
" Mi? ini yang mau Mami jodohin ke aku?" tanya Aurora ragu-ragu.mukanya sudah bersemu merah tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan wajahnya tersebut
" iya sayang,gimana ganteng nggak?!" tanya Mami Zara
" Al, gimana kamu terima nggak perjodohannya ?!" tanya Ayah Deon kepada putra sulungnya tersebut
" hah aku ?!" sahut Al
" iyalah siapa lagi kalo bukan kamu, tukang sampah Deket rumah kita itu?!" kekeh Ayah Deon yang melihat putranya itu nampak salting
" kalo Al terserah Aurora-nya aja deh Yah!" ucap Al, entah kenapa saat ini mukanya memerah seperti menahan sesuatu
" huuffftt..maaf ya Arka, putraku memang gitu, kalo udah ngomong terserah itu tandanya mutlak dia nggak mau nolak ataupun menarik kata saktinya itu" ucap Ayah Deon yang berpura pura lesu, padahal menahan tawa
" Aurora gimana kamu mau nggak Nerima Al jadi suami kamu?!" tanya Bunda Rani yang geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan temannya itu
" kalo udah yang terbaik.." Aurora memotong ucapannya " bismillah insyaallah Aurora terima perjodohannya " ujar Aurora mantap
" kata siapa cuma dijodohin? Bentar lagi juga udah halal kok" sahut Mami Zara santai sambil memotong steak lalu memakannya
" apa!!" pekik Aurora terkejut
__ADS_1
sedangkan Al, ia hanya bisa memalingkan wajahnya yang sudah Semerah tomat, entah apa yang Al rasakan tapi yang pasti ia merasa bahagia setelah Mami Zara bilang begitu
' kenapa?! apa yang terjadi sama tubuhku kenapa rasanya aku ingin menolak, tapi hati dan pikiran ku berkata lain? apa ini yang disebut jatuh cinta?!' sama dengan Al, Aurora juga merasakan hal yang sama
" ide bagus Zara, jadi kita bisa cepet-cepet jadi besan punya cucu trus digendong, ditimang disayang!! aaaaa!! serunya bisa jadi besan sahabat sendiri, bentar lagi gendong cucu lagi!" heboh sendiri dengan khayalannya
hukk hukk
Al dan Aurora tersedak bersamaan dan mendengar penuturan Bunda Rani tentang cucu
" iyaa..walaupun nantinya mereka menikah diusia yang masih muda, mungkin kita juga harus mengerti Bu Rani, tidak mungkin bukan mereka akan punya anak diusia yang masih sangat muda?" ujar Papi Arka bijaksana yang dapat mengerti tentang kondisi Aurora dan juga Al
" Anda benar sekali tuan Arka, bagaimana jika kita menikahkan saja mereka,tapi merahasiakan pernikahan mereka hingga nanti lulus sekolah?!" tanya Bunda Rani yang setuju dengan ucapan Papi Arka
" heeeuumm...kamu bener juga, Aurora itu masih kecil masih polos "
" Tidak usah dengan Bodyguard! Rora nggak suka, lagian juga udah mau dijadiin istrinya masa nggak dijagain " ujar Aurora tentunya dengan nada pelan pada kalimat terakhir nya, tapi sayang Mami zara masih punya pendengaran yang cukup baik
" sayang kamu beneran mau terima lamarannya Al?!" tanya Mami Zara antusias
Aurora yang sadar dengan ucapannya hanya bisa membeku, ia melihat Al yang sudah memalingkan wajahnya kesamping dengan sangat dalam
__ADS_1
' apa Al nggak suka ya aku bilang gitu,' batin Aurora
' kenapa bisa Aurora bilang gitu didepan gue bikin gue nge blushing aja tau nggak sih' Al tetap memalingkan wajahnya yang sudah Semerah tomat
" jadi gimana Aurora kamu terima nggak nih ceritanya?!" tanya Bunda Rani
" Aurora terserah Al-nya aja deh Tan," ucap Aurora malu- malu
Aurora memanfaatkan kesempatan untuk membuat Al yang merasakan sendiri debaran hatinya saat ditanya hal yang hampir sama
" e-eh jangan panggil Tante dong, coba panggil Bunda aja" pinta Bunda Rani kepada Aurora
"gimana Al, Aurora bilang terserah aja lho" ucap Ayah Deon sambil menyindir Al
" kalo Al sih oke-oke aja Yah, tapi masih tanya pendapatnya Aurora kan dia yang bakal jadi pendampingnya Al " ujar Al yang santai
" gimana Aurora, kamu terima nggak lamarannya Al?!" tanya Mami Zara serius
Aurora kembali menatap serius Mami Zara dan Papi Arka lalu bergantian menatap Bunda Rani dan juga Ayah Deon
" insyaallah Aurora mau terima lamarannya" kalimat pendek yang Aurora ucapkan membuat Mami nya dan juga calon Mama mertuanya heboh sendiri
__ADS_1
" Alhamdulillah"
" Alhamdulillah akhirnya ada juga yang ngelamar Aurora setelah sekian lama"