Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 64


__ADS_3

Beberapa hari setelah menaburkan abu Hana di laut, Xin liang menelpon ku, dia mengatakan semua bisnis bos Wu shang di hongkong sudah berhasil di ambil alih, kalau pun masih ada bisnis nya, hanya lah bisnis minor yang tidak terlalu menunjang nya. Tapi Xin liang dan tetua Tian masih mencari keberadaan dari bos Wu shang yang sampai sekarang belum di ketahui ada di mana,  Xin liang mengatakan ada kemungkinan dia sekarang bersama Lie fong yang berada di tokyo, untuk itulah dia minta bantuan ku untuk menyelidiki nya. Tentu saja, aku langsung mengiyakan nya dan tanpa perlu di suruh akan aku lakukan dengan senang hati, aku sudah menduga dari sejak Hana meninggal waktu itu, kalau ada kemungkinan bos besar yang katanya perkasa dan sulit di sentuh karena terlalu kuat melarikan diri ke sini.


Aku meminta Manabu san untuk megerahkan semua personel di tokyo untuk mencari nya. Aku harus cepat menyelesaikan semua ini, Hichan sudah mau melahirkan sekitar dua bulan lagi. Manabu langsung mengerahkan semuanya, selain itu aku juga meminta tolong pada Ayame dan Naoto untuk mengerahkan semua di osaka, fukuoka dan saga, sedangkan aku sendiri, mengerahkan semua yang berada di kyoto dan nara. Seluruh nya ku gerakkan, hanya untuk mencari keberadaan bos yang sudah merusak segalanya dan dalang dari semua ini, manusia yang harus nya sudah mati sewaktu ledakan dulu, dia melakukan semua ini hanya karena seorang wanita, keterlaluan.


Seluruh ninja dari berbagai clan dengan iga sebagai porosnya juga bergerak ke pelosok pelosok sampai ke aomori, hokkaido dan daerah lainnya. Selama sebulan pencarian di lakukan, sampai suatu hari, aku mendapat kabar dari Youko nee san yang berada di fukuoka. Dia mengatakan Suzuki berada di osaka dan mulai mengganggu bisnis properti ku yang ku jalankan bersama Endo. Aku langsung mengabari Xin liang di taiwan dan dia bersama tetua Tian langsung terbang menuju jepang. Baiklah, osaka tempat semua di mulai, mari kita selesaikan semuanya di sana. Ketika Xin liang sampai di osaka,


“Saudaraku, selamat datang...tetua Tian salam hormat, selamat datang.” Aku langsung menyambutnya.


Tetua Tian berbisik kepada Xin liang sepertinya dia menasihati Xin liang dalam berbisnis dan kemudian Xin liang menyampaikan beberapa patah kata dari tetua Tian yang mengatakan dia suka di sini dan senang dengan sambutan ku.


“Terima kasih tetua....” Aku menunduk di depan nya dengan hormat.


Ketika kami sedang berbincang bincang di proyek, beberapa orang datang dan langsung mengintimidasi para pekerja. Hoho lancang sekali, tapi pas waktunya,


“Biar ku atasi....” Ujar Ryota yang mendampingi ku.


Tentu saja, berapa banyak orang pun tidak akan menang jika harus melawan Ryota, hanya butuh waktu sebentar, dia sudah membawa pulang oleh oleh, yaitu seorang yang sepertinya bukan orang jepang dan melemparkan nya di kaki ku, Xin liang dan tetua Tian.


“Siapa yang menyuruh mu ?” Tanya Xin liang dalam bahasa mandarin begitu dia berjongkok dan melihat wajah nya.


“Bos....Lie fong.....”


Belum selesai orang itu berbicara dan baru menyebutkan satu nama, tetua sudah memelintir lehernya sampai tidak bergerak lagi. Wow aku tahu dia marah, tapi aku belum dapat informasi lengkap dari nya. Tapi tidak masalah, ninja ninja ku sedang mengejar orang orang yang berhasil kabur dari Ryota barusan. Tiba tiba di depan ku muncul anak buah ku, ninja dari kagenuma.


“Bos, mereka semua ada di selatan kota, kami dan iga sudah mengepung mereka, bagaimana ?” Tanya anak buah ku.


“Baik, tunjukkan tempatnya, kita berangkat.”


Tanpa menunda lagi, kita semua berangkat menuju tempat yang di tunjukkan oleh anak buah ku. Ternyata daerah nya berada sedikit  di luar kota, tapi begitu sampai di sana, aku melihat pemandangan yang membuat ku tertawa, anak buah Suzuki sedang baku tembak dengan anak buah bos Wu shang dan Lie fong.


“Bagaimana bos ?” Tanya anak buah ku.

__ADS_1


“Hahaha biarkan saja dulu.....habisi yang menang nanti...” Jawab ku.


“Siap....”


Anak buah ku langsung hilang entah kemana. Aku, Ryota, Xin liang dan tetua Tian menonton pertunjukkan gratis yang ada di depan ku. Kemudian aku melihat sebuah mobil keluar dari rumah dengan kencang menerobos arena baku tembak dan pergi menjauh, aku minta anak buah ku mengejarnya dan menghentikan nya. Tak lama kemudian, anak buah ku memberi kabar, mereka sudah menangkap Lie fong dan Wu shang, aku bersama Ryota, Xin liang dan tetua Tian langsung menuju ke lokasi tempat keduanya di tangkap dan aku berpesan jangan berbuat apa apa sampai aku tiba di lokasi. Setelah aku sampai, aku melihat seorang pria asing yang berbadan sangat gempal dan Lie fong di sebelah nya sedang berlutut di tanah dengan katana dari para ninja ku menyilang di leher keduanya.


“Silahkan tetua Tian, saudaraku.....”


Aku menyerahkan dua orang itu kepada tetua Tian dan Xin liang, langsung saja keduanya maju dan berbicara dengan kedua orang itu. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena menggunakan bahasa mandarin, tapi aku melihat tetua Tian berapi api, sampai Xin liang terlihat kewalahan menenangkan orang tua yang satu itu. Tiba tiba Xin liang menelpon seseorang dengan bahasa mandarin dan langsung menghampiri ku.


“Saudaraku, sebelum nya aku mohon maaf, tapi bolehkah mereka kita bawa ke taiwan untuk di hukum di sana, mati terlalu enak bagi mereka....” Ujar Xin liang.


Aku menoleh kepada Ryota yang menunduk tanda setuju. Kemudian aku juga menanyakan kepada Ayame apakah dia setuju mengenai hal ini setelah aku menjelaskan semuanya. Tentu saja Ayame mengatakan dia setuju sebab dia juga tidak mau lagi melihat Wu shang. Setelah semua mengkonfirmasi setuju, aku langsung bicara kepada Xin liang,


“Silahkan saudaraku, mereka aku serahkan padamu, adililah sesuai kemauan mu dan tetua Tian.”


“Terima kasih saudaraku, xie xie.....”  Jawab Xin liang.


“Ayame chan, kamu punya koneksi di amerika kan ?” Tanya ku.


“Iya ada, kenapa onii chan...” Jawab Ayame.


Aku langsung menjelaskan pada Ayame kalau Suzuki kabur ke sana dan lokasi dia berada. Aku senang mendengar Ayame mengatakan tempat nya pas, karena di sana ada keluarga mafia italia bernama Frank Maldini yang merupakan salah satu partner bisnis Ayame dan berhubungan baik dengan nya. Tapi Ayame juga yakin kalau alasan Suzuki kesana pasti menemui Frank. Ayame langsung menutup telepon sebab dia mau memberitahu Frank soal Suzuki melalui telepon.


****


Akhirnya Xin liang dan tetua Tian pulang ke taiwan dengan membawa Wu shang dan Lie fong kesana, baguslah aku jadi tidak perlu mengotori tangan ku dan aku yakin hukuman yang di berikan kepada keduanya pasti setimpal dengan perbuatan nya. Tak lama kemudian Ayame menelpon ku kembali, dia mengatakan Frank sudah bertemu dengan Suzuki empat hari lalu dan sekarang sedang mencari nya untuk menangkap nya, karena dia bersikap tidak sopan ketika bertemu ayah nya. Menurut Frank, dia sudah tidak ada lagi di chigago, tapi orang orangnya sedang mencari nya.


Ah benar benar merepotkan, kenapa manusia seperti itu susah sekali di tangkap nya. Tiba tiba telepon Ryota berbunyi, aku tidak tahu siapa yang menelponnya tapi wajah Ryota mendadak pucat, dia menoleh melihat ke arah ku sambil menelpon, kemudian dia menyerahkan telepon nya pada ku dan memegang pundak ku. Perasaan ku menjadi sangat tidak enak. Aku menerima telepon nya,


“Masa kun, tolong dengarkan baik baik dan tetap tenang, Hikari chan sekarang sudah di rumah sakit, air ketuban nya sudah pecah dan dia mau melahirkan. Aku, Haruka dan Touka sudah ada di rumah sakit.” Keiko mengabarkan.

__ADS_1


“Jeger.” Kepalaku serasa mau pecah kena sambar petir, aku panik, tapi aku berusaha tenang, istri tersayang ku sedang berjuang. Aku harus kembali, ya betul, aku harus kembali.


“Aniki...aku harus pulang sekarang....” Teriak ku pada Ryota.


“Aku mengerti....tetap tenang Masa.....jangan panik dan gegabah....” Ryota mengingatkan ku.


“Naik apa yang cepat sampai.....” Ujar ku panik.


“Tenang Masa....kita naik mobil...tenang.....ayo berangkat.”


Ryota langsung merangkul ku dan membawa ku masuk ke dalam mobil. Kaki ku tidak bisa diam, keringat ku bercucuran, tangan ku terus mengatup di depan wajah ku yang menunduk. Roya duduk di samping ku dan terus mengelus ngelus punggung ku dengan tangan besarnya, wajah nya juga menjadi tanpa ekspresi, karena aku yakin dia juga merasakan apa yang saat ini ku rasakan.


Selagi di perjalanan, dengan kondisi panik, tiba tiba handphone Ryota kembali berbunyi, Ryota melihat layarnya dan langsung memberikan handphone nya pada ku. Dengan tangan gemetar aku mengangkat telepon nya,


“Halo...” Ucap ku dengan nada bergetar.


“Halo....Ryo nii...oh Masa kun ya...” Balas Keiko.


“Iya, ini aku nee san.....ada apa...gimana Hichan....” Ujar ku.


“Masa kun....tenang ya....anak mu di deteksi kembar, pinggang Hikari chan terlalu kecil untuk melahirkan normal, jadi harus di operasi sesar, aku minta persetujuan mu, sebab Hikari memaksa mau melahirkan normal dan menentang keputusan dokter, aku serba salah di sini....”


“Boleh aku bicara dengan Hichan.....”


“Dia sudah di dalam.....gimana Masa kun ? aku masih di depan dokter dan  dia menunggu keputusan dari mu.”


Aku bingung, aku tidak di sana, aku tidak bisa bicara dengan Hichan, apa yang harus aku jawab atas pertanyaan itu, sedangkan Keiko juga sudah terdengar panik dan mendesak ku.


“Masa, dengar....aku mendengar sedikit kepanikan Kei chan, semua terserah pada mu, apapun keputusan mu itu benar, karena tidak akan ada yang akan menyalahkan mu bahkan Hikari chan sekalipun, karena semua demi Hikari chan dan anak anak mu....jadi tenangkan dirimu dan jangan ragu......putuskan.”


Ryota memegang kepala ku yang gemetar supaya aku tenang, akhirnya aku mengambil keputusan dan mengatakan nya pada Keiko nee san, keputusan ku akhirnya untuk melakukan operasi sesar sesuai anjuran dokter. Aku hanya bisa berdoa kalau keputusan ku ini tepat.

__ADS_1


__ADS_2