
"Mas! Gimana? Mau kan?" tanya Agnes membuyarkan lamunan Halim.
Halim beralih menatap Agnes kemudian menatapnya lebih dalam lagi. "Kamu yakin, dek?"
"Insha Allah, Mas, semoga dengan kejadian ini Allah membukakan pintu taubat buat Mbak Glenda," jawab Agnes yang membuat Halim mengusap wajahnya.
"Susah nolak kamu, yasudah, nanti Mas suruh orang kantor buat nyiapin apartemen tuk ditinggali sama Glenda," jawab Halim yang membuat Agnes sontak memeluk suaminya.
Halim hanya tersenyum kemudian mengusap kepala Agnes dan mengecup keningnya. "Makasih Mas!"
"Sama-sama, sayang."
Agnes kemudian mengajak Halim untuk masuk ke ruangan Glenda dan melihat keadaannya, Glenda sudah terbangun dan duduk di atas ranjang.
"Mbak? Mbak udah sadar, jangan banyak gerak dulu," ujar Agnes saat masuk ke ruangan rawat itu.
"Agnes, Mas? Aku kenapa disini?" tanya Glenda yang membuat Agnes duduk di kursi yang ada di samping ranjang Glenda.
Sementara Halim di belakang Agnes, Agnes meraih tangan Glenda dan mengusapnya. "Mbak, Mbak mulai hari ini tinggal di apartemen punya Mas Halim yah? Kebetulan juga aku mau buka restoran gitu, Mbak kan basicnya di bidang pemasaran, Mbak mau kan jadi manager di restoran, aku?"
Glenda yang mendengar itu menatap Agnes dalam dengan raut wajah yang sulit di jelaskan. "K-kamu gak marah sama Mbak?"
Agnes menggelengkan kepalanya. "Aku sudah lupain semuanya, Mbak gak perlu khawatir yang penting Mbak sehat dan Mbak bisa kerja lagi."
Tanpa sadar Glenda menangis dan memeluk Agnes yang membuat Agnes membalas pelukan Glenda. "Maafin, Mbak yah."
__ADS_1
"Mbak jahat banget sama kamu, sama Mas Halim juga," lanjut Glenda.
Agnes mengusap punggung Glenda sementara Halim mengalihkan pandangannya ke lain tempat.
"Mbak, pokoknya harus semangat, insha Allah bisa sembuh, Mbak aku juga mau nanya, Mama dimana yah?"
Glenda terdiam, dia semakin menundukkan kepalanya. "Mama masuk rumah sakit jiwa Nes, Sehabis bangkrut rumah Mbak disita dan Mama setres sampai masuk rumah sakit jiwa."
Mendengar itu membuat Agnes sontak mengucap istighfar. "Astagfirullah."
Glenda kemudian menceritakan semua kronologinya yang membuat Agnes hanya semakin merasa sedih, sepulang dari sini Agnes berencana menjenguk Bu Sinta.
•
•
•
Mereka berdua dari menjenguk Bu Sinta yang sekarang Bu Sinta seperti orang yang kehilangan jiwanya, banyak diam dan tidak merespon apapun.
"Semoga, Mbak betah yah, Minggu depan rencana pembukaan restoran aku, jadi Mbak bisa langsung kerja disana, sekarang Mbak tinggal disini yah," lanjut Agnes menaruh tas Glenda di sofa.
Mendengar itu membuat Glenda memeluk Agnes dalam, mereka berdua beralih duduk di sofa setelah Glenda melepas pelukannya.
"Nes, Mbak pengen ngomong sesuatu tapi malu sama kamu," ujar Glenda yang membuat Agnes menatapnya.
__ADS_1
"Ngomong apa Mbak?" jawab Agnes.
"Mbak, Mbak pengen hijrah Nes, Mbak pengen belajar dari kamu, Mbak juga pengen nutup aurat kayak kamu," ujar Glenda yang membuat Agnes tersenyum pelan.
Agnes mengangkat jarinya bermaksud agar Glenda menunggu sejenak, Agnes meraih tasnya dan mengambil sebuah hijab modal pashmina dari sana.
"Mbak itu cantik, Alhamdulillah kalau Mbak mau berubah," Agnes beralih memasangkan pashmina itu ke kepala Glenda. "Nah kan cantik, Agnes jadi suka kalau gini."
Glenda tersenyum kemudian menundukkan kepalanya. "Apakah pantas, Nes? Dimata Allah pasti Mbak udah jelek, dan Dimata orang lain pasti bakal ngira Mbak hanya pencitraan."
"Semua dimata Allah itu baik, Mbak," jawab Agnes. "Jangan takut dihakimi oleh orang lain Mbak, biarlah apa yang akan Mbak lakukan sekarang menjadi bahan penghakiman orang lain tapi menjadi bahan pertimbangan di mata Allah."
"Karena sesungguhnya, Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, tapi hati dan amalan kalian," lanjut Agnes.
Bergetar bahu Glenda mendengar itu, rasanya dia yang sudah berpikir tidak akan menemukan jalan kembali bak di beri sebuah petunjuk, kini satu lagi tasbih seorang pendosa yang menuju langit.
•
•
•
-Haru :)
Assalamualaikum
__ADS_1