
"Assalamualaikum," Agnes membuka pintu rumah yang sudah lima hari ini mereka tinggalkan.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Agnes untuk mengucap salam saat masuk rumah walaupun tidak ada seorangpun di dalam rumah, bukan hanya Agnes mungkin sebagian besar masyarakat juga sama seperti Agnes, ibaratnya sudah menjadi turun temurun dari orang tua yang nenurun ke generasi selanjutnya dengan kebiasaan ini.
Agnes mendorong kursi roda Halim masuk ke dalam rumah sampai akhirnya mereka tiba di ruang tamu, Agnes melepaskan sendal Halim dan duduk di ruang tamu.
"Mas masih bingung dek, kok hati Tante Sinta itu keras banget yah, kayak gak bisa di balikin yah dia akan tetap dalam pendiriannya dan sifat arogannya," ujar Halim yang membuat Agnes menatap suaminya.
"Kita tuh bukan Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia Mas, seberapa besarpun kita berusaha mengubahnya tetap tidak akan bisa, karena apa?" jelas Agnes kepada Halim.
"Allah itu ibaratnya memegang hati manusia di antara dua jarinya jadi membolak-balikannya sangat mudah, sehingga kita sebagai manusia tidak bisa membalikkan hati sesama kita, karena yang mengontrol hatinya adalah Allah, kalau Allah berkehendak yah Kun fayakun, yang mustahil bisa terjadi," Agnes memberi jeda.
"Tapi jangan menganalogikan Allah punya jari, itu gak boleh," lanjut Agnes kembali."Sholat dhuhur yuk!"
Halim terdiam kemudian kembali bersuara. "Apa bisa? Saya berdiri saja gak bisa?"
"Tahu gak sih Mas? Allah itu sudah memudahkan beragam cara untuk sholat kepada umatnya cuma kitanya aja yang malas, padahal banyak kemudahan, kalau gak bisa berdiri bisa sambil duduk kalau gak bisa duduk bisa sambil tiduran, kalau gak bisa tiduran sholat dengan isyarat tapi kalau masih juga gak mampu berarti minta disholatkan," jelas Agnes yang membuat Halim menelan ludah. "Mas mau disholatkan?"
Halim menggelengkan kepalanya singkat yang membuat Agnes tertawa seketika, dia mencubit pipi suaminya itu gemas.
"Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan berbaring. Jika tidak mampu, shalatlah dengan isyarat. jadi hadistnya gitu Mas," jawab Agnes kembali kemudian bangkit dari duduknya.
Namun belum sempat Agnes berdiri sempurna, Halim sudah menarik tangannya yang membuat Agnes terjatuh ke pelukan Halim.
__ADS_1
"Kamu udah bisa sholat berarti udah gak datang bulan dong?"
Agnes mengangguk yang membuat Halim tersenyum smirk, Halim mendekatkan bibirnya ke telinga Agnes kemudian berbisik pelan. "Mau bikin keturunan gak?"
Mendengar itu membuat Agnes seketika tertawa yang membuat Halim memeluk erat Agnes.
"Sembuh dulu baru bikin, kalau kondisinya gini gimana buatnya?"
Halim cemberut yang membuat Agnes semakin gemas, Agnes kemudian segera mendorong kursi roda Halim menuju kamar, karena kamar mereka yang berada diatas membuat Agnes harus membantu Halim berjalan dengan cara di pegang saat naik tangga dan setelahnya Agnes harus turun lagi mengambil kursi roda.
•
•
•
Agnes tampak membawa gelas berisi obat herbal berwarna hijau yang asing bagi Halim.
"Ini apa?" tanya Halim saat Agnes meletakkan gelas itu dimeja.
"Cocor bebek, kata Mama Asna bisa bantu penyembuhan luka tusuk Mas Halim, aku ke dalam dulu yah, perban Mas Halim harus diganti, aku ambil dulu," jawab Agnss kembali masuk ke dalam rumah.
Halim mengambil gelas itu kemudian menatapnya heran, Halim mencium baunya yang sama sekali tidak enak, Halim memasukkan satu jarinya untuk mencoba rasanya dan benar saja rasanya pahit.
__ADS_1
"Ini harus diminum? Minum aja deh biar cepat sembuh, biar bisa bikin anak nanti," batin Halim langsung meminum habis cocor bebek yang sudah dihaluskan itu.
Tanaman cocor bebek memang biasa di pakai dalam pengobatan herbal, walaupun tidak sampai setengah gelas, rasa pahitnya sukses membuat Halim kelimpungan.
Agnes yang baru datang membawa perban merasa heran kenapa gelasnya sudah kosong. "Mas cocor bebeknya mana?"
"Sudah Mas minum, dek," jawab Halim tanpa merasa berdosa.
"Hah?"
"Kenapa?"
"Itu gak diminum Mas, tapi cuma di olesin ke bekas luka Mas biar makin cepat kering," jawab Agnes yang membuat Halim ingin pingsan rasanya.
"Yah, habis," jawab Halim yang kini mengkhawatirkan kondisi lambungnya setelah meminum itu.
•
•
•
Halim emang beda :)
__ADS_1
Hari ini 3 Bab aja yah, sampai jumpa besok!
Assalamualaikum.