
Glenda mengangkat kepalanya dan kembali menutup wajahnya saat mengetahui itu adalah Agnes, baru tiga Minggu pasca kebangkrutan usahanya dia sudah menjadi begini.
Warga yang masih menghakimi Glenda semakin brutal yang membuat Agnes menghentikan reaksi mereka.
"Pak! Bu! Tenang-tenang ini kakak saya, memang dia mencuri apa biar saya yang ganti," ujar Agnes mengangkat tangannya sehingga membuat para warga berhenti.
Pemilik toko yang di tempati Glenda mencuri kemudian berjalan menghampiri Agnes. "Dia ngambil roti."
Agnes meminta agar pemilik toko itu menunggu sebentar sembari Agnes merogoh tasnya mengambil uang lima puluh ribu dan memberikan kepada pemilik toko.
"Ini yah, Bu."
"Makasih yah neng, jagain kakaknya jangan mencuri lagi," jawab pemilik toko yang membuat Agnes menganggukkan kepalanya.
Agnes kemudian meminta warga lain bubar dan Agnes segera membantu Glenda berdiri dan membawanya masuk ke taksi.
"Mbak Glenda kenapa? Kok bisa jadi gini?" tanya Agnes menatap iba kakak tirinya itu.
__ADS_1
Glenda menundukkan kepalanya, rambut yang dulu halus berkilau dan halus itu tampak kusut dan menutupi wajahnya.
Bahu Glenda bergetar menahan tangis, dia malu kepada Agnes yang sudah menolongnya, Agnes yang melihat itu meraih tahgan Glenda.
"Mbak Glenda kenapa? Mama dimana?" tanya Agnes sekali lagi.
Glenda mengangkat kepalanya dan menatap Agnes. "Nes, m-maafin Mbak yah, maafin Mbak banyak salah sama kamu, mungkin ini benar balasan atas perbuatan Mbak."
Agnes yang melihat itu hanya menatap sedih Glenda kemudian memeluk kakak tirinya. "Kalau Mbak, butuh apa-apa, Mbak bisa cari aku."
Glenda semakin malu oleh Agnes sampai tak sadar dia kembali merasakan sakit di dadanya yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Agnes meminta kepada sopir tersebut yang membuat sang sopir mengganggukkan kepalanya dan membawa arah mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Glenda langsung di tangani dan ternyata dia mengalami serangan jantung ringan, Agnes yang mengetahui itu semakin Iba kepada nasib Glenda.
"Mbak Glenda sebenarnya sudah menderita jantung koroner mungkin karena pekerjaan berat makanya tadi mengalami serangan jantung ringan, Mbak Glenda sudah boleh langsung pulang."
__ADS_1
Agnes hanya diam sendiri mendengar kalimat itu, Agnes kemudian keluar dari ruangan itu setelah mendengarkan itu, tak lama kemudian Halim datang dengan panik menemui Agnes.
"Assalamualaikum, sayang kamu gak kenapa-napa, tadi kamu telpon kamu di rumah sakit, Mas khawatir jadinya," ujar Halim menangkup wajah Agnes dan memeluk istrinya itu. "Kamu bikin panik!"
"Waalakumsalam, maaf Mas," jawab Agnes saat Halim melepaskan pelukannya. "Sebenarnya yang masuk rumah sakit itu, Mbak Glenda."
"Glenda? Dia kenapa? Udahlah biarin aja," jawab Halim beralih duduk di kursi yang ada di koridor. "Gak usah peduliin, dia."
"Mas ih! Gak baik ngomong gitu, dia kasian tahu Mas, dia kena jantung koroner sekarang, dan udah gak punya rumah lagi, Mas ada apartemen kosong kan, bantuin yah Mas," ujar Agnes menghampiri suaminya dan meraih tangannya. "Mau bagaimanapun, Mbak Glenda itu saudara tiri aku."
Halim menghela napas panjang. "Ada sih ada tapi buat apa bantuin dia, gak usah! Ini tuh balasan buat dia biar ada efek jera."
"Mas, gak boleh gitu, mungkin aja Mbak Glenda bisa berubah, mas ingat kan? Kita tidak bisa mengubah hati manusia tapi kita bisa membantunya untuk berubah, lagipula sapa tahu kalau Mas bantuin Mbak Glenda, aku bisa cepat hamil kan? Katanya Mas pengen punya anak," jawab Agnes yang membuat Halim diam.
Kalau sudah menyangkut Agnes, Halim menolak saja dia tidak mampu, tapi di hati Halim tidak begitu ikhlas membantu Glenda.
•
__ADS_1
•
•