
Tidak sampai 30 menit, aku sudah sampai di sebuah restoran Kumamoto dinner, ternyata rumah Daiki adalah sebuah restoran izakaya besar yang di kelola oleh orang tuanya. Hmm menarik juga, aku pikir mereka bermewah mewah tapi ternyata mereka hanya pemilik izakaya (restoran khas jepang yang menghidangkan sake dan bir, tamu mereka biasanya para pekerja kantoran untuk melepas lelah atau sekedar berkumpul dan bersosialisasi). “Sreeg.” Aku membuka pintunya dan membawa Daiki ke dalam, tentu saja dua orang pengawal ku ikut masuk ke dalam bersama Makoto. Kebetulan restoran sedang sepi,
“Ozzz.....” Teriak ku.
“Selamat datang......hei....” Ujar seorang ossan yang langsung keluar dari dapur.
“Oyaji....maaf...” Ujar Daiki.
“Bisa jelaskan ada apa ini ? siapa anda ? kenapa anak saya babak belur ?” Tanya ossan itu dengan wajah garang.
Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung memperkenalkan diri dan menceritakan semua perbuatan anak nya di bantu oleh Makoto. Aku langsung menembak ossan kalau anak nya mengincar adik ku, di tambah melemparkan meja ke istri ku yang sedang hamil dan tentunya aku minta kompensasi yaitu kepalanya dengan memasang wajah garang di hadapan nya. Langsung saja ossan menampar Daiki yang sedang berlutut di depan nya dan menghajarnya lagi dengan lutut nya sampai Daiki tersungkur jatuh.
“Maaf kan kebodohan anak ku ini bos. Tapi perbuatan anda sudah keterlaluan, anda tahu kan ini wilayah ku.” Ujar ossan yang bernama Kumamoto Ichigo itu dengan garang.
“Lalu ? mau apa ? masih untung anak mu tidak ku tenggelamkan.” Tanya ku dengan tidak kalah garang nya dengan ossan.
“Baik, tantangan bos ku jawab, hei Kozue, panggil semua kesini....” Teriak ossan kepada orang di dalam.
“Ah...maksud mu istri mu yang di dalam ossan ?” Aku menepuk tangan ku.
Seorang pengawal ku yang sudah berpakaian ninja masuk ke dalam dan menyilangkan katana nya di leher seorang obasan yang berambut pirang seperti preman. Ossan menoleh dan melihat istrinya sedang ku sandera, kemudian beberapa anak buah ku masuk ke dalam restoran membawa beberapa orang kepala geng yang sudah dalam keadaan babak belur ke dalam restoran.
“Okasan....” Ujar Daiki melihat ibu nya di sandera.
“Anak bodoh....” Balas ibunya.
“Oh ya ossan, kalau kamu mau satu lawan satu dengan ku ok, tapi kalau aku menang, aku minta kepala anak mu ini. Dan kalau kamu menang silahkan ambil kepalaku, bagaimana ?” Tantang ku sekalian.
Ossan hanya menunduk dan tangannya terlihat gemetar, dia menoleh melihat Daiki yang sudah babak belur dan langsung memukul nya. Aku duduk di sebuah kursi dan menyalakan rokok ku.
“Ah...kalau ossan yang membunuh dia dan kepalanya di serahkan pada ku boleh juga.” Ujar ku sambil menghisap rokok ku.
Tiba tiba ossan langsung berlutut di depan ku, dia menyembah di depan ku, obasan juga berontak dari pengawal ku dan langsung berlutut di sebelah ossan. Wuih mantap sekali rasanya, pemimpin geng paling ganas di kyoto, walau hanya mengandalkan otot tanpa otak tapi terkenal, bersujud menyembah di hadapan ku.
“Maafkan kebodohan anak ku bos, aku siap membayarnya.” Ujar ossan.
“Hmm....membayarnya ya ? sulit ossan, dia mengincar adik ku dan hampir mencelakai istri ku.....jari saja rasanya kurang, harus dengan kepalanya baru cukup.” Ujar ku.
Ossan dan obasan terdiam, mereka tidak bisa bicara apa apa hanya wajah geram nya saja yang terlihat sampai wajah nya menjadi merah padam.
“Oyaji....baba....maafkan aku.” Ujar Daiki.
__ADS_1
“Diam anak durhaka, tidak berguna....” Teriak obasan sambil melempar sendal kepada Daiki dan menangis.
“Baiklah, bawa dia keluar....langsung saja.....yang rapi....” Ujar ku kepada anak buah ku.
Anak buah ku mengangguk dan langsung mengangkat Daiki yang masih berlutut. Tentu saja Daiki berontak dan berusaha melawan, tapi anak buah ku tentunya dengan mudah menangani nya.
“Oh tunggu, potong dulu tangan nya di sini, supaya ossan dan obasan tahu keseriusan ku.”
Anak buah ku langsung mengangguk dan dengan cepat mencabut katana nya, kemudian memutuskan tangan sebelah Daiki.
“Aaaaaaa.......” Teriak Daiki mengerang kesakitan, dia langsung jatuh berlutut dan bersujud sambil memegang lengan nya yang terputus.
Aku mengangguk kepada anak buah ku dan dia langsung membuat Daiki berdiri dengan paksa. Tapi tiba tiba,
“Cukup bos, anak ku memang bodoh dan durhaka, tapi dia masih anak ku, begini saja bos, aku serahkan semuanya pada mu, aku punya tiga restoran di kyoto yang di jaga anak buahku, silahkan ambil semuanya. Asal lepaskan anak ku.” Ujar ossan.
“Hmm...begitu ya....tapi itu saja belum cukup, begini saja, ossan bekerja untuk ku dan melebur ke clan ku, maka hutang aku anggap lunas, tapi sekali berkhianat, aku berhak memusnahkan semuanya dan mengambil kepala anak mu, bagaimana ?” Tanya ku.
Ossan menoleh kepada obasan, mereka saling melihat dan akhirnya obasan mengangguk. Ossan langsung melihat ku lagi,
“Baiklah, aku akan masuk ke clan bos dan bersumpah setia kepada bos.” Ujar ossan.
“Ok, semua restoran yang kalian kelola menjadi milik ku dan pembagian kita 20% untuk ossan dan 80% untuk kita. Hei...panggil pengacara ke sini, sekarang.” Ujar ku kepada anak buah ku.
Ah dari tadi kek, kalau dia tidak melawan kan tangan si bego itu tidak perlu putus, tapi baguslah biar dia tahu rasa, tangan itu sudah kotor juga karena sering dia gunakan untuk berbuat hal hal maksiat. Hichan, dendam mu terbalas, sekarang kamu sudah bisa tenang hehe. Lega rasanya, aku masih mengingat rasa sakit Misaki waktu di perkosa oleh nya. Tapi sekarang melihat dia di depan ku berpelukan dengan orang tuanya, hatiku sedikit tidak tega. Ah jisan benar juga, sampai sekarang aku masih lemah, tapi tidak ada yang tahu, cukup aku saja yang merasakan nya. Aku tetap di restoran sambil minum bir menunggu pengacara datang ke sana. Sip sekarang aku punya modal 3 restoran di kyoto, perjalanan masih panjang, tujuan ku menguasai kyoto sebelum Ayame dan Shizuka masuk ke sini. Aku menoleh dan melihat Daiki sedang di perban oleh obasan.
“Hey, panggil ketiga anak buah mu yang tadi kesini sekarang.” Ujar ku
“Ba..baik bos....”
Anak buah ku memberikan handphone nya dan Daiki menyebutkan nomernya, kemudian ketika tersambung, anak buahku meletakkan handphone nya di telinga Daiki dan membiarkan Daiki yang bicara. Kenapa aku melakukan itu, karena ketiga orang itu sepertinya akan jadi sampah di masa depan, lebih baik di urus sekarang, sekaligus memberi peringatan kepada Daiki. Singkat cerita, ketiga anak buah nya datang lebih dulu dari pengacara, aku menyuruh mereka menunggu, wajah ketiga orang itu langsung pucat melihat keadaan Daiki.
“Aniki, kenapa kita di suruh kemari ?” Tanya seorang anak buah nya yang merupakan siswa kelas 3 sma di sekolah Touka.
Mendengar siswa itu bicara, aku mengangguk kepada anak buah ku dan dia langsung membawa nya keluar. Ketika kembali anak buahku membawa kantung penuh darah dan meletakkan nya di atas meja di depan dua sisanya yang langsung ketakutan.
“Hei, yang menyuruh kalian bicara dan bertanya siapa ? lihat, itu akibatnya jika bicara....sudah bawa keluar dan buang di sungai.” Ujar ku kepada keduanya sekaligus menyuruh anak buah ku.
Tak lama kemudian, pengacara datang, aku langsung minta dia membuatkan surat memakai laptop nya, berisi poin poin penting yang ku sepakati dengan ossan. Setelah surat jadi, aku minta ossan menandatangani nya dan aku juga mendandatangani nya. Setelah itu aku minta pengacara pergi dan di antar oleh seorang anak buah ku. Aku berdiri dan menghadapi kedua anak buah Daiki yang tersisa, aku menaikkan kaki di kursi dan melihat wajah mereka.
“Hei Makoto kun, kedua orang ini tukang bully di sekolah mu atau tidak ?” Tanya ku.
__ADS_1
“Wah ketuanya sudah di bunuh barusan, mereka sih hanya anak buah, tapi sama saja, keduanya tukang bully di sekolah. Banyak juga siswa kelas 1 yang tidak masuk sekolah gara gara ulah mereka, pria dan wanita.” Jawab Makoto.
“Hmmm...berarti percuma di biarkan hidup....”
Begitu mendengar kata kata ku, keduanya langsung menyembah kaki ku karena ketakutan. Dasar pengecut, baru di gertak sedikit saja sudah menciut seperti ini, tapi di sekolah jadi jagoan, hadeh.
“Ampun aniki...bos....aku anggota club judo dan akan bertanding di tingkat nasional.” Ujar seorang preman sekolah yang berbadan sedikit lebih besar dari sebelah nya.
“Hmm kapan tanding nya ?” Tanya ku.
“Minggu depan aniki...bos.....” Jawab nya.
“Ok, berarti minggu depan kamu tidak usah bertanding, tadi ku bilang kan, siapa yang menyuruh kalian bicara.....bawa....” Ujar ku.
“Aniki...bos...ampun...ampun.....aku punya masa depan.....” Ujar nya.
“Lalu yang selama ini kamu bully menurut mu tidak punya masa depan.....bawa.” Teriak ku.
Anak buah ku langsung membawa nya keluar walau dia berteriak sambil meronta ronta dan tentunya sama seperti tadi, tapi kali ini aku langsung menyuruhnya untuk mengurus nya dan jangan meninggalkan jejak. Tinggal seorang yang terlihat gemetar di depan ku. Aku memegang dagu nya dan memperhatikan wajah jelek nya yang menangis dan membuatnya lebih jelek. Mending yang tadi deh, tapi dia banyak mulut dan mau selamat sendiri, tidak boleh seperti itu kan. Tadinya aku mau minta yang terakhir ini untuk membantu menjaga Touka, tapi tidak jadi karena masalah tampang, dia masih bisa ku gunakan untuk yang lain. Tenang aku tidak segila itu, membunuh nya karena dia jelek haha. Tiba tiba, Daiki pingsan sepertinya dia kehilangan banyak darah, aku langsung meminta anak buah ku membawa nya kerumah sakit, doa ku semoga terlambat, maka semuanya selesai. Aku beranjak pergi dari restoran dan aku meminta satu anak buah ku mengikuti satu yang tersisa. Ketika aku sudah di jalan untuk pulang kerumah bersama Makoto, tiba tiba anak buah ku yang mengikuti siswa itu menelpon handphone ku.
“Bos, dia menelpon teman teman nya dan becerita macam macam...mau di bungkam ?” Tanya anak buah ku.
“Bungkam, cari tahu siapa yang dia telepon, kemudian bungkam juga....tidak ada kejadian apa apa malam ini.” Jawab ku.
“Siap bos, anggap saja sudah beres.” Ujar anak buah ku.
Aku menutup telepon nya dan bercerita kepada Makoto apa yang terjadi, Makoto menggelengkan kepala nya, kemudian dia bercerita kalau senpai itu memang suka mencari kesalahan orang lain dan kemudian memeras nya. Jadi bukan karena tampang nya jelek, melainkan karena kelakuan nya juga jelek dan dia pantas di eksekusi. Ya sudah lah, toh ketiganya akan jadi manusia sampah di masa depan kalau di biarkan hidup, jadi sekarang tidak ada korban lagi karena ulah mereka. Mobil menuju ke rumah ku, karena besok masih festival budaya, aku minta Makoto menginap saja di rumah ku dan dia menyetujui nya.
***
Tepat dua hari setelah festival budaya, sekolah mengumumkan kalau ketiga siswa senior kemarin meninggal dunia akibat perang geng dan jasad mereka baru di temukan. Daiki di sorot oleh polisi karena banyak saksi yang melihat, terakhir ketiganya terlihat bersama dengan nya waktu festival budaya. Tentu saja semua ulah Makoto yang merancang nya sehingga aku jauh dari tuduhan dan malah di anggap salah satu korban. Tapi karena Daiki masih belum sadarkan diri dirumah sakit, pihak kepolisian akan menunggu saat dia sadar baru mereka akan menanyai nya. Aku percaya, dengan adanya perjanjian yang di tandatangani ayahnya, Daiki tidak akan berani macam macam. Akhirnya beberapa hari kemudian, Daiki meninggal di rumah sakit dan tentu saja bukan ulah ku, sehingga kasus di tutup karena Daiki di tetapkan sebagai tersangka dan pelaku, akhir yang layak untuk penjahat seperti dirinya. Ossan dan obasan membayar ganti rugi kepada pihak keluarga ketiga siswa itu. Setelah itu, aku membeli beberapa tanah di seputar kota kyoto dan meminta ossan mengelolanya menjadi restoran untuk memperbesar jaringan sehingga bisa membetuk grup dengan brand sendiri. Ossan menyanggupi nya karena tidak punya pilihan lain, tentunya aku memberikan nya waktu untuk menangisi anak nya dan berduka. Aku tidak sekejam itu, pikir ku.
Sebulan berlalu, Touka bercerita kalau sekarang sekolah nya aman dan siswa siswa yang kemarin menolak masuk sudah mulai datang lagi ke sekolah. Syukurlah, artinya aku bisa menolong orang lain, walau menggunakan cara yang kejam. Aku mulai mendiskusikan pembukaan cabang dengan ossan dan ternyata selain restoran, ossan juga punya dua club malam khusus wanita. Aku minta dia mengelola semuanya dengan pembagian hasil seperti yang tertulis di perjanjian. Sementara ossan dan obasan bekerja keras untuk ku, aku mendampingi dan mengantar Hikari untuk memeriksakan kandungan nya ke dokter menggunakan mobil yang di kemudikan anak buah ku. Sesuatu terjadi, beberapa geng motor menghadang mobil ku.
“Ma kun, ada apa ?” Tanya Hikari.
“Tidak apa apa, aku turun sebentar.” Jawab ku.
“Hati hati Ma kun.” Balas Hikari.
“Iya, aku tahu..” Balas ku lagi.
__ADS_1
Aku turun dari mobil dan berhadapan dengan seorang pria berbadan besar yang sepertinya pemimpin geng motor yang menghadang jalan ku.
“Lalu apa mau kalian, kenapa berani berani menghadang jalan ku ?” Tanya ku kepada pria itu.