dalam, rupanya pemilik sedang menonton televisi yang menayangkan berita kematian tokoh budaya dari keluarga Fujikata, yang bernama Fujikata Akiho di usia 82 tahun.


“Baasan.....dia meninggal.” Ujar ku.


“Iya, berarti pewaris Fujikata sekarang Keiko san ya.” Tambah Hikari.


Pemilik toko mengantarkan makanan ke meja kita dan kita berdua mulai makan setelah mengucapkan salam. Berita kematian baasan tidak berpengaruh sama sekali bagi ku maupun bagi Hikari. Kita berdua makan dengan santai. Tapi tiba tiba pintu di buka, “Sreeeg.” Dua orang masuk ke dalam.


“Ara bocchan ? ara ra ra ra...benar bocchan...”


Tiba tiba aku mendengar suara yang ku kenal dan begitu menoleh aku sudah di dekap sampai tidak bisa bernafas. Aku menepuk nepuk orang itu supaya bisa bernafas. Akhirnya aku di lepaskan.


“Huff...huff...nee san ? kok ada di sini ?” Tanya ku.


“Bocchan.... eike pikir kamu sudah meninggal bocchan, sebab banyak yang bilang kalian sudah mati.” Youko menoleh ke belakang nya dan mengangguk.


“Hoo siapa yang menyebarkan aku dan Hikari sudah mati ?” Tanya ku.


“Isu itu santer di osaka bocchan, kira kira sebulan setelah bocchan hilang, tunangan ojouchan bilang pada ojouchan kalau bocchan dan Hikari chan meninggal karena di bunuh oleh pembunuh.” Jawab Youko.


“Hahaha...berarti ulah si kribo ya, bagus bagus, aku suka mendengarnya, memang lebih baik aku dan Hikari di anggap sudah meninggal.” Balas ku.


Aku melihat Youko menunduk dan siapa di belakang nya, dia di tutupi kerudung dan masker, wajah nya tidak terlihat dan dia berdiri, walau aku tahu dia seorang wanita.


“Lalu kenapa nee san kesini ?” Tanya ku.


“Sekarang kacau bocchan, kondisi benar benar tidak menentu, ojouchan mengambil alih keluarga suami nya dan mengendalikan semuanya atas nama Odasiga, sedangkan Fujikata di ambil alih oleh Shizuka tan, mungkin yang bersangkutan bisa menjelaskan nya lebih detil.....” Youko menoleh ke orang di belakang nya.


Aku langsung melihat kebelakang nee san dan ternyata yang berdiri di belakang nya adalah Keiko. Aku kaget melihatnya, di televisi pemakaman baasan masih berjalan yang bahkan di hadiri oleh perdana menteri jepang. Kenapa Keiko malah ada di sini, di depan ku.


“Keiko nee san ? kenapa di sini, bukankah baasan sedang di makamkan ?” Tanya ku.


Keiko dan Youko duduk di depan aku dan Hikari, Keiko bercerita kalau keadaan kacau, Fujikata sekarang di pimpin oleh Shizuka yang berdomisili di fukuoka dan Odasiga oleh Ayame yang sekarang di pindah seluruh nya ke osaka. Semua clan sekarang melebur ke Fujikata atau Odasiga, seperti contoh Godou sekarang sudah sepenuh nya di kuasai oleh Odasiga, sedangkan Kyogoku sudah sepenuh nya masuk ke Shizuka. Dan sekarang kedua kekuatan besar itu sedang memperebutkan tokyo, yang sekarang tidak ada yang pegang. Menurut Keiko, cara bersaing mereka sangat keras dan sadis, jika ada yang menentang di habisi tanpa ampun dan tidak menyisakan satu pun hidup.


“Heee di tokyo bukan nya ada Kirishima ?” Tanya ku.


“Sudah hilang Masa kun, semua di bantai oleh Ayame, semua bisnis di ginza di ambil semuanya oleh dia. Alasan dia tidak bisa menguasai seluruh tokyo karena orang kepercayaan mu yaitu Manabu menghilang. Di tambah, Shizuka mulai masuk ke tokyo.” Jawab Keiko.


“Benar bocchan, ojouchan sekarang jadi dingin, dia sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan siapapun. Itulah alasan Manabu menghilang, ojouchan memaksa mengambil semua aset di tokyo yang bocchan dan Manabu kerjakan bersama.” Tambah Youko.


“Hmm begitu ya, lalu kenapa Keiko nee san ada di sini ? kok tahu aku dan Hikari ada di sini ?” Tanya ku lagi.

__ADS_1


Keiko langsung menceritakan kalau sekarang dia di incar oleh Shizuka dan di bantu oleh Ayame. Keduanya berseteru hanya di luar, tapi di dalam keduanya sekutu. Aku langsung mengerti kenapa Keiko di buru oleh Ayame dan Shizuka, Keiko adalah anak yang lahir dari dua keluarga besar Odasiga dan Fujikata. Boleh di bilang, Keiko adalah pewaris sah kedua keluarga besar itu. Ketika Keiko sudah tahu dia di buru, Keiko pergi menemui Youko di fukuoka untuk mencari bantuan dan mereka sudah berkeliling selama sebulan, ketika mereka sampai Kyoto, Youko mendapat petunjuk dari seorang siswi universitas yang tanpa sengaja berpapasan dengan mereka di distrik pertokoan, sedang membicarakan desa nya dengan seorang siswa laki laki di sebelah nya, mereka merasa tenang, kalau aku dan Hikari mengurus anak anak desa dan mengajari mereka aliran ninja Kagenuma. Keiko dan Youko kaget mendengarnya karena jarang ada yang menggunakan nama Masamune di tambah dari desa Kagenuma, mereka langsung menghampiri siswi itu menanyakan detail nya, Youko dan Keiko sama sekali tidak menyangka aku dan Hikari masih hidup. Awalnya siswi itu tidak memberitahu nya karena melihat Keiko, tapi karena Youko bisa membuktikan kalau  dia juga murid desa Kagenuma, siswi itu memberitahu semua nya dan barulah kemudian Youko memberitahu Keiko.


“Haaa Megumi ya.....” Gumam ku.


“Siapa lagi siswi perempuan yang di kyoto hehe.” Tambah Hikari.


“Benar namanya Megumi dan dia juga ninja sama seperti kita semua di sini.”  Ujar nee san.


“Tapi maaf Keiko nee san, Youko nee san, aku sudah tidak terlibat, bisa di bilang aku sudah tidak mau kembali lagi, aku sudah tenang bersama Hichan di sini.” Balas ku.


“Eike mohon bocchan, semua harus kembali ke sedia kala, ojouchan dan Shizuka chan benar benar sudah merusak tatanan yang sudah berabad abad di jalankan dan di perjuangkan oleh bos.” Tambah Youko membujuk ku.


“Maaf, aku di sini sudah berganti nama, aku sudah bukan Odasiga, kita berdua sudah settle dan menikah, jadi aku rasa aku dan Hikari tidak bisa membantu.” Balas ku.


“Masa kun, kamu tahu aku kan, aku tidak pernah takut dan memohon kepada siapapun, tapi kali ini, aku mohon pada mu, hentikan keduanya, sebelum semua jadi hancur. Lagipula Ayame bisa menjadi seperti itu karena mu juga yang menghilang tiba tiba.” Balas Keiko sambil berteriak.


Mendengar ucapan Keiko tentu saja aku marah, aku berdiri dan mengajak Hikari berdiri juga,


“Haha bukan kah aku sudah mati dan tentu saja aku tidak bisa hidup lagi kan....ayo Hichan, kita pergi.” Balas ku.


“Duaak..” Aku menoleh dan kaget, melihat Keiko dan Youko menunduk di depan ku. Kepala keduanya sampai menempel ke meja, mereka betul betul minta aku kembali untuk mengambil semuanya, sebab sekarang perang bisa saja terjadi antara dua kekuatan besar di tokyo dan kalau sampai itu terjadi pasti semua sektor berguncang, perang saudara bisa terjadi. Aku hanya menggaruk garuk kepala melihat mereka berdua yang menunduk sampai segitunya di depan ku. Tapi Hikari merangkul lengan ku dan menarik ku. Dia mendekatkan wajah ke telinga ku.


“Tidak apa apa kan Ma kun kita bantu mereka, kalau sampai terjadi perang kita bakal repot juga di sini. Ada benarnya juga, Ayame onee san jadi seperti itu karena kita.”


“Aku kan sudah bilang, kalau bersama mu, kemana pun aku ayo hehe.” Balas Hikari.


“Haaaa.....ya sudah lah, demi istri ku tercinta. Keiko nee san, Youko nee san, tolong angkat kepala kalian. Baiklah, aku bantu, sekarang kita cari Manabu san, tahu tidak di mana dia ?” Tanya ku.


“Ara...terima kasih bocchan, eike kira kira tau di mana dia bersembunyi, di itoshima.” Jawab Youko.


“Terima kasih Masa kun, kali aku berhutang pada mu, tolong hentikan Ayame dan Shizuka.” Tambah Keiko.


“Baik, apa aset kita di fukuoka dan saga masih ada ?” Tanya ku pada keduanya.


“Di saga semua sudah di ambil alih, tapi di fukuoka masih ada.” Jawab Youko.


“Bagus, kita jemput Manabu, aset milik Mitshushino yang ku pegang tidak mungkin bisa di ambil. Sekarang aku harus kembali ke desa dulu untuk bersiap dan pamit kepada kepala desa.”


“Baik Masa kun.”


“Ara...siap bocchan....”


Hikari tersenyum melihat ku, pandangan matanya penuh keyakinan. Mari kita ambil kembali tokyo milik kita bersama. Ayame chan, Shizuka chan, tunggu ya, aku akan bertemu kalian. Pertama tama kita kerumah Sawatari dulu mencari tahu soal Manabu san di sana. Rekening yang ku pegang selama ini, mulai akan ku gunakan. Aku mengajak Youko kembali ke desa, karena keduanya ninja, sebenarnya mereka bisa masuk ke pelindung dan masuk ke dalam desa tapi aku tidak tahu Keiko dari clan mana, terlalu berisiko mengajak dia ke desa, jadi aku minta dia di kota saja di temani Hikari.

__ADS_1


***


Aku dan Youko menghadap kepala desa untuk berpamitan dan mengatakan alasan nya kenapa aku dan Hikari harus pergi.


“Begitu ya, jadi sebenarnya kamu adalah kepala keluarga Odasiga yang sebenarnya, aku paham, aku tidak akan mencegah mu, tapi ingat kamu punya keluarga di desa ini.” Ujar kepala desa.


“Baik kepala desa, aku mengerti, terima kasih bantuan nya selama ini.” Aku menunduk di hadapan nya.


“Jangan segan segan memberitahu kami kalau kamu membutuhkan bantuan.” Kepala desa memegang pundak ku.


“Terima kasih, aku akan mengingat nya.” Balas ku.


Setelah itu, aku mengajak Youko ke rumah ku sebentar untuk berberes keperluan ku dan Hikari. Youko yang melihat aku dan Hikari sudah hidup nyaman dan tenang di desa merasa menyesal dan meminta maaf karena mengusik nya, tapi aku mengatakan, kalau aku tahu suatu hari ini, hal seperti ini pasti terjadi dan aku juga siap, kepala desa juga sudah tahu dan mengerti, karena itu, aku minta nee san jangan menyesal. Setelah semua barang sudah ku bawa dalam ransel besar, aku berjalan keluar desa bersama nee san dan di iringi oleh beberapa anak yang kadang aku ajari di sekolah. Ada yang menangis, ada yang melambaikan tangan, ada yang bertanya kapan kembali dan lain sebagai nya. Sedih juga sih melihat nya, aku sempat menengok ke belakang sebentar dan tersenyum, hati ku mengucap kan terima kasih kepada desa yang membiarkan aku dan Hikari tinggal 4 tahun terakhir.


“Ayo nee san, kita pergi....”


Pandangan mata ku lurus ke depan, aku siap, aku kembali lagi dan keluar dari zona nyaman ku. Begitu keluar desa, aku di sambut dengan senyuman hangat Hikari yang selalu bersama ku, aku juga tersenyum dan merangkul nya, kita berdua di antar oleh seorang penduduk desa menggunakan mobil pick up yang biasa di gunakan untuk membawa hasil pertanian menuju stasiun di kota. Tujuan berikut nya adalah itoshima, rumah keluarga Sawatari.


***


Kita naik kereta dulu sampai ke kota Nara untuk membeli handphone dan bermalam dulu semalam untuk meneruskan perjalanan ke esokan hari nya. Setelah sampai di hotel, aku bersama Hikari memesan dua kamar, satu untuk kita berdua dan satu untuk  Keiko bersama Youko. Aku pikir mereka di satukan tidak apa apa, Youko walau berbadan besar dan kekar, jiwanya gadis suci, jadi kurasa aman hehe. Tapi tengah malam, aku mulai merasakan sensasi yang sudah lama tidak ku rasakan dari kamar di sebrang ku. Ya benar, sensasi pemburu yang sudah menargetkan mangsanya dan menunggu kesempatan untuk menyerang.


“Ma kun.....” Ujar Hikari yang memang lebih peka dari ku.


“Ya, aku juga merasakan nya....” Balas ku.


Kita berdua bersiap di dalam kamar, aku tidak yakin target mereka adalah kita berdua, sebab hawa pemburu itu tidak mengarah ke kita, melainkan ke kamar sebelah.


“Mereka mengincar Keiko nee san dan Youko nee san...” Ujar ku berbisik.


“Benar Ma kun.”  Balas Hikari.


“Dari di stasiun tadi, aku sudah merasa kan ada yang mengikuti kita.” Tambah ku.


“Ku pikir aku saja yang merasakan nya.” Tambah Hikari.


Aku dan Hikari mengendap ngendap berjalan ke depan pintu dan berdiri di kedua sisi nya. Aku mendengar pintu di kamar sebrang di buka, beberapa orang keluar dan berjalan menuju kamar di sebelah ku. Aku sedikit membuka pintu, ada tiga orang keluar dari dalam kamar dan begitu aku melihat pakaian dan lambang nya, aku kaget, ternyata mereka ninja dari Kagenuma. Dan kalau Kagenuma di sini, berarti yang menyuruh mereka adalah Ayame.


“Ayo Hichan....” Ujar ku.


“Iya ayo....sekarang kita Iga bukan Kagenuma...” Tambah Hikari.


Aku dan Hikari langsung keluar, ketiga ninja itu menoleh dan langsung menyerang ku dan Hikari. Tapi hei, kenapa serangan mereka sangat lambat, gaya bertarung mereka juga tidak seperti ku dan Hikari, malah lebih mirip kepada gaya bertarung Hana. Tantu saja aku dan Hikari yang selama ini berlatih dan menyerap gaya baru dari desa Iga dengan sangat mudah juga cepat mengalahkan ke tiganya. Aku dan Hikari membawa mereka kembali masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, barulah aku menyadari kalau pakaian mereka hanya mirip dengan Kagenuma dan menggunakan lambang nya, tapi sebenarnya mereka berbeda, aku membuka masker salah satu ninja dan aku mengenalinya, dia adalah salah satu siswa laki laki yang bersekolah di sekolah khusus laki laki di osaka. Ayame, apa yang kamu kerjakan di osaka selama ini.

__ADS_1


__ADS_2