
Azio dan Halim saling melempar tatapan, kini Halim merasa bahwa Azio tidak sekedar menempatkan dirinya sebagai dosen saja, dia pasti memiliki something tertentu terhadap istrinya.
"Nes, kamu masih ada kelas?" tanya Halim pada Agnes yang baru saja selesai makan.
Agnes menatap Halim kemudian menganggukkan kepalanya. "Gaada, rencana aku nunggu temen aku buat numpang sama dia pulang."
"Pulang sama saya aja, ayok!" jawab Halim menarik tangan Agnes seolah ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Azio yang melihat itu hanya mengerutkan dahinya. "Kenapa buru-buru?"
"Saya ada urusan penting," jawab Halim ketus.
Agnes menahan Halim sejenak yang sudah buru-buru menariknya dari sana. "Mas tunggu, aku ambil tas dulu."
Karena sudah tidak sabaran, Halim malah langsung mengambil tas Agnes dan menggendong Agnes pergi dari sana.
"Eh Mas! Gak enak di lihat orang, Pak Azio, aku duluan yah Pak, Assalamualaikum," ujar Agnes yang membuat Azio mengangguk.
Disaat Halim berjalan didepan Azio, Halim dengan sengaja mendelik tajam kepada Azio. "Assalamualaikum, Pak Dosen!"
Halim menggendong keluar Agnes dari ruangan kelasnya menuju koridor kampus, sesampainya disana Halim langsung menurunkan Agnes disana.
__ADS_1
"Mas, ada apa sih, kok buru-buru banget?" tanya Agnes saat ia sudah diturunkan oleh Halim.
"Gapapa," jawab Halim singkat.
"Mas Halim, gak cemburu kan sama Pak Azio?" goda Agnes yang membuat Halim mendelik kesal.
"Saya tunggu di mobil! Itupun kalau kamu mau sekalian saya antar pulang," jawab Halim menurunkan tas Agnes yang dia bawa di punggungnya kemudian berjalan menuju mobil meninggalkan Agnes di koridor itu.
Agnes hanya berdiri sambil tersenyum melihat kepergian Halim yang berjalan menuju mobilnya, disaat Agnes ingin menyusul Halim, tiba-tiba sebuah tangan menangkap pergerakannya yang membuat Agnes tidak bisa bergerak.
"Mbak Glenda?" ujar Agnes yang membuat Glenda menatapnya tajam.
"Kamu sengaja kan! Emang dasar kamu yah perebut pacar orang, puas kamu udah bikin Mas Halim simpati sama kamu, ini kan yang kamu mau?" tanya Glenda dengan perasaan kesal bukan main.
"Udah deh! Gak usah munafik dasar cewek ganjen!" Glenda mendorong Agnes sehingga membuat Agnes terjatuh dari sana.
Dan dengan kebetulan Halim ada disana berniat kembali kepada Agnes yang tidak kunjung menyusul ke mobil.
"Glenda!" Halim segera berlari ke arah Agnes dan membantu Agnes berdiri. "Apa-apaan sih, kamu! Kamu ngapain disini?"
Glenda merapatkan kedua tangannya kemudian menarik tangan Halim. "Gak usah tolongin dia Mas!"
__ADS_1
Halim segera melepas pegangan tangan Glenda dan kembali membantu Agnes. "Kamu jangan anarkis dong, saya tahu kamu cemburu tapi Agnes juga istri saya."
"Oh Istri! Bukannya perjanjiannya Agnes itu cuma istri kontrak yah! Ingat yah Mas, yang nyelamatin nyawa kamu setahun yang lalu itu aku, bukan Agnes!" jawab Glenda.
"Itu terus yang kamu bahas, kamu ikhlas gak sih nolongin saya waktu itu!" ujar Halim yang membuat Glenda menatap kesal.
"Udahlah!" Glenda berjalan meninggalkan mereka berdua yang ada di koridor kampus.
"Mas, Mbak Glenda marah loh, lebih baik Mas kejar dia," saran Agnes yang tidak di dengarkan Halim.
Halim tidak menjawab dia hanya membantu Agnes masuk ke mobil kemudian mengantarnya pulang ke rumah.
•
•
•
Ada yang makin dekat nih?
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Ayok dong komen yang banyak biar semangat update~