
"Mas, aduh perut aku sakit," ujar Agnes yang membuat Halim membalikkan badannya kepada Agnes.
Halim tengah fokus kepada laptopnya sendiri karena memang dia mengambil sistem kerja di rumah dikarenakan kondisi Agnes yang bisa saja melahirkan mendadak.
"Kamu mau lahiran?" Halim segera berlari ke arah Agnes yang duduk di sofa, bisa Halim lihat sebuah cairan membasahi kaki Agnes yang berarti ketuban Agnes sudah pecah.
Halim langsung menggendong Agnes keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, hari sudah malam karena mereka baru saja menunaikan sholat isya.
Jalanan di kota juga sudah senggang tidak semacet saat sore yang dimana waktu itu adalah waktu pulang, sehingga membuat proses Agnes dan Halim ke rumah sakit sedikit lebih cepat.
Sesampainya di rumah sakit, Agnes langsung di bawa ke ruangan bersalin sedangkan Halim di perbolehkan mendampingi Agnes.
Setibanya di ruangan bersalin, dokter kemudian mulai menangani Agnes yang sudah pecah.
"Ini baru pembukaan keempat pak, dikarenakan air ketuban Bu Agnes sudah pecah," jawab dokter tersebut yang sudah mengecek kondisi jalan lahir bayi mereka.
"Proses sampai melahirkannya berapa lama dok?"
"Untuk kehamilan pertama biasanya sepuluh sampai dua puluh empat jam, tapi Bu Agnes tergolong cepat kok, semoga malam ini bisa sampai ke pembukaan sepuluh."
Agnes tampak menahan sakit di perutnya, karena memang belum waktunya lahir, tak lama kemudian Hadi dan Glenda datang kesana.
"Kondisi Agnes, bagaimana?" tanya Hadi pada Halim yang sedang mengelus kepala Agnes.
__ADS_1
"Baru pembukaan keempat Bang," jawab Halim.
"Gak bisa langsung keluar gitu?"
Mendengar pertanyaan sang suami membuat Glenda mencubit pinggang Hadi dan mengodenya. "Gak bisa Bang, emang ini kayak di novel-novel begitu melahirkan langsung keluar, harus ada proses dan pembukaannya dulu."
Hadi mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Glenda.
•
•
•
Halim tengah membaca Al Qur'an di samping Agnes, berharap Allah memudahkan proses lahir anak pertamanya sementara Hadi dan Glenda berada di sofa ruangan itu tertidur menemani Halim menjaga Agnes.
Tak berselang lama, Agnes merasakan kontraksi lagi di perutnya, yang membuat Halim sigap memanggil dokter, dokter yang pertama menangani Agnes sudah pulang sehingga ada dokter lain.
Dokter tersebut memeriksa Agnes dan menjelaskan bahwa sudah mencapai pembukaan sepuluh, ini tergolong cepat karena biasanya pada kehamilan pertama kali, pembukaan empat sampai sepuluh bisa sampai berhari-hari.
Setelah mengetahui Agnes siap melahirkan, dokter tersebut kemudian memanggil suster yang mendapat shift jaga disana untuk membantunya.
Halim membangunkan Hadi dan Glenda dimana Hadi dan Glenda langsung ikut mendampingi proses kelahiran anak pertama Halim dan Agnes.
__ADS_1
Cukup lama, Halim dirundung rasa panik, menanti kelahiran buah hati dimana nyawa sang ibu dipertaruhkan.
Dari sini Halim sadar mengapa Rasulullah pernah mengatakan, Ibumu, Ibumu, Ibumu baru ayahmu karena seorang ibu bertaruh nyawa saat akan melahirkan.
Tak lama kemudian, terdengar suara bayi lelaki dimana itu tanda kelahiran anak Agnes dan Halim.
"Alhamdulillah."
Sontak mereka semua mengucap syukur, suster yang ada disana kemudian langsung membawa bayi itu untuk dimandikan dan dibersihkan, setelah selesai suster tersebut kembali ke ruangan bersalin.
"Silakan, diazani," ucap Dokter yang menangani Agnes.
Halim menerima anaknya ke dalam gendongannya, dia tidak menyangka kini dia sudah benar-benar memiliki anak dari Agnes.
Halim mulai mengazaninnya dan memberikannya nama yang bagus.
"Namanya adalah Ardanu Halim Artonegoro, panggil dia Danu," ujar Halim menidurkan putranya di samping Agnes.
Suasana dini hari penuh haru dan bahagia disambut azan subuh yang berkumandang.
•
•
__ADS_1
•
TBC