Selepas Kata Akad

Selepas Kata Akad
BAB 28. Halim dan Kejujurannya


__ADS_3

Hening masih terjadi di antara mereka berdua, Agnes yang tadi tersenyum menunduk pelan menahan fakta yang membekas di dalam hatinya.


Cukup terpukul rasanya, tapi terkadang kejujuran seseorang itu punya dua sisi, terluka dan lega, kita tidak bisa memilih sisi mana yang kita inginkan.


"Mas menyesal setelah melakukannya?" tanya Agnes yang membuat Halim menunduk, wajah penuh kedewasaan itu sekarang ibarat anak kecil di hadapan ibunya.


"Mas bukan yang pertama dek, Glenda sudah pernah melakukannya dengan pria lain sebelum Mas," jawab Halim mengubah panggilan saya ke Mas untuk menyebutkan dirinya sendiri.


"Yang Agnes tanya, Mas menyesal?" tanya Agnes sekali lagi.


Bahu Halim bergetar, dan tak terasa dia juga ikut menangis dalam penyesalannya dari itu Agnes sudah tahu apa jawaban suaminya.


"Aku gak ada hak untuk menghakimi apa yang Mas lakukan di masa lalu, itu keputusan Mas tapi aku punya hak untuk menegur jika yang Mas lakukan itu salah," ujar Agnes kembali menangkup pipi Halim.


Agnes mengulas senyum walau sakit di hati, Agnes mengangkat kepala Halim yang membuat Halim bisa menatapnya.


"Maaf-in, Mas, dek," Halim berucap dengan sorotan mata yang begitu tulus, Agnes tidak pernah tahu bahwa Halim bisa mengeluarkan sorotan mata penuh ketulusan disana.


"Minta maafnya sama Allah Mas, taubatan nasuha selalu terbuka, karena sesungguhnya Allah itu lebih mencintai taubatnya seorang pendosa," jawab Agnes mengelus wajah suaminya. "Apapun yang terjadi dengan masa lalu Mas, Agnes gak akan ninggalin Mas Halim."


"Karena detik ini, kita tidak bicara soal Masa lalu tapi masa depan dan Masa depan itu hanya ada aku dan Mas Halim, tidak ada masa lalu di dalam jalan ceritanya," lanjut Agnes menguatkan Halim.


"Kamu terlalu baik dan sabar Agnes, Mas itu tidak ada apa-apanya dan hanya akan menjadi benalu untuk kamu."


"Aku bukan terlalu baik atau sabar, tapi aku sedang belajar mencintai Mas Halim, dan Mas tahu? Hakikat tertinggi dari mencintai itu adalah ketika kita sudah mengetahui masa kelam orang yang kita cinta tapi kita masih tetap berada untuk menguatkannya."

__ADS_1


Halim benar-benar merasa di permalukan dalam batin oleh kata-kata Agnes yang menampar relung hatinya, seolah titik terendah Halim benar-benar sudah berada di pangkal terendah dari dasar terendah itu sendiri.


"Jangan pernah merasa buruk Mas, apalagi dalam urusan cinta, sedang Rasulullah saja bertemu dengan Khadijah dan Aisyah itu penuh intrik, Khadijah yang berani mengungkapkan cintanya dalam diam, dan Siti Aisyah yang memilih mencintai dalam diam, serta Rasulullah yang mencintai mereka diatas syariat, Mas tidak perlu merasa baik untuk menjadi baik, karena yang tahu sisi terbaik dari diri kita yah kita sendiri, bukan orang lain.


Halim mengakhiri sesi pembicaraan mereka dengan memeluk Agnes dalam dan menangis dalam pelukan istrinya itu.





Sudah tiga hari, Halim menjalani rawat inap di rumah sakit dan hari ini dia sudah di persilahkan untuk pulang, Agnes tengah mengemasi barang-barang mereka sementara Halim yang masih duduk di ranjang.


Disaat Agnes tengah mengemasi barang selama di rumah sakit, seseorang masuk ke dalam ruangan rawat Halim bersama seorang dokter.


"Selamat siang, benar dengan Pak Halim?"


"Benar, ada apa yah?" jawab Halim.


"Perkenalkan saya Hadi, dari pihak kepolisian yang menangani kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap istri Bapak yang malah mengakibatkan Pak Halim masuk rumah sakit," jawab Hadi.


"Laporan? Saya dan istri saya tidak pernah merasa membuat laporan atas kasus ini ke kepolisian Pak," jawab Halim merasa bingung.


"Salah satu saksi yang melaporkan kasus ini Pak, dan kamu sudah menemukan dua orang tersangka yaitu Bu Sinta selaku pelaku penikaman terhadap Pak Halim sedangkan Glenda selaku otak dari rencana ini."

__ADS_1


Halim terdiam mendengar penjelasan itu, giginya menggeram. "Glenda?"


Hadi mengangguk yang membuat Halim meremas seprei ranjang yang dia duduki.





Hadi:



Halim:



Agnes:



Assalamualaikum jangan Lupa Like yah


Babay!

__ADS_1


__ADS_2