Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 43. Tiga Penolakan


__ADS_3

"Assalamualaikum Mbak, mungkin aku datang ke resto buat mantau agak sore yah, nanti Mbak handle aja dulu," Agnes tengah membuat sarapan dengan kondisi ponsel yang berada di telinga dia jepit diantara bahu dan kepala yang dimiringkan sementara kedua tangannya membuat sarapan. "Makasih yah Mbak, Assalamualaikum."


Dia baru saja berbicara dengan Glenda yang berada di restoran miliknya yang sudah beroperasi hari ini, setelah menelepon Agnes menaruh ponselnya dia counter dapur.


"Sayang, sarapannya udah jadi belum?" Halim turun dari tangga dengan mengancingkan kemejanya.


Agnes sedang memasak nasi goreng karena hanya ini menu andalannya di rumah, dia tidak pernah takut Halim merasa bosan karena dia memiliki suami yang menghargai hasil buatannya.


"Udah Mas, yuk makan."


Agnes menatap makanan di meja makan sementara Halim yang sudah tiba dilantai setelah menuruni anak tangga langsung menuju meja makan.


"Nasi Goreng spesial buatan Chef Agnes," Halim mengecup kening Agnes kemudian duduk di kursi. "Seperti biasa, apapun yang kamu masak gak akan pernah bikin Mas bosan."


Agnes tersenyum kemudian mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng untuk Halim, mereka berdua kemudian mulai memakan nasi goreng itu.


Setelah selesai sarapan, Agnes berjalan menuju counter dapur mengambil kopi yang sudah dia siapkan untuk Halim, setelah menaruh kopi di meja, Agnes ikut duduk di samping Halim.


"Mas? Aku mau nanya sesuatu, Mas tahu gak apa arti kesetiaan bagi Mas?" tanya Agnes yang sedang memakaikan dasi Halim.


"Kesetiaan?" tanya Halim, Agnes menganggukkan kepalanya. "Kata kamu, Kesetiaan dan kejujuran itu ibarat jiwa dan hati, jiwa adalah kejujurannya dan hati adalah kesetiaannya."


Agnes tersenyum, usai memakaikan dasi Halim, Agnes memegang kedua pundak Halim. "Mas harus tahu, pria yang baik tidak akan main-main dengan cinta karena dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab."


Halim berdiri kemudian mengecup kening Agnes, ia sudah selesai memakai sepatunya dan bersiap berangkat, Agnes berjalan bersama Halim keluar dari rumah dan saat mereka membuka pintu, seorang sudah berdiri disana.


"Halim! Aku kangen banget sama kamu!" sosok wanita yang berdiri di depan pintu rumah itu langsung memeluk Halim yang membuat Halim kaku seketika.

__ADS_1


Halim dengan cepat melepas pelukan tersebut dan agak berdiri menjauh. "Oca, kapan kamu sampai di Indonesia?"


"Kok kamu gak mau dipeluk yah, kamu gak kangen sama aku, eh ini siapa?" tanya Oca pada Halim bermaksud menanyakan sosok Agnes.


Oca sebenarnya sudah tahu, tapi dia sedang menghadirkan sebuah sandiwara yang sudah sangat dipahami oleh Agnes.


"Agnes, istrinya Mas Halim."


Agnes mengacungkan tangannya kepada Oca yang membuat Oca membalas tanggapan tangan itu. "Oca, sahabat Halim."


"Eh iya Halim, aku kebetulan lewat dikit sini dan yah kamu tahulah, mobil aku mogok, boleh gak kamu nganterin aku ke rumah, lagipula Mama aku kangen loh sama kamu," jawab Oca yang membuat Halim mendekatkan dirinya ke Agnes.


"Maaf Oca, saya gak bisa, saya harus ke kantor lagipula saya gak enak sama istri saya," jawab Halim atas permintaan Oca.


Agnes yang mendengar itu seketika mengacungkan satu jarinya yang dilihat oleh Oca.


"Maaf yah, kamu naik taksi aja," jawab Halim yang membuat Agnes kembali menaikkan jari menjadi dua jari.


Oca berdiri gemas karena tidak berhasil membuat Halim berduaan dengannya.


"Ayolah Lim, dulu kamu gak begini, kok sekarang begini."


"Saya sudah punya istri Ca, saya statusnya lebih besar sekarang dan saya menjaga perasaan istri saya."


TIGA! Agnes menaikkan tiga jarinya keatas yang membuat Oca semakin bingung dengan reaksi Agnes.


"Udahlah Mas, kasian Mbak Oca, kamu antar aja dia," ujar Agnes yang membuat Halim menatap Agnes.

__ADS_1


"Gapapa?"


"Emang kamu ngapain, gapapalah, aku percaya sama kamu Mas," jawab Agnes yang membuat Halim tersenyum.


"Yaudah Ca, tapi aku gabisa singgah aku harus ke kantor cepat."


"Gapapa, aku dianterin aja gapapa," jawab Oca antusias.


Halim membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya kepada Agnes, Agnes mengecup tangan Halim sedang Halim mengecup kening istrinya.


Halim bersama Oca kemudian berjalan masuk ke dalam mobil, mobil yang mereka naiki kemudian berjalan meninggalkan area rumah Halim dan Agnes.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Agnes yang membuat Agnes lekas membukanya. "Bodoh! Dengan begini aku bisa mendapatkan Mas Halim segera."


Begitulah isi pesannya yang dibalas santai oleh Agnes. "Bagaimana aku bisa merasa bodoh kalau aku yakin suamiku setia, sedang baru saja Mbak mendapat tiga penolakan jika bukan aku yang menyarankan, semangat yah jadi pelakornya."


Agnes tersenyum setelah membalas pesan itu, hanya centang biru dan tidak dibalas lagi oleh Oca.





Assalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2