
"Siapa sih yang nelpon ngancam gini!" kesal Glenda yang mengendarai mobilnya menuju lokasi yang sudah diberikan penelepon tadi melalui WhatsApp.
Sebenarnya Glenda tidak ingin menemui orang tersebut tapi karena sudah mendapat ancaman jadi Glenda tidak bisa melakukan apapun lagi untuk hal ini.
"Disini bukan sih?" tanya Glenda dalam hati yang membuat Glenda segera memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah jalan.
Jalanan itu tampak sepi dengan di samping jalanan di kelilingi oleh pembatas jalan karena di area melewati pembatas jalan itu ada jurang yang lumayan besar.
Tak jauh dari sana Glenda melihat seorang pria berkemeja hitam yang memakai masker hitam serta topi hitam kepadanya, Glenda tidak bisa menganalisa orang tersebut karena topinya yang terlalu ke bawah menutupi wajahnya.
"Kamu siapa sih! Kamu ngapain mau ketemu sama aku!" teriak Glenda menatap kesal pria tersebut.
Pria tersebut hanya tersenyum smirk di balik maskernya kemudian membelakangi Glenda. "Glenda, Glenda, dasar wanita munafik, kau mengakui apa yang dilakukan orang lain untuk kepentingan pribadimu."
"Tutup mulutmu yah! Aku tidak butuh penilaian darimu," jelas Glenda yang membuat orang tersebut tertawa puas.
"Aku hanya ingin memberi tahu, kalau aku memegang bukti dan memiliki saksi bahwa malaikat penolong Halim adalah Agnes dan sewaktu-waktu aku bisa membongkar ini semua," jawab pria tersebut kemudian berjalan meninggalkan Glenda.
"Lantas apa yang kamu mau!" tanya Glenda yang tidak dijawab oleh pria itu.
Pria misterius itu pergi meninggalkan Glenda disana, hanya percakapan singkat yang menggantung, kini posisi Glenda benar-benar terancam secara sepenuhnya.
•
•
•
__ADS_1
"Bagaimana Halim, ini syarat terakhir kalau kamu tidak mau ya sudah," ujar Papa Rinto menatap dalam Halim yang sedang berpikir keras.
"Syarat apa, Pa?" tanya Agnes duduk di samping Halim.
Papa Rinto tidak menjawab dia hanya meminum teh yang di bawa oleh Agnes kemudian berdiri dari duduknya.
"Kalau gitu Papa dan Mama pamit yah, Agnes kami baik-baik yah sama Halim, maklumi sikap dia nanti," ujar Papa Rinto yang tidak menjawab pertanyaan Agnes tadi.
Agnes dan Halim ikut berdiri mengantar Papa Rinto dan Mama Asna keluar dari rumah, setelah salaman mereka pun melihat Papa Rinto dan Mama Asna masuk ke mobil dan menghilang dari pandangan mereka.
Agnes masuk ke dalam rumah sedangkan Halim, dia hanya berdiri kaku di teras rumah tanpa suara sebelum akhirnya menyusul Agnes masuk ke dalam rumah.
"Nes, saya mau bicara sama kamu," ujar Halim yang membuat Agnes menatapnya sejenak.
Agnes tengah sibuk melihat ulang jadwal mata kuliahnya sembari duduk di sofa. "Mas Halim udah sholat dhuhur?"
"Sejak kapan arahan sholat itu bercanda, kalau Mas ga sholat yasudah Mas gak ada hak buat bicara sesuatupun sama aku," Agnes berdiri hendak masuk ke kamar.
"Saya suami kamu yah! Yang sopan kamu!" kesal Halim yang membuat Agnes tersenyum.
Agnes berjalan ke arah Halim kemudian menangkup wajah Halim sejenak dan berbisik padanya. "Maka dari itu, karena Mas Halim suamiku, aku melakukan ini."
Cup.
Halim terdiam kaku sendiri jadinya karena Agnes baru saja mencium pipinya sekilas tapi membuat seluruh persendian Halim luluh lantah, tipis tapi membuat Halim rasanya ingin menghilang dari muka bumi.
Setelah itu Agnes berjalan masuk ke dalam kamar, sesampainya di dalam kamar tak lama kemudian Halim masuk dalam keadaan sudah ambil air wudhu.
__ADS_1
Halim menjalankan sholat dhuhur di dalam kamar sedangkan Agnes yang sudah melakukannya di kampus hanya duduk di ranjang menunggu Halim selesai.
Setelah selesai, Halim langsung beranjak menuju tempat Agnes dan duduk di sampingnya. "Agnes saya mau bicara sesuatu."
"Apa, Mas?" tanya Agnes yang membuat Halim menghela napas sejenak.
"Saya harus memenuhi syarat terakhir dari Papa yaitu kamu harus hamil, jadi saya minta sama kamu untuk pura-pura Hamil."
"Gak!"
"Ayolah Nes! Kamu itu istri kontrak saya!"
"Gak! Sandiwara Mas itu udah End sewaktu kita akad yah setelahnya lakukan secara nyata, aku gak mau bohongin Mama dan Papa "
"Keras kepala, jadi saya harus apa?"
"Mas kan sudah dewasa, kenapa Mas bersikap seolah Mas itu remaja pubertas, Mas tahu apa yang harus Mas lakukan kan?" jawab Agnes yang membuat bulu kuduk Halim berdiri semua.
•
•
•
HAYO LOH
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Boom Komentar yah~