
"Sudah Bu, saya sudah cukup mendengar ini, saya tidak ingin nantinya menjadi anak durhaka," Hadi meraih Bu Sinta kemudian mengenggam tangannya.
Bu Sinta yang merasakan genggaman tangan itu melepaskannya namun Hadi masih berusaha untuk sabar.
"Kalau kamu tidak mau menjadi anak durhaka, cabut tuntutan saya," jawab Bu Sinta yang membuat Hadi hanya melempar senyuman pahit.
"Hukum biarlah tetap Hukum, jangan sampai ada Haq dan Bathil di dalam Hukum itu," jawab Hadi memanggil anggotanya. "Bawa Bu Sinta kembali ke sel tahanan."
Ditengah situasi seperti ini, Hadi masih berkata lembut padahal luka lamanya baru saja terbuka, Hadi hanya bisa memendam semua perasaannya di dalam kesabaran.
"Abang! Abang gak usah ngajarin sabar sama dia, kesabaran itu ada batasnya!" teriak Aryo yang sudah mulai tenang.
Hadi berjalan ke arah Aryo dan memegang kedua pundaknya sembari tersenyum, tampak bersih wajahnya tidak tersimpan satupun rasa dendam.
"Bukanlah sabar kalau kesabaran itu ada batasnya dek," jawab Hadi kemudian kembali duduk di kursinya. "Tidak semua Figure seorang ibu itu sama, terkadang ada Figure yang tidak seperti kita harapkan."
Azio duduk di meja yang ada di hadapan Hadi sedangkan Aryo dia masih bersandar ditembok mengatur napasnya.
"Sewaktu kecil kita bermimpi memiliki Figure seorang ibu yang penyayang dan sebaik Figure ibu yang kita lihat di tv, tapi kembali lagi tidak semua Figure itu sama, ini adalah skenario kehidupan dan kita tidak boleh menyalahinya," lanjut Hadi melepas kacamatanya.
"Skenario dari Allah tuh gak selamanya baik," timpal Aryo kesal.
__ADS_1
"Skenario dari Allah itu adalah skenario terindah dari kehidupan, biarkan orang lain ingin berkata apa, anggap mereka penilai karena kitalah pemerannya," jawab Hadi memberikan pemahaman. "Ada sembilan puluh sembilan persen Figure ibu yang baik tapi hanya ada satu persen yang tidaklah sesuai harapan, anggap saja kita kebagian satu persen itu."
"Aku rasa semua ibu sama aja!"
"Affa Iyah?" timpal Azio yang membuat Hadi tertawa pelan. "Bercanda."
"Gak lucu," geram Aryo merasa kesal.
"Aryo, Aryo dari dulu kamu memang tidak berubah, jangan karena satu Figure membuat kesalahan berarti kita boleh menyamaratakan Figure itu, kalau Semua ibu sama aja berarti ibu panti dulu itu kayak Bu Sinta dong, Gak kan?"
Aryo terdiam, perkataan Hadi ada benarnya, Azio hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan kakak tertua mereka.
"Sudahlah, bagaimanapun Bu Sinta biarlah, sekarang kita hanya perlu menjelaskan kepada Agnes semua cerita kita," jawab Hadi kemudian berjalan pergi dari ruangan itu meninggalkan Azio dan Aryo.
"Pokoknya aku mau nikah sama Mas Zulfikar aja, Mas udah miskin semenjak perusahaan Mas bangkrut, udah sakit-sakitan, yang mau biayain Hadi, Azio dan Aryo siapa?"
Setidaknya begitulah kalimat yang Hadi dengar beberapa tahun lalu dari Bu Sinta kepada ayahnya sebelum akhirnya kebesokan harinya Ayahnya meninggal karena penyakitnya.
Hadi larut dalam pikiran masa lalunya, dimana terjadi pertengkaran hebat karena ayahnya jatuh miskin sehingga membuat Bu Sinta menganggap Azio dan Aryo adalah anak pembawa sial.
Sebenarnya Hadi tidak turut akan dibuang oleh Bu Sinta setelah ayah mereka meninggal tapi Bu Sinta berubah pikiran karena ada alasan lain yaitu Bu Sinta hamil diluar nikah dengan ayah Hadi sehingga Hadi di cap anak haram.
__ADS_1
Setelah membuat Hadi dan kedua adiknya, saat Hadi duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas dia mengetahui bahwa Bu Sinta sudah menikah lagi dengan Pak Zulfikar seorang pengusaha dan memiliki seorang anak perempuan yang berusia dua tahun.
Tapi setelah Hadi menyelesaikan akademi kepolisiannya, Hadi harus dipindah tugaskan ke luar kota sehingga dia tidak bisa memantau Bu Sinta lagi.
Beberapa tahun kemudian, Hadi kembali ke kota kelahirannya bertepatan dengan wisuda dari Azio yang sukses menjadi seorang dosen muda.
Dan disitulah Hadi kembali memantau ibu Sinta yang anak perempuannya yaitu Agnes sudah menginjak kelas dua SMA, disaat itu juga Hadi tahu kalau Pak Zulfikar sudah jatuh miskin dan Bu Sinta menikah lagi dengan ayah mantan kekasih Hadi, yaitu ayah Glenda.
Butuh beberapa tahun lagi sampai akhirnya, Hadi dipertemukan dengan Bu Sinta, bukan Hadi tidak ingin menolong Agnes sewaktu ditinggal Bu Sinta, tapi saat itu Agnes masih memiliki ayahnya dan barulah saat Hadi tahu bahwa ayah Agnes sudah meninggal, Hadi meminta Aryo dan Azio untuk memantau Agnes.
Tapi Hadi tidak pernah menjelaskan apa alasan dari ibu mereka meninggalkan mereka kepada Azio ataupun Aryo.
"Haruskah aku jujur sekarang?"
•
•
•
Babay dan Jangan Lupa Like serta Komen!
__ADS_1
Assalamualaikum