Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 46


__ADS_3

Seminggu berlalu, Hikari sudah sadar dan sudah boleh kembali ke rumah yang ku beli di kyoto. Rumah itu tidak terlalu besar seperti di tokyo, aku tinggal bersama Hikari dan Touka, sekolah Touka juga sudah di pindah, sekarang dia sekolah di kyoto bersama adik dari Kenzo dan di sekolah yang sama. Keiko dan Ryota tinggal di rumah sebelah ku, aku sering mengatur strategi dengan Ryota dan Kenzo yang sesekali datang bersama Megumi. Selama seminggu ini aku mendapatkan laporan dari Manabu dan Shindo kalau banyak orang yang menganggu bisnis kita, tapi tidak sampai menghancurkan nya, hanya gangguan tidak berarti yang bisa di atasi dengan mudah, promosi melalui online ku masih berjalan dan gangguan itu tidak terpengaruh sama sekali. Hari ini aku berencana berkeliling kota bersama Hikari, tubuh Hikari sudah sehat, hanya saja dia masih terguncang akibat kehilangan rahim nya, untuk itulah aku mengajaknya jalan jalan ke tempat tempat yang dia suka di kyoto.


“Kamu mau kemana Hichan ?” Tanya ku.


“Um...ada tempat yang ingin aku kunjungi selagi di kyoto.”


Aku memacu motor ku ke tempat yang di tunjukkan Hikari. Ternyata kita sampai ke sebuah perumahan, kita tiba di sebuah tanah kosong di perumahan itu.


“Waktu aku masih menjadi Misaki di kehidupan lalu, di sinilah tempat tinggal ku bersama mama.....” Ujar Hikari dengan wajah sendu.


Aku merangkul nya dan memeluk nya tanpa bicara apa apa, kita hanya memandangi tanah kosong yang sudah hijau karena di tumbuhi rumput dan ada tulisan sudah terjual. Tapi di ujung perumahan itu ada sebuah torii yang sepertinya sudah tua. Aku menanyakan soal torii itu kepada Hikari. Menurut nya, kuil itu adalah kuil keagaamaan yang selalu dia dan mama nya kunjungi sewaktu masih hidup sebagai Misaki. Akhirnya Hikari mengajak ku ke kuil itu dengan berjalan kaki karena tidak terlalu jauh walau harus menyebrang jalan raya. Jalan menuju ke kuil menanjak karena terletak di atas bukit, aku memapah Hikari naik ke atas menaiki tangga yang lumayan tinggi selangkah demi selangkah. Ketika sampai di tengah tengah, kita berdua di sambut oleh patung seekor rubah berekor tiga.


“Aneh....” Gumam Hikari ketika melihat patung itu.


“Aneh ?” Tanya ku penasaran.


“Waktu di kehidupan lalu, rasa nya tidak ada patung ini.....kalau di lihat patung ini sudah cukup tua.” Jawab Hikari.


“Oh ya, mungkin tidak terlihat sebab patung itu berada di balik pepohonan...” Ujar ku.


“Tidak mungkin, patung sebesar itu tidak mungkin aku tidak melihat nya.” Balas Hikari.


“Ayo kita naik, mungkin di atas kita menemukan jawaban nya.” Ajak ku.


“Iya Ma kun.....” Balas Hikari.


Aku kembali memapah Hikari dan kita naik pelan pelan selangkah demi selangkah, ketika sampai di atas, ada sebuah torii lagi, ternyata kuil di atas cukup luas dan lapangan nya besar. Aku sedikit bingung, sebab harus nya kuil sebagus ini di jadikan obyek wisata, tapi ketika aku melihat wajah Hikari, dia terlihat bingung dan heran melihat kuil itu.


“Aneh....ini aneh Ma kun, kuil itu seharus nya tidak sebesar ini....dan tidak sebagus ini, kuil itu harusnya kuil tua.” Ujar Hikari.


Aku tidak bisa berkata apa apa, karena memang awalnya aku tidak pernah ke kuil itu di kehidupan sebelum nya, tapi aku percaya pada Hikari, tidak mungkin dia bohong dan salah lihat. Tiba tiba ketika kita berdua sedang termenung di depan torii sambil melihat kuil, seorang gadis miko menghampiri kita sambil membawa sapu, sepertinya dia memang sedang menyapu halaman kuil dari dedaunan yang rontok.


“Masa kun ?” Tanya gadis itu.


“Eh...siapa ?” Tanya ku kaget karena gadis itu mengenalku.

__ADS_1


Aku mengamati wajah nya dengan seksama untuk mengingat ngingat kembali wajah gadis itu, karena gadis itu memakai penutup mata sebelah seperti bajak laut. Tiba tiba seorang gadis miko yang lain lagi berlari menghampiri kita. Hikari yang melihat gadis yang berlari itu langsung mengenali nya,


“Shouko....chan ?” Tanya Hikari.


“Hikari chan.....apa kabar....” Balas Shouko yang langsung memeluk Hikari.


Rupanya dari jauh dia sudah melihat Hikari datang, jadi dia berlari menghampiri kita. Kalau yang berpelukan dengan Hikari adalah Shouko berarti yang sedang memegang sapu itu,


“Inchou ? eh salah Kaede san ?” Tanya ku.


“Hehehe masih saja panggil aku inchou, aku sudah bukan inchou lagi.” Jawab Kaede.


“Ah maaf kebiasaan....” Ujar ku sambil tersenyum.


Kaede dan Shouko mengajak kita ke belakang kuil menuju rumah mereka di belakang.  Di dalam kita di suguhi teh dan makanan kecil, kemudian mereka duduk di hadapan kita berdua. Kaede melihat ku dan bertanya kepada ku, kenapa tidak bersama dengan Ayame. Aku menoleh kepada Hikari dan Hikari menceritakan semua yang terjadi kepada Kaede dan Shouko. Aku juga menceritakan dan bertanya kepada keduanya soal patung yang kulihat di chiba waktu aku menyerang kesana, juga mengenai clan Amagaoka. Kaede dan Shouko terlihat sedang berpikir,


“Rashaka Amagaoka, seorang dewa jahat yang tercipta dari alam kegare (kotoran). Pantas aku merasakan ada aliran energi lain di tokyo.” Ujar Kaede.


“Bukan cuma tokyo kan nee san, di osaka, fukuoka dan di mana mana sama.” Tambah Shouko.


“Benar, dia dan Shizuka chan adalah anak kembar yang di pisah sejak lahir.” Balas ku.


“Baiklah, mari ikut kita ke belakang...” Ujar Kaede sambil berdiri dan membuka penutup matanya.


Aku kaget ternyata sebelah matanya seperti mata rubah, begitu juga Shouko yang membuka penutup mata sebelah kiri nya. Mata kiri nya juga seperti mata rubah. Aku menoleh kepada Hikari dan ternyata Hikari juga melihat ku. Aku dan Hikari berdiri kemudian mengikuti mereka, jujur saja, semua ini di luar pengetahuan ku dan Hikari walau di kehidupan lalu kita berdua adalah ossan dan obasan berumur 40 tahun. Aku dia ajak masuk ke dalam sebuah ruangan di belakang rumah yang hanya ada sebuah lilin merah di tengah ruangan. Aku di minta duduk di depan lilin sendirian. Aku duduk di depan lilin dan Kaede duduk di depan kanan ku, sedangkan Shouko duduk di depan kiri ku. Hikari duduk di belakang dekat pintu masuk. Apa ini ? pikirku dalam hati, karena saat ini hatiku kacau dan aku sedikit takut. Kaede dan Shouko meminta ku memejamkan mata dan aku menuruti nya. Aku mulai medengar keduanya membaca mantra dan berdoa, tiba tiba aku merasakan ada hembusan angin menerpa ku, aku juga mendegar suara keramaian di depan ku. Karena penasaran, aku membuka mata dan,


“Dimana ini ?”


Aku menemukan diri ku sedang berdiri di depan sebuah kota model jaman dahulu, bulu kuduk ku berdiri, karena di depan ku ada beberapa makhluk yang tidak masuk ke dalam akal ku sama sekali, aku melihat di depan ku ada payung kertas yang memiliki mata dan gagang kaki sedang berbincang bincang dengan seorang wanita yang sedang menyisir rambut dengan lehernya yang panjang, keduanya terlihat ceria. “Boom.” Sebuah kaki besar berjalan melewati ku dan aku melihat ke atas, ternyata raksasa yang di kepalanya memiliki tanduk kecil dan berbadan biru berjalan melewati ku dengan santai nya.  Aku juga melihat beberapa makhluk yang pernah ku temui di sungai yang ada di gunung bersama Hikari, yaitu kappa.


“Apa ini...aku dimana ? Hichan ? Kaede san ? Shouko san ?” Tanya ku sambil melihat sekeliling.


“Jangan takut....”


Aku mendengar suara di belakang ku, aku berbalik dan aku melihat seorang tua berpakaian pendeta berdiri di belakang ku. Wajah nya terlihat bijak dan dia tersenyum padaku. Tapi ada yang berbeda, hidungnya sedikit panjang di banding orang normal dan dia memiliki sayap di belakang punggung nya.

__ADS_1


“Siapa...anda jisan ?” Tanya ku tergagap.


“Aku adalah nenek moyangmu, anak Yashiro.” Ujar nya.


“Hah...Yashiro ? jisan tahu keluarga ku ?” Tanya ku bingung.


Jisan itu langsung menceritakan silsilah keluarga asli ku di kehidupan lalu maupun sekarang dengan cerita yang aku tidak pernah tahu sama sekali. Jadi Yashiro dulunya adalah sebuah clan besar omnyoji yang sudah hilang tertelan jaman, menurut legenda, akar keluarga itu keturunan dari tengu yang betugas untuk mengontrol keseimbangan dua alam. Aku tidak mempercayai nya sama sekali, menurut ku itu mustahil sebab yang aku tahu, papa ku hanya lah salaryman biasa. Tapi ketika dia bilang kalau dia tahu aku mengulang hidup ku, mau tidak mau aku jadi percaya, sebab memang aku mengulang hidup ku.


“Apa jisan yang membuat ku mengulang hidup ku seperti ini ?” Tanya ku.


“Aku hanya mengabulkan doa seorang anak kecil yang sangat ingin bersama teman nya dan menyayangi nya sepenuh hati. Dia kesini bersama mama nya dan berdoa, aku mengabulkan nya karena nama teman yang dia sebutkan itu.” Ujar jisan itu.


“Apa anak itu....Michan ?” Tanya ku.


Jisan tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengajak ku berjalan menuju rumah nya yang terlihat seperti sebuah gubuk yang tua walau masih layak huni. Di dalam dia menyuguhkan aku segelas teh hijau yang harum dan duduk di depan ku. Barulah dia bercerita tentang apa yang terjadi, menurut nya ada aliran energi kotor yang mengganggu keseimbangan dua alam, alam kehidupan dan alam yokai di seluruh jepang dan berpusat di tokyo. Dia minta aku mengatasinya dan memberiku sebuah liontin dengan tulisan seperti jimat untuk di kalungkan di leher dengan ukiran yang indah. Dia minta aku memakai nya dan dengan adanya jimat itu aku dan sekeliling ku, akan terlindungi dari apa yang akan  datang. Tapi ketika ku tanya apa yang akan datang, dia hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab. Lalu dia meminta ku minum teh hijau nya dan tiba tiba kepala ku terasa sangat pusing, kesadaran ku mulai menghilang, pandangan terakhir ku hanya melihat kakek itu tersenyum di hadapan ku.


***


Ketika aku membuka mata kembali, wajah pertama yang kulihat adalah wajah Hikari yang memangku kepala ku di pangkuan nya. Aku melihat sekeliling dan seluruh ruangan itu berubah menjadi rumah tua. Aku membangunkan tubuh ku dan duduk.


“Mana Kaede san dan Shouko san ?” Tanya ku.


“Mereka di luar.....” Jawab Hikari.


Aku berdiri dan melangkah keluar bersama Hikari, tapi aku tidak menemukan siapa siapa, aku keluar dari rumah tua yang penampilan nya berbeda dengan sebelum nya dan melihat komplek kuil itu. Ternyata apa yang di katakan Hikari benar, kuil itu adalah kuil tua dan sama sekali tidak bagus, tidak ada yang menghuni nya, karena penasaran aku bertanya sekali lagi pada Hikari.


“Um...Hichan, di mana mereka ?” Tanya ku.


Hikari tidak menjawab, dia hanya menunjuk pada dua buah patung rubah yang ada di kanan dan kiri torri tempat kita berdua masuk.


“Apa yang sebenarnya terjadi ?” Tanya ku.


“Um...selagi aku menunggu di dalam ruangan tadi, kamu tiba tiba pingsan Ma kun, tapi ketika aku mau maju menolong mu, Kaede san dan Shouko chan mencegah ku dan menggelengkan kepala mereka, tiba tiba tubuh keduanya menjadi cahaya dan keluar dari ruangan, aku mengikuti nya karena penasaran dan melihat semua sudah berubah dari sebelum nya, Kaede san dan Shouko chan kemudian menjadi kedua patung itu dan aku kembali ke dalam.”


“Dan kuil yang dulu kamu datangi sewaktu masih menjadi Michan adalah kuil ini ?” Tanya ku.

__ADS_1


Hikari mengangguk, dia sering mengunjungi kuil ini dengan mama nya dan kadang kadang dia sendiri. Tidak salah lagi, anak perempuan yang di katakan jisan tadi adalah Misaki dan dia mengabulkan doa Misaki karena mendengar namaku Yashiro. Aku berbalik dan menunduk di hadapan kuil itu, kemudian aku menghadap kedua patung rubah yang berada di sebelah kanan dan kiri torii kemudian menunduk mengucapkan terima kasih pada Kaede dan Shouko, Hikari yang tidak mengerti mengikuti ku menunduk, kemudian kita turun kembali dan benar seperti kata Hikari, patung rubah yang ada di tengah tengah jalan ke bawah tidak ada. Setelah turun, aku dan Hikari berjalan kembali menuju motor ku di parkir, di depan tanah kosong yang di kehidupan lalu adalah rumah Misaki. Aku memegang leher ku dan aku menyadari aku memakai liontin yang di berikan oleh jisan tadi, berarti apa yang aku alami bukan mimpi. Sambil berjalan, aku menceritakan semuanya pada Hikari yang percaya tidak percaya menanggapi nya walau aku menunjukkan liontin yang ku pakai kepadanya. Wajar lah, aku saja awal nya tidak percaya sama sekali, tapi berkat doa Misaki sewaktu kecil di kehidupan lalu, aku bisa mengulang kehidupan ku ini dan aku sangat bersyukur, aku merangkul Hikari yang berjalan di sebelah ku dan berterima kasih padanya, walau dia bingung untuk apa aku berterima kasih, sebab aku tidak mungkin menceritakan soal doa Hikari di kehidupan sebelum nya sewaktu dia masih menjadi Misaki dan tinggal di tanah yang berada di depan itu. Sesampainya di depan tanah, aku langsung membonceng Hikari dan pulang kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, aku berpikir, apa yang akan datang dan harus bagaimana cara mengatasinya, sebab ketika ku tanya jisan tadi tidak berkata apa apa dan hanya tersenyum menjawab ku.


__ADS_2