
"Mama mau kemana?" tanya Hadi kecil saat Bu Sinta meninggalkannya di pinggir jalan. "Mama, jangan tinggalin aku!"
"Diam! Kamu itu anak pembawa sial, Mama gak mau punya anak kayak kamu, Mama udah nikah lagi sama orang lain!"
Bu Sinta berjalan pergi menjauh setelah meninggalkan Hadi bersama si kembar Azio dan Aryo yang baru berusaha satu tahun, saat itu usia Hadi sudah sepuluh tahun, dia tidak tahu kenapa dirinya di tinggalkan begitu saja.
Semua bayangan itu masih membekas, teriakan Hadi yang memanggil nama Mamanya hanya mengambang di udara meninggalkan rasa sakit hati kala Hadi harus menerima fakta bahwa dia di buang.
Hadi kecil harus merasakan hidup di jalanan, dengan di bekali uang lima puluh ribu dengan dua adiknya, Hadi beruntung ada panti asuhan yang ingin merawat mereka bertiga.
Tapi kenangan tentang masa lalu kelam Hadi masih terus terbayang.
"MAMA!"
Hadi berteriak sembari terbangun dari tidurnya, dia baru saja merasakan mimpi buruk karena pertemuannya kembali dengan Bu Sinta.
Entah kenapa mimpi tentang masa lalunya kembali datang menghantui Hadi, Hadi melifik jam sudah jam lima subuh.
"Astagfirullah," Hadi mengucap istighfar dan segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Di dalam doanya terbersit sebuah tanda tanya di kepala Hadi. "Berdosakah Hamba karena membuat Ibu Kandung menderita?"
__ADS_1
•
•
•
Sudah semalaman Glenda dan Bu Sinta menginap di kantor polisi karena kasus mereka belum kunjung di proses tanpa adanya kehadiran dari pihak Agnes dan Halim.
Sebenarnya Hadi ingin menemui Agnes tapi akses diantara mereka cukup sulit apalagi Halim sekarang masih melakukan perawatan.
Karena luka tusukan itu membuat luka yang lebar di perut Halim dan alhasil Halim mendapat banyak jahitan disana.
Sesampainya di kantor polisi, Hadi langsung mengarahkan anggotanya untuk menyiapkan ruangan interogasi.
"Kali ini saya ingin bicara berempat dengan Bu Sinta, saya dan dua orang pelapor kasus ini yaitu Azio dan Aryo, siapkan ruangannya segera," perintah Hadi yang langsung di laksanakan anggotanya.
Disaat anggotanya mempersiapkan ruangan untuk mengintrogasi Bu Sinta, Azio dan Aryo yang Baru saja datang langsung menghampiri kakak mereka.
"Assalamualaikum, Bang," ujar Azio duduk di kursi yang ada di hadapan Hadi sedangkan Aryo memilih menyandarkan dirinya di tembok. "Bagaimana, Bang?"
"Ruang interogasi sedang di persiapkan, mungkin sebentar lagi," jawab Hadi yang kemudian melirik Aryo. "Dek, kamu kenapa?"
__ADS_1
Aryo yang dimaksud oleh Hadi hanya menghela napas panjang kemudian duduk di kursi yang ada di samping Azio.
"Apa harus menemui wanita gila itu?" jawab Aryo yang membuat Azio dan Hadi saling menatap.
Azio dan Hadi tidak berhak menghakimi perilaku Aryo kepada Bu Sinta karena memang rasa sakit hati sudah tersimpan dari lama terlebih Aryo adalah orang yang temperamental berbeda dengan kedua kakaknya yang bisa mengontrol situasi dan perasaan mereka.
Tak lama kemudian anggota Hadi tadi datang menemui Hadi dan mengabarkan bahwa Bu Sinta sudah berada di ruangan interogasi.
Hadi menatap Azio dan Aryo bergantian, mereka berdua kemudian berjalan mengikuti Hadi menuju ruangan tersebut, sesampainya di ruangan itu Hadi langsung duduk di kursi sedangkan Azio dan Aryo di kiri kanannya.
•
•
•
Hadi, Aryo, Azio dan Agnes adalah sebuah kisah kelam dari kejamnya ibu kandung, tidak hanya di dunia novel, author jujur menulis ini menilik berita yang sedang berlaku belakangan.
Jangan sia-siakan anak, karena sesungguhnya dia adalah titipan yang paling berharga, mana kala suatu saat nanti anak itu yang akan menjadi hal yang paling bisa di banggakan.
Jangan Lupa Like dan Komen.
__ADS_1