Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 14. Balasan Setimpal


__ADS_3

"ini kerjaan siapa sih!" Glenda menggerutu dalam hatinya karena ada orang yang baru saja membocorkan percakapannya dengan Bu Sinta di cafe tadi.


Disaat Glenda berpikir siapa yang melakukan ini, ponselnya berdering yang menandakan ada panggilan masuk, Glenda merogoh saku ponselnya dan mendapati si penelepon adalah orang yang mengancamnya tadi dan dia temui.


"Bagaimana? Ini baru permulaan dari apa yang bisa aku lakukan, ingin bermain-main?" ujar orang tersebut dari balik telepon.


Glenda menghentakkan kakinya di lantai dan mendelik kesal. "Mau kamu apasih! Jangan main-main yah!"


"Mau aku? Belum ada sih, aku juga lagi mikirin mau aku apa, tapi orang kayak kamu tuh enak di giniin, anggap aja ini karma atas kelicikan kamu, ini baru awal dan bisa jadi ke depannya aku akan lebih nekat," jawab orang tersebut.


"Heh-"


Tut!


Belum sempat Glenda bicara lebih banyak, orang tersebut sudah mematikan sambungan telepon dengannya yang membuat Glenda kembali merasa di gantung.


Tampaknya orang ini benar-benar merupakan sebuah ancaman bagi Diandra karena orang ini mengetahui secara pasti semua gerak-gerik Glenda.


Dan apabila dia memiliki rekaman suara tentang Glenda dan Bu Sinta berarti dia mengetahuinya rencana Bu Sinta untuk mencelakai Agnes hari ini.


"Astaga!" Glenda beranjak pergi dari sini menuju mobilnya sendiri dan meninggalkan cafe itu.


Sementara itu Halim yang hendak melanjutkan perjalanannya ke minimarket mendapati secarik kertas di bumper mobilnya yang menarik perhatiannya.


"Siapa lagi ini yang iseng nempel beginian," keluh Halim mengambil kertas tersebut dan membaca tulisannya. "Istri kamu dalam bahaya?"

__ADS_1


Halim membaca isi kertas itu yang membuat ekspresinya berubah sangat drastis, Halim langsung masuk ke mobilnya dan putar balik menuju rumah, dia sekarang tidak memperdulikan apa yang di suruh Agnes tadi, yang penting sekarang Halim harus langsung pulang.


Halim meraih ponselnya dan segera menelepon nomor Agnes, percobaan pertama gagal sampai akhirnya percobaan kedua sambungan telepon mereka terhubung.


"Assalamualaikum, Mas?"


"Waalakumsalam, Nes kamu dimana?"


"Dirumah, gak kemana-mana, kan nungguin Mas Halim ke minimarket," jawab Agnes mengerutkan keningnya di ujung sana.


"Tunggu saya! Kamu tutup pintu rumah!"


"Tapi-"


PRANG!


Belum sempat Agnes menyelesaikan ucapannya suara pecahan kaca terdengar yang membuat Agnes panik disana dan secara reflek mematikan sambungan telepon itu.


"Nes! Agnes!"


Tut!


Agnes yang baru saja di telepon oleh Halim reflek mematikan sambungan teleponnya karena mendengar suara pecahan kaca.


Agnes berjalan keluar ke teras rumah dan mendapati pot di teras sudah berceceran karena di pecahkan. "Astagfirullah!"

__ADS_1


"Siapa kamu!" tanya Agnes pada sosok serba hitam di hadapannya.


Sosok itu tidak mengatakan apapun, dia membawa sebuah pisau ditangannya, Agnes berjalan mundur karena sosok itu mendekat dengan mengacungkan pisau itu.


"K-kamu siapa!" tanya Agnes yang masih berjalan mundur sampai akhirnya dia stuck ditembok dimana dia tidak bisa bergerak lagi.


Disaat Agnes hendak bergerak dia sudah terkunci dan sosok didepannya sudah berjarak beberapa senti, Agnes menutup matanya saat sosok itu menghujamkan pisau, lama Agnes menunggu, Agnes tidak merasakan apapun sampai akhirnya Agnes membuka matanya.


"Mas Halim!"


Agnes membulatkan mata sempurna saat yang tertikam adalah Halim yang baru datang dan langsung menghadang dengan tubuhnya.


"Agnes! La-lari!"


Halim kehilangan kemampuannya untuk berdiri dia perlahan jatuh ke lantai dengan bercucuran darah, Agnes langsung berlari keluar berteriak meminta tolong sampai beberapa warga datang.


Sosok hitam itu yang merasa terancam langsung melarikan diri segera, dia berlari di tengah jalanan mencoba keluar dari komplek perumahan Halim dan Agnes.


BRUK!


Baru saja sampai di gerbang komplek tubuhnya sudah di hantam oleh sebuah mobil yang membuat sosok hitam itu jatuh dengan menghantam jalanan.


Pengendara mobil itu berjalan keluar dan mendatangi sosok hitam itu, pengendara mobil tersenyum puas dia berjongkok di samping sosok itu dan membuka topengnya.


"Bu Sinta, aku rasa ini karma bagimu, selamat menikmati balasan yang setimpal karena menelantarkan suami dan anakmu di masa lalu, bahkan kau ingin membunuh anak kandungmu sendiri," ujar sosok itu yang ternyata adalah sosok yang sama yang mengancam Glenda.

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like dan Ayok komen yang banyak biar semangat Crazy Up!!!


__ADS_2