
Todo menyusup kembali ke pihak musuh untuk menyelidiki apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, sebenarnya aku tidak terlalu perduli padanya, tapi dia sendiri yang bersedia bahkan bersumpah mau mengikuti ku, ya ku diamkan saja. Untuk sementara aku, Ayame, Hikari dan Manabu pergi ke villa persembunyian jisan yang terletak di luar osaka dekat distrik penginapan pemandian air panas untuk liburan. Suasana di sana sudah aman karena kepala ular di pihak musuh sudah ku putus. Sampai di sana, aku dan Manabu langsung membahas langkah selanjutnya, Ayame dan Hikari juga ikut. Manabu bercerita kondisi di tokyo masih gawat, mereka belum menguasai rumah inti tapi terus memantau nya, jadi kalau kita kembali ke tokyo berbahaya. Libur musim panas tinggal dua minggu lagi, Manabu san mengusulkan untuk pindah sementara ke osaka sampai bisnis kita di tokyo berkembang menjadi besar dan bisa memukul balik Kirishima.
Intinya, menurut Manabu san, kita bersembunyi dulu mengumpulkan kekuatan untuk menyerang balik mereka. Aku setuju, aku juga menceritakan apa saja yang ku bangun di fukuoka dan saga dengan berkerjasama dengan Kyogoku dan Fujikata. Aku memperlihat kan surat perjanjian nya kepada Manabu san, sebenarnya dia sudah mendengar sedikit rencana ku dari Youko nee san di fukuoka.Setelah itu, aku minta Manabu mengurus pindahan sekolah kita, sekaligus membangun bisnis di osaka.
“Yang pegang wilayah di sini siapa ?” Tanya ku pada Manabu.
“Gondou, mereka menguasai setengah dari osaka.” Jawab Manabu.
“Sepertinya harus bertemu mereka untuk minta wilayah sedikit kepada mereka dan mengajak mereka berkerja sama.”
“Tidak bisa sekarang bocchan, kita belum kuat, tenang saja, mereka netral dan tertutup, Kirishima juga belum tentu bisa masuk ke mereka.” Balas Manabu.
“Kalau begitu fokus di fukuoka dan tokyo saja dulu, kita harus kuasai wilayah Kotogaki di fukuoka, jangan sampai jatuh ke Kyogoku.”
“Siap, Youko sudah mengatur semuanya di sana.” Ujar Manabu.
Akhirnya Manabu meminta anak buah nya untuk mengurus pindahan sekolah ku, Ayame dan Hikari. Setelah itu, Manabu san juga mohon supaya Haruka di pindah ke osaka, karena Haruka menelpon dirinya ingin membantu Ayame. Asal keluarganya setuju, aku tidak masalah. Untuk mencegah masalah, aku usul kepada Manabu san kalau kita di daftarkan memakai nama belakang nya, jangan Odasiga, sebab kalau di sana ada mata mata seperti kemarin di sekolah lama, percuma saja pindah sekolah. Manabu san setuju, sekarang aku dan Ayame memakai nama Higashira, sedangkan Hikari akan tetap Kagenuma dan Haruka tetap Sawatari.
Aku mulai berkeliling osaka untuk mencari sekolah dan tempat tinggal bersama Hikari dan Ayame. Aku harus hati hati, sebab walau kematian jisan berubah waktu nya dan kita sudah melewati nya, tapi Ayame belum 100% selamat, jangan sampai apa yang terjadi di kehidupan ku dulu terjadi sekarang. Di kehidupan ku yang dulu, Ayame meninggal di pertengahan kelas 2 sma dan berumur 16 tahun. Mungkin sekarang sudah aman karena banyak yang sudah berubah, tapi aku tidak bisa santai dan mengacuhkan nya. Setelah berkeliling aku menemukan sekolah yang ideal, bernama Kohoku private high school yang memiliki asrama, walau aku tidak berencana tinggal di asrama nya sebab di dekat nya ada apartemen tower yang sepertinya baru di bangun dan harganya terjangkau. Lokasi sekolah itu di tengah kota dan ideal untuk kita bertiga. Di sekolah itu ada sma dan smp juga jadi Hikari bisa terus bersama ku tanpa pergi ke sekolah lain.
Manabu san yang mengantar kita, langsung menyuruh anak buahnya mengurus semua nya sebelum liburan musim panas berakhir. Masalah tempat tinggal dan sekolah beres,
“Lalu sekarang kita kemana nih ?” Tanya Ayame.
“Kita makan dulu saja di family resto di sebrang, nanti kita bicarakan lagi.” Ajak ku.
“Iya benar, aku lapar.” Tambah Hikari.
“Baiklah, kalian makan saja dulu, aku tunggu di luar.” Balas Manabu san sambil menyetir.
Jadilah kita di drop di restoran keluarga yang dekat dengan lokasi sekolah, Manabu akan menyusul setelah mendapatkan parkir mobil sebab tidak boleh parkir di tepi jalan utama. Aku mengajak masuk Ayame dan Hikari, kita duduk di dekat jendela yang besar dan nyaman. Pelayan datang memberikan menu pada kita dan bertanya apa mau langsung memesan atau nanti. Tidak menunggu lama, kita langsung memanggil pelayan untuk memesan dan pelayan mencatat pesanan kita. Pelayan dengan cepat membawa pesanan kita ke dalam, aku berdiri untuk mengambil soda di mesin yang hanya ada satu satu nya di restoran. Aku mengambil tiga gelas kosong dan mengisi minuman untuk kita bertiga. Tapi selagi aku mengisi minuman, tiba tiba Ayame berlari keluar restoran dan Hikari menoleh pada ku kemudian mengejarnya. Ada apa lagi pikir ku, aku langsung bilang pada pelayan kalau kita akan kembali nanti.
Aku berlari keluar dan melihat Ayame sedang berdiri merentangkan tangan di depan segerombolan anak sekolah preman (yankee) menutupi seorang pria di belakang nya yang terduduk tersender di dinding. Hikari berada di sebelah Ayame dan bersiap. Aduh princess, kamu ngapain lagi, pikir ku. Kita baru sampai di osaka masa mau rusuh. Karena tidak mungkin aku mendiamkan nya, aku menghampiri mereka. Seorang pria besar berambut pirang cepak memakai toppoku hitam, menjulurkan tangannya ingin menjenggut baju Ayame. Tentu saja tangannya ku tangkap,
“Yo...ada apa ini ? mau apa kamu.” Tanya ku kepada pria itu yang ternayata tinggi nya sama dengan ku.
“Hoo...pangeran kesiangan ikut campur, minggir ikemen, urusan ku sama kedua cewek ini.”
“Sayang nya kedua cewek itu bersama ku.”
Preman itu mencoba melepas tangannya, tentu saja tidak bisa, dia memberi kode ke teman teman nya yang berjumlah sekitar 6 orang membawa pemukul baseball, batang kayu dan pisau, berniat mengeroyok ku. Yah, masalah mudah, belum sempat mendekat semuanya sudah jatuh. Hikari tertawa kecil melihat nya. Pria itu mengambil tangan ku dan berbalik dengan niat mau membanting ku, tapi aku menarik tubuh nya kebelakang dengan tangan dan dia jatuh terlentang di depan ku haha.
__ADS_1
“Lalu ?” Tanya ku sambil jongkok dan melihat wajah nya yang ada di kaki ku.
Tanpa bicara, pria itu membangunkan teman temannya dan lari tunggang langgang. Aku langsung berdiri dan menghampiri Ayame.
“Kamu itu, kenapa keluar sendiri sih.” Aku menegur Ayame.
“Maaf, tapi dia di rundung oleh orang orang itu dan aku berniat menolong.” Jawab Ayame yang menunjuk orang di belakang nya.
“Dan kamu kenapa diam saja Hikari ?” Tanya ku.
“Telat, Ma kun sudah datang duluan hehe.” Jawab nya santai.
Aku melihat ke belakang keduanya dan melihat pria pendek kurus yang kira kira seumuran dengan ku, rambut di sisir kebelakang, pakai kacamata dan rada bungkuk. Loh kembaran ku di kehidupan yang sebelum nya haha, benar benar mirip dengan ku. Aku menghampirinya dan menjulurkan tangan ku, dia menyambut tangan ku dan berdiri. Dia membetulkan kacamatanya dan memeluk kantung yang sepertinya berisi buku, dia memakai gakuren putih yang sepertinya seragam sekolah yang baru saja ku lihat, aku bisa tahu karena sama seperti brosur yang ku lihat.
“Maaf....” Ujar nya.
“Nama mu siapa ?” Tanya Ayame.
“Kibasaki Naoto....terima kasih sudah menolong ku.”
“Naoto kun ya, sama sama.” Ayame menjawabnya dengan tersenyum.
Hee ternyata selera Ayame yang model nya seperti ku dulu dengan tinggi yang mungkin masih lebih tinggi Ayame sedikit. Sebab aku baru lihat dia tersenyum seperti itu selama bersama nya. Setelah itu, Ayame mengajak Naoto masuk ke dalam restoran bersama sama, awal nya Naoto menolak tapi karena melihat ku yang diam saja, sepertinya dia takut dan akhirnya bersedia di ajak Ayame. Hikari menyikut ku,
“Oh maaf...ga maksud gitu.” Aku lagi memperhatikan pria bernama Naoto yang sangat mirip dengan diriku dulu, mungkin hanya wajah nya saja yang berbeda, tapi kalau di lihat dengan jeli, Naoto sebenar nya tampan kalau kacamata tebal nya di lepas dan rambut nya di permak dikit.
“Tapi kok tumben Ayame onee san mau menolong orang seperti itu ?” Tanya Hikari.
“Entah, jangan bilang orang seperti itu, dia juga manusia kali.” Balas ku, jelas saja, aku dulu merasakan orang menatap ku dan berkata hal yang sama dengan Hikari.
“Iya tahu kok, aku hanya merasa tumben saja.” Balas Hikari lagi sambil menggandengku masuk ke dalam restoran.
Di dalam, setelah mengambil minuman dan duduk kembali, kita memanggil pelayan untuk memesankan makanan untuk Naoto. Seperti biasa, awalnya dia menolak tapi karena Ayame yang duduk di sebelah nya memaksa, akhirnya dia mau memesan sesuatu. Setelah memesan, kita mulai berbincang bincang dengan Naoto. Ketika di tanya siapa mereka, tubuh nya mulai gemetar, menurut nya orang yang memakai toppoku tadi bernama Jirou, dia senpai kelas 3 di sekolah Naoto dan berteman dengan geng di sekolah khusus laki laki yang terletak berbeda beberapa blok dari sekolah nya. Dia selalu di mintai uang dan di suruh macam macam, dari hanya beli minuman sampai membawa siswi perempuan incaran mereka ke markasnya, kalau Naoto menolak, Jirou mengancam akan mengacaukan hidup nee san angkat nya yang sekelas dengan nya.
Waduh, hal yang di alami nya sangat berbeda dengan ku. Walau penampilan sama, aku tidak pernah sampai di rundung seperti itu dan aku khawatir dengan Naoto bersama kita, Ayame bisa dalam bahaya. Tapi, kalau sekolah khusus laki laki itu bisa berpihak pada ku bagus juga. Lihat saja dulu deh perkembangan nya, saat ini aku tidak bisa berkata apa apa.
“Lalu sekarang kamu mau kemana ?” Tanya ku.
“Aku mau pulang, sebenarnya aku hanya di suruh beli buku ini oleh nee san.” Balas Naoto menjawab pertanyaan ku.
“Hee, memang buku apa ?” Tanya ku.
__ADS_1
“Shojo manga....nee san jadi takut keluar rumah karena pernah di culik sama mereka, tapi untuk belum sempat dia apa apain sudah di tolong polisi.” Balas Naoto sambil menunduk.
“Jadi mereka mengincarmu karena dendam pada nee san mu ?” Tanya Ayame.
Naoto hanya mengangguk, dia juga mengatakan kalau sebelum nee san nya dia juga sudah di rundung mereka. Halah ribet, aku mau tenang di persembunyian woi, pikirku. Tapi melihat Naoto yang seperti diriku dulu, aku ada sedikit perasaan tak tega juga, walau wajah ku tetap di tekuk dan membuat Hikari menyikut ku lagi. Singkat cerita, setelah makan, kita keluar restoran dan Manabu san menjemput kita menggunakan mobil.
“Ayo sekalian di antar.” Ujar ku mengajak Naoto.
Wajah nya langsung berubah karena melihat mobil dan wajah Manabu san haha. Pertanyaan pun terlontar dari mulut nya,
“Kalian sebenarnya siapa ?” Tanya nya.
“Bukan siapa siapa, oh ya kenalkan, aku Higashira Masamune, dia Higashira Ayame adik ku dan ini kekasih ku Kagenuma Hikari. Yang menyetir ossan ku.” Sekalian saja aku perkenalkan semuanya.
“Oh salam kenal...tapi tidak apa apa, aku jalan saja.” Ujar Naoto.
“Naik.....” Balas ku sambil tersenyum terpaksa yang mengerikan.
“I..iya..maaf.”
Haha akhirnya dia naik ke mobil, memang enak bisa mengintimidasi diriku sendiri, pikir ku, tapi ternyata ada dua orang yang cemberut di samping ku. Setelah sampai rumah Naoto, aku melihat rumah nya. Hee ternyata dia memiliki keluarga yang cukup lumayan, Naoto turun dan mengundang kita masuk ke dalam. Tentu saja aku menolak nya, tapi kedua gadis di samping ku malah sudah ikut turun bersama Naoto. Ok lah, aku ikut turun dan meminta Manabu san menunggu kita sebentar di depan, aku tidak enak juga, orang tua kusuruh suruh. Naoto mengajak kita masuk, dan di dalam langsung di sambut oleh seorang gadis memakai tanktop dan celana pendek yang sangat pendek karena di rumah, gadis itu cantik, rambut panjang bergelombang dan berdada besar.
“Eh...ada tamu.”
Gadis itu langsung kembali masuk ke dalam dan keluar lagi memakai jaket menutupi tubuh nya.
“Siapa mereka Nao kun ?” Tanya nya ketika keluar kembali.
Naoto menjelaskan kalau dia di tolong dari kelompok Jirou oleh kita. Lalu dia memperkenalkan kita satu persatu dan gadis itu memperkenalkan dirinya,
“Aku Kibasaki Hana, salam kenal Masamune kun, Ayame san, Hikari san.”
“Baiklah kami pamit dulu ya.” Balas ku.
“Eh jangan, masuk dulu.......”
Hana langsung menarik ku ke dalam. Loh, apa lagi ini, baru juga bertemu. Aku di ajak langsung ke ruang tengah dan di minta duduk di sofa. Hikari duduk di sebelah ku dengan wajah memaksakan tersenyum melihat ku.
“Bukan salahku loh...” Ujar ku berbisik.
“Aku tahu Ma kun....aku tahu..” Balas nya.
__ADS_1
Lagi lagi aku melihat seragam yang sama di jemuran dengan sekolah yang akan ku masuki, seragam sailor putih kerah hitam perempuan. Hana langsung menyediakan minuman dan membawakan nya ke meja, setelah itu sesi interogasi di mulai, pertanyaan demi pertanyaan di ajukan kepada ku, dari sekolah dimana, apa hobiku dan lainnya. Aku jawab sebisanya dan memberitahunya kalau sedang mengurus pindahan dari tokyo ke sekolah nya. Wajah nya langsung senang, sedangkan wajah di sebelah ku langsung kecut. Yang happy sepertinya Ayame dan Naoto yang malu malu menghadapi Ayame haha. Hana bercerita, kalau dia dan Naoto sering di tinggal sendiri karena orang tua mereka tugas di luar negeri. Aku hanya tersenyum mendengarnya tanpa menjawab apa apa. Aku menghela nafas, sepertinya kehidupan sekolah ku di sekolah baru akan kembali penuh warna dan tentunya penuh masalah.