
Acara launching restoran Agnes pun di mulai, setelah persiapan selesai para tamu undangan pun datang, diantara mereka adalah teman-teman kuliah Agnes dan rombongan dari panti asuhan yang ada di kota itu.
Agnes tampak sibuk melayani para tamu undangannya, setelah pembukaan oleh pembacaan doa dan santunan kepada anak yatim.
Inilah saatnya mereka semua mencicipi masakan yang ada di restoran itu, semua masakan disini adalah pure buatan Agnes dan Glenda selaku pengelola restoran.
Semua tamu undangan tampak memakan makanan mereka, di salah satu meja, Aryo, Azio, Halim dan Hadi tampak berkumpul disana.
Dikarenakan hampir seluruh area indoor full oleh tamu undangan jadi beberapa tamu termasuk, Aryo, Azio, Halim dan Hadi duduk di meja yang ada di outdoor.
"Nih dessertnya, cobain deh," ujar Glenda datang bersama Agnes membawa dessert dan minuman.
Aryo nampak menatap makanan itu curiga dan berbalik menatap Glenda. "Ini, gak kamu kasih racun kan?"
Mendengar itu membuat Hadi menarik telinga Aryo yang membuat Aryo mengadu. "Sembarangan, kalau kamu gak mau makan yaudah.'
Hadi meraih sepiring dessert buatan Glenda dan memakannya. "Enak, kok, Lim, Azio, cobain deh."
Halim hendak meraih piring berisi dessert itu tapi ditahan oleh Glenda yang langsung menariknya. "Mas Halim gak boleh makan, nanti Agnes marah."
__ADS_1
"Marah?" tanya Halim beralih menatap Agnes di samping Glenda. "Kenapa?"
"Itu manis Mas, Mas kan ada riwayat diabetes, dijaga yah pola makannya," jawab Agnes yang membuat Glenda mengangguk setuju.
Halim menyerah, kalau sudah begini dia tidak bisa membantah lagi, Azio sendiri langsung memakan dessert itu.
"Enak banget, Mbak Glenda kalau masak juara deh," jawab Azio menikmati dessert itu.
Glenda tersenyum merasa senang atas pujian itu, tak lama kemudian Agnes harus kembali lagi melayani beberapa tamu disana.
Disaat Glenda hendak pergi, sesuatu mengalihkan perhatiannya, seorang wanita yang tidak asing bagi Glenda tampak berdiri tak jauh dari sana.
"Bang Hadi, bisa temenin Glenda bentar gak?" ujar Glenda pada Hadi.
Glenda kemudian berjalan ke arah wanita itu disusul oleh Hadi dibelakangnya, sesampainya di tempat wanita tersebut Glenda semakin yakin bahwa ini adalah sebuah ancaman.
"Oca? Kamu ngapain disini?" tanya Glenda pada wanita yang Glenda panggil Oca itu.
Oca menatap Glenda, ia tersenyum sinis dan membuka kacamatanya. "Ouh Glenda, perebut Mas Halim dari aku dulu, terserah aku dong aku mau ngapain disini!"
__ADS_1
Hadi yang melihat interaksi antara Oca dan Glenda hanya diam tidak memahami situasi.
"Kamu jangan coba-coba ganggu Mas Halim lagi yah, dia udah punya istri dan itu adik aku, kamu jangan coba usik rumah tangga mereka!" kecam Glenda mengancam Oca.
Oca tertawa pelan. "Gak salah nih? Aku tiga tahun pacaran sama Mas Halim, kami putus karena aku harus ke luar negri dan pas balik dia udah pacaran sama kamu, kamu ingat gak, pas aku mohon ke kamu buat balikin Mas Halim ke aku? Jadi jangan salahin aku kalau aku merebut Mas Halim kembali."
"Terlepas dari Mas Halim ini masih sama kamu atau sama orang lain!" lanjut Oca pada Glenda.
"Aku gak akan biarin kamu ngelakuin itu Oca," jawab Glenda menantang Oca.
"Kamu siapa? Kamu gak ada hak buat ngehalangin aku!" ujar Oca mendorong tubuh Glenda.
Glenda sedikit terdorong ke belakang yang membuat Glenda kembali maju dan menatap intens Oca. "Agnes itu adik aku, dan aku gak mau ada benalu lagi di kehidupan dia, kalau kamu berani masuk jangan salahin aku jadi racun buat langkah kamu."
"Ayok Bang, Assalamualaikum," lanjut Glenda menarik tangan Hadi pergi dari sana meninggalkan Oca yang menatap Glenda tajam.
•
•
__ADS_1
•
Assalamualaikum