
Mobil mobil van itu parkir di depan pagar seperti membentuk barikade sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk. Orang orang bersenjata yang berjumlah banyak itu masuk menghancurkan semua stand yang ada di depan gerbang. Hana, Ayame, Haruka dan Naoto naik ke atap menyusul ku dan Hikari,
“Masa kun, mereka orang orang Kaneshiro, sepertinya mereka sudah tidak bisa diam lagi, karena bisnis mereka di tekan oleh kita sekarang.” Hana menjelaskan siapa mereka.
“Yah tikus yang terjepit memang pasti menyerang balik dan langsung. Baiklah, Naoto kun dan Ayame chan di sini saja, Haruka chan tolong jaga mereka, kalian ke atas saja di bawah tangki air. Biar kita bertiga yang menghabisi mereka satu persatu.” Ujar ku.
“Hati hati onii chan, Hikari chan, Hana san.” Ujar Ayame.
Aku melompat turun ke bawah dan langsung menendang dinding untuk masuk ke pohon. Orang orang itu sepertinya mencari Naoto dan menyuruh semua murid, guru, staff dan pengunjung masuk ke dalam auditorium dan mengunci nya, hanya beberapa orang saja yang berkeliling mencari Naoto. Aku memberi kode pada Hikari dan Hana, keduanya langsung loncat ke pohon pohon sebelah, aku sendiri turun dan melumpuhkan orang yang lewat di bawah ku tanpa suara. Aku masuk ke dalam gedung dan melihat dua orang berjalan ke arah ku, aku bersembunyi di belakang lemari loker dan ketika mereka melewati ku, lemari nya ku rubuhkan membuat mereka kaget dan tertindih. Aku melompat ke atas nya dan menginjak lemari untuk membuat mereka pingsan. Aku terus berlari masuk ke dalam gedung, sambil mencari orang orang yang berkeliaran di dalam.
Aku bertemu dengan Hikari dan Hana yang sudah meringkus semuanya, sisanya tinggal yang berada di dalam auditorium. Kita bertiga menyelinap masuk auditorium dan melihat dari atas. Seperti nya para orang bersenjata itu mencari Naoto dengan memeriksa murid murid laki laki yang duduk di lantai. Kemudian seorang yang sepertinya pemimpin berteriak,
“Kami kesini mencari orang yang ada di foto ini, kalau kalian tidak mengatakan nya jangan salahkan kami kalau kami membunuh kalian.” Ujar nya sambil memperlihatkan sebuah foto wajah Naoto.
“Jangan bertindak macam macam, ini sekolah, pihak berwajib......”
Belum selesai sensei pria yang tidak di ketahui namanya bicara, pemimpin orang orang itu langsung menembak kepalanya dan dia langsung terpental ke belakang, jatuh dari podium, seluruh murid, guru, staff ketakutan dan berteriak.
“Diaaaam....cepat serahkan orang ini, kalau tidak akan ada korban korban lainnya.” Teriak pemimpin itu menggunakan pengeras suara.
Aku menoleh pada Hikari dan Hana kemudian mengangguk, keduanya langsung mengambil bom asap dengan jumlah banyak dari kantung nya. Aku sendiri mengambil lima di tangan kanan dan tiga di tangan kiri. Kita bertiga melemparkan bom bom asap yang banyak itu ke bawah dan asap mulai mengisi seluruh ruangan auditorium yang besar itu, terdengar banyak orang yang batuk dan berteriak. Dengan cepat dan bermodalkan kacamata night vision, aku, Hikari dan Hana dengan cepat menghabisi semua orang bersenjata di dalam tanpa kelihatan oleh para murid, staff, sensei. Menyisakan pemimpin yang kebingungan di depan sambil menutup hidung nya dengan lengan.
“Yo, selamat tidur....” Aku berbisik di belakang pemimpin dan memukul tengkuk nya sampai pingsan.
“Cepat Ma kun, bergabung dengan sandera.” Bisik Hikari.
“Iya cepat.” Bisik Hana.
Akhirnya kita bertiga melepas pakaian kita dan duduk di barisan para sandera dan menunggu asap menghilang, ketika semua sadar kalau para orang bersenjata itu sudah terkapar, barulah mereka semua panik dan berusaha keluar dari auditorium yang penuh dengan asap itu. Sirene polisi dan ambulan mulai terdengar mendekat dari luar gerbang. Di tengah keramaian, aku, Hikari, Hana menyelinap masuk ke gedung dan berlari menuju atap untuk menjemput Ayame, Naoto dan Haruka.
“Ayame, Haruka...kalian tidak apa apa ?” Tanya ku.
“Tidak apa apa Masa kun, kamu sendiri gimana ? Hikari chan ?” Tanya Ayame.
“Tidak ada masalah, Hikari juga, iya kan...” Jawab ku sambil menoleh pada Hikari.
“Iya hehe.” Tambah Hikari.
“Baru kali ini ada bos yang terjun sendirian menghadapi bahaya menjaga nyawa anak buahnya, padahal biasanya bos selalu menyuruh anak buah nya hahaha. Keren Masa.” Tambah Haruka.
“Hoi, aku bukan bos...tapi teman, teman yang punya kelebihan hehe.” Balas ku.
“Terima kasih ya Masamune kun, sudah berapa kali aku di tolong oleh mu.” Ujar Naoto menunduk.
“Haha...jaga saja adik ku ya. Tidak perlu berterima kasih pada ku.” Balas ku.
Ayame langsung memukul ku sambil tersipu malu, benar benar ojouchan aneh haha, tapi syukurlah dia bisa bahagia sekarang, pikir ku.
“Kayak nya lebih baik kita turun deh, polisi sudah menembus barikade di depan tuh.” Ujar Hana yang melihat ke bawah.
__ADS_1
“Baiklah, kita berbaur dengan murid lain.” Tambah ku.
Kita semua langsung berlari turun ke bawah untuk berbaur dengan murid murid lain. Polisi langsung mengendalikan situasi, festival budaya di bubarkan, semua murid di suruh keluar dan di minta pulang ke rumah masing masing dengan jalur yang sudah di siapkan oleh polisi. Semua orang bersenjata di tangkap dan di bawa oleh polisi. Jenasah sensei yang di tembak itu di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Aman, dengan begini, polisi akan menyelidiki dalang dari penyerang sekolah ini dan Kaneshiro tidak akan lolos dari penyelidikan.
***
Aku, Hikari, Ayame dan Haruka berjalan kembali ke apartemen karena kita di suruh pulang, tak lama ponsel ku berbunyi dan ada pesan dari sekolah kalau sekolah di liburkan selama penyelidikan oleh polisi dan festival budaya di bubarkan. Kemudian Manabu san juga menelpon untuk menanyakan keadaan ku sekaligus melaporkan kalau anak buah nya yang mengawasi rumah Kaneshiro mengatakan kalau Kaneshiro meninggalkan rumah nya dan pergi entah kemana. Dia pasti kabur karena gagal menyerang sekolah, ku pikir kudiamkan saja, biar pihak berwajib yang menangani nya. Aku menutup ponsel ku dan menaruh nya kembali di kantung, tapi ada pandangan aneh dari ketiga gadis yang ada di samping ku.
“Kenapa ?” Tanya ku sambil melihat ketiganya.
“Ma kun, boleh tidak aku punya itu ?” Tanya Hikari sambil menunjuk kantung ku.
“Hmm ?” Tanya ku sambil mengeluarkan ponsel ku.
“Kamu dapat dari mana itu ?” Tanya Ayame.
Oh iya benar juga, aku mendapat ponsel baru yang bisa menerima pesan dan mengirim pesan dari Manabu san keluaran terbaru tepat setelah kejadian yang melibatkan sensei waktu itu. Dan sepertinya mereka baru melihat aku menggunakan nya hari ini, karena selama ini memang aku tidak pernah keluarkan. Maklum, di kehidupan dulu aku hampir tidak pernah menggunakan ponsel, karena tidak punya teman, sedangkan jaman smartphone saja aku hanya menggunakan nya sebatas pekerjaan, menyedihkan memang.
“Aku dapat dari Manabu san, kalian mau pakai juga ?” Tanya ku.
Ketiga nya langsung mengangguk kencang dengan mata yang berbinar binar penuh harap. Akhirnya aku mengajak mereka bertiga ke toko elektronik yang berada sedikit jauh dari sekolah dan harus menggunakan kereta, setelah menanyakan pada Manabu san dia beli ponsel ini dimana. Setelah sampai, mereka langsung memilih ponsel yang mereka inginkan, aku hanya menunggu dan tinggal membayarnya ketika mereka sudah selesai. Setelah itu, akhirnya kita berjalan jalan di distrik pertokoan menikmati pemandangan dan melihat lihat produk produk andalan osaka. Kemudian kita masuk ke sebuah restoran western dan mencoba menu menu di sana. Bagiku yang penting melihat wajah Hikari, Ayame dan Haruka bahagia dan senang sudah cukup, aku pun ikut senang dan hal ini belum pernah ku rasakan di kehidupan sebelumnya, tak henti henti nya aku mengucapkan terima kasih di dalam hati ku.
Tanpa sadar kita berada distrik pertokoan sampai menjelang malam, kereta terakhir sudah lewat, aku menelpon Manabu san untuk menjemput ku, tapi sepertinya Manabu san sedang sibuk dan tidak mengangkat telepon ku. Waduh bagaimana ini, kita tidak bisa pulang, aku langsung melihat sekeliling dan melihat ada sebuah hotel di pinggir jalan, akhirnya aku mengajak Hikari, Ayame dan Haruka ke sana.
“Sepertinya malam ini kita menginap di sini saja ya.” Ujar ku.
“Ok, aku sih tidak masalah, makasih ya onii chan, hari ini seru.” Balas Ayame.
“Yah aku juga sama Masa, thanks ya.” Tambah Haruka.
“Iya, tapi kita kan tidak bisa pulang, jadi kita menginap di sini yaaaa.” Tegas ku sekali lagi.
“Iyaaaaa.” Teriak ketiga nya.
Akhirnya kita ber empat masuk ke dalam, aku memesan dua kamar, satu untuk ku dan satunya untuk mereka bertiga. Setelah mengambil kunci, kami berjalan menuju kamar kami di lantai 5 dengan menggunakan lift. Aku langsung masuk kamar ku dan mereka masuk ke kamar mereka. Ketika aku sudah mulai berbaring dengan santai di atas tempat tidur, tiba tiba pintu ku di ketuk, aku bergegas membuka nya dan ketiga ku buka, ternyata Hikari, Ayame dan Haruka berada di balik pintu dengan wajah merah.
“Um...kenapa ?” Tanya ku.
“Boleh tidak tukar kamar ?” Tanya Ayame.
“Eh, memang di sebelah kenapa ?” Tanya ku lagi.
“Sini ikut....” Tangan ku langsung di tarik Hikari.
Aku, Hikari dan Haruka keluar kamar dan masuk ke kamar sebelah, ternyata eh ternyata, di sebelah ada backsound berupa suara terengah engah dan decit tempat tidur yang di goyang, pantas saja sangat meresahkan para gadis itu sampai minta tukar kamar, aku tidak tahu apa yang di perbuat orang yang menginap di kamar sebelah tapi ya, memang membangkitkan sesuatu yang lain haha.
“Ya sudah lah, tukar saja, aku di sini.” Ujar ku, tenang saja, aku ossan 40 tahun, cobaan seperti ini tidak masalah bagiku.
“Iya, aku di sebelah ya....” Ujar Hikari.
__ADS_1
“Ya sudah, Masa di sini ya, kita bertiga di sebelah.” Tambah Haruka.
“Iya iya...selamat tidur ya.” Balas ku.
Hmm tumben Hikari bersikap begitu, padahal dia biasanya ikutan kalau mendengar yang seperti ini haha, tapi baguslah, aku juga capek dan sedikit malas. Akhirnya aku mendengarkan saja sambil berbaring melihat langit langit. Selesai backsound aku medengar suara orang berbicara di sebelah, aku pikir hanya sekedar basa basi setelah melakukan nya, tapi begitu ku dengar dengan seksama, begini isi pembicaraan nya,
“Jadi ossan sekarang mau ke tokyo, sampai kapan ossan ? lalu aku bagaimana ?” Tanya seorang gadis di sebelah.
“Aku harus bersama bos ku, maaf tapi sepertinya kamu harus cari om senang lain, aku tidak tahu sampai kapan aku di tokyo, apa kamu mau ikut aku ?” Tanya seorang pria yang seperti nya pria paruh baya.
“Wah tidak bisa ossan, sekolah ku di sini dan aku juga tidak mungkin meninggalkan adik adik ku di sini.” Ujar gadis itu.
“Aku juga sebenarnya tidak mau pergi, tapi harus, bos ku mungkin akan di buru polisi karena menyerang sekolah tadi.” Ujar pria itu.
“Yaaaah ossan, ya sudah, sekali lagi ya, aku masih perlu uang nih.” Ajak gadis itu merayu.
“Haha iya Sayaka chan, kamu memang seksi....dan nakal.” Ujar pria itu.
Jleb, Sayaka ? hah, dia ada di sebelah, lalu Jinta gimana ? apa yang terjadi ? pikiran ku mulai melayang kemana mana. Lalu aku juga dapat info, yang bersama Sayaka di sebelah pasti orang Kaneshiro dan terpaksa dia ikut bos nya ke tokyo untuk melarikan diri.
“Ma kun, yang ku dengar ini benar ?” Tanya Hikari berbisik yang tiba tiba ada di sebelah ku, entah dia masuk dari mana.
“Aaah...jangan mengagetkan. Sepertinya benar, berarti mungkin malam ini Kaneshiro masih di osaka.” Balas ku berbisik.
Backsound kembali terdengar, nafas gadis dusun di sebelah ku mulai berat dan tangannya menggenggam erat tangan ku. Tapi ada yang berbeda di akhirnya,
“Bye bye ossan......” Ujar Sayaka.
“Ugu...guh....guh.....” Sepertinya pria itu di sekap bantal oleh Sayaka dan berontak karena suara decit tempat tidur sangat jelas terdengar.
“Jleb...jleb.” Terdengar seperti sesuatu yang di tusukkan ke tubuh dan suara decitan menghilang. Hei apa yang terjadi, masa sih Sayaka membunuh orang itu, pikirku. Aku dan Hikari saling menoleh melihat sama lain dan kembali mendengarkan.
“Nafsuku mendadak hilang...” Ujar Hikari berbisik.
“Aku malah ga mikir kesana...” Balas ku berbisik.
Aku dan Hikari mendengar seseorang turun dari tempat tidur dan sepertinya dia ke kamar mandi dan tidak menutup pintu, sehingga suara air yang di pancurkan oleh shower terdengar. Tak lama kemudian terdengar orang berjalan kembali mendekat dan sepertinya mengambil tas atau dompet, kemudian terdengar pintu di buka. Aku langsung berlari keluar dan mencegat orang yang keluar. Sayaka sangat kaget melihat ku di depan nya,
“Sayaka chan, kenapa kamu di sini ?” Tanya ku.
“Bukan urusan mu Masa kun, minggir....” Sayaka berusaha melewati ku.
“Sebentar, aku tidak menyalahkan mu atau apa, tapi ceritakan apa yang terjadi, mana Jinta ?” Tanya ku.
Aku melihat Sayaka diam dan gemetar, Hikari keluar kamar dan mengecek kamar yang di pakai Sayaka barusan, Hikari langsung menutup mulutnya ketika membuka pintu dan aku melihat nya. Kemudian aku langsung menuju kamar dan melihat ke dalam, ternyata benar, seorang pria dengan wajah di tutup bantal dan ada sebuah pisau menancap di dada nya yang berlumuran darah. Aku kembali mengejar Sayaka,
“Sayaka chan tunggu....” Aku menarik lengan nya karena dia sudah berusaha pergi.
“Apa lagi Masa kun, kalau kamu tanya Jinta dimana, dia sudah meninggal, aku keguguran, semua gara gara ulah pria itu.” Teriak Sayaka menjawab ku sambil menangis.
__ADS_1
“A..apa ?” Tanya ku.
Karena kaget aku melepaskan pegangan ku dan Sayaka beranjak pergi, untung saja Ayame dan Haruka keluar dan langsung menahan Sayaka untuk pergi dan kemudian dia menangis tersedu sedu. Aku langsung menelpon Manabu san untuk membereskan pria yang ada di kamar sebelah itu supaya tidak di lacak polisi dan membayar seperlu nya pada pemilik hotel, kita anggap saja kejadian ini tidak ada.