
Seminggu pun berlalu sejak Touka kembali ke posisi semula dan selama seminggu ini, dia masih di posisi semula, menggunakan seragam yang sama dan semakin lusuh. Apa yang harus aku lakukan terhadapnya, bikin pusing saja, pemandangan yang sangat tidak enak di pandang. Hikari menghampiri ku,
“Dia masih di sana tuh....” Ujar Hikari.
“Ga tau ah, banyak pekerjaan, buat apa mengurus orang itu.” Balas ku sambil membaca beberapa berkas di depan ku.
Hikari mendekat ke jendela dan dia melihat ke bawah, Hikari mengatakan sepertinya dia sedang telepon, wajah nya terlihat panik dan akhirnya dia pergi terburu buru. Hikari menyuruh orang untuk mengikuti nya, aku sudah ingatkan Hikari, sebaiknya tidak usah mengurusi Touka, biar saja dia mau apa itu bukan urusan kita. Tapi aku sendiri tidak mengerti maksud Hikari, dia seperti tidak memperdulikan omongan ku,
“Tenang saja, nanti juga kamu akan mengerti Ma kun.....” Balas nya sambil kembali duduk di sebelah ku.
“Terserah kamu saja Hichan.” Balas ku.
Apalagi yang harus aku mengerti, aku sama sekali tidak paham. Hikari minta aku mengingat ngingat bagaimana aku bisa bertemu Touka di kehidupan sebelum nya. Aku tidak mengerti maksud Hikari, tapi begitu dia menyuruhku secara otomatis pikiran ku mengingat nya, memang, aku bertemu Touka itu di taman, Aku pulang kemalaman dari kampus dan sudah tidak ada kereta, apa boleh buat aku terpaksa ke taman dan berencana tidur di sana karena saat itu aku tidak punya uang sepeser pun. Yang ada padaku hanya sebuah onigiri yang ku beli saat makan siang di kampus dan belum sempat ku makan. Ketika aku mau duduk di sebuah kursi, ternyata sudah ada orang sedang tidur di kursi itu, aku melewati nya, tapi kemudian aku mendengar rintihan seorang wanita dan perut yang berbunyi,
“Mama....lapar, aku lapar....aku mau pulang....” Terdengar suara wanita merintih.
Mendengar itu, jelas aku tidak tega, aku kembali dan menaruh onigiri ku di samping nya, kemudian aku pergi. Hujan mulai turun, mau tidak mau aku berlari, aku melihat sebuah pendopo dan aku langsung duduk di sana, perut ku lapar, kedinginan, tubuh ku basah, benar benar hari yang tidak menguntungkan bagiku. Aku bersender mendengarkan suara hujan dengan perut yang terus berbunyi, tiba tiba,
“Anoo.....mau separuh onii chan ?” Tanya seorang wanita yang berdiri di depan ku.
Aku menoleh dan melihat Touka bediri di depan ku memegang onigiri yang ku berikan pada nya di kursi, aku melihat Touka yang sangat lusuh, tubuh yang di balut koran, bahkan tubuh nya sedikit berbau tidak sedap. Tapi dia menawarkan onigiri itu dengan senyum dan sedikit memaksa. Setelah dia memberikan nya padaku, dia duduk di sebrang ku dan melihat ku yang makan separuh onigiri itu.
“Terima kasih ya...sekarang aku sudah kenyang onii chan.” Ujar nya sambil tersenyum.
Setelah itu, setiap aku melewati taman itu, aku selalu melihat Touka ada di sana, sedang mencari cari tong sampah, kadang dia di ganggu oleh pria pria hidung belang dan lari. Hari demi hari aku terus melihat di taman itu terus, sampai suatu hari, kondisi sedang hujan besar dan menyebabkan angin kencang, aku melihat pendopo tempat biasa Touka berlindung hancur, akhirnya dia hanya berdiri tegak di bawah pohon besar sambil mendekap dirinya yang kedinginan. Karena tidak tega, aku menghampiri nya dan mengajak nya pulang ke rumah ku. Setelah di rumah, aku baru menyadari nya kalau selama ini Touka memakai seragam sekolah nya. Karena selalu di balut koran, aku tidak pernah memperhatikan nya. Dan mulailah hidup ku bersama Touka sampai kita menikah di tahun berikut nya ketika Touka berumur 18 tahun.
***
Ya, itulah yang terjadi waktu di kehidupan ku dulu, tapi apa maksud Hikari membangkitkan ingatan ku ini. Aku melihat ke arah jendela, Touka tidak ada di sudut tempat dia biasanya di sana. Tiba tiba Hikari menerima telepon, rupanya dari anak buah yang di mintai tolong mengikuti Touka.
“Ayo Ma kun....kita kerumah sakit kemarin.” Ujar Hikari sambil berdiri.
“Hah..mau ngapain ?” Tanya ku.
“Sudah ikut saja....” Balas Hikari.
__ADS_1
Singkat cerita, aku ikut bersama Hikari ke rumah sakit tempat mama nya Touka di rawat. Begitu turun dari mobil, Hikari langsung menarik tangan ku masuk ke dalam dan sedikit berlari ke kamar tempat mama Touka di rawat. Ketika sampai di depan kamar, aku sedikit kaget, karena banyak perawat sedang mencabuti alat alat yang menopang kehidupan mama Touka dan aku melihat Touka hanya bisa menangis sambil memeluk tangan mama nya. Hikari menoleh padaku, sepertinya dia ingin aku berbuat sesuatu. Sejujurnya, kondisi Touka saat ini, sama ketika mama nya meninggal dan sebelum sikap nya berubah menjadi aneh kepada ku. Hikari menepuk pinggang ku, aku menoleh padanya. Hikari hanya tersenyum dan mengangguk, aku benar benar tidak mengerti sikap Hikari, tapi ada satu hal yang pasti, aku ingin menolong Touka. Aku melangkahkan kaki ke dalam kamar dan aku berdiri di samping Touka sambil melihat mamanya yang masih hidup. Touka menoleh dan kaget melihat ku berdiri di sampingnya. Dia langsung bersujud di kaki ku.
“Onii chan...tolong mama....kamu bolah berbuat apa saja pada diriku, tapi tolong selamatkan mama.....”
Ketika melihat Touka seperti ini, aku teringat, benar, sebelum mama nya meninggal waktu itu, dia pernah pulang dalam keadaan panik dan saat itu aku sedang sakit, dia memohon padaku untuk memberikan sejumlah uang kalau tidak alat penyokong mama nya akan di cabut, aku tidak memperdulikan nya dan malah membentak nya karena aku sendiri juga sedang pusing. Touka menangis dan lari keluar dari rumah, dia baru kembali dua hari kemudian dan beberapa hari setelah nya mama nya meninggal. Sejak itulah sikapnya pada ku berubah total, dia hanya sayang kepada anak anak saja. Walau waktu terjadinya berubah, tapi hal ini adalah hal yang sama, alat alat itu di cabut karena tidak ada yang membayar nya.
“Tunggu di sini, jangan kemana mana.....” Ujar ku.
Aku minta Hikari menemani Touka, sementara aku menemui pihak rumah sakit. Setelah aku menemui kepala rumah sakit, barulah semuanya jelas, ternyata yang selama ini membayar biaya perawatan mama nya Touka adalah Isami beberapa minggu yang lalu meninggal. Karena sudah tidak ada penjamin nya, maka pihak rumah sakit memanggil Touka, sekarang aku jadi mengerti, kenapa dia terus berada di sisi gedung kantor ku dan kenapa dia ngotot minta pekerjaan dari ku, semuanya adalah untuk hal ini. Lagi lagi aku hampir tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekeliling ku, aku juga jadi mengerti maksud Hikari yang menyuruh ku bertindak.
“Baik, kalau begitu harus berapa yang di bayar supaya alat alat itu di pasang ?” Tanya ku kepada kepala rumah sakit.
Setelah dia menyebutkan jumlahnya, aku mengambil buku cek ku dan menuliskan jumlah yang dia minta. Setelah memberikan cek kepadanya, aku minta secepatnya dia memasang kembali alat alat itu. Kepala rumah sakit langsung keluar dari ruangan nya, meninggalkan aku di dalam. Air mata ku menetes, kepala ku tertunduk, maaf Touka, kalau saja dulu aku paham dan tidak memalingkan diri dari apa yang terjadi, mungkin kita akan bahagia sampai akhir, tapi aku malah dendam padamu tanpa mengetahui apa apa. Aku menyesal dulu aku tidak berbuat apa apa, tapi sekarang lain, sekarang aku bisa bertindak, biarlah masa lalu berakhir, biarlah dendam ku sirna. Sekarang aku bebas dan aku harus berterima kasih pada Hikari, karena dia yang mengingatkan ku. Aku tertawa sendiri, mungkin tanpa Hikari di sampingku, aku akan kembali menjadi manusia tidak berguna seperti dulu, menyedihkan memang, mulai sekarang aku harus berubah. Jangan melihat koin dari satu sisi melainkan dari dua sisi, jisan pernah mengajari ku dan sekarang aku baru mengerti maksudnya. Jangan hanya melihat diri ku, lihat lah orang yang menjahati mu dan yang sekarang muncul di benak ku adalah Ayame.
***
Aku keluar dari ruang kepala rumah sakit dan kembali lagi ke kamar. Beberapa perawat sedang memasang alat alat itu kembali, aku melihat Touka sedang menangis meraung raung sambil memeluk Hikari. Aku melangkah berjalan meninggalkan kamar untuk turun ke bawah, aku mengetik pesan kepada Hikari kalau aku menunggu di bawah. Berbahagialah Touka, aku mendoakan mu yang terbaik, kita tidak akan bertemu lagi, aku tersenyum sambil terus melangkah berjalan menuju ke lift untuk turun ke bawah. Setelah sampai di bawah, aku keluar dan langsung naik mobil ku, aku menyalakan rokok dan membuka atap nya. Hati ku sekarang benar benar lega, seperti dendam ku yang sudah terbalas, bahkan lebih baik lagi. Aku melihat ke atap mobil ku yang terbuka, sinar matahari masuk ke dalam, aku memejamkan mata menikmati hangat nya sinar matahari menerpa wajah ku sambil tersenyum. Tiba tiba Hikari minta aku berangkat duluan, nanti dia akan naik mobil satunya dan dia sudah memanggilnya, karena dia mau langsung pulang. Aku berpesan padanya supaya hati hati. Kemudian aku meminta pengemudi mobil ku berjalan menuju kembali ke kantor.
Singkat cerita, begitu sampai kantor, aku harus kembali pergi ke ginza bersama Manabu san, penyebab nya karena pengerjaan mall di hentikan sementara, karena para pekerja yang sedang menggali untuk membuat basement menemukan sesuatu di bawah tanah dan minta kita melihat nya. Setelah sampai, aku langsung masuk ke dalam bersama Manabu san, ketika sampai di tempat yang di maksud para pekerja, mereka langsung mengajak ku dan Manabu san turun ke bawah, kita berdua turun.
Apa yang kulihat di depan mataku membuatku merinding, banyak sekali kerangka manusia yang terkubur di sana, ratusan orang, tidak, mungkin sampai seribu orang. Para pekerja yang merupakan orang sekitar daerah sana, mengatakan kalau wilayah ini bekas dari rumah inti clan Amagaoka, jadi mungkin umur tulang tulang ini bisa jadi sudah tua.
“Manabu san, bukankah lokasi ini dulu adalah taman dan tempat parkir ya sebelum kita beli ?” Tanya ku pada Manabu.
“Iya benar bocchan, tapi sebaik nya kita verifikasi kata kata pekerja itu juga.” Ujar Manabu.
“Besok tolong ke kantor pertanahan dan tanyakan lagi sejarah tanah ini, bilang juga kita menemukan banyak tulang belulang di sini, untuk sementara kita tunda dulu pembangunan nya sebelum semua tulang ini evakuasi.” Balas ku.
“Baik bocchan, saya kesana sekarang, naik taksi saja.” Ujar Manabu.
Kemudian tanpa menunda lagi, Manabu langsung berangkat menuju kantor pertanahan. Aku berbicara kepada beberapa pekerja dan mencari tahu cerita di balik tulang tulang ini, mereka yang sudah tua bercerita kalau di jaman edo dulu, tempat ini memang kuil dan biasanya di lakukan ritual pada saat bulan purnama, mereka tidak tahu apa sekte dan untuk apa ritual nya, karena mereka juga hanya mendengar ceritanya dari kakek mereka yang juga mendengarnya dari kakeknya. Jelas hal seperti ini tidak bisa di percaya, karena hanya cerita dari mulut ke mulut, kakek ke cucunya. Kira kira satu jam lebih, aku bersma dengan para pekerja, sampai handphone ku berbunyi dan Manabu menelpon ku. Menurut kantor pertanahan, benar dulu di sana adalah tanah milik keluarga Amagaoka, tapi semenjak mereka menghilang, pemerintah mengambil alih tanah itu sampai kita membeli nya lewat jalur belakang. Manabu san juga bilang kalau pemerintaha akan mengevakuasi tulang tulang itu dan menyelidiki nya. Setelah telepon di tutup, aku mulai tergelitik untuk menyelidiki clan Amagaoka, mungkin aku bisa mengetahui siapa Ayame dan Shizuka sebenarnya. Ketika Manabu san kembali,
“Manabu san, bisa tidak minta bantuan detektif swasta atau yang bisa menyelidiki mengenai clan Amagaoka, sepertinya kita harus menyelidiki seluruhnya nih.” Ujar ku.
“Hmm...coba aku tanya tanya ke orang orang kita, siapa tahu ada yang bisa menyelidiki nya.” Ujar Manabu san.
__ADS_1
“Baiklah, tolong ya.....aku tidak bisa diam saja melihat hal ini.” Balas ku.
“Baik bocchan, tapi mungkiin sedikit agak lama ya...” Ujar Manabu.
“Ya aku mengerti, tidak masalah dengan berapa lama penyelidikan nya...” Balas ku.
***
Karena hari sudah menjelang sore, aku mengantar Manabu san ke kantor dan aku pulang kembali ke rumah. Begitu sampai di rumah, aku melihat sepatu Hikari di depan pintu dan ada sepatu seorang lagi, yang pasti perempuan.
“Aku pulang...” Teriak ku.
Tiba tiba aku mendengar seorang berlari dan sempat terjatuh, kemudian berlari lagi. Haaah ternyata yang menyambutku adalah Touka yang mengenakan seragam maid yang sudah pasti hasil ulah keisengan Hikari,
“Selamat datang master.....” Ujar nya dengan wajah ceria.
Apa lagi ini, tidak tahu orang cape apa, aku habis lihat tulang belulang di bawah pembangunan mall woi. Bikin pusing saja, benar benar bikin pusing. Kenapa juga Touka bisa ada di sini. Apa lagi yang terjadi, begitu pikirku. Langsung saja aku bertanya padanya,
“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Tanya ku.
“Mulai sekarang aku bekerja di sini master....” Ujar Touka dengan riang.
“Jangan panggil aku master....” Teriak ku.
Hikari keluar dari ruang tengah dan dia tertawa terbahak bahak,
"Bisa jelaskan ada apa di sini Hichan ?" Tanya ku bingung.
Menurut Hikari, Touka tidak punya tempat tinggal karena sudah di usir dari rumah keluarga Kirishima sejak lama, sedangkan semenjak mama nya sakit, dia juga di usir dari apartemen nya karena tidak bayar sewa. Itulah sebab nya dia tidak pernah pulang dan tidak sekolah lagi.
“Sekarang dia sudah bisa sekolah lagi dan pulang nya ke sini. Tapi disini dia berkerja, tidak apa apa kan ?” Tanya Hikari.
“Yare yare....terserah kamu lah." Aku menggelengkan kepala.
Entah harus senang atau sedih, aku tinggal serumah bersama dengan istri yang mengkhianati ku di kehidupan ku sebelumnya, walau sekarang aku sudah tidak dendam padanya, juga bersama dengan istri ku di kehidupan sekarang yang resmi dan selalu di samping ku. Tidak tahu akan kemana arah nya hidup ku ini dan aku benci dipanggil master, itulah makanya di kehidupan lalu aku tidak pernah ke maid cafe. Apakah kisah harem ku dimulai ? jangan bercanda.
__ADS_1