
"Dia ngapain sih disini? Harusnya tadi Mbak taruh aja racun di jus dia itu biar modyar sekalian," bisik Glenda pada Agnes yang sudah menemui Oca.
Agnes hanya tersenyum dan memegang pundak Glenda. "Mbak jangan gitu ah, kalau gitu sama aja dong kita kayak dia."
Glenda menghela napas panjang, kemudian duduk di kursi yang memang ada disana, mereka bertiga, Agnes, Hadi dan Glenda masih menatap Oca yang duduk di meja tadi.
Tak lama kemudian Oca pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran milik Agnes itu.
"Tuh dia udah pergi, aku mau ke kampus dulu," Agnes meraih tasnya kemudian hendak pergi sebelum akhirnya Hadi ikut berdiri.
"Abang anter yah, kebetulan Abang juga mau balik ke kantor," ujar Hadi yang membuat Agnes mengangguk. "Glenda, Abang duluan yah nanti sore kalau gak sibuk Abang datang lagi."
Glenda mengangkat jempolnya bermaksud tanda siap kepada Hadi.
"Mbak duluan yah, Assalamualaikum," ujar Agnes berjalan menuju pintu keluar.
"Waalakumsalam."
Setelah melewati pintu keluar, Agnes mengikuti Hadi menuju parkiran dimana disana ada motor milik Hadi, Hadi memakai jaket serta helmnya kemudian naik ke atas motor.
"Nih helmnya," Hadi memberikan helm kepada Agnes.
"Kok ada dua, Bang?"
"Persiapan aja," kilah Hadi padahal dia ingin mengajak Glenda jalan-jalan tadi.
Agnes tidak ambil pusing dia memakai helm tersebut kemudian naik ke atas motor dimana Abangnya sudah naik duluan.
__ADS_1
"Udah siap, dek?"
"Udah, Bang."
Hadi menyalakan mesin motornya kemudian mengendarai motornya dijalan meninggalkan area restoran.
Jalanan kota sedikit dingin siang itu, bukan siang juga karena itu masih jam sepuluh pagi, matahari berlindung dibalik awan, Agnes berpikir bahwa ini efek hujan tadi subuh sehingga sampai sekarang masih mendung dan Agnes pikir akan hujan sebentar lagi.
"Dek, Abang mau nanya?" ujar Hadi memulai pembicaraan.
"Apa Bang?" tanya Agnes yang membuat Hadi sedikit gugup.
"Ga-Gajadi."
"Dih, ngomong setengah-setengah."
"Abang ragu dek," jawab Hadi merasa malu sembari fokus menghadap ke depan.
"Apa Bang?"
"Cocok gak cocok tuh Dimata Allah dan dihati Abang sendiri, kan aktor utamanya Abang sendiri, aku hanya penonton," ujar Agnes pada Hadi.
"Seenggaknya kamu bisa menilai."
"Emang aku netizen? Kalau aku bilang cocok tapi kata Allah gak gimana? Tapi menurutku cocok aja Bang, ikutin kata hati Abang."
Hadi terdiam, dia menyesal menanyakan hal ini kepada Agnes, dia lupa kalau Agnes lebih banyak berpikir diatas syariat dan logika yang dimana Hadi sendiri tidak akan pernah memahami daya pemikiran adiknya itu.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka karena Hadi sudah tiba di depan kampus Agnes.
Agnes turun dari motor dan melepas helmnya kemudian menyerahkan helmnya kepada Hadi.
"Kamu pulangnya jam berapa?" tanya Hadi mengambil helm yang diserahkan oleh Agnes kepadanya.
"Jam tiga-an kayaknya," jawab Agnes memperbaiki hijabnya yang sedikit kusut karena memakai helm.
"Mau dijemput?"
"Gak usah Bang, kayaknya Mas Halim yang bakal jemput," jawab Agnes.
Hadi mengangguk, Agnes kemudian menyalami Hadi. "Yaudah Abang berangkat yah, Assalamualaikum."
Agnes menganggukkan kepalanya. "Waalakumsalam."
Setelah kepergian Hadi, Agnes bergerak masuk ke dalam kampusnya tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, dia merasakan bahwa ada yang lain dari perutnya.
"Mungkin, karena sarapannya telat kali yah, aku bakal demam kayaknya," gumam Agnes mengusap keningnya yang keringat dingin.
Belum habis dengan itu Agnes merasakan mual yang membuat dirinya sedikit terganggu tapi Agnes memilih mengabaikannya kemudian menuju ruang kelasnya karena mata kuliahnya akan dimulai.
•
•
•
__ADS_1
Assalamualaikum
Mendekati Episode Terakhir yah :)