
Aku berlari di lorong rumah sakit menuju ruang operasi, aku melihat Ayame ada di sana bersama Keiko, Haruka dan Touka. Shindo juga terlihat baru saja datang, aku melewati mereka semua dan langsung menuju pintu ruang operasi, tapi ketika aku mau masuk ke dalam, Ryota langsung menangkap ku,
“Apa yang mau kamu lakukan Masa....jangan mengganggu...tunggu disini.....” Ujar Ryota sambil membekuk ku.
“Lepas aniki.....lepas.....aku mau lihat Hichan.....” Teriak ku.
Tiba tiba Shindo yang baru datang langsung berjalan ke depan ku dan menampar ku dengan kencang. Kemudian dia langsung memeluk ku dengan erat, Ryota langsung melepaskan ku.
“Tenang aniki, tenangkan dirimu.....maaf aku menamparmu, tolong....tenang demi Hikari chan.....”
Haruka memajukan kursi rodanya dan langsung memegang tangan ku, dia juga meminta ku untuk tenang. Aku pun tersadar, Shindo membawa ku duduk dengan perlahan, jujur saja, saat ini aku sangat takut, aku benar benar ingin melihat Hikari di dalam yang sedang berjuang melahirkan anak anak ku. Aku terdiam, kaki ku terus bergerak tanpa bisa ku hentikan, aku berdiri dan berjalan bolak balik di depan pintu, aku melihat Ryota dan Shindo sudah bersiaga dan siap mencegah ku kalau aku nekat. Keringat dingin membasahi kening dan tubuh ku, tapi saat ini, aku merasakan ketidak berdayaan ku, walau aku berpengalaman di kehidupan ku yang dulu sebanyak dua kali, tetap saja aku tidak bisa tenang. Aku berjalan dan terus berjalan, sampai aku menoleh ke arah lorong dan melihat Kaede bersama Shouko berdiri di ujung lorong. Aku berhenti dan mulai berjalan menghampiri keduanya.
“Iincho ?” Tanya ku ketika menghampiri Kaede,
“Kamu tidak berubah ya Masa kun....masih saja panggil aku iincho....”
“Kenapa kalian disini....” Ujar ku.
Keduanya saling menoleh dan melihat satu sama lain, mereka tidak menjawab apa apa, tiba tiba mereka menunjuk ke arah ruang operasi sambil tersenyum. Aku menoleh melihat ruang operasi karena melihat tangan mereka mengangkat dan menunjuk kesana. Aku tidak mempercayai mataku, ruang operasi di penuhi cahaya terang sampai biasnya keluar dari sela sela pintu, tapi heran nya tidak ada yang terpengaruh sama sekali. Keiko, Ayame, Ryota, Haruka dan Shindo diam saja seperti tidak melihat apa apa. Tapi ada satu orang menghampiri, dia adalah Touka. Aku langsung menoleh melihat Kaede dan Shouko, mereka sudah tidak ada dan pergi entah kemana.
“Onii chan....apa yang terjadi di ruang operasi, kok tiba tiba terang...aku takut....” Ujar Touka dengan nada gemetar.
Aku melihat matanya karena aku bisa membedakan kalau Touka berbohong atau tidak dari pengalaman hidup ku yang dulu dan kali ini dia tidak bohong, dia benar benar melihat cahaya yang keluar dari ruang operasi yang masih terang sampai saat ini. Touka memeluk ku dan tubuh nya gemetar, dia pasti takut melihat cahaya terang yang keluar itu. Cahaya itu berlangsung selama hampir 1 jam, kemudian cahaya itu perlahan lahan menghilang. Tak lama cahaya itu menghilang, “Cklek.” Pintu ruang operasi di buka, seorang perawat keluar,
“Masamune san.....istri anda ingin bertemu anda....oh Touka san juga.....” Teriak perawat.
Aku dan Touka langsung berlari menuju kamar operasi, semua langsung menyuruh ku cepat masuk.
“Aku Masamune dan ini Touka.....gimana istri saya....” Ujar ku di depan perawat.
“Silahkan masuk....”
Aku langsung masuk ke dalam sambil menggandeng Touka. Hati ku benar benar trenyuh melihat Hikari yang terbaring lemas di ranjang, aku menoleh dan melihat dua orang bayi berada di inkubator. Perawat menyuruh ku dan Touka untuk menemui Hikari, aku langsung berdiri di sebelah Hikari dan memegang tangan nya, Touka berdiri di sebrang ku dan juga memegang tangan Hikari yang di infus. Hikari membuka matanya perlahan dan tangannya naik ke atas memegang pipi ku, aku langsung mencium tangan nya dan mengelus kening nya. Aku melihat Hikari menitikkan air mata nya dan tersenyum di balik alat pernapasan nya, aku mencium kening nya, tiba tiba Hikari menoleh perlahan melihat Touka dan tangan nya naik mengelus kepala Touka yang menangis. Tapi tiba tiba Hikari mengambil tangan ku dan tangan Touka kemudian menyatukan tangan kita berdua. Aku kaget, kemudian Hikari menoleh kepada ku dan kepada Touka, mulutnya mengatakan sesuatu, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan Hichan. Kemudian dia mengelus kepala ku dan mengelus kening ku sambil terus menatap ku, tiba tiba, tangan Hikari terkulai jatuh dan dia menutup mata. “Tiiiiiiiiiiiiiit......” Suara mesin pengukur detak jantung pun berubah menjadi panjang. Aku langsung berteriak,
“Hichan....Hichan....tidak...tidak....tidak....HICHAAAAAN......” Teriak ku histeris.
Aku langsung memeluk tubuh Hikari dan melepaskan semua alat yang menempel pada tubuh nya, Touka terjatuh dan menangis sambil terduduk di lantai, aku naik ke ranjang dan berusaha menekan nekan dada nya supaya Hichan kembali bernafas sambil terus berteriak memanggil namanya, air mata ku sudah tidak terbendung dan mengalir dengan deras mengiringi teriakan ku. Tapi aku malah di hentikan oleh perawat, dokter dan security yang menyusul belakangan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa Hichaaaaaaaaan......” Teriak ku.
__ADS_1
Tiba tiba aku melihat Touka membawa dua orang bayi ke hadapan ku, dia menangis tersedu sedu sambil menggendong dua bayi yang terbalut kain itu.
“Onii chan.....aku akan merawat mereka seperti anakku sendiri......” Ujar Touka sambil bersujud di depan ku dan menunjukkan kedua anak ku. Aku melihat kedua anak kembar ku, satu laki laki dan satu perempuan, keduanya lucu dan sangat mirip dengan Hikari.
“Aaaaaaaaaaaaaaaa........aaaaaaaaaaaaa.....” Aku menangis dan meraung sambil memeluk mereka bersama dengan Touka.
Tiba tiba kedua anak ku menangis, perawat dan dokter langsung menghampiri ku, perawat dan dokter langsung memeriksa kedua anak ku dan mereka menangis,
“Keajaiban...benar benar keajaiban....” Teriak seorang dokter yang membuka maskernya ketika mendengar kedua anak ku menangis.
“A...apa maksudnya....” Tanya ku heran.
Barulah dokter menceritakan apa yang terjadi, sebetulnya kedua anak ku mati ketika di keluarkan dari tubuh Hikari dan hal itulah yang membuat Hikari langsung menjadi drop, tapi kemudian mereka melihat kedua anak ku bergerak dan langsung memasukkan nya ke inkubator. Setelah Hikari sadar dan melihat anak nya, barulah dia meminta memanggil aku dan Touka. Aku tidak perduli, aku kehilangan Hikari, Misaki untuk selama lama nya. Aku sudah putus asa dan tidak lagi berpikir untuk hidup. Tiba tiba aku mendengar suara senapan mesin di tembakkan di luar kamar operasi dan suara orang tertawa. Aku menoleh dan berbalik, aku meminta Touka diam di kamar dan jangan kemana mana. Aku membuka pintu dan mengintip keluar,
“Hahahahaha matilah kalian....matilah kalian......”
Aku melihat seorang pria di kursi roda dengan serampangan menembaki semua orang. Ketika aku melihat ke lantai di depan ada seorang wanita tergeletak, Ayame ? apa ? Ayame di lantai, kenapa. Aku membuka pintu dan berlari menuju pria di kursi roda yang memakai kerudung itu.
“Maaaasamuneeeee........” Teriak pria itu sambil mengarahkan tembakan nya pada ku.
Aku langsung tahu siapa orang itu. Aku langsung mencabut dua buah kunai ku dan berlari di tembok, kaki ku kena tembakan pas di bagian paha ku tapi aku tetap berlari, pinggang ku juga kena tembakan dan aku terus berlari, kemudian aku melompat dan berteriak.
Suzuki langsung menembaki perut ku tapi karena aku memakai jaket anti peluru, aku hanya merasakan sakit seperti di pukul oleh jutaan tinju dengan kencang, aku sudah tidak perduli dan aku langsung menusukkan kunai ku ke kepalanya sampai dia terjatuh, kemudian aku menduduki nya dan mulai mencincang dirinya dengan kedua kunai ku sambil berteriak. Tiba tiba beberapa orang perawat datang bersama polisi dan semua polisi itu mengepung ku kemudian langsung menodongkan senjatanya padaku. Aku berdiri dan berbalik menuju Ayame yang terbaring, aku jongkok dan memeriksannya, dia masih hidup tapi kondisinya sedikit parah, tiba tiba polisi mendorong ku ketanah dan membekukku.
“Onii chaaan....” Touka keluar dan berteriak.
Aku yang sudah terlungkup di lantai dan tangan di borgol di belakang melihat Touka dan tersenyum. Kenapa Suzuki bisa di sini ? bukan nya dia di amerika, saat ini aku tidak bisa apa apa, aku di tangkap dan di bawa pergi oleh polisi, padahal aku dalam keadaan berduka karena baru kehilangan istriku. Aku di bawa ke kantor polisi dan di masukkan ke sel, barulah terasa ada rasa sakit di paha ku dan pinggang ku. Aku melihat ke bawah, darah terus mengalir, biarlah, aku mati tidak masalah, begitu pikirku saat itu. Aku memejamkan mata dan melupakan segalanya, aku tersenyum pasrah dan menerima apapun yang akan terjadi padaku.
Tapi ketika aku sudah rileks dan pasrah, aku merasakan luka di paha dan pinggang ku menjadi hangat. “Tring.” Sesuatu keluar dari paha dan pinggang ku, aku melihat ke lantai dan ternyata peluru yang bersarang di paha dan pinggang ku keluar, aku melihat ke paha ku, aku kaget karena lukanya menutup dan aku tidak merasakan sakit.
“Apa yang terjadi ?” Pikir ku dengan terheran heran.
Setelah cukup lama aku berpikir dan terheran heran, tiba tiba pintu ruangan di buka, seseorang berlari mengarah ke sel ku.
“Oni chaan...oni chaan....Hikari onee chan......” Touka datang sambil berteriak dan terengah engah.
Tapi aku melihat wajah nya ceria walau air mata membasahi seluruh wajah nya, aku langsung berdiri dan menghampiri jeruji, aku memeluk nya dari dalam jeruji,
“Ada apa Touka....kenapa Hichan.....”
__ADS_1
“Oi cepat buka pak polisi....” Teriak Touka.
Seorang polisi datang dan membukakan pintu sel ku. Kemudian Touka langsung menarik tangan ku keluar dan berlari. Begitu keluar ruangan, aku melihat Manabu ada di sana,
“Ossan...aku bawa onii chan duluan....” Tegur Touka.
“Iya ojouchan....cepat bocchan....lari yang kencang.” Teriak Manabu.
Aku masih terheran heran ada apa sebenarnya, tapi melihat wajah Touka yang ceria dan terburu buru menarik ku seperti ini, aku merasa ada harapan di hatiku walau aku belum tahu apa harapan itu. Aku berlari dan berlari menelusuri trotoar dengan pakaian penuh darah menuju rumah sakit bersama Touka karena letak rumah sakit tidak jauh dari kantor polisi tempat aku di bawa. Banyak orang yang melihat ku karena pakaian ku merah, masa bodohlah, nanti kalau semua beres aku ganti baju juga, banyak yang lebih penting untuk di pikirkan, seperti kenapa peluru bisa keluar dari tubuh ku. Akhirnya kita sampai ke rumah sakit dan berlari menuju kamar operasi, walau sudah ada pita polisi membatasi dan para petugas forensik sedang memeriksa lokasi kejadian sambil mengevakuasi jenazah Suzuki, aku dan Touka menerobos nya.
Touka membuka ruang operasi dan menyuruh ku masuk, ketika masuk, aku benar benar tidak percaya dengan apa yang ku lihat di depan mataku, Hichan sedang duduk dan menggendong kedua bayi ku. Mulut ku terbuka lebar, air mataku bercucuran, tubuh ku kaku dan tidak bisa bergerak.
“Ayo onii chan....maju....”
Touka mendorong ku dari belakang dan aku langsung maju menghampiri Hikari dan kedua anak ku, aku langsung merentangkan tangan dan memeluk ketiganya sekaligus sambil menangis tersedu sedu.
“Maaf Ma kun....aku membuat mu khawatir.....” Ujar Hikari di pelukan ku.
“Jangan pernah....jangan pernah tinggalkan aku.....” Teriak ku.
“Iya Ma kun...aku selalu bersama mu.”
Aku terus memeluk Hikari dan kedua anak kembar ku yang lucu. Touka memandangi ku dari pintu bersama Ryota, Keiko, Haruka, Shindo dan Naoto. Mereka bertepuk tangan di depan pintu. Kemudian aku mendengar sesuatu di bisikkan di telingaku,
“Sudah ku bilang kan, liontin itu akan melindungi mu dan sekeliling mu dari peristiwa yang akan datang.....”
Aku menoleh dan tidak melihat ada orang di belakang ku, tapi dari sudut ruangan aku melihat Kaede dan Shouko berdiri sambil melambaikan tangan kemudian menghilang.
“Kamu lihat apa Makun ?” Tanya Hikari.
“Tidak....aku tidak lihat apa apa....” Balas ku sambil menoleh dan melihat wajah nya.
Tapi aku ingat dan aku mengerti sekarang, kenapa mereka semua tidak apa apa, kenapa Hikari sekarang duduk disini bersama kedua anak ku dan kenapa peluru keluar dari paha juga pinggang ku. Aku menengadah ke atas,
“Terima kasih jii san....Kaede san....Shouko san.....terima kasih....” Ujar ku dalam hati.
Semua sudah berakhir, Suzuki juga sudah tiada lagi dan Ayame sudah aman, oh ya, bagaimana kabar Ayame. Aku berdiri dan berjalan menuju Naoto, aku langsung menanyakan bagaimana keadaan Ayame. Naoto menunduk dan mengatakan kalau Ayame tidak apa apa, hanya saja, pelurunya mengenai punggung di pinggang dan pas di tulang belakang nya, hal itu merusak syaraf nya dan kemungkinan besar Ayame akan lumpuh seumur hidup. Ah benar juga, liontin yang masuk ke dalam tubuh Hikari hanya untuk melindungi ku dan sekelilingku, tapi tidak Ayame yang pernah menjadi musuh ku dan membuat ku mendapatkan liontin itu. Kemudian aku keluar bersama Naoto, sementara yang lainnya menyeruak masuk ke dalam untuk memberi selamat pada Hikari.
Di depan kamar unit gawat darurat, aku melihat Ayame sedang terbaring dan menggunakan nafas bantuan, dia tidak sadarkan diri. Aku melihat nya sedikit iba, tapi dengan begini dendam ku di kehidupan masa lalu benar benar berakhir dengan tuntas dan tidak tersisa lagi sama sekali. Sudah saat nya aku menikmati hidup yang bahagia bersama keluarga besar ku sekarang. Selamat tinggal masa lalu, terima kasih sudah membantu ku selama ini dan aku tidak akan menoleh pada mu lagi selamanya. Dengan ini aku menyegel ingatan kehidupan ossan 40 tahun ku dan membuang nya di hati ku yang paling dalam. Sekarang saatnya melangkah maju dengan bahagia.
__ADS_1