
"Loh, Mas?" Glenda menatap Halim dengan keadaan bingung yang membuat Halim mengusap wajahnya kasar. "Kamu gak kangen sama aku?"
Halim tidak menjawab, dia menyugar rambutnya dengan penuh kekesalan di dalam hatinya yang tersimpan sekian lamanya.
Tatapan Glenda kini beralih ke arah Agnes yang dimana Agnes sedang tersenyum seolah mengecek Glenda.
"Ini semua pasti karena kamu! Kamu bilang apa ke Mas Halim! Dasar wanita gak tahu diri!" Glenda hendak menampar Agnes tetapi Agnes menahannya.
"Jangan sentuh aku, dengan tangan kriminalmu itu!" jawab Agnes menghempaskan tangan Glenda yang membuat Glenda berpaling.
"Glenda! Saya bilang pergi," ujar Halim sekali lagi masih dengan nada bicara yang pelan.
Glenda yang masih bingung hanya diam dan kembali lagi kepada Halim, Glenda memegang tangan Halim dan hendak mendekapnya.
"Mas, kamu kenapa, aku ada salah? Mas marah karena aku gak nemenin Mas, sekarang aku bisa kok," jawab Glenda. "Heh wanita gak tahu diri, pergi kamu! Mas Halim udah gak butuh kamu!"
"Yang harus itu pergi kamu Glenda, saya gak mau ada pembohong disini!"
"Maksudnya?"
"PERGI!"
Kali ini Halim berteriak keras yang membuat suaranya menggema di dalam ruangan itu, Glenda terdiam, tidak pernah dalam hidupnya di bentak begitu oleh Halim.
__ADS_1
"Aku gak mau pergi, sebelum kamu jelasin apa yang terjadi, aku salah apa!" jawab Glenda bersikeras.
"Mbak, lebih baik Mbak pergi sebelum aku yang mengusir Mbak," ujar Agnes yang membuat Glenda menatapnya tajam.
"Diam kamu parasit! Kamu kan yang sudah menghasut Mas Halim, dasar gak tahu diri!" ujar Glenda pada Agnes.
Halim menghela napas panjang dan menatap Glenda. "Kamu mau tahu apa yang terjadi, harusnya kamu sudah tahu kan, pembohong!"
"M-maksudnya?"
"Yang menolong saya setahun yang lalu adalah Agnes bukan kamu! Dan kamu malah mengaku-ngaku sebagai penolong saya, orang macam apa kamu!" jelas Halim.
Glenda membulatkan mata sempurna kemudian beralih menatap Agnes. "Kamu kan yang ngasih tahu Mas Halim, dasar gak tahu diri!"
"Aku memang cinta kebersihan Mbak, tapi gak semua sampah ingin aku urusi, contohnya adalah Mbak," jawab Agnes tersenyum pada Glenda.
Glenda kesal, dia menatap Agnes marah. "Aku gak terima yah di giniin, harusnya yang ke tusuk itu Agnes bukan kamu, aku udah ngerencanain buat nyelakain Agnes bukan kamu Mas! Harusnya yang celaka dia!"
Halim terkejut mendengar itu, dia menatap Glenda tajam seolah ingin membanting wanita di hadapannya itu. "Jadi dalang semua ini kamu? Semakin jijik saya lihat kamu Glenda, pergi kamu dari sini!"
"Mas, maafin aku-"
Belum habis Glenda berbicara, Agnes sudah menariknya keluar dari kamar dan membawanya koridor.
__ADS_1
"Lepas!"
Agnes melepas tangan Glenda dan menatapnya tajam. "Sudah tahu kan siapa pemeran utamanya?"
"Diam kamu! Kamu jangan merasa menang."
"Oh Gak, aku gak merasa menang kok, kan lawanku orang bodoh, contohnya tadi, aku gak perlu capek-capek mengotori tanganku demi mengungkapkan sebuah Fakta, jadi kalau aku tanya Mbak, diantara kita berdua siapa yang bodoh?"
"Saya gak terima yah!"
"Gaada yang minta Mbak Nerima semua ini, jadi tenang aja," jawab Agnes yang kemudian memanggil satpam yang lewat disana. "Pak!'
Satpam itu menghampiri Agnes. "Ada apa Bu?"
"Tolong bawa dia, dia membuat keributan di ruangan suami saya," jawab Agnes yang membuat satpam itu membawa Glenda pergi.
"Lihat aja Nes! Kamu akan menyesal!" teriak Glenda perlahan menghilang dari hadapan Agnes.
•
•
•
__ADS_1
Jangan Lupa Like egennn capek ngingetin like wakaka komen juga :)
Assalamualaikum