Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 07. Goyahnya Keyakinan


__ADS_3

"Gak usah dengerin dia Mas, kamu makan aja, terus ke kantor," ujar Glenda membuka totebag berisi makanan yang dia bawa.


Halim menatap Glenda dalam kemudian menarik piring berisi nasi goreng buatan Agnes dan memakannya.


"Kok makan itu sih Mas! Aku kan udah bawain kamu steak buat sarapan," tanya Glenda yang membuat Halim hanya meliriknya dalam.


"Saya mau nanya deh sama kamu, kamu cinta gak sama Mas?" tanya Halim yang membuat Glenda mendelik kepadanya.


"Mas, apaansih nanya gitu, jelaslah aku cinta sama Mas, kan aku udah nyelamatin nyawa Mas dulu," jawab Glenda yang membuat Halim diam.


Halim nampak mengunyah nasi gorengnya sampai benar-benar habis. "Kamu yakin?"


"Apaansih Mas, Mas dihasut yah sama Agnes, udah deh Mas, gausah dengerin dia!" jawab Glenda yang membuat Halim tidak menjawab.


Halim menuangkan air ke gelas kemudian meminumnya, dia mengambil jasnya dan berjalan keluar dari rumah, yang otomatis membuat Glenda menyusulnya, setelah Glenda keluar Halim kemudian menutup pintu rumahnya.


"Mas, Mas kenapa sih?" tanya Glenda yang membuat Halim menghela napas panjang.


"Saya gak tahu, kayaknya orang yang saya anggap tidak tahu apa-apa tentang saya seperti Agnes malah lebih mengerti saya, saya jadi ragu kamu itu cinta atau pura-pura cinta?' jawab Halim menatap dalam Glenda.


Glenda langsung menarik dan menggenggam tangan Halim. "Mas gak percaya sama ketulusan, aku?"


Halim menghela napas kembali kemudian menurunkan tangan Glenda darinya. "Saya ke kantor dulu, kalau kamu mau makan siang datang saja."

__ADS_1


Halim kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Glenda yang berdiri disana sendirian dalam kekesalan.





Di jam makan siang ini, Agnes sedang berada di sebuah tempat foto copy karena dia harus menfoto copy beberapa tugasnya yang harus juga di print setelahnya, setelah petugas foto copy itu selesai dia kemudian memberikan tugas Agnes yang sudah di foto copy.


"Berapa Bang?" tanya Agnes pada petugas foto copy itu.


"Dua puluh lima ribu aja neng," jawab petugas itu yang membuat Agnes mengangguk.


"Biar saja aja yang bayar."


Agnes mengangkat kepalanya dalam kebingungannya, ia menoleh ke arah suara orang tadi yang merupakan seorang pria seusianya.


"Eh Mas, Ga-gausah," jawab Agnes yang membuat Pria itu tersenyum.


"Gapapa, kamu Agnes kan? Mahasiswi berprestasi itu? Saya Azio, dosen baru di fakultas ini, salam kenal yah," Azio tampak tersenyum kepada Agnes.


"Eh Bapak dosen baru yah, aku malah manggil Mas, Makasih yah Pak," jawab Agnes yang membuat Azio hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Gapapa, mau makan siang bareng? Sekalian temenin saya ngenal lingkungan disini," tawar Azio yang membuat Agnes terdiam sejenak.


Wajah Azio itu benar-benar menawan menurut Agnes karena perpaduan wajah dewasa dan sikapnya walaupun faktanya dia adalah dosen muda.


Tapi kalau bicara paras, Agnes mengakui ketampanan Halim, wajah tegas dengan sorot mata tajam serta bulu tipis disekitar wajahnya, Halim benar-benar suami idaman andai saja dia bisa merubah sikapnya.


"Hei, kok melamun?" tanya Azio yang membuat Agnes buyar dalam lamunannya.


"Maaf Pak, bukannya menolak, saya sudah punya suami, dan gak enak rasanya makan berdua dengan pria lain," jawab Agnes yang membuat Azio tersenyum.


"Kan suami kamu gak tahu," ujar Azio yang membuat Agnes tersenyum balik.


"Kesetiaan itu ibarat jiwa dan hati Pak, jika sudah berikrar didalam jiwa maka hati yang harus bertindak, Allah yang menjadi saksinya, kalau gitu makasih yah Pak, Assalamualaikum."


Agnes berjalan meninggalkan Azio yang semakin terpikat dengan daya tarik Agnes itu, selain independen dia juga memiliki karakter yang dewasa.





Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2