Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 15. Paragraf Penuh Noda


__ADS_3

"Mas! Mas Halim!" Agnes meraih kepala Halim ke dalam pangkuannya. "Mas harus kuat yah! Mas pasti bisa!"


Disaat Agnes sedang menunggu taksi untuk menjemputnya dan membawa Halim ke rumah sakit, sebuah suara membuat Agnes membalikkan badannya.


"Agnes, ada apa?" tanya Azio yang baru saja datang disana. "Saya mau mengembalikan buku kamu yang ketinggalan, astaga, Halim kenapa?"


"P-Pak, tolong Pak bawa aku dan Mas Halim ke rumah sakit, Mas Halim kena tusuk pisau," jawab Agnes yang membuat Azio mengangguk.


Azio segera menggotong Halim keluar dari rumah menuju mobilnya di susul oleh Agnes, Agnes berjalan duluan dan membukakan pintu untuk Azio, tapi disaat Agnes membuka pintu sesuatu menarik perhatiannya yaitu bumper depan mobil Azio terlihat penyok sehabis menabrak sesuatu.


Agnes tidak terlalu memperhatikan itu, Agnes segera naik dan memangku kepala Halim yang sudah meringis kesakitan.


"Pak! Cepat Pak!"


Azio mengangguk kemudian melajukan kendaraannya melewati jalanan menuju rumah sakit, Agnes menangkup pipi Halim dengan air mata mengalir.


"Nes, saya ngantuk," ujar Halim meringis sakit yang membuat Agnes langsung memeluk erat tubuh Halim sehingga kini baju Agnes juga penuh darah.


"Mas! Mas gak boleh tidur, mata Mas harus tetap terbuka bagaimanapun nanti, Mas harus tetap terjaga, aku gak mau tahu!" bisik Agnes yang membuat Halim tersenyum pelan.


Halim menutup matanya walaupun sembari meringis menahan sakit, tak lama kemudian, mobil Azio sudah sampai di rumah sakit, Azio segera kembali membawa Halim keluar dan masuk ke dalam rumah sakit.


"Dokter! Suster! Tolong suami saya!" teriak Agnes yang membuat seorang dokter dan dua suster keluar membantu Halim masuk ke ruangan khusus pasien.

__ADS_1


Kini Halim sedang di tangani dan Agnes dan Azio hanya menunggu di koridor rumah sakit, di saat itu pula Glenda datang ke sana.


"Mana Mas Halim! Aku ke rumah kamu dan warga bilang Mas Halim masuk rumah sakit," ujar Glenda yang membuat Agnes enggan menjawab pertanyaan Glenda. "Heh! Jawab!"


Agnes berdiri dan menatap tajam Glenda. "Bisa diam Gak! Satu-satunya yang mau aku denger itu kamar baik tentang Mas Halim, bukan ocehan kamu, kalau kamu gak bisa dengar, pintu keluar ada disana!"


"Jangan sok kamu! Aku pacar Mas Halim!"


"Ck!" Azio yang mendengar itu hanya berdecih dan sedikit tertawa pelan. "Pacar katanya."


"Apaan sih! Kamu jangan ikut-ikutan!" teriak Glenda pada Azio, Glenda memandang Azio sekilas dia seperti pernah bertemu Azio tapi lupa dia bertemu dimana.


"Maaf Mbak, yang dibutuhkan disini istrinya, bukan pacarnya, kayaknya Mbak perlu pintu keluar!" jelas Azio yang membuat Glenda semakin kesal.


"Saya dan suami saya golongan darahnya sama, Dok! Ayok!" Agnes langsung berjalan bersama dokter tersebut menuju ruangan pendonoran darah.


"Dokter! Ini pacarnya, kenapa gak sekalian ngetest aja sapa tahu cocok!" usul Azio yang membuat Glenda kaku disana.


"G-golongan darah saya gak cocok dok!" jawab Glenda yang membuat Dokter dan Agnes langsung menuju ruangan pendonoran darah.


Azio tertawa di ujung sana dia melirik sinis Glenda dan berjalan di hadapan Glenda. "Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti busuknya bakal kecium juga."


Kring!

__ADS_1


Glenda mendengar suara ponselnya berdering, dia mengangkatnya dan di kabari bahwa Bu Sinta kecelakaan dan berada di rumah sakit yang sama.


Glenda tidak menghiraukan Azio dan berjalan menuju ruangan Bu Sinta, sesampainya disana Glenda langsung bertemu dokter yang menangani Bu Sinta.


"Mama saya gimana dok?"


"Karena benturan pada kepalanya yang cukup keras, dengan berat hati kami mengatakan bahwa Bu Sinta kemungkinan besar buta permanen."


"Apa!"





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Ayok komen yang banyak!


Huhuhu Balasannya nyata banget!

__ADS_1


__ADS_2