Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 17. Seperti Setahun Lalu


__ADS_3

"Agnes! Halim mana?" ujar Mama Asna yang baru saja datang bersama Papa Rinto.


"Kok bisa Halim masuk rumah sakit, Nak, ada apa?" tanya Papa Rinto menimpali Mama Asna.


Agnes berdiri dari duduknya dan menyalami kedua mertuanya itu sebelum menceritakan kronologi kejadiannya.


"Tadi Agnes dirumah sendirian, ada yang mecahin pot bunga dan pas Agnes keluar ada orang yang Agnes ga kenal nodong pisau dan saat dia mau nikam Agnes, tiba-tiba Mas Halim datang jadinya Mas Halim yang kena, maafin Agnes yah Ma, Pa," jelas Agnes menundukkan kepalanya.


"Astagfirullah, gak perlu minta maaf Nak, untung kamu gapapa," jawab Mama Asna disambut anggukkan kepala Papa Rinto.


Kini mereka semua duduk di kursi yang ada di koridor kecuali Azio yang tadi sudah pamit pulang duluan karena ada urusan penting.


Disaat Mama Asna dan Papa Rinto menunggu di luar, Agnes mencoba masuk ke ruangan Halim dimana dokter sudah selesai menangani Halim yang tinggal menunggu Halim siuman.


Halim tampak mendapat perawatan intensif karena luka tusuknya, selang infus bahkan sudah terpasang ditangannya, Agnes duduk di samping Halim dan meraih tangan suaminya itu.


"Kenapa Mas nolongin aku sih, harusnya kan Mas senang kalau aku celaka, Mas kan gak cinta sama aku," ujar Agnes yang perlahan menangis di hadapan Halim yang tidak sadarkan diri. "Andai sesuatu terjadi pada Mas Halim sekarang, mungkin aku gak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

__ADS_1


Tik!


Hening disana, suara AC yang menjadi background situasi itu membawa Agnes semakin larut dalam perasaan sedihnya.


"Harusnya aku yang terbaring disini bukan Mas Halim, aku rasanya jadi Dejavu sama setahun yang lalu, ingat gak waktu aku nyelamatin Mas Halim waktu itu, mungkin Mas Halim gak inget aku, tapi saat itu pertama kalinya aku donorin darah buat Mas Halim, dan aku gak nyangka darah kita yang sudah bersatu setahun yang lalu-" Agnes memberi jeda. "Kini bersatu kembali karena aku kembali mendonorkan darah buat Mas Halim, tapi bedanya statusku kini adalah istri Mas Halim."


Tidak ada jawaban dari Halim karena memang Halim sedang tidak sadarkan diri dan Agnes hanya bercerita seolah dia sedang melakukan storytelling.


Wajah Agnes yang basah dengan air mata hanya bisa diam mematung memandang Halim, ruangan rawat ini terasa sangat dingin padahal suhu ac-nya sudah Agnes matikan.


"Allah tuh hebat yah Mas, selain Allah lebih dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat nadi kita, awalnya saat menjadi istri kontrak Mas Halim aku rasa hidupku akan hancur," lanjut Agnes bercerita. "Tapi benar yah, apa yang baik menurut kita bisa jadi buruk menurut Allah dan apa yang buruk menurut kita bisa jadi baik menurut Allah, dan sekarang aku hanya ingin mengikuti semua skenario Allah."


Agnes mencium tangan Halim, sehingga tidak lama kemudian Agnes merasakan bahwa tangan Halim bergerak, Agnes segera memanggil Dokter.


Dokter yang dipanggil langsung mengecek Halim dan Halim sudah sadarkan diri.


"Alhamdulillah Pak, untuk bapak cepat dibawah ke rumah sakit dan dapat donor darah."

__ADS_1


"S-siapa yang mendonorkan, pasti Glenda kan Dok?" tanya Halim yang membuat Dokter itu mengkerutkan kening.


"Mbak Glenda gak cocok golongan darahnya Pak, Mbak Agnes yang mendonorkan, Dejavu rasanya, soalnya setahun lalu pas Pak Halim kecelakaan saya juga yang nanganin dan Bu Agnes juga yang mendonorkan darah."


Halim terdiam mendengar itu.


"Ma-maksudnya?"





Hayo loh!


Kalau komennya rame aku besok Crazy up lagi.

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan lupa like


__ADS_2