Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 47. -


__ADS_3

Agnes berjalan dengan kepala pusing di koridor kampusnya, rasanya dia mual sekali ditambah dia merasakan sesuatu yang lain dari perutnya padahal dia sudah makan siang.


"Nes! Lo gapapa? Mau ke dokter gak?" tanya salah seorang teman Agnes.


"Gak, gausah, ini cuma pusing sejenak aja kok, aku telat makan," jawab Agnes.


"Gue anterin pulang deh, gue khawatir Lo, apalagi Lo pucat gitu," ujar teman Agnes tersebut.


"Gak usah, Thanks yah, suami aku jemput kok," jawab Agnes duduk di sebuah kursi sampai tak lama kemudian mobil milik Halim terlihat di parkiran kampusnya. "Itu suami aku udah datang, aku duluan yah."


Teman Agnes tersebut mengangguk, ia kemudian berjalan pergi saat Agnes sudah sampai di mobil Halim.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Halim keluar dari mobil.


Agnes diam saja dia bersandar pada bumper mobil sejenak. "Gak enak badan, Mas."


"Kita ke rumah sakit yah?" tanya Halim.


Belum sempat Agnes menjawab, tiba-tiba saja Agnes tumbang ke bawah yang membuat Halim panik seketika.


Halim kemudian membopong Agnes masuk ke dalam mobil, wajar jika dia panik karena tadi pagi kondisi Agnes baik-baik saja.


Tak jauh dari sana ada Oca yang menyaksikan Agnes pingsan, rasa ingin tahu membuat Oca masuk ke dalam mobilnya sendiri kemudian membuntuti mobil dari Halim.


Didalam perjalanan ke rumah sakit, Halim menelepon Glenda untuk mengabarkan bahwa Agnes masuk ke rumah sakit dan menyuruh Glenda mengabari ketiga kakak Agnes lainnya.


Setelah mengabari Glenda, Halim kembali fokus mengendarai mobilnya, ditempat lain Oca juga mengendarai mobilnya membuntuti Halim.


"Agnes kenapa yah? Semoga dia kenapa-napa biar langkahku buat rebut Mas Halim jadi gampang."


Oca ikut membelokkan mobilnya masuk ke dalam halaman parkir rumah sakit mengikuti Halim, ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Halim.


Halim sendiri segera membopong istrinya masuk ke rumah sakit, di lobby rumah sakit dia sudah di sambut oleh beberapa tenaga medis yang langsung menangani Agnes.


"Astagfirullah! Kamu kenapa lagi sih sayang," ujar Halim menyugar rambutnya sendiri.


Oca berdiri jauh dari sana tapi masih bisa mendengar Halim, tak lama kemudian seorang dokter memanggil Halim masuk ke dalam ruangan tersebut.


Halim masuk ke ruangan itu, dimana Agnes masih pingsan dan belum sadarkan diri.


"Bapak suaminya yah?"


Halim mengangguk. "Iya, Dok."


"Selamat Pak, Ibu Agnes sedang hamil dan usia kandungannya sudah menginjak Minggu kedua, pingsan tadi itu efek dari gejala awal ibu hamil dan mungkin kelelahan."


Halim terdiam. "Ha-Hamil?"


Dokter itu mengangguk, Halim masih terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana mengekpresikan dirinya lagi, apalagi Agnes tengah Hamil.


"ARGH!" Halim berteriak sendiri.


Bukan berteriak kesal tapi bahagia, hal yang selama ini dia tunggu akhirnya tercapai juga, kalau ada mesin pengukur rasa bahagia mungkin tingkat kadar kebahagiaan Halim sudah diatas 100 persen.


Halim kegirangan sendiri kemudian menghampiri ranjang Agnes yang masih tidak sadarkan diri.


Oca diluar sana yang menguping menutup mulutnya dan terkejut. "Agnes Hamil?"


Awalnya Oca merasa kesal tapi bukan Oca namanya kalau tidak ada yang bisa dia lakukan untuk berbuat jahat.


"Kalau begitu aku lenyap kan saja bayi serta ibunya," ujar Oca dalam hati.


Ditengah pikirannya itu sebuah tangan tiba-tiba menarik tangan Oca yang membuat Oca tersentak ke tengah koridor.


__ADS_1




TBC


Assalamualaikum, Author Hadir ingin mengabarkan karya baru Author, mohon dukungannya.


Istri Terbuang Tuan Impoten


By Ridz


Sinopsis:


Nyaris dijadikan wanita malam oleh ayahnya sendiri, Diajeng malah menjadi istri dari Danu, seorang pria lumpuh dan impoten y9ang arogan dan kejam.


Akankah Diajeng bisa merubah hati suaminya atau malah menyerah dimana saat itu ada seorang pria lain bernama, Damar yang masih menunggu cinta dari Diajeng.


Cuplikan BAB:


"Terkadang kita harus berpikir sejenak dan terdiam untuk beberapa saat untuk menempatkan diri di segala situasi hal."


- Anonymous





02.00 Dini Hari.


Diajeng memeluk rapat-rapat tubuhnya saat seseorang mendobrak pintu rumahnya, dia tahu itu adalah ayahnya yang sudah pulang.


Semenjak ditinggalkan oleh ibunya yang meninggal karena sakit, sikap ayahnya berubah kepada Diajeng, ayahnya jadi sering mabuk Dan judi bahkan tidak segan menyiksa Diajeng ketika dia butuh pelampiasan emosi.


Rusdi berjalan masuk mencari Diajeng dan sudah mendobrak pintu kamar Diajeng, sementara Diajeng dia sudah keringat dingin di sudut kamarnya.


"Nah! Ketangkap kamu! Kenapa kamu sembunyi dari ayah, Hah?" Rusdi menarik tangan Diajeng dan memaksanya untuk berdiri.


Diajeng memberontak, dia tahu dia akan dibawa kemana tapi karena tenaga Rusdi lebih besar dari Diajeng, membuat Diajeng tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


PLAK!


Sebuah tamparan jatuh di pipi Diajeng yang membuat Diajeng otomatis memalingkan wajahnya ke samping, Rusdi segera menyeret Diajeng keluar dari rumah dan hendak membawanya ke suatu tempat.


Di luar rumah sudah ada dua orang yang menunggu Diajeng dan seorang wanita Paruhbaya yang terlihat seperti seorang mucikari wanita malam.


"Kamu akan ayah jual sebagai penebus hutang ayah ke Bu Linda!" ujar Rusdi menyeret Diajeng keluar dari rumah.


Sesampainya di halaman rumah, Diajeng langsung di hempaskan ke tanah yang membuat dua orang pria berbadan tegap di luar sana langsung mengunci pergerakan Diajeng.


"Ayah! Diajeng gak mau yah!" teriak Diajeng berusaha memberontak namun lagi-lagi usahanya hanyalah sia-sia belaka.


"Bagaimana, anak ini biasakan menjadi pelunas hutangku?" tanya Rusdi kepada Linda.


Linda berjalan ke arah Diajeng kemudian melirik Rusdi. "Tergantung."


"Maksudnya?" tanya Rusdi pada Linda.


"Is she still a virgin?" tanya Linda balik.


Rusdi menyeringai ganas seolah melupakan kuadrat bahwa Diajeng itu adalah anaknya sendiri. "Dia masih perawan dan belum pernah disentuh."


Linda tersenyum puas dan licik. "Good! Dia adalah barang bagus."

__ADS_1


Linda beralih menatap Diajeng dalam, dia mengelus pipi Diajeng kemudian tanpa aba-aba menarik kerudung Diajeng yang membuat rambut Diajeng seketika keliatan.


"Kamu tidak akan membutuhkan ini cantik, kamu tidak perlu kerudung untuk melayani laki-laki diluaran sana," bisik Linda.


"TUNGGU!"


Suara teriakan pria membuat semuanya berpaling kesana, itu adalah Damar, kekasih Diajeng.


"Lepaskan dia!" ujar Damar yang membuat Rusdi berjalan menghampirinya.


"Mau apa kamu!" bentak Rusdi pada Damar.


"Istighfar Pak! Diajeng itu anak Bapak, Bapak gak takut dosa menjual anak sendiri?"


"Halah!" BUGH! Rusdi menghantam wajah Damar dengan bogem. "Tahu apa kamu tentang dosa! Daripada dia pacaran sama kamu lelaki miskin, mending dia saya jual!"


BUGH!


ARGH!


"Mas DAMAR!" teriak Diajeng di hening malam itu.


"Diam kamu! Kamu hajar dia!" ujar Linda pada Rusdi.


"Jangan!" teriak Diajeng.


"Diam!"


Diajeng terdiam, dia kemudian menendang Linda yang membuat Linda tersungkur ke belakang sehingga refleks membuat dua pria yang menahan Diajeng langsung menolong Linda.


"L-Lari Diajeng!" teriak Damar pada Diajeng.


Melihat ada kesempatan membuat Diajeng langsung berlari dari sana dan mencoba untuk kabur setelah mengambil kerudungnya.


"Kurang ajar! Kejar dia!" teriak Linda kepada dua anak buahnya.


Dua pria berbadan tegap itu langsung mengejar Diajeng yang berlari di pinggir jalan, disaat Diajeng hendak menyebrang sebuah mobil dengan lampu sorot di pekaknya malam menyorot Diajeng yang berada di tengah jalan.


Srtt!


Suara decitan ban karena mobil itu mengerem mendadak memekakkan malam itu, Diajeng tertunduk di aspal yang membuat pengendara mobil itu keluar untuk menemui Diajeng.


Seorang wanita seusia Diajeng dengan tampak keluar dari sana, rambut tergerai dan kacamatanya.


"Ada apa?"


Diajeng langsung berdiri dia langsung berlari ke arah wanita itu dan meminta bantuan. "Tolong Mbak, a-aku mau dijual.'


Mendengar ucapan itu membuat sang wanita pemilik mobil terdiam sejenak, tampak ada sesuatu di dalam pikirannya sebelum dia tersenyum licik dan setuju membantu Diajeng.


"Saya bersedia membantu kamu, tapi saya punya satu syarat, bagaimana?"


"S-syarat?"


"Yah! Bagaimana?"


"M-mau Mbak," jawab Diajeng kemudian berjalan mengikuti wanita tadi masuk ke dalam mobilnya.





TBC

__ADS_1


Silakan Mampir yah :)


__ADS_2