Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 36. Mahram Untuk Agnes


__ADS_3

Aryo kini berada di depan rumah Halim, membawa makanan pesanan Hadi tadi sewaktu dia akan kesini, Aryo mengetuk pintu dan mengucap salam dan yang membukakan pintu itu adalah Hadi.


"Waalakumsalam, kamu kemana aja sih? Makanannya mana?" tanya Hadi celingukan didalam rumah memastikan kondisi aman.


"Macet, nih ada," jawab Aryo menyerahkan kotak berisi makanan.


Hadi menerima makanan tersebut kemudian berlari menuju dapur sementara Aryo juga menyusulnya ke dapur.


"Lah, kok ke dapur, Agnes sama Halim mana?" tanya Aryo pada Hadi yang sedang menata makanan di piring.


"Halim lagi ngumpetin Agnes biar gak liat ini, kan tadi Abang janjinya mau masak tapi ternyata gak enak, yaudah beli aja," jawab Hadi yang membuat Aryo menggelengkan kepalanya.


Aryo tidak menyangka Abang yang selama ini bijaksana punya pikiran licik seperti ini, tapi menurut Hadi berbohong demi kebaikan bersama itu tidak mengapa.


Tak lama kemudian Azio juga datang menyusul setelah urusannya selesai bertepatan dengan Hadi yang sudah selesai menata makanan di piring dan membawanya ke meja makan.


Halim dan Agnes kemudian ikut keluar dari kamar dan menuju meja makan, jam sudah menunjukkan pukul enam sore dimana suara masjid sudah terdengar sayup-sayup.


"Bang Aryo dan Azio kapan datangnya?" tanya Agnes menyalami kedua abangnya itu.


"Barusan, wah enak-enak banget nih, siapa yang masak?" jawab Azio melihat makanan yang ada di meja.


"Bang Hadi sama Mas Halim," jawab Agnes yang membuat Hadi dan Halim saling melempar tatapan canggung.

__ADS_1


Sementara itu Aryo yang mengetahui kronologinya hanya senyum-senyum sendiri menatap keduanya.


"Udah-udah, ayok ambil wudhu dulu terus sholat magrib berjamaah," ujar Hadi yang membuat mereka semua mengangguk.


Hadi memilih mendorong kursi roda Halim menuju kamar mandi tapi sembari berbisik kepada Halim. "Habis ini kita berdoa yah sama Allah, kalau kita itu bohongnya gak sengaja."


"Emang bisa, Bang?"


"Namanya juga usaha," jawab Hadi tertawa puas atas kepolosan Halim tentang agama, Hadi sedikit bersyukur Agnes bisa menikah dengan Halim karena Hadi yakin Agnes bisa membawa Halim lebih dekat dengan Tuhan.


Mereka semua kemudian segera melaksanakan sholat Maghrib yang di pimpin oleh Hadi.


Setelah selesai sholat Maghrib, Agnes hendak melepas mukenanya di ruangan sholat mereka, kebetulannya Agnes tidak memakai hijab lagi di dalamnya sehingga membuat rambutnya terlihat.


Hadi mendelik kemudian menatap dalam Halim. "Yah kamu juga jangan lihat, kan kamu bukan mahramnya Agnes, Lim."


"Saya suaminya Bang, jadi saya mahramnya kan?" jawab Halim yang membuat Hadi menggelengkan kepalanya.


"Kalau Agnes itu mahram kamu, kamu gak bisa nikahin dia, karena istri itu bukan mahramnya suami," jawab Hadi yang membuat Halim mendelik bingung.


"Mahram itu ada tiga jenis, Mahram karena nasab, Mahram karena persusuan dan Mahram karena pernikahan, dan suami ke istri itu bukan mahram begitupun sebaliknya karena menikahi mahram itu hukumnya Haram, kalau saya sama Agnes kan saudara beda bapak yah saya tetap mahramnya Agnes karena tergolong mahram sepersusuan dengan ibu kandung kami, begitupun Aryo dan Azio kepada Agnes," lanjut Hadi menjelaskan.


"Jadi saya dan Agnes bukan mahram sebenarnya walaupun sudah menikah?" tanya Halim pada Hadi.

__ADS_1


"Gak lah, kalau kalian mahram yah gak bakal nikah kamu sama adekku itu kan menikahi mahram tuh hukumnya Haram, kalau kamu menikah yah dia bukan jadi mahram bagimu tapi halal bagimu," Hadi memberi jeda.


"Makanya kalau ada cowok pengen pegang cewek terus jawab, maaf bukan mahram, itu gak salah, yah kan emsng yang bisa nyentuh dia mahramnya, yang salah itu cowoknya kalau dia jawab, nikah aja biar jadi mahram, nah ini baru salah, paham kan akhi?" lanjut Hadi yang membuat Halim menganggukkan kepalanya.


Setelah insiden itu mereka kemudian segera menuju meja makan untuk makan malam bersama sebelum waktu sholat isya.





Dapat ilmu baru!


Tetapi, banyak juga yang menganggap ketika pernikahan terjadi status pria dan wanita menjadi mahram. Ini didasarkan pada pandangan yang memaknai istilah mahram berarti keluarga. Apakah pemahaman ini benar?


Dari kajian yang pernah author dengar yah, ini wallahualam koreksi kalau author salah.


Dalam kajian tersebut dijelaskan, bahwa, istilah mahram bermakna 'orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi'.


Nah kajian ini sendiri merujuk kepada pendapat imam An Nawawi, ulama rujukan mazhab Syafi'iyah dalam kitab Syarah Shahih Muslim yang mengatakan: " Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram."


Dalam kitab tersebut, Imam An Nawawi menyebut status mahram dikenakan berdasar pada tiga kriteria, yaitu nasab (keturunan atau pertalian darah), persusuan, atau sebab terikat pernikahan.

__ADS_1


Wallahualam.


__ADS_2