
"Kamu cantik, tapi kamu gak gunain kecantikan kamu buat jadi wanita yang punya harga diri," Glenda melepaskan tangan Oca yang dia tarik tadi.
"Apa bedanya denganmu!"
"Aku tidak pernah mengatakan diriku baik Oca, tapi aku hanya mengingatkanmu!" ujar Glenda yang membuat Oca berjalan ke hadapannya.
"Jangan berbicara seolah kau tidak pernah melakukan apa-apa, sebelum aku begini aku pernah mengemis kepada kamu untuk memberikan Mas Halim tapi kamu arogant! Jadi jangan salahkan aku juga kalau aku arogan."
Glenda terdiam, dia menundukkan kepalanya kemudian tersenyum kepada Oca. "Tapi situasinya berbeda."
"Aku dulu baik, tapi tidak sekarang, orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti."
Glenda berjalan ke arah Oca memangkas jarak diantara mereka, Glenda kemudian memegang pundak Oca dan berbisik pelan. "Gaada orang jahat lahir dari orang baik, karena kalau kamu orang baik kamu gak akan berbuat jahat."
Glenda kemudian pergi dari sana bersama Hadi yang menyusulnya karena Glenda datang bersama Hadi.
Glenda dan Hadi kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Agnes ditangani dan sesampainya mereka disana, Agnes sudah sadarkan diri.
"Assalamualaikum."
"Waalakumsalam," jawab Agnes dan Halim membalikkan badannya.
"Agnes kenapa?" tanya Hadi berjalan ke arah Agnes dan Halim.
"Gapapa cuma capek aja, terus kata dokternya Agnes hamil," jawab Halim yang membuat Hadi dan Glenda merasa senang.
"Serius?"
Halim menganggukkan kepalanya, dia tiada hentinya mengelus perut istrinya yang membuat Agnes terdiam sendiri tidak menyangka bahwa dia hamil.
•
__ADS_1
•
•
Sepulangnya kemarin dari rumah sakit, Halim sangat protektif kepada Agnes, seperti pagi ini Halim sendiri yang membuat sarapan dan Agnes dia dilarang melakukan apapun.
"Udah ah Mas, nanti kamu telat kerjanya."
"Gapapa kalau aku ninggalin kamu? Mas takut kamu kenapa-napa, dek."
Agnes tersenyum dia mengacak rambut Halim yang tengah menciumi perutnya, Halim mengangkat kepalanya yang membuat tangan Agnes beralih ke barisan bulu rapi di area wajah Halim.
"Udah sana kerja, hari ini aku gak kemana-mana gaada jadwal ngampus."
Halim berdiri, dia tampak ragu untuk pergi, Agnes kemudian kembali meyakinkan suaminya bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Yakin?" tanya Halim memastikan.
Halim mengangguk kemudian mencium kening Agnes. "Mas, pergi dulu yah."
"Assalamualaikum."
Halim melangkahkan kakinya keluar dari rumah, kali ini Agnes tidak menemaninya sampai diluar rumah karena dilarang oleh Halim.
Sepeninggal Halim, Agnes hanya duduk di sofa ruang tamu, cukup lama hampir setengah jam sambil sesekali mengecek ponselnya.
Tak jauh dari rumah Agnes, tampak mobil Oca terparkir, didalam mobil Oca tengah memegang sebuah kota, Oca membuka kotak itu dan menuangkan sebuah bubuk ke dalam sana.
Tak lama setelahnya seorang kurir panggilan datang menghampiri mobil Oca yang membuat Oca memberikan kotak yang sudah dia beri sesuatu tadi kepada kurir itu.
"Mau dikirim kemana, Bu?"
__ADS_1
"Ke rumah yang itu yah," jawab Oca menunjuk rumah Agnes. "Bilang, ini dari Glenda."
Mendengar itu membuat kurir tersebut mengangguk kemudian membawakan kotak itu ke rumah Agnes, sebenarnya agak heran kenapa harus memakai jasa kurir untuk jarak sedekat ini.
Kurir tersebut sudah tiba di depan rumah Agnes, dia mengetuk pintu sampai tak lama kemudian Agnes keluar dari sana.
"Ada apa Mas?" tanya Agnes.
"Ada titipan dari Mbak Glenda."
Agnes terdiam. "Mbak Glenda?"
"Apaan Mas?"
"Kurang tahu Mbak, ini sudah dibayar," jawab Kurir tersebut memberikan kotak dari Oca tadi.
"Oh oke, Makasih," Agnes menerima kotak itu kemudian menutup pintu rumahnya saat Kurir tersebut pergi.
Didalam rumah Agnes membuka kotak itu dan mendapati sebuah rujak, kebetulan sekali Agnes juga ingin makan yang asam-asam jadi dia tidak menaruh kecurigaan karena itu dari Glenda.
Agnes duduk di sofa memegang kotak tersebut kemudian hendak memakannya sampai seketika ...
•
•
•
TBC
Assalamualaikum.
__ADS_1