Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 44


__ADS_3

Joo won dan bos perusahaan nya, menjelaskan pembagian saham di antara aku dan kedua anak kembar itu, pembagian saham ku jelas lebih besar dari pada mereka, karena aku sudah tahu hasil dari perusahaan itu di masa depan, aku jadi lebih berani melimpahkan investasi ku di banding mereka. Tapi mereka merasa menang, karena berhasil menggaet perusahaan yang sama untuk berkerja sama dengan mereka. Selesai makan, Joo won dan bos nya keluar dari ruangan karena mereka harus mengejar pesawat untuk kembali ke korea. Meninggalkan anak kembar itu di dalam bersama ku tanpa pengawal. Tapi aku merasakan ada hawa tidak enak di belakang ku, ternyata benar, sebuah pedang katana terhunus pada ku dan Hikari, aku dan Hikari melompat kebelakang dan menangkap penyerang di belakang ku yang ternyata adalah Hana.


“Pantas aku heran kalian berani masuk ke sini hanya berdua...” Ujar ku.


“Hehe memang hebat Masa kun, aku kagum.....” Balas Shizuka.


“Sudah onii chan, lepaskan Hana san, kita hanya mengetes saja....” Tambah Ayame.


“Hah mengetes ? kalau berhasil kalian senang kan ?” Tanya ku.


“Hehe anggap saja bonus kalau berhasil.” Balas Shizuka.


“Apalagi kalau sebelah mu yang kena...lebih senang lagi hehe.” Tambah Ayame.


“Kenapa kalian ingin membunuh ku ?” Tanya Hikari.


“Ah kamu tahu alasannya kan, kita pernah bicara empat mata kan.” Jawab Ayame.


“Oh soal itu, hahaha soal itu di jadikan alasan membunuh ku, yang benar saja onee chan.” Balas Hikari.


“Maaf, tapi Hana tidak akan ku lepaskan....” Ujar ku.


Tiba tiba Hana bersiul dan banyak sekali shuriken beracun di lemparkan dari ruang sebelah yang hanya di batasi dengan dinding tipis. Aku dan Hikari melompat ke atas menempel di langit langit menghindari nya, aku juga melihat Hana langsung terlentang di lantai menghindari hujan shuriken dari ruang sebelah, Hana melihat ku dan Hikari dengan tersenyum, kemudian dia melemparkan bom asap dan ketika asap sudah hilang, aku hanya berdua dengan Hikari di dalam ruangan itu.


“Mereka sudah keterlaluan, masuk ke sini seenak nya dan keluar juga seenak nya.” Ujar ku.

__ADS_1


“Aku tahu Ma kun.......”


Tubuh Hikari langsung limbung dan dia pingsan jatuh ke pelukan ku, aku langsung menangkap nya dan kaget, ternyata ketika lompat ke atas, pundak Hikari terkena shuriken dan luka nya langsung menjadi biru, aku langsung mencabut shuriken di pundak nya dan menghisap racun dari luka nya sebelum menyebar, seperti sewaktu tergigit ular, setelah darah kotor keluar, aku menggendong Hikari dan membawa dia turun ke bawah sambil menelpon supaya mobil ku standby di depan gedung. Begitu sampai bawah, aku langsung keluar gedung dan memasukkan Hikari ke mobil. Aku membawa Hikari ke rumah sakit terdekat. Singkat cerita, Hikari di masukkan ke ruang gawat darurat, hasil diagnosa dokter racun hanya tersisa sedikit dan tidak berbahaya, tapi ada hal lain yang lebih berbahaya, luka di rahim Hikari yang rusak mulai membusuk di dalam perut nya karena sudah terlalu lama di diamkan, operasi harus segera di lakukan kalau tidak bisa berbahaya dan mengancam jiwa nya. Aku langsung menyetujui nya, berapapun biaya nya aku sudah tidak bertanya lagi, aku minta secepatnya di lakukan. Pihak rumah sakit langsung menyiapkan ruang operasinya dan memberikan dokter bedah terbaik di rumah sakit itu. Hikari yang sedang pingsan di bawa masuk ke dalam ruang operasi, aku terus memegang tangan nya ketika Hikari di bawa masuk ke ruang operasi, kemudian setelah Hikari di bawa ke dalam, aku menunggu dengan bingung di depan dengan cemas. Aku duduk di kursi sambil menundukkan kepala. Aku marah, luar biasa marah,


“Aku tidak bisa memaafkan Ayame dan Shizuka......sudah saat nya aku beraksi.” Ujar ku dalam hati sambil berusaha menahan amarah ku yang meluap, sebab keselamatan Hikari nomor satu saat ini.


Aku ingat sifat Misaki di kehidupan dulu, sama persis seperti Hikari sekarang, kalau ada apa apa mengenai dirinya, dia tidak akan bicara contoh nya ketika dulu papa mamanya bercerai dan dia terpaksa pindah, dia main menghilang saja tanpa memberitahu apa apa, sama seperti Hikari, dia malah memikirkan keturunan ku daripada kesehatan nya. Aku akan lebih memperhatikan nya mulai sekarang dan untuk kedua anak kembar dari clan Amagaoka, akan aku perlihatkan apa yang akan aku lakukan ketika kalian macam macam dengan ku. Selagi aku merenung, tiba tiba handphone berbunyi, rupanya yang menelpon ku Touka, dia sedang ke kantor ku untuk mengantar bekal dan sekarang sedang menuju rumah sakit bersama Manabu.


Touka datang bersama Manabu ke rumah sakit, mereka menemui ku yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi. Tanda di atas pintu masih berwarna merah, berarti operasi belum selesai. Touka duduk di samping ku karena dia juga cemas akan keselamatan Hikari.


“Bocchan, sebaiknya setelah ini, ojouchan pensiun jadi ninja, kondisinya sudah mulai berbahaya. Kita tidak bisa main main lagi menghadapi Ayame ojouchan dan Shizuka ojouchan.” Ujar Manabu.


“Aku tahu, sudah saat nya kita perlihatkan hasil kerja kita selama ini dan sudah saatnya menancapkan taring kita sekarang, kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi kalau mereka berani macam macam dengan kita.” Ujar ku geram.


“Ya bocchan, sasaran pertama kita adalah markas mereka di chiba.” Balas Manabu.


“Siap bocchan, Youko sudah siap dengan anak buah nya.” Balas Manabu.


“Bagus....malam ini kita berangkat.” Ujar ku.


“Onii chan....hati hati ya, pulang dengan selamat, biar aku menjaga Hikari onee chan.” Ujar Touka di sebelah ku.


“Ya, titip Hichan sementara....” Balas ku, walau aku masih tidak terlalu percaya pada Touka, saat ini tidak ada pilihan lain. Aku selesaikan malam ini.


***

__ADS_1


Dua setengah jam berlalu, lampu di atas ruang operasi akhirnya berubah menjadi hijau, seorang dokter keluar dari ruang operasi dan membuka maskernya. Dia mengatakan rahim Hikari berhasil di angkat, tapi untuk sementara dia belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh bius. Mengenai racun nya sudah hilang tapi syaraf nya terpengaruh, untuk sementara tangan Hikari akan lumpuh sebelah sampai syaraf nya pulih dan dokter minta Hikari tidak terlalu banyak bergerak dulu. Hati ku sedikit lega, karena ternyata Hikari bisa selamat, aku minta kepada dokter kalau Hikari akan di rawat di rumah dan minta ambulan mengantarnya ke rumah, dokter menyetujui nya tapi dia mengatakan paling tidak dua atau tiga hari di rawat di rumah sakit untuk memantau kondisi nya. Aku setuju mengenai itu, tapi aku tidak mungkin membiarkan Touka sendirian di sini bersama Hikari.


“Aniki, gimana keadaan Hikari chan ?” Tanya Shindo yang tiba tiba di belakang ku. Dia datang bersama Haruka yang menggunakan kursi roda dan memangku bayi nya yang masih berusia enam bulan.


“Ah Shindo, kapan datang dan kamu bersama Haruka.” Ujar ku sambil menoleh.


“Iya Masa, tadi kita ke kantor mu, sekertaris mu bilang kamu membawa nyonya ke rumah sakit karena terluka, dia juga bilang Manabu ossan menyusul mu ke rumah sakit. Lalu dia siapa ?” Tanya Haruka.


“Oh namanya Touka, dia sekarang tinggal bersama ku dan Hikari.” Aku memperkenalkan Touka dan membisiki nya supaya jangan menyebut nama keluarga nya.


“Perkenalkan namaku Yashiro Touka. Umur ku 15 tahun, masih sma kelas 1, aku bekerja di rumah keluarga Yashiro.” Touka memperkenalkan diri dengan sopan.


Tapi, kenapa dia memakai nama keluarga ku, seakan akan dia sudah menikah dengan ku haduh, tentu saja pandangan Shindo dan Haruka jadi aneh pada ku.


“Oi Masa, kamu menikahi dia ? dia masih kecil kan ?” Tanya Haruka.


“Aku tidak sangka aniki, dia anak yang mengikuti kita waktu itu kan ?” Tanya Shindo.


Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang di tujukan pada ku, benar benar deh si Touka ini. Setelah ku tanya kenapa dia memakai nama keluargaku, dengan santai dia bilang kalau dia di tugasi oleh Hikari untuk mengandung anak anak ku nanti, dengan kata lain dia jadi selir ku. Hah Hichan, apa yang kamu lakukan ? oh ya, dia memang bilang dia sudah bilang kepada Touka mengenai hal ini, sebelum aku memutuskan untuk mengadopsi anak saja, tapi melihat Touka yang sangat antusias seperti ini, aku jadi berpikir lagi, aku tepis pikiran itu jauh juah, saat ini Hikari juga belum sadar dan ada hal penting yang harus aku lakukan. Haruka dan Shindo mengerti, mereka paham maksud Hikari dan sudah mengetahui keadaan Hikari, malah keduanya mendukung nya. Tapi Shindo mengingatkan ku, tunggu beberapa tahun lagi setelah Touka lulus baru boleh menyentuh nya, biarkan dia selesaikan sekolah nya dulu. Dasar sensei, dia terlalu mentaati peraturan, walau aku juga sama sih di kehidupan yang dulu haha. Beberapa perawat keluar dari kamar operasi membawa Hikari yang masih belum sadarkan diri di tempat tidur untuk di bawa ke kamar nya. Aku, Manabu, Haruka, Shindo dan Touka mengikuti nya, aku berbisik pada Manabu supaya kamar Hikari nanti di jaga dan harus orang yang bisa di percaya. Shindo menawarkan diri untuk mengawasi Hikari bersama Touka dan Haruka aku minta, untuk sementara tinggal di rumah ku saja, paling tidak sampai suasana tenang. Manabu juga menugasi tiga orang ninja anak buah Youko untuk mengawasi kamar Hikari di rumah sakit. Setelah itu, aku dan Manabu keluar dari kamar dan turun ke bawah, aku melepas dasi ku dan melepas beberapa kancing kemeja ku, berjalan menuju mobil ku di bawah.


***


Malam itu, di sebuah rumah besar di daerah chiba, 20 bayangan melesat masuk ke dalam pagar. Kondisi rumah yang di jadikan markas itu di jaga oleh banyak orang yang membawa senjata, di dalam rumah banyak sekali orang yang sedang bercanda dan berbincang bincang dengan santai, bahkan ada yang sedang bermain kartu dan berjudi di antara sesama mereka. Aku memberi kode pada ninja ninja yang datang bersama ku dengan jari ku, semua nya langsung menghilang dan dengan cepat menghabisi semua orang di sana secara diam diam dan tanpa suara. Setelah menghabisi semuanya, aku memerintahkan mereka mencari petunjuk di sekeliling rumah, mengenai clan Amagaoka, atau apapun yang berhubungan dengan Ayame dan Shizuka. Semuanya bepencar untuk mencari petunjuk di rumah yang sudah tidak ada orang, karena semua mayat orang orang yang di bunuh di sembunyikan rapi. Aku berjalan menuju sebuah gudang di belakang rumah, ada dua orang ninja ku yang berada di luar gudang untuk membuka kunci. Setelah kunci terbuka, aku masuk ke dalam dan di dalam gudang itu ada sebuah tangga turun ke bawah. Aku bersama dua ninja itu turun perlahan, di depan kita ada sebuah gua yang bercahaya terang di terangi nyala api yang berjumlah banyak. Begitu di dalam, aku sedikit kaget, ternyata di bawah tanah ada sebuah gua yang di penuhi oleh obor, banyak jimat dan kertas kuning menempel di dinding nya, di tengah ada sebuah tempat berbentuk lingkaran yang di kelilingi air seperti di bangun di atas danau bawah tanah. Di lantai bundar di tengah itu ada lambang yang tidak ku mengerti dan di belakang nya ada sebuah patung besar berwujud raksasa mirip Asura yang bertangan banyak, tapi dengan wajah mengerikan dan di kelilingi oleh tali anyaman jerami yang di tempeli kertas putih seperti petir. Di bawah patung itu banyak sekali tulang belulang berserakan seperti yang ku temui di ginza, hanya saja tulang belulang itu masih terlihat segar di banding yang ada di ginza. Aku melihat sekeliling, tali dari anyaman jerami itu juga memutari seisi gua dan berpusat di patung di depan ku. Akhirnya setelah melihat semua nya, aku mengambil kesimpulan.


“Amagaoka.....mereka bukan sekte keagamaan, melainkan sekte sesat....” Pikir ku.

__ADS_1


Aku tidak ingin berlama lama di gua itu, aku segera keluar dari gua itu. Aku langsung meminta kedua ninja yang bersama ku menutup pintu nya. Tiba tiba seorang ninja medekati ku dan memberikan sebuah buku tua berisi catatan yang di tulis tangan. Aku membacanya, isinya sangat mencengangkan, ternyata bukan kepala keluarga Amagaoka yang menitipkan Ayame ke Odasiga dan Shizuka ke Fujikata, melainkan keluarga Odasiga dan Fujikata itulah yang menghabisi keluarga Amagaoka, mereka mengambil masing masing satu anak kembar untuk berkuasa bersama, tindakan mereka semua di tutupi pemerintah dan masalah ini tidak pernah di publikasi karena di anggap tidak pernah terjadi. Buku ini menjelaskan semua, di buku itu juga di tulis bagaimana keduanya lahir dan ibu mereka lahir, buku ini juga menjelaskan mengenai siapa sebenarnya keduanya yang di panggil anak dewa atau anak iblis itu. Aku sekarang sudah mengerti maksud perkataan Ayame yang bilang ingin menguasai jepang, Ayame dan Shizuka ingin membalas dendam setelah mengetahui kebenaran ini dan aku adalah penghalang bagi rencana mereka yang harus di lenyapkan karena tidak bisa di ajak kerjasama juga merupakan pewaris Odasiga, walau aku sekarang sudah berganti nama. Masalah ini lebih rumit daripada yang aku pikirkan sebelum nya yang awalnya aku pikir hanya masalah kecemburuan Ayame terhadap Hikari saja.


__ADS_2