
Agnes kini sedang memainkan ponselnya di ruangan rawat Halim, dia duduk di sofa yang tersedia untuk pendamping pasien disana.
"Nes, kamu ngapain?" tanya Halim yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Agnes menutup ponselnya dan berjalan ke arah Halim, menatap Halim sekilas kemudian menghembuskan napas panjang. "Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"
Halim mendelik, entah apa yang terjadi pada istrinya itu Halim sendiri hanya bisa menghela napas panjang. "Saya lapar."
"Yah Makan ajalah, ngapain laporan Mas," jawab Agnes menatap Halim dalam.
"Saya gak bisa sendiri," jawab Halim yang membuat Agnes tersenyum kemudian meraih sebuah piring makanan di atas meja dimana itu adalah makan siang yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. "Nih."
Agnes menyuapi Halim tapi Halim segera menjauhkan wajahnya saat sendok Agnes hendak menyentuhnya bibirnya.
"Gamau."
"Lah, kok, katanya lapar?" tanya Agnes yang membuat Halim kembali menggelengkan kepalanya.
"Bubur disini rasa air, saya mau makan yang lain," jawab Halim yang membuat Agnes menatapnya malas.
"Gini nih kalau kebanyakan bucin sama cewek matre." Agnes mengaduk bubur polos itu sesaat setelah mengucapkan kalimatnya.
__ADS_1
"Maksud kamu, Glenda?" tanya Halim, Agnes hanya menahan tawa.
"Bukan aku yang bilang loh yah," jawab Agnes kembali menyuapi bubur itu kepada Halim. "Mas mau dengar satu cerita gak?"
"Apa?" tanya Halim tanpa sadar memakan bubur itu.
"Dulu sewaktu aku nolongin Mas Halim, aku kan gagal sidang alhasil aku ngulang semester lagi dan pas banget ayah meninggal, aku yah hidup sendiri, kerja sendiri, kadang tuh di rumah cuma ada beras segenggam dijadiin bubur polos gak ada rasa yang penting bisa makan," jawab Agnes mulai bercerita sembari menyuapi Halim. "Kalau ada garam sedikit dikasih biar ada rasa, sukur-sukur kalau bisa makan nasi, kalau gaada beras yah cuma air putih aja sambil nunggu gajian."
Mendengar cerita itu membuat Halim semakin merasa bersalah kepada Agnes, dia menundukkan kepalanya.
"Jadi Mas jangan ngeluh sama makanan, apalagi ngeluh sama Allah, kita tidur pas bangun masih bisa bernapas aja itu udah Alhamdulillah," jelas Agnes.
Halim menatap Agnes dalam. "Saya menghancurkan hidup kamu yah, kenapa kamu tidak marah ataupun balas dendam?"
"Andaikan saya tahu-"
"Apa? Mas mau bilang nanti andaikan Mas tahu akhirnya aku yang ada diposisi Mbak Glenda selama ini di cintai Mas Halim? Udahlah aku maunya Mas mencintai aku karena Allah bukan karena aku malaikat penolong Mas."
Ditengah situasi mereka berdua, tiba-tiba saja sosok Glenda masuk ke dalam ruangan Halim dan langsung memeluk Halim.
Sontak Agnes terlonjak dan menyingkir sejenak dari hadapan Halim, Agnes hanya diam saja melihat Glenda.
__ADS_1
Harusnya Glenda berada di kantor polisi tapi setelah penyelidikan kasus awal, Glenda murni hanya pemberi saran dan bukan pelaku dalam rencana pembunuhan ini.
Sehingga Glenda bisa menjamin dirinya untuk keluar dari kantor polisi sampai adanya penyelidikan lebih lanjut.
"Sayang, kamu gapapa? Aku kangen banget sama kamu, aku gak tahu bakal bisa hidup atau gak kalau gak ada kamu," ujar Glenda memeluk erat Halim.
Halim sendiri sama sekali belum mengetahui bahwa Glenda adalah bagian dari otak rencana pembunuhan ini.
Halim melepaskan pelukan Glenda kemudian mendorongnya pelan.
"Pergi kamu, saya tidak ingin melihat wajah kamu!" ujar Halim dengan nada pelan.
Glenda terdiam atas reaksi Halim kepadanya.
•
•
•
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like