Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 50


__ADS_3

Pria besar itu diam saja di depan ku, dia tidak bicara apa apa, karena kesal jalan ku di hadang, aku minta dia minggir sebab aku mau mengantar istri ku ke dokter kandungan. Tapi tetap pria itu diam saja, dia malah melihat ku yang sudah sedikit emosi. Pengawal ku turun dan menghampiri ku,


“Mau saya singkirkan mereka bos ?” Tanya pengawal ku.


“Sebentar, aku kasih kode nanti.”


Aku langsung menarik pakaian nya dan dia menunduk sedikit. Tapi ternyata dia malah berlutut dan minta di perkerjakan oleh ku. Buset, nekat amat nih orang, udah menghadang ku sekarang minta perkerjaan lagi. Setelah ku tanya, ternyata geng itu adalah geng yang di bentuk Daiki, karena sekarang Daiki sudah meninggal, mereka jadi kehilangan arah dan tidak tahu harus berbuat apa, baiklah baiklah, aku meminta mereka menyingkir dulu dan silahkan mengikuti ku dari belakang, baru setelah Hikari selesai di periksa, kita bicara. Pria yang memperkenalkan diri bernama Gen itu langsung memerintahkan anak buahnya menyingkir dan membiarkan aku lewat. Aku kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Hikari. Di rumah sakit, kebetulan aku bertemu dengan Ryota dan Keiko yang juga sedang memeriksakan kandungan Keiko.


“Wah selamat Masa kun.....sebentar lagi kita jadi ayah.” Ujar Ryota.


“Iya aniki, sebentar lagi, tapi sepertinya Keiko nee san akan melahirkan duluan.” Balas ku.


“Hah...sama saja, hanya beda beberapa bulan.” Balas Ryota.


Sementara itu, aku melihat Hikari sedang berbincang dengan Keiko sambil duduk menunggu panggilan masuk ke dalam. Ryota bilang pada ku, urusan dengan Shizuka dia tunda dulu sementara, sampai anak nya lahir, sebab kalau tidak bisa membebani Keiko dan berpengaruh pada kehamilan nya. Aku pun mengatakan hal yang sama, sebab aku juga berpikir menunda dulu urusan ku dengan Ayame karena kehamilan Hikari.


“Maaf Masa kun, tapi bukankah waktu itu Hikari chan melakukan operasi pengangkatan rahim ya, kok bisa hamil ?” Tanya Ryota.


“Aku ceritakan aniki, memang sulit di percaya tapi terjadi....” Jawab ku.


Aku menceritakan tentang kuil yang kudatangi, soal Kaede dan Shouko, soal aku pingsan dan masuk ke alam lain kemudian bertemu dengan jisan yang memberi ku liontin. Ketika aku memberikan liontin kepada Hikari dia hamil dengan ajaib, tapi tentu saja aku tidak bercerita mengenai aku yang mengulang hidup dan Hikari yang bereinkarnasi di masa lalu. Tanggapan Ryota sama dengan Manabu san, dia juga percaya bahkan dia juga menceritakan kalau dia pernah mengalami nya. Dia pernah di tolong oleh seorang gadis yang tiba tiba menghilang waktu sedang kecelakaan ketika latihan sewaktu dia kecil dan ketika hilang ingatan, gadis itu muncul kembali untuk menuntun dirinya pulang ke rumah walau dia tidak ingat apapun kecuali Keiko. Aku percaya mendengarnya karena aku sendiri mengalami nya, lalu aku menceritakan kepada Ryota mengenai clan Amagaoka dan kedua anak kembar itu.


“Jadi begitu ya, kita harus mencari cara menghadapi mereka, kurasa dengan beladiri saja tidak bisa menghadapi yang seperti ini.” Ujar Ryota.


“Benar aniki, hanya saja aku masih belum menemukan petunjuk bagaimana mengatasi nya, mungkin Youko nee san bisa menemukan petunjuk di nara, kita tunggu saja laporan nya nanti.” Balas ku.


“Sekarang kita berdua konsentrasi saja untuk mengurus istri istri kita yang sedang mengandung anak kita.” Tambah Ryota.


“Hahaha setuju aniki, selama mereka belum masuk ke kyoto, kurasa kita akan aman di sini.” Balas ku.


Akhirnya tiba giliran Keiko untuk di periksa, Ryota menemani nya ke dalam. Tapi aku heran kenapa orang orang kok melihat ku seperti takut dan mereka sepertinya menjauh dari ku, ketika menoleh aku langsung tahu penyebab nya, ternyata pria yang mencegatku di jalan tadi duduk jauh di belakang ku, aku menoleh dan memanggilnya supaya mendekat, dia berdiri dan menghampiri ku.


“Haaah...kan sudah ku bilang tunggu diluar, istriku masih menunggu periksa.”


“Tidak apa apa bos, aku jaga bos di sini.....” Balas Gen.


“Kamu tidak lihat apa, semua yang ada di rumah sakit jadi takut melihat mu dan melihat ku.”


“Oh...maaf bos, saya keluar....” Ujar Gen.


“Sudah tidak usah, sudah tanggung...jadi, bisnis apa yang biasa di lakukan Daiki ?” Tanya ku.


Gen menjelaskan, biasanya dia di perintah Gen untuk menjaga wilayah pertokoan dan mengambil jatah dari toko toko dengan dalih uang keamanan. Halah, dasar otak bandit, benar benar Daiki itu, sudah mati saja masih membuatku marah. Akhirnya aku menelpon Manabu san di tokyo untuk mengatakan aku mau membuka perusahaan security di kyoto. Manabu san mengatakan dia akan mengirim anak buah untuk mengurus semuanya di kyoto. Setelah menutup telepon, aku berpikir untuk menyerahkan bisnis ini kepada Ryota aniki. Tidak ada orang lain yang cocok mengelola bisnis ini. Aku menjelaskan kepada Gen semuanya dan dia langsung menjabat tangan ku dengan senang dan berlinang air mata. Ampun deh, ternyata selama ini dia tidak di beri pekerjaan sama sekali oleh Daiki dan hanya di suruh memalak orang orang saja, sudah begitu mereka hanya di beri jatah sedikit oleh Daiki sampai kadang mereka kelaparan. Sampai segitunya dia menjabat tangan ku, wajah nya yang sudah jelek jadi semakin jelek karena menangis haha.


“Terima kasih bos....benar benar terima kasih bos....” Ujar nya berkali kali.

__ADS_1


Aku sih sebenarnya tidak masalah, tapi semua orang yang melihat menjadi aneh, seakan akan aku membully pria yang lebih besar dari ku ini. Aku melihat Hikari melihat ke arah ku sambil tertawa kecil karena terlihat lucu. Setelah Keiko nee san keluar di tuntun oleh Ryota aniki, giliran Hikari di periksa, aku minta Gen menunggu di luar dan aku mengatakan pada Ryota aniki kalau nanti malam aku mampir ke rumah nya untuk bicara. Walau rumahnya ada di sebelah ku, tapi kalau tidak bilang rasanya tidak sopan. Aku langsung mengantar Hikari masuk ke dalam, seperti biasa, dokter langsung memeriksa Hikari tanpa banyak bicara. Setelah dokter menuliskan resep untuk Hikari, aku dan Hikari keluar dari ruangan pemeriksaan dan menuju apotik untuk menebus obat yang kebanyakan hanya vitamin untuk memperkuat tubuh Hikari dan janin nya.


***


Malam harinya, aku pergi ke sebelah bersama dengan Gen yang kumita juga ikut datang sekaligus aku ingin memperkenalkan nya dengan aniki.


“Aniki, kenalkan dia Gen....langsung saja pada intinya, aku ingin membuka perusahaan security untuk wilayah kyoto dan memperkerjakan dia bersama anak buahnya, ada berapa anak buah mu ?” Tanya ku kepada Gen.


“Ada sekitar 30 orang bos....” Jawab Gen.


“Begitulah aniki, aku mau minta tolong, mau tidak aniki memimpin perusahaan itu, sebab aku sendiri tidak terpegang, aku harus mengelola beberapa restoran dan club malam disini.”


“Hmm....aku tidak masalah....aku bisa membantu mu, tapi Masa kun, boleh aku tes dia dulu ?” Tanya Ryota sambil menunjuk Gen.


“Siap di tes aniki....” Ujar Gen yang berdiri dan menunduk.


“Nah dia siap tuh aniki.....” Tambah ku.


Tiba tiba Keiko datang ke ruang tamu membawa nampan berisi minuman untuk di hidangkan kepada ku, Ryota dan Gen.


“Aduh anego jangan repot repot....” Ujar Gen yang langsung menghampiri dan membantu Keiko membawakan nampan nya karena melihat Keiko sedang hamil.


“Eh....Ryo nii...siapa dia ?” Tanya Keiko bingung karena ada pria besar lebih besar dari suaminya mengambil nampan di tangan nya.


“Ah...dia pegawai baru.....” Jawab Ryota.


“Wah boleh juga, aku nanti akan bantu ya....” Ujar Keiko.


“Kamu di rumah saja Kei chan, kamu tidak boleh terlalu capek.” Balas Ryota.


“Iya benar nee san, Hikari juga ada di sebelah bersama Touka, dia tidak kemana mana, main main saja ke rumah, jangan sampai terlalu capek.” Tambah ku.


“Tapi waktu di saga aku juga menjalankan bisnis serupa milik baasan....aku bisa membantu sebenarnya.” Balas Keiko.


“Kalau begitu, kamu bantu aku saja Kei chan, tapi di rumah....” Balas Ryota.


“Iya Ryo nii....tapi ga boleh pulang terlalu malam ya....” Ujar Keiko.


Melihat Ryota dan Keiko berbicara dengan mesra, Gen berbisik kepadaku di sebelah nya,


“Bos maaf aku tanya, aniki dan anego sudah lama menikah ? mereka mesra sekali....” Ujar nya.


“Sudah sekitar setahun, kenapa kamu bertanya begitu ? ingat wajah anego, jangan sampai anak buah mu menggoda dia di jalan....begitu juga dengan istri ku dan adik ku...:” Jawab ku.


“Siap bos....” Ujar Gen.

__ADS_1


Ryota langsung mengajak Gen masuk ke dalam. Ternyata di bagian belakang rumah mereka ada sebuah ruangan besar yang di buat mirip seperti dojo. Gen diminta berdiri di depan Ryota. Setelah itu Ryota langsung memberi hormat dan meminta Gen menyerangnya. Aku dan Keiko nee san menyaksikan nya sambil duduk di pinggir. Gen sempat menoleh pada ku, karena dia ragu ragu ingin menyerang Ryota di depan nya. Aku mengangguk supaya Gen tidak ragu, kemudian dia mulai bersiap dengan gaya seorang pegulat, karena memang badan nya besar.


“Maaf ya aniki....aku mulai...” Ujar nya.


Gen maju menyerang Ryota, dia menangkap pakaian Ryota dan berniat membanting nya kebelakang, tapi Ryota tetap berdiri tegak tidak bergerak, dia menyapu kaki Gen sehingga malah Gen yang jatuh. Gen segera berdiri dan dia meninju Ryota. Dengan santai Ryota menangkisnya dengan lengan nya dan membalas memukul Gen dengan tapak nya, Ryota sengaja mengganti tinju dengan tapak supaya Gen tidak terluka parah. Gen terpental jatuh ke belakang, tapi semangatnya luar biasa, dia bangun lagi dan maju menyerang lagi. Setelah beberapa kali jatuh lagi, akhirnya Gen sudah tidak sanggup berdiri karena kelelahan. Ryota menjulurkan lengan nya kepada Gen sambil tersenyum. Gen menyambut tangan Ryota dengan lemas.


“Bagus, kamu lulus.....” Ujar Ryota sambil menarik lengan Gen supaya dia bangkit berdiri.


“Terima kasih aniki.....” Balas Gen sambil menunduk di depan Ryota.


Melihat latihan itu, aku sedikit menjadi gerah, karena sudah lama tidak gerak badan, Keiko yang duduk di sebelah ku sepertinya menyadari dan langsung menepuk punggung ku. Aku berdiri melepas jas ku dan berjalan ke tengah sambil menggulung lengan kemeja ku. Aku minta Gen kepinggir sebentar dan dia langsung duduk di sebelah Keiko.


“Giliran ku ya aniki.....” Ujar ku sambil tersenyum.


“Hahaha....boleh....silahkan, tapi kalau melawan mu, aku harus sedikit serius.”


“Wah hanya sedikit ya....” Balas ku.


Setelah kita berdua saling memberi hormat, aku langsung maju menyerang Ryota, adu pukulan dan tendangan terjadi dengan cepat. Ryota terus menangkis serangan ku, tapi aku juga bisa mengimbanginya dengan menangkis serangan nya. Ryota aniki masih sehebat dulu, tidak, malah kalau menurut ku lebih hebat sekarang daripada dulu.


“Kamu sudah jauh dari yang dulu Masa kun....” Ujar Ryota sambil menangkis pukulan ku.


“Aniki juga....jauh lebih kuat dari yang dulu....” Balas ku sambil menangkis pukulan nya.


Kira kira hampir 20 menit kita berdua bertukar pukulan dan tendangan dengan gaya masing masing, sampai kita di berhentikan oleh Keiko yang bertepuk tangan memanggil ku karena handphone ku berbunyi. Setelah berhenti, aku langsung berlari mengambil hanphone ku di kantung jas ku. Ketika aku mengangkatnya,


“Ma kun....cepat pulang.... “ Teriak Hikari.


“Ada apa.....?” Tanya ku.


“Cepat pulang Ma kun.....”


Aku langsung berlari keluar dan keluar dari rumah Ryota. Di luar aku melihat banyak sekali pengendara motor sedang parkir di depan rumah ku dan di depan rumah Ryota, aku langsung masuk ke rumah ku yang ada di sebelah rumah Ryota dan melihat Hikari dan Touka sedang bersiap di depan pintu. Aku kembali keluar dan bertanya kepada salah satu pengendara motor itu, kenapa mereka parkir di depan rumah ku dan rumah Ryota. Ternyata mereka semua adalah anak buah Gen yang mengikuti nya datang ke sini. Walah, repot juga nih, aku menoleh dan melihat Gen keluar bersama Ryota kemudian memperkenalkan Ryota kepada semua anak buah nya. Aku menjelaskan kepada Hikari dan Touka apa yang terjadi, sekaligus menceritakan kalau Ryota setuju membantu ku. Hikari dan Touka langsung bernafas lega, akhirnya malam itu para pengendara motor bertamu ke rumah ku dan Ryota sambil di tes Ryota satu persatu.


***


Dua minggu kemudian, Manabu san memberitahu ku kalau anak buahnya sudah membeli sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi di tengah kota. Aku dan Ryota langsung survey kesana. Setelah ok, aku dan Ryota mulai menata ruangan untuk mulai beroperasi, Ryota memanggil Gen dan anak buah nya untuk membantu. Anak buah Manabu san yang akan bekerja di sana merangkap sekertaris Ryota memberikan berkas pembelian tanah dan surat ijin perusahaan dengan nama max security. Aku juga merekrut beberapa orang pegawai untuk bekerja di pembukuan dan promosi. Ketika aku sedang di sana, bersama Ryota dan Gen, datang segerombolan orang bertubuh kekar memaksa masuk ke dalam gedung ku,


“Hei...siapa pemilik gedung ini.” Teriak seorang pria berjas rapi berkacamata hitam.


Aku maju ke depan bersama Ryota menghampiri orang itu dan berdiri di depan nya. Ketika melihat ku, orang itu melepas kacamata hitam nya,


“Ada apa mencari ku ?” Tanya ku.


“Bisnis apa di sini ? wilayah ini adalah milik clan Hondou, kalau masuk harusnya kalian lapor dulu. Jangan sembarangan di sini.” Ujar pria itu galak.

__ADS_1


Aku menoleh kepada Ryota dan tertawa. Sekalian saja aku menjelaskan bisnis ku pada orang itu dan tentu saja aku memperkenalkan diri.  Mendengar nama ku, pria itu langsung kaget, dia berniat keluar tapi Gen dan anak buahnya sudah mengepung nya di luar.


“Tadi kamu dari clan Hondou kan ? duduk....kita bicara.” Ujar ku sambil tersenyum karena melihat wajah pria itu yang kaget.


__ADS_2