
."Nes, kamu bikin harga murah begini, emang kamu untung?" tanya Glenda yang sedang menyusun minuman di meja restoran.
Sudah seminggu berlalu dan kini adalah hari launching restoran milik Agnes yang akan di bantu di kelola oleh Glenda.
"Untungnya dari Allah Mbak, kan niatnya ibadah, insha Allah berkah," jawab Agnes duduk di kursi yang ada disana.
Glenda tersenyum kemudian berjalan ke arah Agnes dan memeluk Agnes dari samping. "Mbak bangga deh sama kamu, kamu selalu memikirkan orang lain."
"Soalnya aku tahu Mbak, gimana rasanya kesusahan makan, yaudah yuk kita siapin lagi, nanti tamu launching keburu datang," jawab Agnes yang membuat Glenda mengangguk.
Mereka mempersiapkan launching kali ini hanya berdua dikarenakan Agnes belum membuka lowongan pekerjaan dan rencana akan membuka setelah launching.
"Assalamualaikum," suara beberapa pria datang membuka pintu restoran mereka.
"Waalakumsalam," jawab Agnes dan Glenda berbarengan.
Itu adalah Halim, Hadi, Azio dan Aryo, Agnes yang melihat kedatangan suami dan kakak-kakaknya beranjak menghampiri mereka semua.
"Udah datang, nih belum selesai," jawab Agnes.
"Gapapa dong, kan bisa sekalian kita bantuin," jawab Aryo pada Agnes. "Kita harus ngelakuin apa nih?"
Agnes tersenyum dan berpikir sejenak. "Bang Aryo dan Azio nyusun meja dan kursi aja di luar gimana?"
"Boleh," Aryo berjalan keluar dengan membawa Azio turut serta bersamanya meninggalkan Halim dan Hadi.
"Kalau bang Hadi bantuin Mbak Glenda aja," jawab Agnes kembali yang membuat Hadi mendelik.
__ADS_1
"Glenda?"
"Iya, itu lagi nyusun minuman," jawab Agnes menunjuk Glenda yang memakai hijab berwarna blush saat itu.
"I-itu Glenda?"
Agnes menganggukkan kepalanya. "Kalau Mas Halim, bantuin aku di belakang."
Halim mengangguk kemudian berjalan dengan tangan ditarik oleh Agnes mengikuti Agnes menuju dapur.
Sementara Hadi, dia masih terdiam di tempatnya sebelum berjalan ke arah Glenda.
"Glenda?"
Glenda yang tengah menyusun minuman di meja membalikkan badannya dan menatap Hadi. "Bang Hadi, Assalamualaikum Bang."
"Ehm-" Hadi menggantung kalimatnya. "Waalakumsalam."
Hadi terdiam sejenak sebelum dia kembali fokus dan menatap wajah Glenda dalam.
"G-gak Nda, Abang ambil cuti sehari mau hadirin launching ini," jawab Hadi yang membuat Glenda mengangguk.
"Oh, yaudah Bang, aku ke belakang dulu yah, ngambil minuman lagi, buat di susun di meja yang ada di luar," Glenda hendak berjalan menuju dapur tapi Hadi langsung menarik tangannya.
Glenda yang merasa di tarik sontak melepas tangan Hadi dan mengusap tangannya. "M-Maaf Bang, gak baik di liat orang."
Hadi menyugar rambutnya sesaat. "M-Maaf, Abang mau bantuin kamu boleh?"
__ADS_1
"Boleh," jawab Glenda mengajak Hadi menuju dapur.
Hadi berjalan pelan di belakang Glenda, matanya terpikat oleh keanggunan yang ada di hadapannya. "Cantik."
"Iya, Bang?" Glenda menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kepada Hadi.
"J-jalan aja Glenda," jawab Hadi yang membuat Glenda tidak ambil pusing.
Glenda berjalan masuk ke dapur di susul oleh Hadi dan syukurnya ada Agnes dan Halim disana jadi Hadi dan Glenda tidak perlu berduaan.
•
•
•
Krit!
Suara ban mobil berdecit tak jauh dari restoran milik Agnes, seorang wanita berambut panjang coklat keluar dari sana dan berdiri menatap jauh.
"Halim, aku kangen sama kamu, udah lima tahun lamanya kita gak ketemu, terakhir denger kabar kamu, kamu pacaran sama Glenda, aku gak akan terima itu Halim, soalnya cinta pertama kamu itu aku, dan aku akan merebut kamu sekarang."
Wanita itu tampak berbicara sendiri menatap foto Halim yang ada di layar ponselnya.
•
•
__ADS_1
•
Assalamualaikum