Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 23. Ruang Interogasi


__ADS_3

"Selamat siang, Bu Sinta, saya hanya ingin bertanya beberapa hal untuk kelanjutan kasus Ibu, apakah ada motif tersendiri dari tindakan Ibu ini?" tanya Hadi yang membuat Bu Sinta hanya mendengus.


"Terserah saya, lagipula Agnes itu anak saya, saya ibunya jadi terserah saya," jawab Bu Sinta dengan angkuh.


Hadi menghela napas panjang. "Justru itu Bu, karena Agnes ini anak kandung ibu, kenapa ibu tega melakukan ini?"


"Bagi saya yah, anak kandung itu pembawa sial, saya dulu punya tiga anak pembawa sial semua, saya gak peduli, mau di hukum gimanapun, emang Agnes berani lihat saya di penjara, mau durhaka dia!" Bu Sinta mengoceh yang membuat Aryo mengeramkan giginya.


Hadi yang mendengar itu sedikit emosional. "Tiga anak Ibu? Ibu tahu apa alasan ibu menelantarkannya?"


"Sudah saya bilang mereka tuh pembawa sial, saya cuma sayang sama Glenda, anak tiri saya karena semenjak menikah dengan ayah Glenda, saya jadi kaya, beda dengan ayah dari tiga anak saya dulu dan ayah Agnes juga, semuanya miskin dan gak berguna," jelas Bu Sinta semakin menjadi-jadi.


Bahu Aryo bergetar dia emosi bukan main, Azio menahan tangan adiknya kemudian menggelengkan kepalanya memberi isyarat bahwa dia tidak perlu melakukan apa-apa.


Hadi sendiri, kini air matanya jatuh setetes di wajah tegasnya, dengan getir dia mengucapkan lagi pertanyaan lain. "Apa ibu tidak memikirkan nasib mereka setelah ibu telantarkan?"


"Saya tidak peduli, lagipula apa urusan kalian menanyakan ini semua kepada saya? Saya gak peduli sama mereka yang sudah saya buang, mereka hanya sampah pembawa sial dan benalu!"


Getir dada Hadi mendengar ucapan itu dari ibu kandungnya sendiri, sakit yang membekas lama kini terluka kembali, betapa hancurnya hati seorang anak dikala ibu kandung sendiri yang tidak mengakui.


"K-kalau ketiga anak ibu masih hidup bagaimana?"

__ADS_1


"Mau mereka mati! Mau mereka hidup, bukan urusan saya!"


BRAK!


Aryo yang sudah kepalang kesal dengan ucapan Bu Sinta menggebrak meja dengan begitu kerasnya sehingga membuat Bu Sinta terlonjak kaget.


"Wanita sialan! Jika bisa memilih tidak ada yang ingin terlahir dari rahimmu!" bentak Aryo emosional.


"Jaga ucapan kamu yah!" balas Bu Sinta ikut berteriak.


Walaupun sudah dalam keadaan buta tetapi Bu Sinta masih dengan sikap angkuh dan sombongnya yang membuat siapapun kesal kepadanya.


"Dasar wanita sialan!" Aryo mengambil vas bunga dan melemparkannya ke arah Bu Sinta.


Vas bunga itu tidak jadi mengenai Bu Sinta karena Hadi sudah menahannya duluan sehingga Vas itu mengenai badan Hadi.


"ARYO!" Azio berusaha menegur tapi Aryo memberontak.


"Kenapa Bang! Ibu kandung macam apa dia! Tidak tahu diri dan tidak tahu di untung, seharusnya dia ku tabrak saja sampai mati kemarin!" teriak Aryo yang membuat Bu Sinta mendelik.


"Istighfar Aryo! Istighfar!" Azio menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Belasan tahun kita sabar, ini saatnya dia tahu bahwa anak yang dia sia-siakan itu sebenarnya mengharapkan kasih sayangnya tapi dia malah seolah menolak, kalau aku ingin memilih, haram rasanya aku ingin terlahir dari rahim dia! Cuih!" kesal Aryo.


"ARYO! SUDAH!"


Kali ini Hadi yang berteriak lantang, Aryo diam karena Aryo tahu, Hadi tidak pernah bersikap keras maka jika Hadi sudah begini berarti ada yang salah dan harusnya Aryo hentikan.


"Kalian bertiga anak saya?"


Hadi diam. "Iya Bu, saya Hadi dan ini Azio dan Aryo yang bersama saya."


"Masih hidup kalian? Asal kalian tahu yah kalian itu anak haram!" teriak Bu Sinta tanpa dosa.





Ada apa gerangan


Aku lagi sakit guys demam tinggi banget~

__ADS_1


Tapi ITS oke aku bakal update trus, kirim semangatnya lewat komentar dan like yah~


Assalamualaikum.


__ADS_2