Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 47


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, ternyata Touka sudah pulang dari sekolah, dia membawa selebaran festival kebudayaan di sekolah yang akan di adalakan dua hari lagi dan minta aku datang bersama Hikari.


“Baiklah, aku dan Hichan akan datang...” Ujar ku sambil tersenyum.


“Asiiik....terima kasih onii chan, onee chan.” Balas Touka riang.


Kemudian dia mengatakan kalau kelas nya mengadakan tradisional cafe yang menggunakan kimono dan yukata. Dia juga mengatakan kalau dia akan menginap di rumah teman nya mulai malam ini dan menyelesaikan persiapan nya karena tinggal dua hari, aku menyetujuinya dan menyuruh pengawal ku untuk menjaganya. Setelah itu Touka pergi bersama pengawal ku dan aku membawa Hikari ke kamar untuk beristirahat. Aku berbaring di sebelah Hikari sambil memandang ke langit langit, kejadian di kuil tadi masih terus berputar di pikiran ku. Aku menoleh dan melihat Hikari tertidur, aku membuka perut nya dan melihat bekas operasi nya sudah kering, aku mengganti perban nya dan kembali berbaring. Aku terus memandangi wajah Hikari, ketika dia masih menjadi Misaki, apa yang di alami nya selagi kecil, kenapa dia sampai berdoa seperti itu, kenapa dia berubah ketika muncul di saat sma. Selama ini aku tidak tahu dan dia menderita sendirian, aku mengelus wajah dan kening nya sambil tersenyum, aku berjanji di dalam hati ku, aku tidak akan melepaskan nya walau keadaan nya sekarang seperti ini. Aku melepaskan liontin yang ku dapat dari jisan itu dan memakaikan nya pada Hikari sambil mengelus kening nya. Kepala ku terasa berat karena kebanyakan bepikir dan tanpa sadar aku tertidur di sebelah Hikari.


***


Aku membuka mata, loh, aku dimana ? aku kok ada ruang kesehatan ? ini sekolah ? pikir ku. Aku membuka selimut yang menyelimuti ku dan melihat tangan ku yang sedang menarik selimut, loh kenapa tangan ku seperti tangan perempuan, aku duduk dan memandangi tangan ku, aku melihat aku memakai rok dan dada ku menggembung. Eh, aku jadi perempuan ? Aku melihat ke dalam kemeja ku dan benar, aku memiliki buah dada yang cukup besar. Seragam ini, seragam smp, tiba tiba pintu di buka, aku melihat beberapa orang siswa pria memakai gakuren hitam berambut pirang dan ber anting menghampiri ku,


“Hei lihat, mainan kita sudah bangun hehehe.” Ujar seorang siswa.


Ada perasaan yang takut ketika melihat mereka, tapi tiba tiba aku di sergap oleh mereka. Siswa yang bicara tadi langsung naik ke tempat tidur dan membuka kemeja ku.


“Apa ini...tidak tidak....” Teriak ku.


Dan di saat itu aku menyadari aku tidak bisa berbuat apa apa, tubuh ku, mulutku, bergerak dengan sendiri nya, aku seakan akan menonton dari matanya. Para pria itu mulai meraba dada dan melepaskan rok ku, siswa yang berkata tadi, naik ke atas tempat tidur kemudian membuka celananya dan langsung melakukan aksi nya. Rasa nya sakit sekali sampai membuat ku tidak bisa bernafas. Hoi aku laki laki, apa ini maksudnya, kenapa aku tidak bisa bergerak, teriak ku walau suara ku tidak keluar. Selagi siswa itu terus melakukan aksinya, tiba tiba pintu di buka kencang,


“Hei apa yang kalian lakukan ?” Teriak seorang sensei wanita petugas ruang kesehatan.


Seluruh pria itu langsung lari tunggang langgang keluar dari ruangan, meninggalkan aku sendiri, beberapa siswi perempuan masuk dan langsung memeluk ku. Aku sama sekali tidak mengenali mereka, tapi aku merasakan diriku menangis. Ini aneh, apa yang sebenar nya terjadi. Aku memejam kan mata dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di jalan, kaki ku melangkah dengan sendirinya entah menuju kemana. Tapi aku mengenali kota itu, kota itu adalah kyoto tapi bukan kyoto yang sekarang melainkan sekitar 4 tahun lalu. Aku berjalan menuju sebuah perumahan dan tiba di sebuah rumah, aku masuk ke dalam rumah,


“Aku pulang....” Ujar ku dengan sendirinya.


“Oh kamu sudah pulang, makanan sudah di meja...” Ujar seorang wanita yang sedang berdandan di lorong rumah.


Loh perempuan itu, mama nya Misaki, aku kenal dia, dia dulu selalu memberikan aku makanan karena tahu aku hidup sendirian setelah mama ku meninggal. Tapi, kenapa dandanan nya menor seperti itu dan mau kemana dia, pikir ku. Tiba tiba aku berjalan melewatinya dan melewati ruang tengah, aku melihat ada seorang laki laki bertubuh besar yang tidak ku kenal dengan memakai kaus singlet sehingga tato di tangan nya terlihat jelas. Dia sedang merokok sambil menonton televisi dan seluruh ruangan bau dengan asap rokok. Aku merasa diriku menaiki tangga menuju lantai dua dan kemudian masuk ke dalam kamar ku. Aku menaruh tas ku dan merebahkan diri ke tempat tidurku, aku menoleh dan melihat sebuah bingkai foto di meja, astaga, aku kaget, ternyata foto itu adalah foto ketika aku bersama Misaki sedang mengunjungi festival musim gugur di dekat rumah ku di tokyo. Kita berdua berumur 13 tahun saat itu dan 6 bulan setelah itu Misaki pergi menghilang.

__ADS_1


“Makun, aku kangen......aku mau ketemu kamu.....” Ujar ku di luar keinginan ku.


Aku mengerti sekarang, saat ini aku menjadi Misaki dan di tahun ini, Misaki baru saja berpisah dari ku dan meninggalkan ku sendirian di tokyo. Tiba tiba pintu kamar di buka kencang, aku menoleh dan melihat pria yang tadi di ruang tengah sudah masuk ke dalam kamar. Aku merasakan diriku berdiri dan pria itu menarik kursi dan duduk di depan ku, dia menoleh dan menutup bingkai yang tadi kulihat di meja.


“Mama mu sudah pergi....buka.” Ujar nya.


Tangan ku bergerak sendiri dan membuka seluruh pakaian ku, aku menoleh ke cermin dan melihat sekujur tubuh ku penuh memar berwarna biru, seperti bekas pukulan. Setelah semua pakaian terbuka, pria itu berdiri dan langsung membanting ku ke tempat tidur. Dia naik dan mejalankan aksinya sambil menampar ku. Aku sangat geram, aku benar benar mengingat jelas wajah lelaki itu. Setelah semua terjadi, aku merasakan diriku lemas dan aku berusaha berdiri. Kemudian aku ke kamar mandi dan muntah, setelah itu, aku merasakan diriku berjalan, keluar dari rumah dan pria itu bertanya mau kemana, aku menjawab nya mau ke convini, tapi aku tidak kesana, aku ke ujung jalan dan naik ke kuil kemudian berdoa. Aku kembali memejamkan mata dan ketika membuka mata aku berada di sebuah sekolah sma. Aku melihat diriku yang duduk terdiam di sudut tanpa bicara dengan siapapun di kelas. Aku masuk ke dalam kelas dan menghampiri diriku sendiri. Tapi ternyata ketika aku mencolek nya, aku melihat diriku seperti ketakutan dan menghindar. Aku merasa sedih dan pergi dari kelas, tapi di luar kelas beberapa senior menjemputku dan mengajak ku ke gudang. Sudah hentikan, aku tidak mau melihat lagi, tolong hentikan, aku meronta dan berteriak.


***


Tiba tiba aku terbangun dan melihat Hikari sedang menatap ku sambil berbaring dengan wajah tersenyum. Aku langsung sadar dan mendekat pada nya,


“Michan.....” Ujar ku sambil melihat wajah Hikari.


“Eh, kenapa kamu panggil aku begitu Ma kun ?” Tanya Hikari bingung.


Tanpa pikir panjang, aku memeluk nya dan menangis di pelukan nya, aku sama sekali tidak menyangka, Misaki yang aku kenal dulu mengalami hal seperti itu di dalam hidupnya dan dia terus menunggu ku tapi aku tidak menyadari nya. Tapi saat ini aku tidak mungkin mengatakan nya, aku diam dan tidak berkata apa apa, aku hanya memeluk nya. Aku melihat Hikari tersenyum dan membalas pelukan ku. Setelah itu, sebuah keanehan terjadi, liontin itu mengeluarkan cahaya dan membalut tubuh ku juga tubuh Hikari dengan cahaya. Aku dan Hikari semakin erat berpelukan karena merasa sedikit takut dengan apa yang akan terjadi. Setelah cahaya itu menghilang, aku yang masih memeluk Hikari melihat liontin yang kupakaikan kepada Hikari, tapi liontin itu tidak ada.


Aku mengikutinya, ternyata dia ke kamar mandi dan muntah di depan kloset. Aku mengurut lehernya sampai dia selesai. Kebetulan asisten rumah tangga yang kusewa harian lewat dan melihat, aku minta dia membawakan air hangat untuk Hikari. Dia langsung pergi dan tak lama kemudian membawakan segelas air hangat kepada ku. Aku meminta Hikari meminum nya dan setelah dia minum,


“Ma kun....ke dokter....” Ujar Hikari.


“Baik, basan, bisa tolong panggilkan taksi ?” Tanya ku pada asisten rumah tangga.


“Baik....” Dia langsung berlari keluar.


Aku menggendong Hikari kembali ke kamar dan mengganti pakaian nya, aku juga mengganti pakaian ku sebelum taksi datang. Tak lama kemudian, taksi datang bersama asisten rumah tangga ku, aku menitipkan rumah pada nya dan aku menggendong Hikari masuk ke dalam taksi. Aku minta pengemudi membawa kita ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, aku langsung menggendong Hikari dan membawanya masuk ke dalam. Para perawat langsung menyambutku dan membawakan tempat tidur. Kemudian bersama dengan para perawat, aku mengantar Hikari ke ruang gawat darurat.


“Aku tidak apa apa Ma kun....” Ujar Hikari.

__ADS_1


Aku tidak membalasnya dan terus mendorong tempat tidur bersama dengan para perawat,


“Ma kun, aku tidak apa apa....benar....” Ujar Hikari sekali lagi.


Dia berusaha duduk dan tentu saja aku mencegahnya. Tapi Hikari malah terlihat marah dan minta berhenti.


“Kenapa ?” Tanya ku bingung.


“Aku sudah katakan aku tidak apa apa...ini bukan sakit. Tapi....ada yang aneh.” Ujar nya.


“Maksud kamu apa, aku tidak mengerti.” Balas ku.


Tiba tiba Hikari diam dan meminta perawat membawanya ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit. Hah dokter kandungan ? bukankah rahim mu baru di angkat ? pikir ku, tapi aku tidak mengatakan apa yang ada di pikiran ku karena aku melihat wajah Hikari yang yakin. Akhirnya perawat langsung membawa kita ke dokter kandungan di rumah sakit tanpa janji lebih dahulu, karena ku atur tentunya hehe. Sampai di dokter kandungan, Hikari di minta berbaring di tempat periksa dan dokter memeriksa perutnya, kemudian dia kembali menemui ku.


“Selamat, istri anda hamil, aku akan melakukan usg untuk mengetahui usia kandungan nya.” Ujar seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa Hikari.


Rasanya bagai tertusuk oleh pedang yang tajam dari ubun ubun menembus sampai bawah dan membelah badanku, sungguh tidak di percaya, aku menyaksikan sendiri operasi yang di jalani oleh Hikari dan aku membaca hasil diagnosa nya. Tapi di lain sisi aku senang nya bukan main,


“Hah...yang benar dok....”  Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut ku menanggapi dokter.


Dokter malah bertanya apakah aku benar ayahnya atau bukan, kenapa sepertinya tidak senang dan sebagainya. Maaf dok, semua ini sulit di terima akal sehat, tapi aku tidak mungkin mengatakan dan aku mengatakan kalau aku ayahnya. Barulah dokter berdiri kembali dan masuk ke dalam sambil menutup tirainya, dia melakukan usg kepada Hikari untuk mengatahui usia kandungan nya dan kondisi kandungan nya. Jantung ku berdegup kencang, seperti yang tadi ku bilang, tubuh ku seperti terbelah dua, separuh aku tidak percaya hal ini terjadi, tapi separuh diriku aku senang bukan kepalang mendengar istri ku hamil. Akhirnya dokter selesai dan Hikari duduk di sebelah ku, setelah dokter selesai memberikan resep,


“Ini keajaiban, anda baru selesai melakukan operasi pengangkatan rahim kan ?” Tanya dokter kepada Hikari.


“Benar dok...” Jawab Hikari.


“Usia kandungan baru seminggu, ini keajaiban, seharus nya anda tidak bisa hamil.” Balas dokter.


Aku terdiam, pantas saja setelah operasi Hikari terlihat lemas dan tidak sehat. Aku berdiri dan minta ijin keluar sebentar dari ruangan. Di luar aku langsung menelpon Manabu san untuk menyelidiki rumah sakit tempat Hikari di operasi, setelah aku menceritakan semuanya kepada Manabu. Tapi Manabu malah tertawa senang dan memberi ku selamat, aku heran mendengarnya, Manabu menjelaskan kalau hal itu adalah berkah dari dewa dan cahaya tadilah yang memulihkan rahim Hikari seperti semula, untuk memastikan nya Manabu akan menanyakan pada pihak rumah sakit, apa waktu di operasi Hikari dalam keadaan hamil atau tidak.

__ADS_1


Singkat cerita, ketika aku dan Hikari sedang menunggu taksi di depan lobby rumah sakit, Manabu kembali menelpon ku dan dia memberiku kabar yang mengejutkan, ternyata selagi di operasi Hikari dalam keadaan hamil, tapi rahim nya tidak kuat mempertahankan janin nya karena rahim nya rusak saat tertembak dan akhirnya janin nya mati membusuk di dalam, di tambah lagi saati itu Hikari terkena racun, menjadi sangat berbahaya bagi nyawanya. Operasi itu benar dilakukan dan Hikari seharusnya tidak punya rahim lagi, tapi karena cahaya dari liontin itu, sekarang Hikari memiliki rahim dan hamil. Tanpa ragu lagi, aku menanyakan hal ini pada Hikari dan dia mengangguk kemudian meminta maaf. Setelah tahu apa yang di alami nya di kehidupan masa lalu dan sikap nya sekarang, aku langsung memeluk nya dan bilang padanya, aku minta dia berjanji menceritakan kepada ku hal hal yang menimpa dirinya, walau sekecil apapun dan jangan pernah sungkan terhadap ku. Aku tidak akan membiarkan Hikari atau yang dulu adalah Misaki menanggung semua nya sendirian.


Setelah itu Hikari menceritakan semuanya. Aku jadi mengerti kenapa Hikari memeriksakan dirinya waktu sedang mengunjungi mama nya Touka di rumah sakit dan malah minta Touka menjadi selir ku hanya supaya aku bisa punya keturunan, dia sudah menyadari kalau dia hamil saat itu dan diagnosa dokter rahim nya tidak kuat. Hal ini membuatnya berpikir kalau hal ini akan mengecewakan ku dan membuat nya bingung, sehingga sikap nya aneh. Dan setelah Hiakri cerita juga,  aku mengerti kenapa dokter mengatakan usia kandungannya baru seminggu, aku ingat, dimalam Hikari sadar ketika di pindah ke Kyoto, dia meminta melakukan hal itu untuk menenangkan pikiran nya. Dia memaksa sambil menangis walau aku sebenarnya tidak mau melakukan nya. Sudahlah tidak usah banyak berpikir, aku memeluk Hikari dengan perasaan bahagia dan aku melihat Hikari juga sudah segar seperti semula, istri ku hamil, aku akan menjadi ayah dan hal ini tentunya membuat ku melayang dengan rasa senang memenuhi hati ku.


__ADS_2