Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 40


__ADS_3

Todo hanya bisa menunduk dan tidak bisa bicara apa apa, padahal aku sebenarnya ingin mengajak dia berbicara, hanya saja tidak mungkin lagi, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan Manabu dan Youko nee san. Aku mengambil kursi dan membalik nya, lalu duduk di depan nya sambil menyalakan rokok.


“Jadi senpai, kenapa berbuat seperti itu ?” Tanya ku sambil menyeburkan asap ke wajah nya.


“Hei jawab, jangan diam saja.” Tambah Manabu.


Akhirnya dia menjawab, awal nya Todo mengira aku dan Hikari sudah meninggal, jadi dia langsung bergabung dengan Ayame tanpa berpikir apa apa karena dia berpikir aku dan Ayame sama saja, dia tetap berkerja di bawah Manabu san dan tidak berpikir apa apa, tapi seminggu yang lalu, Ayame memanggil nya selagi Ayame di tokyo, dia minta melaporkan apa saja kegiatan dan jadwal ku kepada Ayame, Todo hanya mengikuti perintah dan dia baru di beritahu Ayame kalau hari ini aku di serang oleh orang orang Kirishima yang menyebab kan dia pucat saat pertemuan barusan. Aku minta Todo untuk memberikan handphone nya dan melihat telepon terakhirnya, memang benar, ada telepon dari Ayame 10 menit sebelum pertemuan di mulai, berarti di saat aku baru sampai ke kantor. Aku melihat wajah Todo, sepertinya memang dia benar benar tidak mengerti perseteruan ku dan Ayame karena dia terlihat bingung dan takut, tapi namanya hukuman harus di jalankan, sekaligus aku harus menguji kesetiaan nya,


“Baiklah senpai, aku percaya kata kata mu, tapi masalah kesetiaan mu, terus terang aku sangat meragukan nya, dengan kata lain aku sudah tidak percaya padamu. Jadi sekarang ku tanya, apa yang akan kamu lakukan untuk mengembalikan kepercayaan ku ?” Tanya ku.


“Maafkan aku bocchan, aku benar benar tidak tahu, aku masih mau mengikuti mu, apapun akan aku lakukan untuk membuktikan nya.” Balas Todo sambil menunduk.


“Kalau begitu, aku minta satu jari kelingking mu...silahkan lakukan di depan ku.” Aku melemparkan pisau lipat ku di hadapan Todo yang berlutut.


Ada dua kemungkinan, dia akan menuruti ku memotong jari kelingking nya atau dia akan mengambil pisau itu dan menyerang ku, kita lihat saja yang mana yang akan dia lakukan, aku sudah siap mengantisipasi nya, Hikari yang ada di samping ku dan Youko yang ada di sebelah nya juga sudah siap, sekarang tinggal bagaimana keputusan Todo, apa yang mau dia perbuat. Aku melihat Todo terdiam seribu bahasa, wajahnya menjadi lebih tegang dari sebelumnya, keringatnya bercucuran walau ruangan itu sedikit dingin karena ac masih menyala. Manabu ingin memaksanya, tapi aku melarang nya,


“Aku tunggu dalam 5 menit, kalau senpai masih belum ada keputusan berarti memang senpai sudah tidak ingin mengikuti ku dan tentu saja aku tidak akan melepaskan mu begitu saja.” Ujar ku sedikit memberi dorongan supaya dia cepat memutuskan.


Mendengar ucapan ku, Todo mengambil pisau di depan nya secara perlahan, dia menggenggam pisau itu dengan gemetar, aku melihat dia memejamkan mata, tapi kemudian dia membuka pisau itu dan langsung menempelkan kelingking nya, dengan nafas menggebu dan menggigit sapu tangan nya, dia langsung memotong kelingking nya,


“Ergggh....” Todo mengerang kesakitan.


Pisau terlepas dari tangan nya dan jatuh berlumuran darah ke lantai bersamaan dengan potongan jari kelingkingnya, dia memegang tangan nya dengan nafas yang memburu dan air mata yang keluar dari matanya karena menahan sakit. Aku mengangguk kepada Manabu dan dia langsung membantu Todo berdiri kemudian membawanya keluar untuk ke rumah sakit untuk di rawat. Youko mengambil jari kelingking nya dan di masukkan ke dalam sebuah kotak pena untuk di simpan.


“Ara...eike akan ambil kain pel dulu sebentar....” Ujar Youko karena melihat darah yang ada di lantai.


“Panggil petugas saja nee san, tidak perlu repot sendiri, asal bilang saja sama petugasnya, apa yang terjadi di sini jangan sampai keluar atau tahu sendiri resiko nya.” Ujar ku.


“Ara yada....tidak apa apa bocchan, eike juga perlu gerak badan.” Ujar Youko.


“Ya sudah terserah nee san saja....” Balas ku.


Aku berdiri dan keluar dari ruang pertemuan bersama dengan Hikari, jujur saja, aku sangat kesal dan sebal melihat tingkah Ayame seperti ini. Rasa dendam ku dari kehidupan sebelum nya menjadi muncul kembali dan sulit sekali mengatasi nya. Padahal aku sudah tidak mempermasalahkan nya lagi ketika tinggal di desa, tapi Ayame malah membangkitkan nya dan menambah nya. Aku masuk ke ruangan ku dan duduk diam sambil menundukkan kepala di depan meja. Aku merasa wajah ku panas, jantung ku berdebar, hati ku sakit , ya mungkin hati ku yang sakit ini menjadi dominan di diriku sekarang. Ingin rasanya aku pergi bertemu Ayame dan menyelesaikan nya, tapi aku tidak boleh bertindak sembarangan,


“Ma kun....” Hikari yang tadinya duduk di depan ku, pindah menjadi duduk di pangkuan ku sambil merangkul ku.


“Maafkan aku, dendam ku keluar lagi......” Ujar ku perlahan.


“Tidak apa apa, kita hilangkan lagi pelan pelan ya.....aku ada terus di sini. Tapi hebat juga kamu bisa menahan nya jadi kamu tidak melenyapkan Todo senpai.” Balas Hikari.


“Aku berusaha maksimal menahan nya.....aku tidak mau melihat Todo senpai sehabis ini.” Ujar ku.


“Aku mengerti....Ma kun...aku mengerti.” Balas Hikari di telinga ku sambil memeluk ku.

__ADS_1


Saat ini, aku tidak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa duduk diam untuk meredam gejolak amarah dan dendam yang berkecamuk di dada ku ini. Aku hanya bisa bersender di kursi ku dan memejamkan mata, mencoba menenangkan diri dengan Hikari yang duduk di samping ku dan memegang tangan ku. Manabu sempat masuk ke ruangan ku sebentar untuk mengatakan kalau Todo sudah di rawat di rumah sakit dan pendarahan nya sudah berhenti, Manabu yang mengerti keadaan ku, langsung keluar lagi untuk kembali ke ruangan nya. Tak lama setelah Manabu keluar, sekertaris ku masuk ke dalam dan mengatakan kalau pertemuan dengan perusahaan di korea akan di undur menjadi minggu depan karena kesibukan dari pihak sana. Aku hanya mengangguk dan menyuruhnya keluar, jujur saja, tidak ada yang bisa masuk ke dalam kepalaku saat ini, sudah terlalu pusing dan hati ini terus berkecamuk. Hikari berdiri dan dia mengambilkan segelas air untuk ku dan dirinya sendiri, kemudian dia kembali duduk di sebelah ku dan merenung bersama ku. Aku bersyukur, saat ini aku tidak sendiri, perasaan ku mulai berangsur pulih seperti semula dan tanpa kusadari hari sudah menjelang sore. Baiklah, aku pulang saja, sekali kali pulang ontime tidak apa apa, lagipula di kehidupan lalu, aku selalu lembur walau tidak di bayar.


***


Setelah memberitahu Manabu dan sekertaris ku, aku dan Hikari melangkah keluar dari ruangan ku dan menuju lift untuk turun ke lobby. Begitu keluar gedung, mobil ku sudah standby di depan. Aku dan Hikari langsung menuju mobil ku, tapi tiba tiba,


“Tolooooong.....” Ada teriakan seorang gadis.


Aku menoleh ke arah teriakan itu dan seorang gadis melompat kepada ku. Secara reflek aku menangkap nya. Tapi, jegerrr kembali kepala ku seperti tersambar petir di siang bolong, aku melihat wajah gadis itu dan ternyata dia adalah Touka, istriku di kehidupan sebelum nya, dia mengenakan seragam sma dan mencat rambutnya menjadi pirang, hah ternyata begini ya penampilan istriku waktu sma, pikir ku.


“Tolong onii san....aku di kejar oleh orang orang jahat.” Ujar nya.


Aku melihat kebelakang nya dan memang benar, aku melihat beberapa orang berpakaian jas dan kemeja mengejar Touka. Hah yang mengejar Touka orang orang ku, apa maksudnya ini ? Aku langsung memberikan Touka kepada Hikari yang ada di samping ku dan aku menghadapi orang orang ku sendiri, aku memberhentikan mereka.


“Eh bos...maaf, tapi tolong serahkan gadis itu...” Ujar seorang pria berjas urakan dan berkacamata hitam sambil menunduk melihat ku.


“Kenapa kalian mengejarnya ?” Tanyaku.


Barulah orang orang ku bercerita, kalau Touka melamar pekerjaan di toko yang mereka jaga dengan memalsukan umurnya, dia mengaku kalau dia berumur 18 tahun, tapi ternyata dia masih berumur 15 tahun, yang menjadi masalah di sini bukan karena dia memalsukan umur, tapi dia mencuri sejumlah uang dan ketahuan, lalu ketika melapor pada polisi, ternyata dia masih di bawah umur dan di lepaskan, malah sekarang toko yang terkena masalah karena memperkerjakan anak di bawah umur. Tentu saja toko menjadi rugi dan meminta para pengawal nya untuk mengurus Touka. Aku mengerti masalahnya,


“Benar kata mereka ?” Tanya ku pada Touka yang sedang di pegang oleh Hikari.


Awalnya dia tidak mengaku, tapi karena melihat wajah ku dan wajah Hikari akhirnya dia mengangguk. Akhirnya aku menanyakan kepada para anak buah ku, berapa yang dia ambil dan menggantinya, aku minta masalah nya tidak perlu di perpanjang dan aku yang akan mengatasi nya dengan orang tuanya yang aku tahu adalah Isami. Akhirnya aku mengajak Touka masuk ke dalam mobil limousin ku dan dia duduk di depan ku dan Hikari.


“Tolong....jangan...aku akan lakukan apa saja onii san, jangan bilang ke mama ku...” Ujar nya.


“Nama mu siapa ?” Tanya ku walau aku sudah tahu.


“Kotogaki Touka, onii san siapa ?” Tanya nya.


“Hmm Touka ya....” Hikari langsung menoleh kepada ku.


Aku langsung membisiki nya, aku sudah menduga, Hikari tidak tahu kalau yang di depan kita itu adalah Touka, aku saja harusnya baru bertemu dia 2 tahun ke depan dan tahun berikut nya kita menikah. Jadi sangat wajar kalau Hikari yang memiliki ingatan Misaki tidak mengenal nya. Aku saja sempat kaget karena rambut nya berbeda walau wajah dan ciri ciri di wajah nya sama, yaitu ada tahi lalat di atas alis nya.


“Jadi, kalau aku tidak boleh bertemu orang tua mu untuk minta ganti rugi, bagaimana ?” Tanya ku.


“Aku...aku akan membayarnya....aku janji.....” Ujar nya ketakutan.


Aku menoleh kepada Hikari dan meminta pendapatnya. Hikari hanya mengangkat bahunya, ya pastilah, sejujurnya aku juga malas, masalah yang tadi saja masih tersisa di dalam hati ku, sekarang malah di tambah pecahan masa lalu menghampiri ku, walau saat ini belum ada yang terjadi.


“Haaah, kamu belum bisa bekerja, masih di bawah umur, bagaimana ini ? siapa nama papamu ?” Tanya ku.


“Aku...aku tidak punya papa......” Ujar nya ragu ragu.

__ADS_1


Hmm ? apa yang dia bicarakan, bukankah papanya adalah Isami ? apa ada yang terjadi di antara mereka ? pikir ku dalam hati.


“Kalau begitu mama mu saja....jumlah yang kamu ambil cukup besar.” Balas ku.


“Um...tolong, ijinkan aku bekerja saja, aku pasti akan membayarnya.....aku tidak mungkin melibat kan mama ku.” Ujarnya sambil menunduk.


“Aku tidak suka berlarut larut seperti ini....” Aku menoleh kepada Hikari.


Hikari mengambil sebuah pistol yang ada di balik kursi dan memberikan nya padaku. Aku memegang pistol nya dan sedikit maju mendekati Touka.


“Kenapa tidak boleh melibatkan mama mu, jelaskan atau kamu akan jadi pupuk di taman di depan....” Ujar ku sambil memegang pistol.


Melihat aku memegang pistol tentu saja Touka menjadi ketakutan, dia masih sma gitu loh haha, lagi labil labil nya melihat pistol di depan wajah nya. Langsung saja dia memohon supaya jangan di bunuh, dia bersedia kerja apa saja, ada alasan sendiri kenapa dia tidak bisa melibatkan mamanya, tapi karena ku paksa terus, dia mengajak kita ke suatu tempat. Aku minta dia menunjukkan tempatnya pada pengemudi dan kalau macam macam “dor.”


“Nanti onii san akan mengerti kenapa aku tidak bisa melibatkan mama...” Ujar Touka sambil menangis dan ketakutan.


Ada sedikit perasaan puas di hatiku, melihat istri yang di masa depan mengkhianati ku dan mencampakkan ku begitu saja, berlutut di depan ku sambil menangis dan mohon supaya tidak di bunuh. Walau aku tahu dalang di balik perbuatan dia adalah Ayame, tapi pelaku ya tetap pelaku kan. Tak lama kemudian, mobil ku berbelok, kita masuk ke sebuah rumah sakit. Hee dia mau apa ke sini, aku ingat rumah sakit ini, tempat kelahiran anak anak ku. Hati ku rasanya teriris, ingin rasanya aku menekan pelatuk di tangan ku ini. Setelah mobil memutar di depan lobby, Touka mengajak aku dan Hikari turun, kita bertiga masuk ke dalam, setelah Touka ke resepsionis, dia mengajak ku naik ke atas. Ternyata dia mengajak ku ke bangsal khusus bagi pengidap kanker. Dia masuk ke dalam satu kamar dan di dalam ada seorang wanita terbaring dengan peralatan yang lengkap di sebelah tempat tidurnya, wanita itu kurus kering, tidak memiliki rambut yang ditutup semacam kopiah dan tidak sadarkan diri.


“Siapa ini ?” Tanya ku.


“Mama....ini sebab nya aku mencuri dan tidak mungkin melibatkan dia, kalau aku tidak membayar rumah sakit, semua peralatan ini akan di cabut.” Ujar Touka sambil menitikkan air mata.


Ah benar, dia memang pernah bercerita kalau mama nya sakit kanker waktu di kehidupan sebelum nya. Melihat ku diam, Hikari maju mendekati Touka, dia menanyakan mama nya sakit apa dan kenapa bisa sakit seperti ini. Touka menceritakan semuanya pada Hikari, dia bilang kalau semenjak bercerai dengan papa angkatnya, dia tidak bisa kembali ke keluarganya, jadi untuk membiayai dirinya, mamanya berkerja sebagai pelacur di sebuah toko yang memang khusus untuk hal hal seperti itu. Lalu dia terkena kaker serviks yang bahkan sampai masa depan juga sulit mengobati nya, maaf tidak ada obatnya. Tabungan nya habis untuk berobat dan memaksa Touka untuk berkerja karena Touka tidak mau kehilangan mama nya, dia sangat membenci papa angkat nya yang tutup mata soal penderitaan mama nya dan sudah punya keluarga lagi. Setelah mendengar ceritanya, aku memilih keluar, biar Hikari yang menangani nya, aku tidak sanggup alasannya perasaan ku jadi kacau, apa waktu di kehidupan lalu, dia selalu meminta uang dalam jumlah yang banyak untuk ini ya, begitu pikir ku. “Sreeg” Hikari keluar dari kamar,


“Ma kun, kalau seperti ini, kita tinggal saja, tidak usah minta uang kita kembali.” Ujar Hikari.


“Ya sudah kalau memang seperti itu mau mu, ayo kita masuk dan selesaikan saja.” Balas ku.


Aku dan Hikari kembali masuk ke dalam dan mengajak Touka bicara lagi. Touka menjauh sedikit dari tempat tidur.


“Gini saja ya, aku tutup mata soal uang tadi, anggap tidak ada apa apa, tapi jangan lagi berhubungan dengan dunia kita.” Ujar ku kepada Touka.


Mendengar ucapan ku, wajah nya langsung lega dan dia menangis tersedu sedu. Apa selama ini aku salah mengira padanya ? aku sendiri tidak mengerti, karena di kehidupan lalu aku benar benar buta walau bisa melihat. Tapi ya sudahlah, masa lalu ya masa lalu, sekarang semua berbeda, begitu pikirku.


“Kalau begitu kami permisi dulu....” Aku berbalik dan menggandeng Hikari.


Tapi Touka langsung memegang tangan ku yang satunya, kemudian dia menunduk di depan ku.


“Onii san...tolong beri aku perkerjaan.....aku membutuhkan biaya untuk merawat mama.....tolong onii san....” Ujar nya.


Waduh, repot nih, kalau sudah begini bagaimana coba ? Aku tidak menjawab apa apa, tapi Hikari meminta nomer handphone Touka dan mereka bertukar nomor. Hikari bilang kepada Touka kalau nanti dia akan menghubungi Touka yang mengangguk dan melepaskan tangan ku setelah mendengar perkataan Hikari. Setelah selesai mereka betukar nomor, aku mengajak Hikari keluar dan pulang, tapi ketika aku membuka pintu,


“Kamu....apa yang kamu kerjakan disini....”

__ADS_1


Isami berdiri di depan ku, dia membawa seikat bunga, aku melihat wajahnya sangat terkejut melihat ku di kamar tempat mama nya Touka di rawat. Aku tersenyum melihat makhluk satu ini berdiri di depan ku.


__ADS_2