
Setelah itu, aku mengadakan pertemuan dengan Endou, perwakilan para pekerja dan Xin liang. Aku minta tolong pada Ryota aniki untuk menjaga Eru dan Yuka sebentar. Setelah memperkenalkan Xin liang kepada Endou dan berbincang mengenai konsep sebentar, aku meninggalkan mereka untuk berdiskusi sendiri. Aku kembali menemui Eru dan Yuka, kemudian meminta mereka mengantar ku ke tempat tinggal mereka.
“Um kami masih tinggal di tempat Jinta onii chan.....” Ujar Eru.
“Aku tahu, tidak masalah, aku sekalian mau bertemu dengan ossan dan obasan.”
Akhirnya setelah megirim pesan kepada Xin liang, aku pergi bersama keduanya dan Ryota aniki ke rumah Jinta untuk menemui orang tua nya. Aku yakin, karena Sayaka pasti mereka juga ikut di tekan oleh bos gila itu. Setelah sampai ke rumah mereka, keduanya mengajak aku dan Ryota aniki masuk ke dalam. Aku melihat ossan dan obasan sedang di dalam,
“Kami pulang...” Teriak Eru.
Obasan keluar dan melihat ku sedang bersama mereka. Untung nya dia tidak takut dan malah menghampiri ku.
“Masa kun kan ya ? benar kan ini Masa kun ?” Tanya obasan di depan wajah ku.
“Iya benar...obasan...apa kabar ?” Tanya ku yang sedikit memundurkan kepala ku.
Karena mendengar obasan berteriak, ossan langsung keluar dan melihat ku berdiri di pintu. Ossan tersenyum dan mempersilahkan aku masuk ke dalam. Setelah duduk bersama di dalam, seperti biasa kita bernostalgia, Eru dan Yuka menceritakan bagaimana mereka di tolong oleh ku dan Ryota aniki yang duduk di sebelah ku, kemdian ossan menanyakan soal pekerjaan ku dan lain nya, aku hanya bercerita sekedarnya saja, tapi aku menanyakan apa ada masalah yang terjadi terhadap mereka. Wajah ossan dan obasan mendadak jadi berubah, mereka langsung bercerita mengenai Sayaka yang sudah mereka anggap sebagai menantu mereka. Menurut ossan, karir Sayaka bagus dan bisa menghidupi mereka semua, sampai suatu hari, dia menerima tawaran untuk berperan di sebuah film dari hongkong. Awalnya mereka melihat ini sebuah kesempatan besar bisa berkarir di luar negeri, dengan senang hati Sayaka menerima nya.
Tapi ternyata semua itu hanya akal akalan produser yang meminta uang lebih saja, ujung ujung nya dia menjanjikan bos penyokong film itu kalau dia boleh memiliki Sayaka. Sejak itulah bos itu mengejar ngejar Sayaka, setelah kembali lagi ke jepang, bos itu mengikuti Sayaka sampai ke jepang dan menghambat karir Sayaka, akhirnya seorang sutradara di agensi Sayaka mengusulkan supaya Sayaka ke amerika dan menjalani pendidikan sebagai artis layar lebar di sana. Demi menghindari kejaran bos itu, akhirnya Sayaka menerima dan pergi ke amerika. Tapi belakangan ini, para anak buah bos itu mulai memaksa ossan dan obasan mengatakan di mana Sayaka berada, mereka sampai meneror rumah mereka, pekerjaan ossan dan kedua adik Sayaka demi supaya bisa mendapatkan Sayaka ada di mana.
“Baiklah, begini saja ossan, obasan, Eru, Yuka, kalian pindah ke kyoto, aku beli rumah kalian di sini dan aku sediakan tempat untuk kalian di kyoto. Sekolah Eru dan Yuka pindah saja kesana dan pakai hasil penjualan rumah ini untuk biaya hidup ossan dan obasan. Bagaimana ?” Tanya ku langsung saja.
“Tapi Masa kun, pekerjaan ku di sini bagaimana ?” Tanya ossan.
“Ossan bekerja untuk ku saja, aku ada kantor di kyoto, nanti tangan kanan ku Manabu san akan menghubungi ossan.” Jawab ku.
Ossan dan obasan berdiskusi, sedangkan Eru dan Yuka sangat senang ikut dengan ku ke kyoto. Akhirnya mereka memutuskan menerima tawaran ku dan menjual rumah mereka di osaka pada ku. Aku langsung menelpon Manabu san untuk mengatur semuanya, kemudian menelpon Kyoya dan Natsume yang sekarang tinggal di osaka. Aku minta mereka menempati rumah ini dan menjual apartemen mereka, kemudian aku menjelaskan situasi nya pada mereka. Tentu saja mereka setuju dan mereka akan menambah beberapa orang untuk tinggal bersama mereka. Aku meminta kepada Kyoya kalau seandainya anak buah bos itu datang, tangkap dan kembalikan ke bos itu sebagai pesan tantangan dari ku. Kyoya tertawa dan mendukung rencana ku, karena dia juga geram setelah mendengar ceritanya.
***
Dua hari setelah nya, ketika aku memastikan ossan, obasan, Eru dan Yuka pindah ke kyoto dari osaka, aku mendiskusikan bisnis ku dengan Endo dan Xin liang. Setelah selesai, aku, Ryota aniki dan Xin liang meneruskan perjalanan kita ke taiwan untuk bertemu dengan para tetua di sana. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya aku dan Ryota sampai di taiwan. Wow, baru pertama kalinya aku pergi keluar negeri dan melihat kota lain di luar negeri selain kota kota di jepang. Xin liang memanggil taksi,
“Saudaraku, sekarang kita ke hotel dulu, besok kita bertemu dengan para tetua.”
__ADS_1
“Baik saudaraku, tolong beri rekomendasi hotel yang sederhana saja.” Balas ku.
“Hahahaha, mana boleh aku sebagai orang taiwan menjamu saudaraku tinggal di hotel yang sederhana, tenang saja saudaraku, aku sudah mengatuh akomodasi mu.” Balas Xin liang.
Taksi terus berjalan melewati kemacetan jalan dan akhirnya sampai di sebuah hotel yang cukup mewah. Setelah berada di dalam kamar ku yang cukup besar dan mewah, Xin liang menunjukkan aku dan Ryota bangunan bangunan di sebrang hotel, dia mengatakan kalau gedung gedung di sepanjang jalan adalah milik keluarga nya. Setelah itu, kita bertiga duduk di meja dekat jendela dan mulai berbincang bincang bisnis, tapi tiba tiba, pintu kamar di ketuk.
“Permisi, dari room service mengantarkan pesanan makanan.” Seseorang berteriak di depan pintu.
Aku yang tidak mengerti bahasanya diam saja, tapi Xin liang langsung menoleh pada ku dan Ryota.
“Apa kalian memesan makanan ?” Tanya Xin liang.
“Hah..tentu tidak, kita kan baru datang, Ryota aniki pesan ?” Tanya ku.
“Aku juga tidak pesan apa apa....” Balas Ryota.
Kita bertiga langsung berdiri dan bersiaga, sepertinya ada yang tidak beres. Xin liang berjalan menuju pintu dan mengintip. Kemudian dia kembali menghampiri ku untuk bilang pada ku kalau ada seorang petugas room service membawa gerobak makanan yang di tutup oleh tudung saji. Xin liang kembali lagi ke pintu dan memegang gagang pintu nya, kemudian dia menoleh kepada ku dan Ryota. Aku mengangguk dan Xin liang langsung membuka pintu nya. Petugas room service itu mendorong kerenya masuk ke dalam kamar tanpa bertanya siapa yang pesan. Xin liang kembali menutup pintu nya, kemudian dia menghampiri petugas itu.
Langsung saja, petuga itu membuka tudung saji nya dan mengambil sebuah pistol di dalam kemudian mengarahkan pistol nya pada Xin liang. Tentu saja, aku yang sudah siap langsung melemparkan shuriken ku dan pistol nya terlepas. Namun rupanya dia tidak berhenti sampai di situ, dia mengambil pisau dari balik bajunya dan langsung menyerang Xin liang, dada Xin liang tergores sayatan pisau yang terlihat cukup dalam. Xin liang mundur memegang dada nya, petugas itu terus merangsek maju, Ryota yang ada di sebelah Xin liang meninju nya dari samping dan membuat petugas itu tersungkur, ketika Ryota mau maju untuk menghabisinya, tiba tiba beberapa orang yang memakai ikat mulut masuk ke dalam dan memberondong kita dengan tembakan. Aku dan Ryota menarik Xin liang ke balik tempat tidur yang ku dirikan. Aku melemparkan bom asap ke antara mereka, tembakan mereka jadi berhenti dan dengan secepat kilat aku membereskan tiga orang bersenjata yang masuk ke dalam dengan menyayat leher mereka denga kunai ku. Petugas yang pertama datang berniat melarikan diri, aku melemparkan kunai ku dan mengenai kakinya, sehingga dia terjatuh dan tidak bisa lari. Kemudian aku memukul tengkuk nya dan membuat nya pingsan.
Aku langsung berlari menemui Xin liang yang dadanya tergores pisau cukup dalam.
“Gimana keadaan mu saudaraku ?” Tanya ku.
“Aku tidak apa apa....aku tahu mereka, ada pengkhianat di antara anak buah para tetua, aku akan membereskan masalah ini segera.” Ujar Xin liang.
“Sekarang kita ke rumah sakit dulu, luka mu harus di obati.” Balas Ryota.
“Baik saudara Ryota....tapi ijinkan aku menelpon sebentar.” Ujar Xin liang.
Kemudian dia mengambil handphone nya di saku dan langsung menelpon menggunakan bahasa mandarin yang aku tidak mengerti artinya. Setelah itu, aku dan Ryota membawa Xin liang ke rumah sakit. Polisi mulai berdatangan, tapi karena kita sebagai korban dan mereka mengenali Xin liang, kita bertiga di lepaskan. Aku dan Ryota keluar dan membawa Xin liang pergi ke rumah sakit terdekat. Ketika di rumah sakit, para perawat langsung membawa Xin liang ke dalam untuk di obati.
“Masa, sepertinya kita di sini agak lama....” Ujar Ryota.
__ADS_1
“Sepertinya begitu....baru sampai saja sudah seperti ini....haaah.” Ujar ku.
Seorang perawat menghampiri aku dan Ryota yang sedang menunggu dan mengantar kita berdua menemui Xin liang yang sudah tidak apa apa dan menolak untuk di rawat menginap di rumah sakit. Tubuh nya di perban sehingga dia tidak bisa menutup kemeja nya, tapi dia sudah bisa berjalan seperti biasa. Memang pendekar kung fu itu perkasa, hal hal seperti itu tidak bisa membunuh nya haha. Xin liang mengatakan kalau sekarang orang orang nya sedang mengejar pengkhianat yang membocorkan keberadaan kita di taiwan.
Akhirnya, pertemuan yang di jadwalkan besok, di majukan langsung hari ini. Xin liang memanggil taksi dan mengantar kita bertemu seorang tetua yang memiliki masalah dengan bos besar di hongkong itu. Menurut Xin liang, tetua ini adalah saudara angkat kakek nya dan bermarga Tian, di antara semua tetua hanya kakek nya dan tetua Tian yang paling berpengaruh. Taksi sedikit keluar dari kota dan kemudian sampai di sebuah rumah tua ala china yang terlihat seperti perguruan di film kungfu. Xin liang langsung mengajak aku dan Ryota masuk ke dalam.
Di dalam aku melihat banyak sekali anak buah dari tetua yang sedang berjaga atau hanya sekedar berkumpul. Melihat Xin liang masuk, semuanya berdiri dan memberi hormat pada nya ala film kungfu tentunya hehe. Tapi pandangan mereka kepada ku dan Ryota sangat tajam walau aku tidak merasakan hawa pembunuh mereka sedikit pun, sepertinya mereka hanya waspada. Kalau aku masih aku yang dulu, pasti aku sudah lari tunggang langgang mendapati suasana seperti ini haha. Ketika masuk ke dalam rumah, seorang pria tua yang tegap dan bekulit sedikit gelap sudah menunggu, dia sedang duduk sambil menaikkan kaki dan menghisap pipa. Tapi yang paling mengerikan adalah, aku melihat ada tiga kepala yang menghadap pintu di atas meja di depan pria tua itu. Buset, kejam sekali, kepala kepala itu bukan hanya kepala laki laki, ada seorang perempuan juga di tengah tengah. Aku sedikit menelan ludah melihat nya. Xin liang memberi hormat padanya, aku dan Ryota juga menunduk di depan nya.
“Silahkan duduk.” Ujar nya.
Xin liang, aku dan Ryota duduk di depan nya, di tengah tengah tiga kepala seakan akan melihat diri ku. Aku sedikit merinding, kupikir sudah tidak ada lagi yang bisa membuat ku merinding.
“Saudaraku, perkenalkan, ini tetua Tian bao.” Ujar Xin liang memperkenalkan ku.
“Salam tetua Tian bao, namaku Yashiro Masamune dan di sebelah ku, kakak ku, Sawatari Ryota.” Aku memperkenalkan diri.
“Ya, aku sudah dengar semuanya dari liang. Ketiga orang di depan kalian ini adalah pengkhianat yang membocorkan rencana pertemuan kita ke orang jahanam itu.” Ujar Tian bo sambil menendang mejanya sedikit.
Xian liang menterjemahkan kata katanya pada ku dan sebalik nya karena kami saling tidak mengerti bahasa masing masing. Awalnya suasana nya sedikit kaku, tapi ternyata Tian bo bukanlah orang tua yang sulit di ajak bicara, malah dia sangat suka bercerita, dari masa muda nya sampai sekarang. Xin liang menterjemahkan semua kata katanya, tapi ketika sampai ke pembahasan anak nya yang paling bungsu, barulah wajah nya berubah. Barulah aku mengetahui ceritanya, saat usia anak nya 20 tahun, dia berkuliah di hongkong dan di sanalah dia terlibat dengan bos yang saat itu berumur 33 tahun. Dia di kerjai teman nya dan di buat mabuk kemudian di bawa kehotel menemui bos itu dan terjadilah semuanya. Setelah itu, dia di paksa menikah dengan bos yang sudah memiliki banyak istri itu, dia menolak dan akhirnya harus berhenti kuliah, sekarang dia sudah meninggal karena di bunuh oleh bos itu.
Tian bo sebagai orang tua bercerita dengan penuh kesedihan, membuat ku semakin marah kepada bos gila itu.
“Kakek Tian, tenang saja, aku akan membalaskan dendam kakek ke bos besar bernama Wu shang di hongkong.” Ujar ku.
Xin liang menterjemahkan ucapan ku, tiba tiba kakek Tian langsung berdiri dan berjalan ke arah ku, dia memegang pundak ku dan berkata.
“Yaoqing wo, women yiqi baochou. (jangan lupakan aku, kita membalas dendam bersama sama).” Ujar nya sambil tersenyum lebar di depan wajah ku.
Xin liang menterjemahkan dan tersenyum kepada ku, kemudian dia mengangguk, aku langsung memberi salam ala pendekar kung fu.
“Hao, xie xie (baiklah, terima kasih).”
Xin liang menterjemahkan nya dan dia langsung menepuk nepuk pundak ku dan Ryota sebanyak tiga kali, kemudian dia berteriak kepada anak buah nya untuk menyingkirkan kepala kepala di meja. Beberapa anak buah nya masuk membawa karung dan dengan cepat memasukkan kepala kepala itu ke dalam karung. Setelah itu terjalin lah hubungan ku dengan kepala triad di taiwan dan dia minta aku mempersiapkan semuanya untuk menyerang ke hongkong. Setelah aku membeberkan rencana ku, kakek Tian tertawa dan sangat setuju dengan caraku, akhirnya dia mau mengikuti rencana ku.
__ADS_1