Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 29. Fase Lain Kehidupan


__ADS_3

"Siapa saksinya, Pak?" tanya Agnes bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah Hadi.


Hadi melihat Agnes yang merupakan adiknya itu, terbersit keinginan untuk segera mendekap adiknya tapi Hadi belum bisa melakukannya sekarang.


"Untuk itu, nanti Pak Halim beserta istri bisa datang ke kantor untuk menemui saksi dan tersangka," jelas Hadi melempar senyum kepada Agnes.


"Tapi benar Glenda dan Tante Sinta yang melakukan ini?" tanya Halim kepada Hadi.


Hadi menganggukkan kepalanya yang kemudian kembali menjelaskan, Agnes dan Halim segera mendengarkan secara seksama.


"Dari hasil pengecekan barang bukti dan pengakuan tersangka, pelaku yang menyerang istri Pak Halim adalah Bu Sinta, sedangkan saudari Glenda merupakan salah satu dari penyusun rencana ini, tapi saudari Glenda sudah bebas bersyarat karena hasil sidik tidak membuktikan bahwa Saudari Glenda ada di tempat kejadian, motif percobaan pembunuhan ini sendiri di awali oleh dendam dari keduanya terhadap Istri, Pak Halim," jelas Hadi yang membuat Halim mengepalkan tangannya.


BRUK!


Halim menggebrak nakas disampingnya penuh emosi. "Dasar mereka berdua tidak tahu diri!"


"Jikalau berkenan, saya meminta kehadiran Pak Halim beserta istri di kepolisian," ucap Hadi. "Saya permisi, Selamat siang."

__ADS_1


Agnes menganggukkan kepalanya, Halim masih kesal dengan fakta ini, dadanya bergemuruh, Agnes mendatangi Halim dan mengelus dadanya.


"Nes, Mas minta ponsel Mas," ujar Halim yang membuat Agnes mengambil ponsel Halim yang ada di sofa ruangan itu.


Setelah mendapatkan ponselnya, Halim kemudian membuka kontak dan mencari nomor seseorang yang ternyata adalah sekretarisnya.


"Ardan! Saya minta saat ini juga kamu cabut saham dan suntikan modal dari perusahaan kita terhadap perusahaan milik Glenda dan Bu Sinta, saya ingin memutuskan hubungan kerjasama secara sepihak, kalau mereka tidak mengembalikan penuh suntikan modal kemarin tidak apa-apa, tapi cabut saham kita dan sisa suntikan modal itu tidak usah kamu masukkan ke kas perusahaan, tapi sumbangkan saja," ujar Halim berbicara pada sosok di balik telepon kemudian mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Jangan terlalu dendam Mas, tidak baik," tegur Agnes yang membuat Halim mengucap istighfar.


"Kalau aku meminta kasus ini kita selesaikan secara damai bagaimana?" saran Agnes yang membuat Halim mendelik.


"Hah? Maksud saya, Tapi kenapa?" tanya Halim yang membuat Agnes kembali mengulas senyum.


"Aku tahu sulit bagi Mas memsafkan, tapi ada kalanya kita harus memaafkan seseorang, memang kejadian ini hampir merenggut nyawa Mas Halim, aku pun tidak memaksa untuk mencabut laporan ini, tapi Mas harus tahu, puncak tertinggi dari memaafkan adalah ketika kita di sakiti tapi kita masih memaafkannya," jelas Agnss. "Riwayat cerita Allah saja maha pemaaf tapi kita bukan Allah, kita tidak harus menjadi Allah untuk jadi pemaaf, jangan sampai di analogikan sedemikian rupanya."


"Semua keputusan ada pada Mas Halim, aku hanya memberikan saran," lanjut Agnes yang membuat Halim berpikir.

__ADS_1


Sebenarnya terbersit rasa tidak tega dihati Agnes tapi mau bagaimanapun Bu Sinta ibu kandungnya dan tak satupun anak kandung yang ingin ibunya seperti itu, bagaimanapun kondisinya.


Agnes kemudian membantu Halim naik ke kursi roda karena mereka akan pulang dari rumah sakit sekarang, setelah Agnes membereskan semuanya, Agnes berjalan keluar dari sana dengan mendorong kursi roda Halim.


"Dek, Mas pikir-pikir ada benarnya, tapi untuk saham dan suntikan modal, Mas benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan mereka," ujar Halim yang membuat Agnes mengangguk.


"Mas sudah melewati fase tahap dalam kehidupan yang itu sulitnya memaafkan," jawab Agnes.





Like! Komen!


Assalamualaikum

__ADS_1


__ADS_2