Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 10. Syarat Terakhir


__ADS_3

8Agnes kini sudah berada di dalam mobil Halim, sementara Halim tampak mengendarai mobilnya meninggalkan area kampus itu.


Agnes hanya dia saja menatap Halim yang sedang berkendara, karena tadi tidak sempat minum, Agnes menarik air botol dari dashboard mobil Halim tapi tidak bisa membukanya.


"Sini!" Halim mengambil air botol itu kemudian melepas kedua tangannya dari setir sesaat untuk membuka botol itu. "Nih!"


Agnes mengambil botol air minum yang sudah terbuka itu dan mulai meminumnya, Halim menatap sekilas Agnes kemudian kembali mengalihkan perhatiannya saat Agnes balas menatapnya.


"Ada Papa sama Mama di rumah, tadi sewaktu nunggu kamu, Mama nelpon saya, jadi kita harus pulang ke rumah," ujar Halim yang membuat Agnes menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Halim, rumah Halim ini berlantai dua cukup besar untuk ditinggali dua orang, dengan nuansa putih tapi halamannya tidak cukup luas hanya untuk dua buah mobil.


Sesampainya mereka disana, memang sudah ada mobil yang Agnes sinyalir itu adalah mobil dari Mama Asna dan Papa Rinto.


Halim memarkirkan mobilnya di halaman rumah kemudian turun bersama Agnes, ternyata Mama Asna dan Papa Rinto berada di teras rumah karena rumah memang dalam keadaan terkunci.


"Assalamualaikum, Mama, Papa," Agnes berjalan menuju Mama Asna dan Papa Rinto kemudian menyalaminya. "Udah lama, maaf yah Mama sama Papa jadi nunggu deh."


"Gapapa sayang, Mama sama Papa juga baru sampai kok," jawab Mama Asna mengelus kepala Agnes.


Setelah menyalami kedua orang tuanya juga, Halim langsung membuka pintu rumah dengan kunci. "Ma, Pa, masuk sini."


Mama Asna dan Papa Rinto serta Agnes kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dimana mereka mengarah ke ruang tamu.

__ADS_1


"Aku buat Teh dulu yah," Agnes tersenyum kemudian berjalan ke arah dapur meninggalkan Papa Rinto dan Mama Asna disana.


Setelah ditinggal membuat teh oleh Agnes, Halim menatap dalam orang tuanya yang kini sama-sama sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Mama dan Papa tumben kesini, ada apa?" tanya Halim yang membuat Papa Rinto menyandarkan bahunya di punggung sofa.


"Jadi Papa dan Mama gak boleh kesini?" tanya Papa Rinto balik yang membuat Halim kikuk.


"Gak begitu Pa, tumben aja Mama sama Papa nemuin Halim," jawab Halim berusaha sopan.


"Papa kesini mau ngabarin soal harta warisan kamu, syarat menikah sudah kamu lakukan, jadi-"


"Halim bisa dapat warisan itu?" potong Halim yang membuat Papa Rinto menggeleng. "Terus?"


"Kalau orang tua bicara itu jangan dipotong Halim!" timpal Papa Rinto yang membuat Halim menunduk.


"M-maaf, Pa."


"Syarat kedua dan terakhir adalah, Harta Warisan kamu bisa kamu ambil ketika istri kamu hamil, tidak perlu sampai melahirkan asalkan ada kabar bahwa Mama dan Papa bakal dapat cucu aja itu udah bisa memenuhi syaratnya," jawab Papa Rinto yang membuat Halim mendelik tajam menatap kedua orang tuanya.


"T-tapi Pa, masa gitu sih?"


"Kalau kamu yaudah, Papa akan cabut saham di perusahaan kamu serta warisan keluarga akan Papa wakafkan saja," jawab Papa Rinto yang membuat Halim semakin tersudut.

__ADS_1


"Papa Curang, bisa ngancam," keluh Halim yang kini tengah misuh-misuh.


"Siapa suruh, kamu jadi anak," jawab Papa Rinto seolah meledek Halim.


Obrolan tentang warisan ini terhenti saat Agnes datang membawa teh dan beberapa cemilan ke ruang tamu.


Sementara itu di tempat lain Glenda tengah kesal bukan main dengan Halim dan Agnes sampai seseorang meneleponnya.


"Halo?"


"Mbak Glenda, saya mengetahui rahasia kamu, siapa kamu dan hubungan kamu dengan Halim, kalau kamu ingin semua ini akan, temuin saya di lokasi yang saya minta."


Tut!


"Halo!" Glenda tidak mendengar apa-apa lagi dari sambungan telepon itu.





Assalamualaikum

__ADS_1


Ayok Like dan Komen yang banyak yah!


__ADS_2